
Seseorang akan terasa berarti ketika dia tidak ada di sisi kita, tidak ada lagi di depan mata kita. Itulah yang di rasakan oleh Albert di dalam hidupnya sekarang.
Hari demi hari hidupnya terasa hampa, kosong ... jiwa nya seperti tidak ada di raganya. Semua daya upaya bodygourdnya mencari keberadaan Tania masih nihil, belum membuahkan hasil. Mengintai Opa Thamrin juga tidak ada hasilnya, karena Opa Thamrin tidak mengunjungi Tania ke Bandung, sedangkan Oma jika di tanya keberadaannya oleh Albert, akan dibilang sedang ada di mansion di Singapura, supaya tidak curiga.
Nomor handphone Bu Mimi juga tidak aktif semenjak terakhir bisa dihubungi oleh Pak Firman.
Hubungan Albert dengan Marsha semakin renggang, apalagi pria itu benar-benar tidak bisa di dekati oleh Marsha, karena rasa mualnya belum juga hilang, tapi bukan hanya itu saja ... cinta Albert dengan Marsha sudah pergi entah kemana. Marsha sudah berupaya berkali-kali mencari perhatian suaminya, namun lagi dan lagi tidak bisa menarik perhatian Albert. Pernah suatu hari Marsha nekat masuk ke kamar tamu, untuk menggoda suaminya dengan menunjukkan pesona tubuhnya tanpa sehelai kainpun agar hasrat suaminya naik dan kembali memadu kasih dengannya di atas ranjang, namun yang di dapatnya hanyalah caci maki dan muntahan di tubuh wanita itu.
Sedangkan di perusahaan Maxindo, suasana setiap hari semakin mencekam, horor buat para karyawan sekali. Jangan sesekali membuat masalah atau kesalahan kecil dengan Albert maka pria itu tidak akan segan-segan memecat karyawannya di saat itu juga.
Hampir tiap hari ada saja karyawan yang kena semprot, padahal kesalahannya kecil atau tidak ada kesalahan, dan mulailah ada julukan buat Albert di antara karyawannya yaitu CEO Arogan, tapi tetap saja kharisma dan ketampanannya tidak hilang.
“Duh ... Kia, CEO kita semakin hari semakin jadi galaknya, udah kayak cewek lagi PMS aja,” keluh Vivian di balik kubikelnya.
“Iya ... gue juga jadi ngeri kalau lihat wajahnya, tapi tetep ganteng sih. Ya mungkin karena masalah rumah tangganya dengan Marsha, jadi ke bawa ke tempat kerjaannya,” balas Kia, sambil melongo kepalanya ke kubikal Vivian.
“Eh apa kabarnya si Tania, sudah mulai pulih belum ya, gue kangen ama dia ... hampir tiga bulan loh gak ada kabarnya?” tanya Vivian.
“Dia masih bedrest total, gue ada rencana hari sabtu mau jenguk ke dia di Lembang, kalau sama dia di bolehin ketemu.”
Gerry yang baru saja keluar dari ruang manajer marketing hapus mengantar proposal yang telah di approve Albert, tidak sengaja mendengar suara Kia yang sedang membicarakan Tania, dengan sengaja Gerry melangkahkan kakinya pelan agar bisa mendengar kelanjutannya.
Lembang! Tania ada di Lembang ... berarti di Bandung ... batin Gerry.
Beberapa minggu yang lalu Tania sudah bisa menghubungi sohibnya Kia setelah Mama Shinta membelikan handphone baru untuk Tania. Kia sangat senang ketika sohibnya menghubungi dirinya, setelah sekian lama tidak ada kabarnya.
“Oh di Lembang, jauh banget ... tempat siapa di sana, gue pengen ikut jenguk tapi sayangnya jauh bakal gak dapat izin dari emak gue?” timpal Vivian.
“Gue kurang tahu, lupa nanya. Mungkin aja tempat saudaranya, kalau gak bisa ... Jenguknya pas dia balik ke Jakarta aja,” balas Kia, wanita itu tidak menyadari jika Gerry sedang menguping.
“Iya deh, nanti kalau loe jadi ke Lembang nanti gue nitip makanan buat Tania ya.”
“Ok.”
__ADS_1
Melihat Vivian dan Gerry sudah selesai ngobrol, Gerry buru- buru mempercepat langkah kakinya agar tidak ketahuan.
Kenapa gak kepikiran sama temannya Tania ya! Bos hanya fokus ngikuti Opanya saja ... batin Gerry.
Banyak jalan menuju Roma, tapi yang punya kendali bukanlah manusia, tapi Sang Maha Pencipta Yang memberikan petunjuk ke hambanya melalui berbagai cara, bisa cara lambat atau cara cepat.
...----------------...
Ruang CEO
“Kamu bikin surat penawaran saja dari tadi salah, lihatlah kamu menghabiskan waktu saya saja untuk mengoreksi surat ini!” bentak Albert, sambil melempar beberapa kertas ke wajah Mila, sekretarisnya.
Mila hanya bisa mengurut dadanya, dia salah satu karyawan yang selalu kena amarah Bosnya yang tak jelas, untung saja Gerry sudah menjelaskan ke Mila, jika jiwa Bos mereka sedang terguncang hebat, walau tidak secara gamblang menjelaskannya, karena pernikahan Albert dengan Tania masih tertutup rapi, jadi Gerry hanya menjelaskan masalah rumah tangan Albert dengan Marsha.
Wanita itu menundukkan dirinya kemudian memungut lembaran kertas tersebut tanpa mengeluarkan suara.
Dasar Marsha punya suami sempurna begini, masih berani dekat sama cowok lain, kurang bersyukur banget jadi istri! Gak lihat apa nih suaminya kerjaannya marah-marah terus! Umpat batin Mila.
“Cepat perbaiki surat itu!” pinta Albert dari kursi kebesarannya.
“Baik Pak, segera saya perbaiki.” Buru-buru wanita itu membalikkan badannya menuju pintu.
Albert menghembus napas panjangnya, kemudian menyandarkan dirinya, kedua netranya menatap langit-langit ruangannya ... pria itu kembali membayangkan wajah Tania.
“Aku sangat merindukanmu, Tania,” gumam Albert lirih, jemarinya kembali mengusap kedua netranya yang mulai berembun. Rindu itu berat ya kata Dilan.
Tak ada satupun potret Tania yang di milikinya di handphone, hanya bayangan wajahnya yang terekam di otaknya, namun setiap malam pria itu mengendus daster Tania yang tertinggal di kamar yang dulu ditempati Tania, sebagai obat dan teman tidurnya setiap malam
...----------------...
Lembang – Bandung
Menjelang sore hari
__ADS_1
Semakin hari wajah Tania semakin cantik dan semakin berseri, hidupnya sehari-hari di temani oleh orang-orang yang menyayanginya. Dan dia sudah mulai berdamai dengan ketentuan Allah atas hadirnya ketiga calon buah hatinya. Si bumil cantik julukan yang di berikan oleh Oma Helena buat Tania, perutnya sudah terlihat menonjol dan membesar karena sudah menginjak usia kandungan tiga bulan, dan sudah jelas besar perutnya berbeda dengan ibu-ibu yang hamil 1 anak.
Tania juga sudah diperkenalkan oleh papa sambungnya yang bernama Papa Dimas, pria paruh baya yang cukup tampan di usianya 50 tahun. Papa sambungnya begitu hangat orangnya dan sangat menyayangi Mama Shinta, dan jelas sangat berbeda dengan Ayah Hans. Papa sambungnya memiliki beberapa hotel di Jakarta, Bali dan Jogjakarta, jika kondisi Tania sudah benar-benar stabil kandungannya, ada rencana Tania akan ikut dengan Mama Shinta dan Papa Dimas, serta membantu perusahaan milik Mama Shinta. Semuanya hanya tinggal menunggu waktu.
Angin sepoi- sepoi menyentuh pipi Tania, rambut yang semakin panjang terurai dan sedikit terbang karena hembusan angin di sore hari, wanita itu sedang menikmati panorama indah di belakang villa, tempat favoritnya selama tinggal di sana.
Sembari menatap indahnya ciptaan Allah, wanita itu mengelus perut bulat dan tersenyum hangat. “Sehat-sehat ya nak di perut mama,” gumamnya sendiri.
Loe tahu gak Tania, Bos ganteng kita benar-benar arogan. Tiap hari ada saja yang kena pecat. Pokoknya si Bos udah berubah banget, mana sekarang wajahnya berewokan kayak gak keurus begitu. Nih gara-gara si Marsha kepergok dugem sama cowok lain, jadinya suaminya oleng!
Tania tersenyum kecut mengingat pembicaraannya dengan Kia melalui sambungan teleponnya, padahal dia tidak bertanya tentang Albert, tapi seperti biasa pasti Kia akan bercerita dengan sendirinya.
“Maafkan mama ya nak, biarkan papamu bahagia dengan istrinya. Cukup mama bahagia dengan kalian bertiga.”
bersambung ....
Siapa yang mau Albert ketemu dengan Tania? Tinggalkan komentar ya 😁
Walau arogan tetap ganteng ya Bang Albert, sok atuh dek
__ADS_1