
Pria itu tidak menggubrisnya, tak lama Clara memegang lengan Albert. “Se-semuanya ini salah Gisel, aku hanya di suruh untuk mencampurkan obat agar anak di perut Tania ma ti, kalau bisa Tania juga ikutan ma ti,” ucap Clara tanpa rasa bersalah. Tapi berhasil membuat Albert semakin naik pitam.
BUGH!
Bukan lagi tamparan yang diberikan oleh Albert, tapi bogeman di wajah Clara, hingga gadis itu tersungkur ke lantai.
Tania langsung memegang lengan suaminya yang mulai ancang-ancang ingin memukul Clara kembali. “Pah, ditahan emosinya, nanti malah papa ikutan ke kantor polisi,” kata Tania, mencegah dengan lembutnya, lalu mengusap dada Albert yang sudah terlihat menggebu-gebu.
“Saudara tirimu memang sudah keterlaluan! Dia ingin menghilangkan anak kita dan dirimu .... Aku emosi. Dasar pembunuh kamu, CLARA!” maki Albert penuh amarah. Clara hanya bisa terpaku diam di lantai, karena masih kaget mendapat bogeman keras di wajahnya, belum lagi menahan sakit di perutnya, yang semakin menyakitkan.
Untung saja beberapa polisi cepat datang masuk ke ruang makan, dan langsung menangkap Clara dan Gisel, hingga Albert tidak kembali melampiaskan emosinya, kalau tidak Albert akan kena sanksi juga atas kekerasan.
Clara dan Gisel menatap nanar ketika kedua tangannya sudah di borgol oleh polisi, dan di gerek keluar dari mansion Albert. Semua harapan yang di inginkan mereka berdua, jatuh ke dirinya mereka masing-masing. Hilangnya masa depan untuk memiliki anak, sudah bisa diprediksi tidak akan memiliki keturunan, karena obat yang diberikan Gisel mampu merusak rahim wanita hingga akhirnya mandul, selain bisa menggugurkan anak yang ada didalam kandungan, ditambah lagi beberapa tahun ke depan mereka berdua akan mendekam di penjara atas perbuatannya.
Ada pepatah yang mengatakan apa yang di tanam itulah yang di dapat, baik perbuatan baik maupun buruk. Dan percayalah orang baik pasti ada malaikat yang melindungi di sisinya.
Mama Shinta dan Oma Helena bergantian memeluk Tania, serta bersyukur niat buruk Clara dan Gisel tidak sampai ke Tania. Albert sebagai suami, menunjukkan dirinya berada di garda depan untuk Tania.
“Alhamdulillah Ya Allah, anakku dan calon cucuku masih dalam perlindungan-Mu, terima kasih.”
...----------------...
Tania, Albert, Mama Shinta, Papa Dimas, Oma Helena dan Opa Thamrin turut mengiring Clara dan Gisel keluar dari mansion, masuk ke dalam mobil polisi. Gerry dan Bimo menggunakan mobil Albert akan ikut ke kantor polisi, yang terparkir dekat gerbang mansion.
__ADS_1
Saat itu gerbang mansion terbuka lebar, dari kejauhan ternyata Bu Rita masuk ke dalam gerbang, dan melihat anaknya Clara di giring oleh polisi.
“CLARA!” teriak Bu Rita dari kejauhan, wanita paruh baya itu berlarian untuk mendekati mereka.
Mereka yang masih berada di luar lobby mansion, melihat kedatangan Bu Rita yang tergopoh-gopoh. Sebenarnya maksud kedatangan Bu Rita ke mansion, ingin bertemu dengan Clara dan meminta agar dirinya bisa tinggal di mansion Albert, karena dia tidak ada tempat tinggal untuk berteduh, beberapa hari dia hanya bisa tidur di pelataran masjid dekat rumah Tania, sedangkan perabotan rumahnya oleh ayah Hans sudah di jual ke tukang loak, agar dapat uang untuk makan.
“I-Ibu ... tolong aku Bu, aku tidak bersalah,” kata Clara sedikit berteriak. Tapi Pak Polisi sudah mendorong tubuh Clara untuk masuk ke dalam mobil.
“A-apa apaan ini kenapa anakku di bawa sama polisi!” bentak Bu Rita.
Albert maju beberapa langkah, namun di tahan oleh Mama Shinta. “Albert, biar mama yang hadapi wanita itu, kamu jaga Tania. Wanita ini bisa tiba-tiba gila!” kata Mama Shinta menunjukkan wajah tegasnya, kemudian wanita paruh baya itu mengikis jaraknya dengan Bu Rita.
“Bagus kebetulan sekali kamu datang, jadi bisa melihat jika anakmu persis kelakuannya denganmu. Tapi untungnya suami anakku tidak bodoh seperti Mas Hans! Dulu kamu ingin sekali melenyapkan anakku, ternyata anakmu kini yang ingin melenyapkan anakku beserta calon ketiga cucuku. Luar biasa ibu dan anak sama-sama ular dan kelakuannya sangat bejat!” kata Mama Shinta sambil menepuk-nepuk bahu Bu Rita, hingga wanita paruh baya itu terus melangkah mundur, dan akhirnya Bu Rita terjatuh di tanah.
Bu Rita hanya bisa tergugu, masih belum terima dengan kenyataan yang bertubi-tubi menimpa dirinya.
“TIDAK, ITU PASTI BOHONG ... PASTI ITU REKAYASA KAMU, SHINTA! KAMU PASTI INGIN BALAS DENDAM PADAKU!” Wanita paruh baya itu bangkit dari jatuhnya, kemudian mendorong Mama Shinta yang sudah berdiri, untung ada salah satu polisi yang masih berada di luar mobil patroli bisa menangkap tubuh Mama Shinta agar tidak terjerembab ke tanah.
Tapi apa yang terjadi Bu Rita merampas senjata api yang menempel di sabuk polisi tersebut. Dan wanita paruh baya itu menodongkan senjata api tersebut ke berbagai arah.
“LEPASKAN ANAKKU SEKARANG JUGA!” teriak Bu Rita.
Malam ini sungguh sangat menegangkan, bayang-bayang ketika Albert di tembak saja belum pudar, sekarang ada lagi di depan mata. Albert mulai pasang badan melindungi istrinya, tubuh Tania mulai gemeteran dan langsung memeluk suaminya, buliran bening kembali jatuh di pipinya. Kenapa air mata selalu hadir di kehidupannya?
__ADS_1
“AYO ... CEPAT LEPASKAN ANAKKU, CLARA! Kalau tidak pistol ini akan mengeluarkan pelurunya,” ucap ancaman Bu Rita, lalu mengulas tersenyum jahat.
Wah ibuku memang cerdas sekali ... Batin Clara.
Bimo dan Gerry kebetulan ada di dalam mobil yang berada tak jauh dari gerbang mansion. Kedua pria itu keluar dari mobilnya, mengendap-endap dan tetap di sisi mobil sambil melihat situasi.
“Bu, tolong letakkan senjatanya ke bawah,” pinta Pak Polisi, dengan hati-hati bernegosiasi.
“LEPASKAN ANAKKU DULU, BARU AKU KEMBALIKAN SENJATANYA!” perintah Bu Rita.
Agak berat melepaskan Clara yang sudah bersalah, tapi Tania minta agar Clara di lepaskan, demi keselamatan mereka semua. Akhirnya salah satu petugas melepaskan borgol Clara dan melepaskannya. Bu Rita terlihat sumringah, ketika anaknya sudah keluar dari dalam mobil polisi.
“Letakkan senjatanya ke bawah, Bu. Baru anak ibu akan ke sana,” pinta Pak Polisi, masih menahan lengan Clara.
Bu Rita menundukkan badannya, dan meletakkan pistol tersebut ke tanah.
“Ibu ...,” teriak Clara langsung berlarian mendekati ibunya.
Pak Polisi baru mau mengambil polisinya, namun Bu Rita kembali meraih pistol tersebut, ternyata Bu Rita mengecohkan Pak Polisi.
“SHINTA, ANAKMU MEMANG PANTAS MA TI! SEHARUSNYA CLARA YANG MENJADI ISTRI ALBERT!” teriak Bu Rita, sembari membidik senjata api yang dipegangnya ke arah Tania yang telah lindungi oleh Albert.
bersambung ...... ada apa selanjutnya???
__ADS_1