Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Menghubungi Bu Mimi


__ADS_3

Mudah sekali Marsha berkata seperti itu, tanpa ada rasa bersalah, dan menyikapi perihal itu dengan entengnya, lagi pula hal itu biasa menurut Marsha.


“Mungkin yang terlihat hanya video dugemnya, entah kalau yang tidak tertangkap oleh video lainnya. Aku tidak bisa terus mengawasimu, tapi di luar sana banyak orang yang melihatmu. Aku selama ini selalu mengingatkan dirimu untuk menjaga diri di luar sana, jangan membuat masalah!” tutur Albert begitu tenangnya.


Sedari dulu memang Albert tidak terlalu cemburu dengan pria manapun yang dekat dengan Marsha, padahal katanya dia cinta sama istrinya. Tapi ketika melihat Tania dengan Arkana, hatinya sudah pasti memanas.


“Kamu tahu Marsha, kita tidak bisa bayangkan kalau akan ada hal yang lebih mencengangkan dari sekedar video dugemmu itu, atau ada hal lain yang selama ini tidak aku ketahui, dan akan terbongkar suatu hari nanti. Bukankah kamu sudah menipuku dari awal kita menikah!” kata Albert dengan tegasnya.


Marsha sontak meluruskan kedua kakinya, dan terlihat gelisah, hatinya mulai was-was. Albert menyunggingkan salah satu sudut bibirnya di balik maskernya.


“Ini memang semua salahku yang terlalu membebaskan mu dengan duniamu, dan selalu menuruti semua kehendakmu demi popularitasmu serta impianmu sebagai model terkenal. Tapi sepertinya kamu sangat menikmati hingga lupa daratan, hingga lupa menjaga diri sebagai istriku. Apakah aku masih kurang di hadapanmu? masih kurang memuaskanmu ... hingga mencari perhatian pria di luar sana!” ucap Albert terkesan datar namun penuh penegasan.


Sesaat Marsha menundukkan kepalanya, bagaikan maling yang terciduk.


“Seharusnya aku sebagai suami cemburu dan marah melihat kamu begitu intim dengan pria lain. Tapi entah kenapa aku tidak ada rasa itu. Kenapa ya Marsha? Apakah selama ini aku sebenarnya tidak cinta denganmu, atau cintaku sama kamu sudah berkurang?”


Marsha sontak menegakkan kepalanya, dan membulatkan kedua bola matanya, kedua tangan wanita itu mulai meremas ujung roknya.


Pria itu melepaskan maskernya kemudian tersenyum sinis. “Apakah kamu sering memuaskan pria lain di luar sana atau mencari kepuasan dariku, sampai tak sadar tangan kamu masuk di balik celana pria itu!”


DEG!


Keadaan di ruang santai terasa dingin dan mencekam.


“Sayang, aku tak pernah berbuat seperti itu, kami hanya berjoget saja,” sanggah Marsha.


Albert berdecih. “Cih ... Jangan panggil aku sayang lagi! Masih saja kamu mengelak, padahal sudah jelas di video yang beredar terekam jelas! Dan semua orang tahu!”


Ketar ketir itu yang dirasakan oleh Marsha, wanita itu hanya melihat sekilas video dirinya yang sekarang viral. Duh kenapa jadi berabeh begini, bisa gawat ini! Biasanya Kak Albert tidak akan memperhatikan dengan jelas. Lagian iseng amat sih orang pakai videoin segala! ... Geram batin Marsha.


Wanita itu beranjak dari duduknya kemudian menghampiri pria itu, lalu bersimpuh di hadapan Albert.


“Sayang, aku tidak melakukan apa-apa, demi Tuhan ... tanganku tidak menyentuh benda pusakanya. Kak Albert pasti salah melihat jangan percaya dengan video itu, pasti itu sudah diedit,” ucap Marsha memelas. “Maafkan aku sayang, aku tidak akan lagi ke club malam.”


Albert wajahnya sudah merah merona seperti menahan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya, padahal hidungnya sudah di tutup oleh salah satu tangannya.


Wanita itu mulai meraba paha Albert. “Kak Albert, sekali lagi aku minta maaf, aku berjanji akan berubah,” ucap Marsha memohon dengan menatap sendu wajah suaminya.


“Huek ... Huek.” Akhirnya isi perut Albert keluar juga, dan pas sekali meluncur ke wajah Marsha yang bersimpuh di hadapannya.


Marsha yang kebagian isi perut Albert, langsung memejamkan kedua matanya dan menahan napas. Dan kembali lagi pria itu mengeluarkan isi perutnya, sebelum wanita itu menyingkir dari hadapannya


“Uuiih ... !” seru Marsha dengan raut wajah jijik.


“Aku sudah bilang jangan dekat-dekat denganku. Dan ingat Marsha, aku akan mengambil keputusan tentang rumah tangga kita!” sentak Albert, pria itu lalu bangkit dan meninggalkan wanita itu dengan kotoran isi perutnya, namun penuh perasaan lega karena sudah hilang rasa mualnya.


"Kak Albert!" panggil Marsha, namun pria itu tak berhenti melangkah.


"Jangan sampai aku di ceraikan!" gumam Marsha sendiri, pikirannya mulai kalut.


Beberapa maid yang tak sengaja melihat, bukannya bantuiin Nyonya nya, malah pura-pura tidak melihat dan buru-buru ke belakang. Tega sekali para maidnya.


...----------------...


Malam ini Albert menempati kamar tamu yang pernah di tempati oleh Tania, barang-barang miliknya yang ada di kamar utama sudah sebagian di pindahkan oleh Pak Firman ke kamar tamu tersebut, secara tidak langsung Albert pisah ranjang dengan Marsha.

__ADS_1


“Bagaimana sudah ada gerakkan yang mencurigai dari Opa?” tanya Albert melalui sambungan teleponnya.


“Tidak ada yang mencurigakan Tuan. Terlihat tenang,” jawab Bimo yang sedari tadi stand by tak jauh dari mansion utama.


Waktu baru beberapa jam dia meninggalkan mansion utama, tapi sudah seperti berminggu-minggu buat Albert, rasanya tak betah jika belum ada perkembangan yang terbaru.


“Kemana kamu berada, Tania!” teriak Albert menggema di dalam kamar, lalu melempar handphonenya ke sembarang arah.


Pak Firman yang baru saja mengantar makan malam untuk Tuannya, jadi terlonjak kaget, untung saja menggunakan troly, kalau tidak bisa jatuh semua piring ke lantai.


Penuh rasa kehati-hatian, kepala pelayan itu meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja dekat sofa.


“Tuan Albert, makan malamnya sudah siap.”


Albert masih dengan rasa frustasinya, mendudukkan dirinya di sofa. “Semua makanan sudah di cek, Pak Firman?”


“Sudah saya coba sebelumnya Tuan, aman,” jawab Pak Firman.


Sekarang Albert jadi sedikit waspada walau tinggal di mansionnya sendiri, dia tidak mau kecolongan jika terjadi sesuatu hal pada dirinya.


Pak Firman dengan setianya melayani Tuannya makan malam.


“Pak Firman, sudah coba telepon Bu Mimi?” tanya Albert disela-sela makannya.


“Belum Tuan.”


“Coba Pak Firman hubungi Bu Mimi, sekarang juga, dan di loudspeaker!” titah Albert.


“Baik Tuan.” Pak Firman mengeluarkan handphonenya dari saku celananya, kemudian menghubungi Bu Mimi.


Albert sambil makan melirik Pak Firman yang masih berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.


Beberapa menit kemudian ...


“Halo, assalamualaikum Pak Firman,” sapa Bu Mimi dari seberang sana.


“Waalaikumsalam Bu Mimi, akhirnya aktif juga hpnya,” jawab Pak Firman, kedua netranya melirik Albert.


“Iya baru sempat di aktifkan, Pak Firman.”


“Bagaimana keadaan Bu Mimi, sekarang ada dimana?” cecar Pak Firman.


Albert menggerakkan tangannya, meminta handphone Pak Firman.


“Bu Mimi,” sapa Albert.


Bu Mimi diam sejenak setelah mendengar suara Pak Firman berubah.


“T-Tuan Albert,” sahut Bu Mimi.


“Saya tahu Bu Mimi bersama istri saya, tolong saya ingin bicara dengan Tania!” pinta Albert, agak memaksa.


Bu Mimi yang sedang duduk di balkon bersama Tania, sesaat melirik wanita itu yang sedang menikmati susu coklat hangatnya yang baru saja dia antar.


“Non Tania.”

__ADS_1


“Mmm ...,” gumam Tania karena masih menyesap susunya.


“Maaf ... Tuan Albert ingin bicara sama Non.” Wanita paruh baya itu menyodorkan handphonenya.


Tania terlihat enggan untuk menerima telepon dari Albert, karena tidak ada hal yang harus dibicarakan, lagi pula pikir Tania pasti Opa Thamrin sudah menyelesaikan masalah mereka berdua.


“Bagaimana Non, mau dijawabkah?” tanya Bu Mimi.


Tania meraih handphone Bu Mimi.


“Halo,” sapa Tania.


Jantung Albert berdebar-debar mendengar suara Tania begitu jelas di telinganya.


“T-Tania, kamu ada di mana sekarang? Bagaimana kabarnya? Kamu baik-baik saja kan?” cerocos Albert, terlihat pria itu sangat mengkhawatirkan wanita itu.


“Kabar saya baik,” jawab singkat Tania.


“Tania, berikan alamatmu, sekarang saya jemput ya.”


“Maaf Pak Albert, tidak perlu menjemput saya, karena saya tidak akan tinggal dengan Bapak. Bukankah Opa sudah menjelaskan kepada Pak Albert, jika kita tidak ada lagi hubungan apa-apa lagi. Opa sudah menggantikan uang 500 juta milik Pak Albert.”


Bergemuruh hati Albert atas jawaban Tania, yang awalnya ingin berkata lembut akhirnya mendorong untuk mengeluarkan suara meninggi.


“Kamu pergi dengan kondisi hamil  calon anak saya, dan dengan semudah itu bilang kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu itu istri saya, Tania!” jawab Albert, nada suaranya naik dua oktaf.


“Tenang saja Pak Albert, walau kita sudah berpisah, saya akan merawat anak saya dengan baik. Bukankah Nyonya Marsha sudah bersedia untuk mengandung anak Pak Albert, jadi sebaiknya fokuslah dengan Nyonya Marsha. Dan untuk kedepannya anggap saja kita berdua tidak ada hubungan apa-apa, saya tunggu talak 3 dari Pak Albert. Jadi selamat malam Pak Albert!” jawab Tania langsung memutuskan sambungan teleponnya. Kemudian mengembalikan handphonenya ke Bu Mimi.


“TANIA!” panggil Albert begitu geramnya.


Pak Firman langsung mengambil handphonenya dari tangan Albert. “Maaf Tuan, jangan dibanting hp saya.”


“ARGHH....” pekik Albert, frustasi.


BRAK!


PRANK!


Sekuat tenaga Albert membalikkan meja hingga semua yang ada di atas meja jatuh dan pecah ke lantai, hingga Pak Firman terjingkat agar tidak kena pecahan piring


“KENAPA DIA INGIN PISAH DENGAN SAYA!” jerit Albert.


“TANIA, ISTRI SAYA PAK FIRMAN, TAPI DIA SELALU MINTA CERAI!” pria itu memukul dadanya yang terasa sesak, berulang kali, menyakiti dirinya sendiri.


Pak Firman tidak bisa berbuat apa-apa melihat Tuannya teriak histeris di kamar, hanya bisa menatap iba.


bersambung ....✍🏻✍🏻✍🏻


 Kakak Readers mau curhat sedikit ya, beberapa hari ini sepertinya ada yang ngotak atik rate salah satu karya saya, kisah Edward dan Ghina dan kisah Kavin dan Salma.



Kemarin rate bintang tiba-tiba turun jadi 4,7 ... entah maksudnya apa! tidak membaca kisahnya tapi kasih rate ⭐1, sebenarnya hak kakak readers mau memberikan rate beberapapun tapi mohon bijaklah, jika memang tidak suka dengan alur ceritanya silahkan ditinggalkan jangan lanjut baca, karena rate ini berharga buat yang menulis. Atau lebih baik jangan memberikan rate.


Buat author yang lain tolong jangan pakai akun palsu untuk menjatuhkan karya orang, kita gak saling kenal loh. Lagi pula saya punya salah apa ya sampai ada yang mau menjatuhkan karya saya. Selama ini saya menghargai karya author yang lain, tanpa mencela.

__ADS_1


Buat Kakak Readers yang sudah baca kisah Edward dan Ghina, kalau berkenan saya minta bantuannya untuk naikin ratenya bisa kasih bintang 4 atau 5. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak 🙏🏻🙏🏻.


 


__ADS_2