
Keesokannya, di pagi hari ...
Tania merasakan tubuhnya seperti tertindih benda berat di atas perutnya, hingga tubuh wanita itu menggeliat seraya mengerjapkan kedua kelopak matanya.
Pelan namun pasti, kedua netra Tania terbuka, kemudian sedikit beradaptasi dengan cahaya yang ada di dalam ruangannya, cukup lama kedua netranya menyesuaikan, namun setelahnya kedua netranya membulat, sebulat-bulatnya ... wajah tampan Albert pas sekali di wajahnya, kemudian dia meraba pinggangnya yang rupanya tangan pria itu sedang memeluknya.
“AAAKKKHHH...,” jerit melengking Tania, kedua kaki dan kedua tangan wanita itu refleks mendorong tubuh Albert sekuat tenaga.
BUGH!
Terjatuh sudah tubuh pria itu ke lantai, hingga Albert pun langsung terbangun dari bawah alam sadarnya, dan merasakan badannya sakit, wajah Albert meringis kesakitan.
“DASAR LAKI-LAKI KURANG AJAR, BERANI-BERANINYA TIDUR SERANJANG!” maki Tania, wanita itu melempar bantal ke wajah Albert, pas pria itu beranjak dari jatuhnya.
“STOP, TANIA!” balik teriak Albert.
Issh kenapa dia duluan yang bangun, harusnya dari tadi aku bangun!
Itu tandanya kamu pulas tidurnya Albert, saking nyamannya tidur sama istri kedua.
Sorot mata Tania masih membulat. “Stop apanya Pak, Bapak sudah berani melecehkan saya, tidur satu ranjang, pakai peluk segala ... Memangnya saya wanita murahan ... huh! Yang mau jadi simpanan atasannya ... huh!” menggebu-gebu hati Tania, tidak terima apa yang baru saja terjadi.
Albert mencoba meluruskan pinggangnya yang terasa sakit, akibat terjun bebas ke lantai.
“Kamu tuh salah paham, semalam kamu mengigau menangis pakai teriak-teriak segala, makanya semalam saya menenangi kamu, biar kembali tertidur. Tapi saat saya mau kembali ke bed, malah kamu memeluk saya. Makanya saya jadi ketiduran dekat kamu, saya juga gak mungkin melecehkan kamu!” kata Albert, dengan rangkaian dusta nya kembali.
Tania menurunkan amarahnya sesaat, lalu mencerna apa yang dijelaskan oleh Albert, antara percaya atau tidak percaya. “Hah ... Saya tidurnya mengigau, kayaknya gak mungkin ... Bisa aja itu hanya pintar-pintarnya Pak Albert saja berkata bohong,” celetuk Tania.
“Kalau kamu tidak percaya, ada saksinya kok perawat yang mengecek kondisi kamu semalam. Buat apa saya bohong, gak ada untungnya,” sanggah Albert dengan datarnya, agar lebih meyakinkan.
“Enggak percaya!” sahut Tania, wajahnya masih menunjukkan wajah marahnya dengan pria yang sudah berdiri di tepi ranjangnya.
“Dan kamu juga jadi karyawan gak ada sopannya, pakai dorong saya hingga terjatuh.”
“Lah siapa suruh juga tidur di samping saya pakai peluk-peluk, suami juga bukan, main pakai peluk segala. Wajar dong Pak, kalau saya kaget, kecuali saya suka sama bapak ... Ya saya gak bakal kaget ... Malah senang bisa tidur seranjang, kalau perlu saya peluk erat-erat biar gak lepas!” celetuk Tania dengan ketusnya.
__ADS_1
Namun jujur melihat Albert yang baru bangun tidur, walau rambutnya kelihatan acak-acakan ... Tetap tidak mengurangi ke tampan pria itu. Begitu juga pandangan Albert, melihat Tania saat bangun tidur, wajahnya kelihatan semakin cantik natural, apalagi bibir ranumnya yang semakin berwarna merah muda.
Wanita itu menyibakkan selimutnya, dan berusaha untuk duduk, Albert refleks untuk membantunya.
“Enggak usah pakai pegang-pegang segala!” kata Tania, sembari menepis tangan Albert yang baru mau menyentuh lengannya.
Tania menelisik ke semua sudut ruangan, dan baru tahu jika dia hanya berdua dengan Albert, suaminya Marsha.
“Pak Albert, jangan bilang kalau kita dari semalaman berduaan di kamar dan berbagi ranjang! Kenapa bapak masih di sini, dan tidak pulang!” cecar Tania.
“Memangnya apa salahnya kalau saya di sini, lagi pula rumah sakit ini milik saya. Jadi bebas mau ada di sini,” jawab Albert dengan santainya.
Tania sudah merasa pusing menghadapi Albert, di tambah dia juga merutuki dirinya yang masih tidak ingat apapun perihal Albert.
“Oh ... Jadi Bapak yang menyuruh saya pindah ruangan dan membayar biaya perawatan saya?”
“Ya begitulah, seharusnya kamu berterima kasih dengan saya selaku atasan kamu yang sangat memperhatikan karyawannya, padahal kamu hanya karyawan level rendahan,” balas Albert, dengan tatapan yang sangat merendahkan.
“Ooh seperti itu, baiklah kalau begitu.” Tania menatap infusan yang ada di tangan kanannya.
“Tania, kamu mau ngapain, kenapa di cabut jarum infusnya!” Albert mulai gelagapan, di tambah wanita itu beranjak dari ranjang.
“Saya mau ngapain itu urusan saya!” balas Tania dengan menajamkan tatapannya.
“Tapi kamu belum sembuh, Tania.”
Wanita itu mendorong Albert yang menghalangi jalannya. Namun Albert masih menghalangi jalannya, dengan tubuh perkasanya.
“Minggirlah dari hadapan saya, Pak Albert. Jika Bapak tidak mau keluar dari ruangan ini, maka saya yang akan keluar dari ruangan ini. Dan saya tidak peduli ada apa antara saya dengan Pak Albert sebelum saya hilang ingatan! Karena yang saya rasakan, saya begitu benci dengan Bapak!” ucap Tania begitu tegasnya.
Albert menatap tajam wajah Tania. “Silakan kamu membenci saya, tapi yang jelas kamu tidak bisa kabur dari saya!” balas Albert.
Mereka berdua masih dalam posisi berdiri, dan tak ada jarak di antara mereka berdua, saling beradu tatapan ... dan kembali Tania merasa dejavu ...
DASAR LAKI-LAKI BIAADAB!
__ADS_1
Sepenggal kalimat dan sekelebat ingatan muncul sesaat, membuat tubuh wanita itu hampir terjatuh ke lantai, untungnya di saat Tania limbung, Albert segera merangkul pinggang Tania.
“Lihat lah dirimu yang masih sakit, untuk berdiri saja masih sempoyongan.” Selain merangkul pinggang Tania, pria itu juga menekan darah yang yang masih keluar dari bekas infusannya, lalu mengangkat Tania agar duduk di atas ranjang, kemudian memencet tombol panggilan Dokter.
Kok gue merasa pernah berteriak kata-kata biaadab ke Bos sendiri, sebenarnya apa hubungan gue dengan si Bos?
Tania menatap lekat-lekat pria itu tanpa berpaling sedikitpun. Albert memajukan wajahnya ke wajah Tania, dan membalas tatapannya. “Jangan terlalu dalam menatap saya, nanti lama-lama kamu bisa jatuh cinta dengan saya. Kamu kan tahu jika saya sudah memiliki istri, dan tak mungkin saya menduakan hatinya,” kata Albert sedikit mengejek.
“Cuiih!” Tania meludahi wajah Albert, muak sekali wanita itu mendengar kata Albert.
Pria itu sesaat memejamkan kedua netranya, dan mengetatkan rahang tegasnya, sungguh wanita itu sudah menaikkan tensi darahnya kembali. Untuk kedua kalinya wajah tampannya menerima ludahan dari Tania.
Wajah Tania biasa saja dan tak merasa bersalah meludahi wajah atasannya, justru berharap pria itu memecatnya dan menjauh dari dirinya.
“Kenapa Bapak tidak suka dengan sikap saya! Ya sudah menjauhlah dari saya, kalau perlu pecat saya sekalian. Bereskan!” celetuk Tania, kemudian bibir ranumnya tersenyum smirk.
“Tania,” balas Albert geram.
Sebelum Albert melanjutkan kata-katanya, perawat sudah masuk ke dalam ruangan, hingga membuat tatapan mereka berdua buyar seketika.
“Dia habis mencabut jarum infusnya sendiri, tolong dicek,” oi Albert sambil lalu ke perawat, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, apalagi wajahnya sudah kena ludah Tania.
Berani sekali dia meludahi wajahku untuk kedua kalinya!
Dan berani juga bilang benci denganku, padahal diluar sana banyak wanita yang tergila-gila denganku ... Ck ... ck
bersambung......
__ADS_1