Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Memberitahukan Bu Mimi


__ADS_3

Perkataan Gisel sebenarnya sudah ada di pikiran Clara, namun masalahnya yang sekarang di hadapi gadis itu, dia tidak memiliki uang sepeser pun, bagaimana dia mau beli obat yang sering di gunakan teman-temannya kalau tidak menginginkan hamil.


“Gisel, gue bisa pinjam uang gak?” tanya Clara agak memelas.


“Uang! Sorry gue gak terima hutangan, kapok berurusan sama orang yang berhutang!” tolak Gisel.


Clara hanya bisa mendesah kecewa, terpaksa harus putar otak mencari cara yang lain, walau sebenar sudah terlintas apa yang akan dia lakukan.


“Emangnya loe mau pinjam uang bakal buat apa?” tanya Gisel penasaran.


Clara menatap Gisel dalam-dalam, dan mencoba merasakan ‘apakah Gisel bisa di percaya'. “Kalau loe tahu, loe mau bantuin gue? Atau hanya pengen tahu saja?” celetuk Clara.


Gisel menarik salah satu sudut bibirnya. “Tergantung buat apa dulu, kalau menarik, ya gue bakal bantuin. Tapi kalau tidak menarik, gua hanya sekedar tahu aja.”


“Gue tertarik dengan ide loe, membuat kandungan Tania lenyap, tapi gue gak punya uang buat beli obat tersebut,” ungkap Clara.


Akhirnya loe masuk jebakan gue, ini kesempatan gue! ... Batin Gisel.


Gisel agak merapatkan duduknya agar lebih dekat dengan Clara. “Gue punya obatnya, loe mau pakai dulu?” ucap Gisel pelan.


“Serius, loe punya obatnya?”


“Iya, kalau loe mau pakai dulu, gue kasih ... gue bawa nih,” balas Gisel.


Kedua netra Clara berbinar-binar, seakan rencana dia berjalan mulus. Gisel langsung merogoh kantong celemeknya dan menunjukkan botol kecil tersebut.


“Ini obat dosis tinggi, sangat manjur untuk menggugurkan kandungan. Temen-temen gue sudah membuktikan. Nih loe gak perlu bayar, pakai aja,” ucap Gisel, sambil menyodorkannya.


Kedua tangan Yuyun gemeteran ketika memegang handphone dari balik celah pintu, masih berusaha merekam transaksi mereka berdua. Setelah selesai, Yuyun perlahan-lahan menuju ke kamarnya, karena tidak mungkin keluar dari paviliun, masih ada Gisel dan Clara.


“Aku harus kasih tahu Bu Mimi secepatnya,” gumam Yuyun sendiri.


Yuyun menunggu sekitar lima belas menit kemudian kembali mengintip dari jendela, setelah di rasa tidak ada Gisel dan Clara di luar, Yuyun bergegas ke mansion mencari Bu Mimi.


Di saat ke dapur kering, Yuyun berpapasan dengan Clara yang terlihat senyum senyum sendiri sambil melap piring.


Dasar cah gembleng, gak punya hati, gak punya otak! ...umpat batin Yuyun.


Untung saja Bu Mimi ada di dapur kering. “Bu Mimi, saya mau bicara ... Serius,” ucap Yuyun pelan. Bu Mimi menanggapinya agak heran, tumben soalnya.


“Masalah genting tentang Nyonya,” bisik Yuyun. Bu Mimi menghentikan pekerjaannya, kemudian menatap Yuyun. “Ikut saya,” jawab pelan Bu Mimi, agar tidak ketara dengan yang lain.


Yuyun mengekori langkah kakinya Bu Mimi, yang mengarah ke kamar Bu Mimi yang ada di mansion. Setelah mereka berdua masuk kamar, Bu Mimi langsung mengunci pintunya.

__ADS_1


“Yun, ada masalah apa dengan Nyonya?”


“Sebaiknya Bu Mimi lihat ini saja, saya gak bisa menjelaskan secara detail,” ucap Yuyun, sembari memberikan handphonenya dan menunjukkan rekaman video Gisel dan Clara.


Awal nonton Bu Mimi masih belum engah karena yang ada gambar kue, tapi samar-samar terdengar suara percakapan, lalu baru gambar Gisel dan Clara.


“Astagfirullah.” Bu Mimi mengelus dadanya sendiri.


“Kirim videonya ke saya, Yun!” perintah Bu Mimi, dikembalikannya handphone milik Yuyun.


“Sekarang kamu awasi gelagat Clara dan Gisel, jika ada yang mencurigakan, lapor saya. Sekarang juga akan saya laporkan ke Tuan.”


“Siap Bu Mimi.”


Bu Mimi bergegas keluar dan menghadap Tuan Albert dan Tania.


...----------------...


Kamar Utama


Albert dan Tania setelah mengajak keliling Mama Shinta dan Papa Dimas, mereka memisahkan diri karena ingin membersihkan badan.


Selama tinggal di mansion Albert, Tania belum pernah ke lantai dua, apalagi ke kamar utama, jelas belum pernah.



“Semuanya sesuai dengan keinginanmu, Mah. Dan tidak ada barang bekas ... semua baru,” ucap Albert.


Tania pernah berpesan tidak mau ada barang bekas Marsha, jika suaminya ingin sekamar dengannya maka buang barang yang berhubungan dengan Marsha. Dan Albert sangat paham akan hal itu, makanya kamar utama direnovasi total.


Albert masih menuntut Tania ke pintu yang ada di kamar mereka. “Sayang, ini aku sudah menyiapkan buat ketiga anak kita,” ucap Albert, sambil menunjukkan kamar kosong yang lumayan ukurannya besar untuk tiga baby.


Pria itu memeluk Tania dari belakang, yang masih menatap kamar kosong tersebut, tapi sudah di cat nuansa biru soft.


“Terima kasih ya Pah, sudah mau menuruti kemauanku,” ucap Tania lembut.


“Sayang, apapun untuk mama pasti akan aku lakukan, hidupku hanya untukmu dan calon ketiga anak kita.”


Pria itu mulai mengecup tengkuk Tania begitu lembutnya, membuat wanita itu meremang. Tangan besar Albert pun mengusap lembut perut bulat Tania.


“Pah, aku mau mandi dulu ... badanku udah lengket,” ucap Tania dengan hati yang berdebar-debar karena sentuhan dan kecupan Albert.


“Papa ikut mandi ya,” bisik Albert, lalu mengecup daun telinga Tania.

__ADS_1


“Pah, aku malu kalau mandi berdua,” jawab Tania malu-malu, tapi paham dengan keinginan suaminya.


“Kita hanya mandi berdua aja, aku gak minta lebih kok sayang, hanya minta ini aja.” Pria itu mengurai pelukannya, kemudian membalikkan badan Tania. Dengan tatapan hangatnya pria itu menundukkan kepalanya lalu menyentuh lembut bibir ranum istrinya, hingga membuat istrinya terlena. Kedua tangan Tania pun mengalungi leher Albert, dan menikmati pagutan yang sangat lembut dan serasa manis bak candy.


Jangan di tanya dengan hormon wanita hamil, yang terkadang lebih sangat berhasrat untuk di sentuh suami saat hamil ketimbang sebelum hamil.


Dalam beberapa menit, Albert melepaskan pagutannya lalu menarik wajahnya dan mengusap bibir Tania yang semakin memerah dengan jempolnya. “Pah, aku gak bisa napas,” keluh Tania, napasnya terlihat tersengal-sengal.


Pria itu terkekeh melihat Tania menghirup oksigen dalam-dalam akibat perbuatannya yang lama menyesap bibir ranum istrinya.


“Bibir mama rasanya manis, candu buat papa.”


“Papa nih gombal aja, udah ah aku mau mandi ... kasihan anak-anak pasti kegerahan di perut mama,” ucap Tania, sambil lalu.


Albert tidak menuntut hak  berhubungan intim dengan Tania, dia ingin memulainya dari awal, tidak mau terburu-buru, menikmati proses layaknya orang baru pacaran, walau dia harus menekan gairahnya yang selalu muncul jika dekat Tania. Kayak sekarang benda pusakanya sudah menegang dengan sempurnanya di balik celana panjangnya.


“Mama, papa pokoknya mau ikut mandi sama mama ....,” rengek Albert terdengar manja, lalu menyusul istrinya yang sudah mau masuk kamar mandi.


 


bersambung....


"Sabar ya Papa Albert, lagi pada puasa ... juniornya suruh tidur dulu!" 🤭🤭



"Mam, papa jadi suruh puasa lagi dong??" 🤧



 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2