Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Menguntit Marsha


__ADS_3

Sesuai dengan jadwal kerja yang telah di susun oleh Gerry, sebelum jam dua siang ... Albert sudah tiba di hotel Raffles bersama Gerry, dan mereka berdua langsung menuju ruang VVIP di restoran Hotel Raffles yang ada di lantai satu.


Gerry sekilas melihat Marsha dan Jelita, namun tak lama ada sosok pria yang menghampiri mereka berdua. Sedangkan Albert tidak menyadari jika ada Marsha di restoran yang sama, saat ini mereka datangi.


Bukannya itu Robby si sutradara, yang ada di video itu ya ... batin Gerry.


Tapi rupanya kedua netra Albert menoleh ke Gerry yang sepertinya masih menatap istri Bosnya dan akhirnya pria itu melihat dari kejauhan ada Marsha bersama ketiga orang lainnya, satu wanita dan dua laki-laki. Namun Marsha tidak tahu ada suaminya, karena terhalang dengan ornamen sebagai pemisah antar meja.


“Mm ... Pak Albert mau menyapa istrinya terlebih dahulu atau mau langsung masuk ke ruangan?” tanya Gerry menawarkan, yang tak sengaja melihat tatapan Albert yang mengarah ke tempat Marsha.


“Langsung masuk ke ruangan, Gerry ... minta Bimo yang ada di luar mengawasi Marsha, dan minta laporkan apa yang dilihat!” perintah Albert, dengan jiwa yang tenang, tidak menggebu-gebu.


“Siap laksanakan Pak Bos, kalau begitu saya antar ke dalam dulu, baru saya izin keluar sebentar,” jawab Gerry.


“Mmm ... ,” gumam Albert, kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ruang VVIP.


Maksud dari semua tindakan Albert, mengurangi aktivitas ke artisan Marsha serta memblokir semua kartunya, agar Marsha bisa membenahi dirinya sebagai istri, walau sebenarnya pria itu juga sudah mulai mencurigai jika istrinya ada main di belakangnya , namun karena pikirannya hanya tertuju kepada Tania yang sedang mengandung ketiga buah hatinya, hingga terlewatkan permasalahan rumah tangganya dengan Marsha.


Akhirnya keluar juga perintah buat mengawasi Marsha ... batin Gerry bersorak gembira.


Sang asisten Albert, sebenarnya sudah menyelidiki kelakuan Marsha melalui ajudan Albert, sudah ada beberapa bukti yang mengarah jika istri Bosnya itu ada main dengan beberapa pria, namun semua bukti itu hanya bisa di simpan, karena tidak mau dibilang lancang dan mencampuri urusan rumah tangga Bosnya, jika menunjukkan semuanya, namun berharap suatu saat Bosnya melihat dengan kedua matanya sendiri. Tapi setelah mendapat perintah tersebut, menjadi angin segar buat Gerry.


...----------------...


Sementara itu di meja Marsha sudah kedatangan Pak Robby bersama temannya Jack. Pak Robby beralasan habis janji temu dengan beberapa temannya di tempat yang sama, karena melihat ada Marsha dan Jelita ... pria itu menghampirinya bersama temannya.


Namun kedua netra Jelita tampak menyelidik dan mencium aroma-aroma busuk namun tertutup dengan aroma wangi yang semerbak. Jelita pura-pura percaya dengan ucapan Pak Robby, sedangkan Marsha juga terlihat biasa saja, tenang, namun sesekali lirikannya terlihat menggoda dengan Pak Robby, begitu juga dengan Pak Robby.


✅Sutradara Robby


Sayang, kamu sungguh menggodaku saja. Aku sudah pesankan kamar, no. 503 nanti kamu nyusul ya, aku gak sabar ingin memakanmu, kangen sama kamu.

__ADS_1


Marsha sesaat membaca pesan di handphonenya yang baru saja diterimanya.


✅Marsha


Oke sayang, nanti aku akan menyusul. Aku juga kangen, apalagi sama lidah dan juniormu.


Pak Robby yang masih memegang handphonenya, wajahnya jadi tersipu saat membaca balasannya.


Sepertinya hubungan Marsha dan Pak Robby tidak merenggang gara-gara video viral tersebut. Nyatanya mereka berdua telah membuat janji temu, dan Pak Robby sengaja membawa teman, agar terkesan tidak hanya berduaan saja ketika bersama Marsha di tempat umum untuk menepis gosip yang beredar.


Selama 45 menit mereka berempat ngobrol seperti biasa, Pak Robby juga sempat memberikan tawaran Jelita untuk ikutan casting sebagai pemeran pembantu, dan berhubung jadwalnya nanti sore, Pak Robby menyarankan untuk segera ke studionya bersama temannya, karena team casting akan ada di sana, dan hal itu di sambut baik di luar konteks masalah pribadi Marsha dan Pak Robby, kalau masalah tawaran pekerjaan selama jalurnya benar, Jelita pasti mau mencobanya.


“Marsha, Jelita ... aku harus balik dulu, ada janji dengan yang lain. Dan jangan lupa Jelita, jam lima sore datang ke studio, kamu bisa barengan sama si Jack, nih,” pamit Pak Robby, sambil berpura-pura melirik jam tangannya.


“Oke Pak Robby nanti saya ke sana, kebetulan saya bawa kendaraan, jadi gak bisa barengan sama Mas Jack nya,” balas Jelita sembari melirik Jack, pria blasteran itu.


“Ya sudah sampai ketemu lagi Marsha, Jelita.” Pria itu beranjak dari duduknya, berbarengan dengan Jack, meninggalkan kedua wanita yang cantik itu, dan Marsha pun melambaikan tangannya.


“Kamu gak siapin diri buat nanti sore casting?” tanya Marsha.


Jelita menatap dirinya. “Oh iya ... kayaknya aku butuh ke salon buat mempercantik diri, mumpung baru jam tiga, kamu mau ikutan ke salon gak?”


“Gak bisa ikutan, aku mau nyantai di sini dulu, lagian jadwal casting aku besok pagi.”


“Ya udah kalau begitu aku pamit dulu, tagihan makan giliran kamu yang bayar,” ucap Jelita.


“Mmm ... iya aku yang bayar.”


Jelita mengambil tas bahunya, kemudian beranjak dari duduknya, berpamitan dengan Marsha.


Ujung ekor Marsha mengikuti gerakan Jelita hingga tak terlihat lagi di ambang pintu restoran, setelahnya Marsha memanggil waiters untuk membayar pesanannya.

__ADS_1


Jelita yang sudah keluar dari restoran tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. “Ck ... di kiranya gue bodoh apa ya!” Wanita itu tidak benar-benar meninggalkan hotel, tapi menyelinap di tempat berbeda, dia akan menguntit Marsha.


Ada pepatah mengatakan temanmu bisa menjadi musuhmu, dan musuhmu bisa menjadi temanmu. Apa maksud dengan sikap Jelita yang ingin menguntit Marsha, padahal tidak ada untungnya buat Jelita. Memang tidak ada untungnya, tapi ingatkan jika Jelita iri dengan segala keberhasilan Marsha, dan kini dia ingin membongkar semua tabiat buruk temannya sendiri!


Setelah menunggu beberapa menit Marsha keluar dari restoran, kemudian menuju resepsionis untuk mengambil access card kamar yang sudah di titipi oleh Pak Robby.


Jelita dan Bimo sama-sama melihatnya dari posisi berbeda. Jika Jelita mengikuti langkah Marsha dari jauh. Sedangkan Bimo sudah jelas mendekati staff hotel, lalu mengorek informasi Marsha yang sempat ke resepsionis.


“Ooh ... ternyata Marsha mau cek in, cek in sama siapa, sama suaminya atau jangan-jangan sama Pak Robby?” gumam Jelita ketika melihat Marsha masuk ke lift, dan Jelita buru-buru mendekat pintu lift, lalu melihat layar atas pintu lift tertulis angka 5. Tanpa banyak berpikir lagi, Jelita menyusul ke lantai 5 dengan lift yang ada di sebelahnya.


Ting ... pintu lift terbuka di lantai 5.


Sebelum keluar, Jelita mengeluarkan sedikit kepalanya dan kedua netranya bisa melihat arah Marsha berjalan.


Dengan mengendap-endap, jangan sampai ketahuan Marsha, Jelita mengikutinya. Dan akhirnya melihat Marsha masuk di kamar no. 503, tapi sebelum Marsha masuk, Jelita sempat melihat lengan pria yang menggunakan jam yang sama dipakai Pak Robby, mengulurkan tangannya lalu menarik pinggang Marsha tanpa keluar dari ambang pintu kamar.


Bibir Jelita membulat. “Oo ternyata kamu memang ada main dengan Pak Robby, gak nyangka kamu masih belum berubah, Marsha!” gumam Jelita sendiri, masih mengintip di balik tembok.


Bimo yang tak jauh dari keberadaan kamar no. 503, jemarinya sibuk mengetik pesan. Sudah bisa dipastikan kirim pesannya ke siapa!


 


bersambung .... nasib Marsha selanjutnya 🤔🤔


Sabar ya Kak Readers yang kepengen Albert dan Tania bertemu kembali, lagi OTW 😁



 


 

__ADS_1


__ADS_2