
Esok Hari
Mansion Albert.
Beberapa awak media sepertinya sedang menunggu sang pemilik mansion di luar gerbang, dengan atribut seragam yang mereka gunakan dari berbagai media
Security mansion angkat tangan, tidak bisa mengusir para awak media, dan membiarkan mereka tetap menunggu di luar gerbang. Gerry yang baru saja tiba di luar gerbang mansion, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihatnya.
Security yang melihat kedatangan mobil milik Gerry, buru-buru membuka gerbang lalu buru-buru juga menutup gerbang mansion agar para awak media tidak turut masuk.
“Sejak kapan mereka ada di luar?” tanya Gerry ketika keluar dari mobilnya kepada salah satu security.
“Dari jam 6 pagi Pak Gerry, mereka mau wawancara Tuan dan Nyonya,” jawab pria yang mengenakan seragam safari berwarna biru dongker.
“Pasti masalah video itu,” gumam Gerry, lalu bergegas masuk ke dalam mansion.
Ketika Gerry masuk, Albert baru saja keluar dari kamar tamu yang berada di lantai bawah, dan terlihat wajahnya kusut, walau penampilannya sudah rapi dengan setelan jas kerjanya berwarna abu-abu.
“Selamat pagi Pak Albert,” sapa sang asisten pribadi.
“Pagi, Gerry,” balas sapanya, dan tetap melangkah menuju ruang makan, Gerry pun mengikutinya.
“Di luar sudah banyak wartawan Pak Albert,” kata Gerry.
Pria yang baru saja mendaratkan bokongnya, menghembuskan napas dengan kasarnya. “Pemburu gosip mulai muncul!” kesal Albert.
Pak Firman yang sudah berada di ruang makan, segera melayani Tuannya untuk sarapan pagi begitu juga untuk Gerry.
“Tuan Albert, obat mualnya sudah di minum terlebih dahulu?” tanya Pak Firman, mengingatkan.
“Sudah,” jawab singkat Albert. Jika lupa minum, maka sudah bisa dipastikan perutnya bergejolak kembali.
“Tuan, perlu saya panggilkan Nyonya untuk turut sarapan pagi?” tanya Pak Firman.
Kedua netra Albert langsung menyalak. “Pak Firman mau cari gara-gara dengan saya, sudah tahu saya tidak bisa dekat dengan wanita itu!” kesal Albert.
“Maaf Tuan, bukan bermaksud seperti itu, kalau begitu silahkan menikmati sarapan paginya,” jawab Pak Firman pelan.
Pak Firman sengaja berkata seperti itu karena ingin lihat reaksi Tuannya, lagi pula selama ini Tuan dan Nyonya nya selalu terlihat bersama-sama kalau ada di dalam mansion dan tentunya sangat mesra. Senyum simpul mengulas di bibir Pak Firman.
Albert melanjutkan makan sarapan paginya walau sebenarnya tidak nafsu, namun dia butuh tenaga untuk melanjutkan mencari istrinya, Tania.
Gerry turut menikmati sarapan paginya, dan tidak membuka suara sebelum Bosnya menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
“Pak Albert, bagaimana dengan awak media yang ada di luar? Mau di temuikah?” tanya Gerry, setelah melihat Albert selesai makan.
“Untuk apa saya menemui mereka, biar itu jadi urusan Marsha!” celetuk Albert.
Gerry hanya manggut-manggut, tapi cukup mencengangkan kemanakah suami yang selalu berada di garda depan disaat istrinya ada masalah!
“Sebelum ke kantor, saya mau ke mansion utama dulu,” titah Albert, kemudian beranjak dari duduknya.
“Baik Pak.”
Mereka berdua sama-sama keluar dari ruang makan, entah dengan sengaja atau tidaknya, tiba-tiba saja Clara seperti mau terpleset lalu meraih salah satu tangan Albert, hingga pria itu oleng dan jadinya jatuh bersamaan dengan Clara.
Pria itu sudah berada di atas tubuh Clara. “Kurang ajar!” bentak Albert melihat wajah Clara pas di wajahnya.
Raut wajah Clara terlihat tenang. “Maaf Pak Albert, saya tadi hampir terpleset dan tak sengaja menarik tangan Pak Albert.”
Sebelum pria itu bangkit dari tubuh Clara, isi perutnya tidak bisa di kompromi lagi.
“Huek ... Huek.” Isi perut Albert terjun bebas, pas sekali di wajah Clara, seketika itu juga gadis itu terkejut dan ingin rasanya turut muntah. Wajahnya sudah penuh dengan isi perut pria yang ingin direbutnya dari Marsha.
“Sepertinya anak-anakku tidak mau papanya dekat dengan wanita lain!” gumam Albert menyadarinya, sembari menyeka sudut bibirnya, lalu beranjak berdiri.
“Huek ... Tolong air dong!” Clara memejamkan kedua netranya lalu mulai terasa mual, lalu bangkit dari jatuhnya dan duduk di lantai.
“Jangan sesekali kamu melakukan hal yang licik Clara, sebentar lagi kamu bisa angkat kaki dari mansion saya. Lebih baik saya jebloskan kamu dan ibumu ke penjara!” bentak Albert, lalu kembali ke kamar tamu untuk berganti pakaian, sebelum pergi.
Sedangkan Clara masih mengusap wajahnya yang sudah basar karena di guyur air seember oleh Albert. Gerry hanya bersidekap melihat Clara, yang sedang mencari perhatian Bosnya.
“Sepertinya caramu untuk mendapatkan perhatian Bos Besar akan sulit, Clara!” cemooh Gerry, kemudian meninggalkan Clara.
Clara mengentakkan kedua kakinya. “Sial ...sial, pakai segala kena muntahan lagi! Gagal gue ngerekam adegannya!” gumam Clara kesal sendiri.
Maksud hati pura-pura terpleset dan tak sengaja menyenggol Albert, hingga terjadi terjatuh bersama, kemudian tak sengaja bibir mereka bersentuhan seperti adegan ciuman seperti adegan di drama Korea, malah berakhir dapat muntahan pas di mukanya. Sungguh tidak sesuai ekspetasi!
“Cepat bersihkan tempat ini!” perintah Pak Firman, yang melihat lantai ruang utama basah.
“Ck ... nyuruh aja kerjaannya, gak lihat apa mula gue udah kena muntahan, baju gue basah begini!” jawab kesal Clara.
“Siapa suruh kamu cari gara-gara!Itu karma buat kamu, dibayar tunai!” balas Pak Firman, sembari menunjukkan handphone yang di temuinya dekat vas bunga, dan ternyata merekam adegan.
Clara langsung meraih handphonenya dari tangan Pak Firman, namun sayangnya rekaman adegan yang terjadi sudah di hapus oleh Pak Firman, gadis itu semakin kesal.
...----------------...
__ADS_1
Albert telah mengganti pakaiannya dan menyusul Gerry yang sudah menunggu di lobby mansion, kemudian masuk ke dalam mobilnya.
“Pak Albert, wawancara sebentar dong!” teriak salah satu reporter, ketika mobil mewah yang membawa Albert keluar dari gerbang mansionnya.
“Pak Albert, mohon konfirmasinya sebentar mengenai video istrinya!” ada yang turut berteriak. Beberapa orang pun berani mengetuk kaca mobil, demi bisa mendapatkan berita.
Terpaksa Albert menurunkan jendelanya, kemudian mengatupkan kedua tangannya. “Mohon maaf, saya lagi di uber waktu,” jawab Albert, lalu kembali menaikkan kaca mobilnya.
Para awak media terlihat kecewa dengan jawaban Albert, terpaksa membiarkan mobil Albert melanjutkan perjalanannya. Biarkanlah ini menjadi urusan Marsha, karena ada hal yang lebih penting dari Marsha adalah mengejar istri keduanya, Tania.
...----------------...
Mansion Utama.
Mendengar kedatangan cucunya kembali, Opa Thamrin hanya bisa menggelengkan kepalanya, sepertinya cucunya masih tidak percaya jika Tania tidak ada di mansionnya.
“Tumben sekarang kamu semakin rajin ke sini!” tegur Opa Thamrin, yang baru saja menghampiri Albert di ruang tengah.
“Sudah cukup Opa menyembunyikan istriku, berikan alamatnya sekarang, aku ingin menjemputnya!” jawab Albert dengan menggebu-gebu.
“Kamu bilang mau menjemputnya, sudah jelas Tania tidak mau di jemput! Jangan egois kamu!” sentak Opa Thamrin, pria tua itu mendudukkan dirinya di sofa, kemudian menatap cucunya dengan menunjukkan wajah tegasnya.
“Seharusnya kamu introspeksi diri kenapa Tania tidak mau bertemu atau di jemput olehmu!” Sesaat Opa menghela napas panjang.
“Apa yang telah kamu perbuat terhadap Tania selama ini, hanya kamu yang tahu! Tapi yang jelas pasti ada sesuatu yang telah kamu lakukan hingga Tania tidak ingin bertemu!” tukas Opa Thamrin.
Perkataan Opa Thamrin bagaikan tamparan buat pria itu, dalam keadaan masih berdiri di hadapan Opa, pria itu sesaat tertunduk.
bersambung...✍🏻✍🏻
Kakak Readers terima kasih banyak sudah membantu menaikkan rate di Kisah Edward dan Ghina, serta Kavin dan Salma, semoga kebaikan Kakak Readers jadi ladang pahala, semoga diberikan kesehatan dan dilancarkan rezekinya. Aamiin.
Sambil menunggu bab selanjutnya mampir yuk ke Karya Author Santi Suki
__ADS_1