Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Aku jatuh cinta dengan Tania


__ADS_3

Rumah Sakit H, Bandung.


Hati pria mana yang takkan terenyuh melihat calon buah hatinya masih berada di perut istrinya, apalagi kehadiran buah hati yang sudah lama dinantinya setelah sekian tahun.


Ingin sekali pria itu mendekap erat wanita yang sedang mengandung 3 anaknya sekaligus, namun apa daya tatapan Tania begitu tajam, menyiratkan penolakan untuk di dekatinya kembali.


Sebelum Tania selesai kontrol dari ruang praktik Dokter Dewi, sang Dokter sedikit menyentil memberitahukan peran suami di saat istri sedang hamil, begitu juga tentang kondisi kehamilan Tania. Untuk saat ini masih dalam pantauan, walau hasil rekam jantung baby-nya menunjukkan progressnya yang lebih baik. Albert dari tempat berdirinya sangat menyimak segala masukkan dari Dokter Dewi, apalagi hal tersebut berhubungan dengan istri dan ketiga calon anaknya, sedangkan Tania sesekali menundukkan kepalanya, namun ujung ekor matanya melirik pria tampan itu.


Setelahnya Tania di antar kembali ke ruang rawatnya, Albert hanya bisa mengekor dari belakang bagaikan anak bebek yang mengikuti induknya.


Namun lagi-lagi Albert tidak bisa turut masuk ke ruang rawat Tania, karena sudah di cegah oleh Oma Helena dan Opa Thamrin.


“Bersabarlah Albert, bukankah tadi kamu hanya minta untuk bertemu walau hanya sebentar,” kata Opa Thamrin, sembari menahan lengan kiri cucunya.


Pria itu memundurkan langkah kakinya, seraya menatap kursi roda yang sudah masuk ke dalam ruangan.


“Temani Opa makan siang, dari tadi Opa nahan lapar,” pinta Opa Thamrin, sembari menunjukkan jam tangannya yang sudah masuk jam 14.00 wib.


“Baik Opa.”


Namun apa yang terjadi saat mereka keluar dari lobby rumah sakit H, rupanya pemburu berita sudah menunggu di luar rumah sakit.


Gerry, Bimo, Leo yang kebetulan keberadaannya tidak jauh dari Tuannya, segera membuat partisi dari tubuh mereka sendiri di bantu juga oleh para Security rumah sakit H.


Albert mulai dikerumuni oleh awak media.


“Pak Albert, wawancara sebentar dong. Apa benar Bapak ada di sini karena istri yang namanya Tania sedang di rawat di sini?” tanya salah satu reporter gosip.


Ternyata netizen memang maha cepat kalau menemukan hal yang masih hangat.


Beberapa orang juga mencecar pertanyaan yang sama, akhirnya pria itu menghentikan langkah kakinya sebelum masuk ke dalam mobil.


“Mohon maaf teman-teman media saya tidak bisa berbicara panjang. Saya ke sini, memang betul istri saya Tania sedang di rawat karena kondisi kandungannya lemah. Mohon doanya untuk istri dan calon anak kami. Terima kasih,” jawab Albert, lalu pria itu masuk ke dalam mobil Opa Thamrin. Dan menghiraukan pertanyaan dari beberapa awak media.


“Mohon maaf semuanya teman-teman, Pak Albert juga butuh privacy,” ucap Gerry, seraya menutup pintu mobil dan menangkup kedua tangannya sebagai tanda mohon maafnya.

__ADS_1


Albert yang sudah berada di dalam mobil hanya bisa mendesah, melihat mobil Opanya masih dikerubuti oleh para awak media, untung saja Security rumah sakit H cepat menghandlenya.


“Mampukah kamu melindungi Tania dari mereka semua, pemburu berita itu? Mampukah kamu meyakinkan Tania menerima kehadiran mu setelah dia menjadi bahan berita keretakan rumah tangga kamu dengan Tania?” celetuk Opa Thamrin.


Albert menatap nanar ke arah jendela mobil. “Aku akan berjuang mempertahankan rumah tanggaku dengan Tania, Opa. Aku siap melindunginya, walau nyawaku jadi taruhanku,” jawab tegas Albert.


“Kenapa kamu ingin mempertahankan rumah tanggamu dengan Tania, bukannya sejak awal kamu hanya menginginkan anak saja?” tanya Opa Thamrin, mengulik isi hati Albert.


Albert meluruskan pandangannya kemudian menundukkan kepalanya sesaat dalam per sekian detik. “Aku jatuh cinta dengan Tania,” jawab Albert, akhirnya keluar sudah kata-kata yang selama ini Opa Thamrin itu tunggu. Pria itu tersenyum tipis penuh kemenangan.


“Kalau begitu berjuanglah untuk meluluhkan hati dari ibu anak-anakmu, tunjukkan rasa cintamu dan sayangmu, serta turunkan egomu,” imbuh Opa Thamrin.


Albert menoleh ke samping lalu menatap wajah Opa Thamrin, dirinya sudah mendapat angin segar dan dukungan dari Opanya.


“Jangan sesekali kamu menyakiti Tania, dia wanita berhati lembut dan baik berbeda jauh dengan Marsha. Dia berhak untuk hidup bahagia, jika kamu memang mencintai Tania, maka berjuanglah untuk membahagianya, sembuhkan luka yang pernah kamu buat. Buktikan kata-katamu itu!”


“Terima kasih Opa, aku tidak akan berjanji tap akan membuktikannya. Terima kasih banyak Opa,” balas Albert, bibirnya tersenyum tipis, semangatnya kembali muncul.


Aku akan berjuang meluluhkan hatimu, Tania.


...----------------...


Pria itu yang belum tahu kesukaan Tania, membelikan beberapa jenis cake, ada black flores, cheese stawberry, tiramisu. Selanjutnya ke toko bunga ... pria itu membeli buket mawar putih.


Gerry sama Bimo hanya bisa garuk-garuk kepalanya melihat Albert bagaikan anak muda yang mau bertemu pacarnya.


Albert juga tidak lupa membeli kan makanan untuk mama mertuanya dan Oma Helena, maklum mau mengambil hati kedua wanita itu, karena mereka berdualah yang dekat dengan Tania.


Sesampainya di rumah sakit, Albert bergegas masuk ke dalam dan menghiraukan para awak media yang ternyata masih menunggu. Pria itu semakin terlihat tampan dengan membawa buket white rose, sedangkan bawaan yang lain di jinjing oleh Gerry dan Bimo, mereka sama-sama menuju lantai tiga.


Selamat berjuang cucuku, Albert. Tania memang pantas di perjuangkan .... batin Opa Thamrin.


Pria itu tersenyum hangat melihat buket bunga yang dibelinya. Aku akan berjuang mendapatkan hatimu, istriku...


__ADS_1


Sesampainya di depan pintu ruangan, pria itu memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka, terlihatlah Mama Shinta yang membukakan pintu.


“Ada apa lagi?” tanya Mama Shinta agak ketus.


“Saya mau mengantarkan makanan buat Tania, Mama dan Oma,” ucap Albert dengan pembawaan cukup tenang, sembari melirik kedua anak buahnya.


Mama Shinta melirik bawaan yang di jinjing Gerry dan Bimo, begitu banyak paper bag yang di bawa.


Gerry segera menyodorkan paper bag tersebut ke Mama Shinta, karena menduga tidak boleh masuk ke dalam.


Namun nyatanya Mama Shinta menyuruh Gerry menaruhnya ke dalam ruangan, di ikuti oleh Bimo sedangkan Albert masih berdiri di ambang pintu.


“Mam, kalau saya tidak boleh masuk ke dalam. Saya titip ini buat Tania,” ucap Albert sembari menyodorkan buket bunga tersebut.


Tanpa menjawab Mama Shinta menerimanya. “Mam, sekali lagi saya minta maaf,” kata Albert.


“Nanti Mama sampaikan bunga ini ke Tania,” balas Mama Shinta, lalu kembali masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya di saat Gerry dan Bimo sudah keluar dari ruang rawat.


“Semangat Pak Bos, jangan kendor!” ujar Bimo menyemangati Pak Bosnya.


 


bersambung....


Terima kasih banyak atas dukungan Kakak Readers semuanya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻, semoga selalu diberikan kesehatan dan dilancarkan rezekinya. Aamiin.


Dan mohon maaf buat Kakak Readers yang menanti kisah anaknya Edward dan Erick, sementara di pending lagi karena ada beberapa undangan dari editor NT untuk ikut event, jadi harus mendahulukan dulu karena ada batas waktunya. (Buat yang julid, kalau tidak bagus dalam menulis, tidak akan di undang editor! semoga paham ya 🙏🏻🙏🏻)


Sekedar spill saja untuk kisah terbaru, untuk tidak ketinggalan info terbitnya, follow akun saya ya.


Kali ini ceritanya jauh berbeda dengan karya saya sebelumnya, yang jelas lebih menyakitkan hati, dan bukan kisah rumah tangga.



Salah satu visual pemain nya

__ADS_1




__ADS_2