Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Menemui renternir


__ADS_3

Rumah Sakit H.


Tania sudah membuka matanya kembali setelah sempat mengalami kejadian yang tidak mengenakan dengan Albert, dan emosinya sudah mulai terlihat stabil, setelah Dokter Irwan memberikan sedikit terapi mental.


Sekarang wanita muda itu sedang menghadapi Opa Thamrin dan Oma Helena di dampingi oleh Dokter Irwan.


Oma Helena secara pelan dan lembut memperkenalkan dirinya sebagai nenek dari Albert, dan menjelaskan kedatangan mereka berdua.


Disaat perkenalkan diri tersebut Opa Thamrin juga menjelaskan dan menerangkan secara hati-hati jika wanita itu adalah istri kedua dari Albert, dan untungnya Dokter Irwan sudah diberitahukan terlebih dahulu saat Opa berbincang jadi sudah tidak kaget, serta Opa meminta Dokter Irwan menjaga rahasia karena hal tersebut belum diketahui oleh publik.


Sesaat Tania terlihat syok dengan penjelasan Opa Thamrin, dan merutuki dirinya yang tidak mengingat jika dia bukan hanya dibeli tapi juga dinikahkan secara siri oleh atasannya.


Namun dengan kelembutan tutur kata Oma Helena, wanita muda itu menerima keadaannya, tidak terkejut seperti tadi pagi ketika bersama Albert tadi pagi.


“Jangan dipaksakan jika kamu tidak mengingat nya, nak ... Biarkan ingatan mu datang dengan sendiri nya,” tutur Oma Helena.


“Iya Oma, tapi jujur hal ini sungguh membuat saya sangat syok.”


“Oma paham, pasti kamu syok dengan semuanya. Tapi tenang saja, Oma dan Opa datang untuk melindungi kamu dari cucu kami, Albert.”


“Terima kasih, Oma.”


Oma Helena tersenyum hangat pada Tania, wanita tua itu sangat bersyukur ternyata cucu menantu yang ini terlihat baik, bisa dilihat dari caranya ber tutur kata dengan orang tua, selalu sopan dan sangat menghargai keberadaan mereka berdua.


 “Kalau boleh Opa tahu, orang tua kamu tidak menemanimu di sini?”


Wanita muda itu menundukkan wajahnya sesaat lalu mengangkatnya. “Mereka tidak tahu jika saya di rawat, lagi pula jika tahu pun mereka tidak akan peduli, Opa. Lagi pula kata Pak Albert, saya dijual oleh ayah saya, berarti ayah saya tidak menyayangi saya sebagai anaknya,” balas Tania.


Oma Helena mengusap lengan Tania agar wanita itu merasa tenang. “Sabar ya nak, kamu pasti bisa melalui semuanya,” imbuh Oma Helena, tapi batin nya merutuki perbuatan ayah Tania. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


“Oma dan Opa sekarang bagian keluarga kamu. Kamu tidak sendirian lagi, jadi jangan menganggap tidak ada yang menyayangi mu. Dan perlu kamu ketahui setelah secara fisik kamu dinyatakan sehat oleh Dokter, kamu akan tinggal bersama kami di mansion utama,” ucap Oma Helena.


“Tapi Oma—”


“Jangan berpikir apapun Tania, dan tak boleh menolak, lagi pula kamu tidak mungkin kembali ke rumah orangtuamu kan, dan kamu pastinya tidak mau balik ke mansion suami mu kan?” tanya Oma.


“Iya Oma,” jawab Tania pasrah, memang dia sekarang tidak ada tempat tinggal yang akan didatanginya setelah keluar dari rumah sakit, paling banter menginap di rumah Kia.


Disela-sela mereka berbincang, Bu Mimi datang dengan membawa beragam macam makanan yang sempat dibeli oleh Albert sebelum mengedrop Bu Mimi ke rumah sakit.


Sebenarnya Bu Mimi sempat heran ketika Tuannya begitu banyak memesan makanan dengan alasan buat yang ada di ruangan Tania, tapi kalau menurut Bu Mimi, Tuannya membelikan untuk Tania namun tidak menyebutkannya mungkin gengsi.

__ADS_1


“Tuan, Nyonya silahkan di makan,” ucap Bu Mimi ketika sudah menyajikan makanan yang ada di meja.


“Terima kasih Mimi,” ucap Opa Thamrin, sambil mengambil beberapa makanan, begitu pula dengan Oma. Sedangkan Bu Mimi mengambil beberapa potong ayam goreng serta kentang goreng untuk Tania.


“Non Tania, ada banyak makanan, nih sudah saya ambilkan,” ucap Bu Mimi, sambil menyodorkan piring yang di bawa nya.


Tania tipe yang suka makan, tapi sering menahan diri karena dirinya lebih sering berhemat, jadi ketika ada makanan enak, rasanya healing buat dirinya dan sebuah kebahagiaan tersendiri buat wanita itu.


Wanita itu menerima piring itu dengan suka cita, dan mulai menikmatinya penuh penghayatan. Bu Mimi turut senang melihat Tania begitu lahap makannya, dan berharap nona muda nya cepat sehat.


Setelahnya Bu Mimi kembali bergabung dengan Opa Thamrin dan Oma Helena yang sedang menikmati makannya  di meja makan, asisten kepala pelayan itu melaporkan semua kejadian yang terjadi di mansion yang terkait dengan Albert.


“Pantau terus, dan jangan lupa laporkan apa yang terjadi di mansion Albert,” perintah Opa Thamrin.


“Baik Tuan Besar,” jawab patuh Bu Mimi.


“Jadi kamu di suruh Albert ke sini di untuk mengawasi Tania?” tanya Oma Helena.


“Iya Nyonya, Tuan muda memerintahkannya seperti itu.”


“Ck, sudah kasar sama anak orang, tapi pengen tahu keadaannya. Jadi pengen tahu Albert itu maunya apa! Katanya cinta mati sama si Marsha! Tapi bagus deh kalau cinta nya berkurang sama si Marsha!” gerutu Oma Helena, sembari mengunyah makanannya.


“Kita lihat aja Oma, cucu kita kayak apa kedepannya, yang jelas sebaiknya kita jauhi Albert dari Tania!” tukas Opa Thamrin.


 


...----------------...


Restoran


Gerry sudah mengatur permintaan Albert untuk bertemu rentenir yang menghubungi dirinya dengan kedua orang tuanya Tania. Tepat jam 16.00 wib, pria itu sudah tiba di lobby restoran dan Gerry sudah menunggu kedatangan Bosnya.


“Mereka sudah datang, Pak Albert,” ucap Gerry.


“Mmm....,” gumamnya.


Pria itu melangkahkan kakinya dengan angkuhnya seperti biasa, di dampingi oleh Gerry menuju ruangan VIP. Di saat sudah sampai di ruang VIP, kedua pria yang berwajah berewokan berdiri untuk menyambut Albert.


Tanpa bersalaman pria itu duduk di hadapan kedua pria itu.


“Kalian tahu kenapa saya meminta bertemu?” tanya Albert, menunjukkan kekuasaannya.

__ADS_1


“Sekilas kami diberitahukan oleh Pak Gerry, masalah transaksi tempo hari,” jawab salah satu pria tersebut.


 “Ada masalah kah Tuan dengan wanita yang tempo hari dijual?” tanya salah satu temannya.


“Ya ada masalah, dan saya ingin tahu dengan rinci, kenapa kedua orang tua itu menjual anaknya sendiri! Saya ingin kalian berkata jujur dan tidak menutupi sedikit pun. Kalau tidak saya akan menuntut ganti rugi dari kalian yang sebagai makelarnya!” ancam Albert.


Kedua pria itu agak takut juga dengan ancaman pria penguasa itu apalagi di luar sana sudah ada bodyguard Albert yang berjaga, mereka berdua tidak mau pulang dari restoran hanya meninggalkan nama saja, lebih baik bercerita apa adanya.


“Jadi begini Tuan, Ibu dari wanita itu meminjam uang kepada kami sebanyak 200 juta, waktu itu alasannya untuk menunjang karir modeling anaknya kalau gak salah namanya Clara. Tapi setelah lewat tiga bulan dari tanggal jatuh tèmpo, ibu Rita tidak bayar juga, jadi kami mengancam akan menjual anaknya yang tak sengaja ketemu ketika kami datang untuk menagih di rumahnya, wanita yang Tuan beli.”


Albert terlihat mengeratkan rahangnya hingga garis muka tegasnya semakin jelas, dan mengepalkan kedua tangannya, hatinya mulai geram.


“Dan keesokan harinya ibu Rita menghubungi saya untuk masalah jual wanita, dan dia bilang kalau dia mau jual anak tirinya, saya di minta mencari orang yang sedang membutuhkan wanita,” lanjut kata pria renternir.


“Jadi yang berhutang itu Ibu nya, bukan Tania nya!” ucap Albert, suaranya mulai meninggi.


“B-bukan Tuan, yang berhutang itu Ibu tirinya untuk keperluan anaknya, bukan buat wanita yang Tuan beli.”


BRAK!!


Pria itu memukul meja dengan kepalan tangannya. “Brengsek, berani sekali mereka berkata bohong!” umpat Albert.


“Gerry hubungi bagian production house, keluarkan nama Clara dan blackclist di semua PH atau agency manapun jangan sampai ada yang memakai Clara sebagai model atau apapun di dunia entertainment!” perintah Albert, masih dengan suara meninggi.


“Baik Pak Albert.”


“Dan kalian berdua, ibu itu sudah membayar hutangnya ke kalian?” tanya Albert.


“Sudah di bayar lunas, Tuan, setelah berhasil menjual anaknya ke Tuan."


Setelah mendapatkan informasi jelas dari rentenir, raut wajah pria itu tidak bisa dijabarkan lagi, yang jelas emosi karena kembali di bohongi oleh Ibu Tania, yang rupanya hanya Ibu tiri dan Clara saudara tiri, pantas saja seorang ibu tega menjual anak perempuannya.


 bersambung.....📝


 


Kakak Reader jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komen nya......sedih eeeuy 😭😭😭😭terasa sepi


 


__ADS_1


 


__ADS_2