Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Bu Rita ke mansion Albert


__ADS_3

Rumah Tania


Bu Rita masih menonton video yang beredar di channel youtube, mengenai Albert dan Marsha, dari sorot mata wanita paruh baya tersebut terlihat tidak menyukai dengan pernyataan Albert jika Tania istri pria itu, jiwa iri dengkinya kembali menyeruak di hatinya.


“Ini tidak bisa dibiarkan, enak sekali Tania dinyatakan sebagai istri satu-satunya pria ini, anak ini hanya wanita yang dibeli bukan istrinya! Anakku Clara yang akan menjadi istrinya!” gumam Rita sendiri.


Wanita paruh baya itu buru-buru menggantikan pakaiannya, Ayah Hans yang sedang kesal dengan istrinya gara-gara uang 300 juta, sedari tadi memilih untuk pergi keluar sejenak, entah pergi kemana.


Setelah merapikan penampilannya Bu Rita menghubungi pria yang menjadi calo jual beli Tania tempo hari, menanyakan alamat rumah Albert, karena Bu Rita tidak bisa menghubungi handphone Clara.


Dengan penampilan yang cetar membahana, wanita paruh baya itu menyeringai tipis setelah mendapatkan alamat rumah Albert, dengan memesan taxi online Bu Rita memutuskan untuk datang kesana.


...----------------...


Mansion Albert


Kedua netra Bu Rita berdecak kagum setibanya dia di depan gerbang mansion Albert, tak menyangka jika pria yang membeli Tania benar-benar sultan setelah melihat tempat tinggalnya.


“Pantas saja Clara tidak pernah menghubunginya, ternyata dia sudah hidup mewah di sini. Kalau begitu aku harus tinggal di sini juga, menikmati kemewahan ini!” gumam Bu Rita sendiri.


Bu Rita melangkahkan kakinya bak wanita sosialita, menuju post gerbang securty.


“Selamat siang Bu, cari siapa ya?” tanya petugas Security.


“Siang, saya ingin bertemu dengan Nyonya Mansion ini, perkenalkan saya ibunya?” jawab Bu Rita dengan gaya sok angkuhnya.


Kebetulan yang bertugas di pos gerbang ada dua orang, mereka berdua saling menatap heran, lalu kembali memindai wanita paruh baya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Maksud Ibu, anak yang mana ya? Mungkin Ibu salah alamat?” jawab Rudi.


Bu Rita berdecak kesal, dan menatap remeh kepada kedua petugas Security. “Ini mansion menantu sayakan yang bernama Albert! Saya ini Ibu mertuanya, cepatan bilang ke anak saya. Ibunya ingin datang!” perintah Bu Rita sambil mengibaskan salah satu tangannya.


“Sepertinya ibu ini kurang waras, Rudi,” bisik rekan Rudi, setelah melihat sikap angkuh dan percaya dirinya, mengaku-ngaku sebagai ibu mertua Tuannya, sedangkan mereka tahu orang tua Marsha, kalau orang tua Tania memang belum pernah melihatnya.


Bu Rita masih berdiri menunggu di depan pos sambil bersedekap, dan menatap Security dengan angkuhnya.


“Kenapa kalian diam saja, ayo cepat kasih tahu sama anak saya. Saya udah kepanasan ini!” bentak Bu Rita, wajah dan lagaknya sudah mirip kayak artis Meriam Belina.


“Maaf Bu, memang betul ini kediaman Tuan Albert, tapi siapa nama anak Ibu?”


Wanita paruh baya itu mendesis. “Ya...Nyonya Mansion inilah, namanya Clara!”

__ADS_1


Kedua pria berseragam itu tersontak kaget dan saling menatap, kemudian menertawakan Bu Rita.


“Hei kenapa kalian berdua tertawa! Kurang ajar ya, awas aja kalau saya sudah ketemu dengan anak saya, kalian berdua akan saya pinta untuk di pecat!”


“Bu kalau menghalu jangan tinggi, kalau tidak sesuai ekspetasi yang ada Ibu jadi gila!” sahut Rudi masih terkekeh.


“Iya Bu halunya jangan tinggi-tinggi, di sini Nyonya Mansion nya namanya Nyonya Tania Kanahaya, kayaknya Ibu gak nonton berita yang viral. Sedangkan di sini ada pelayan yang bernama Clara, hanya pelayan aja!” sahut temannya Rudi.


Wajah Bu Rita mulai memerah dan terlihat geram. “Kurang ajar kalian berdua, Tania itu bukan Nyonya Mansion ini, tapi Clara ... gak mungkin anak saya seorang pelayan di sini!” jawab Bu Rita bersikukuh.


“Kalau Ibu tidak percaya, saya akan panggilkan pelayan yang bernama Clara itu!” kata Rudi sambil memencet line telepon.


Bu Rita memutar bola matanya dan tak percaya dengan kata-kata security tersebut. Wanita paruh ya itu juga menggerutu karena tidak di izinkan masuk ke mansion mewah tersebut.


Tak selang berapa lama, kelihatan gadis yang memakai seragam maid berwarna hitam putih, berlari kecil menuju gerbang mansion setelah di beritahukan jika ada orang yang ingin bertemu dengannya, tapi tidak menyebutkan siapanya.


Bu Rita yang awalnya tatapan biasanya, tiba-tiba kedua netranya terbelalak, bibirnya mengangga.


“Ada yang mau ketemu dengan kamu,” ucap Rudi sambil membuka pintu pos.


“Ibu!” seru Clara terkejut melihat kedatangan ibunya.


“A-anu Bu—.” Clara juga bingung menjelaskannya darimana.


“Kamu datang ke sini untuk jadi Nyonya, istri Albert! Kenapa gaya kamu kayak pembantu begini!” Bu Rita masih tak habis pikir.


“Nyonya dari mana Bu? yang namanya Clara memang pembantu di sini. Yang istrinya Tuan Albert, namanya Tania!” sela Rudi dari dalam pos.


Bu Rita tatapannya menyalak tidak terima dengan perkataan Rudi. Clara langsung mencengkeram lengan Bu Rita agar bisa menjauh dari pos secutry.


“Aku tuh jadi begini, gara-gara ulah ibu. Semua kebusukan Ibu sudah diketahui oleh Pak Albert, dan dia telah mengancam akan memenjarakan kita berdua, kalau tidak terima jadi maid di sini!” ucap Clara dengan ketusnya.


Bu Rita menggelengkan kepalanya pelan, dan sedikit ketakutan dengan kata penjara. Kemudian wanita itu memijat pelipisnya yang mulai terasa penat. Serta masih tak menyangka anak satu-satunya hanya jadi seorang pelayan.


“Dan aku sengaja bertahan di sini, karena misiku belum selesai untuk mendekati Pak Albert, makanya aku terima jadi maid di sini. Ketimbang aku keluar dari sini, dan tidak bisa mendekati Pak Albert!”


“Kamu tahukan masalah rumah tangga Albert dengan Marsha!”


“Ya sudah tahu, bukannya bagus mereka bercerai. Sedangkan masalah Tania, tenang aja Bu ... dia tidak ada di mansion sudah menghilang. Jadi ini sangat memudahkan aku mendekati Pak Albert,” jawab Clara, menyeringai tipis.


Clara dan Bu Rita belum melihat breaking news yang terbaru, yang sudah mulai berhembus di permukaan media televisi.

__ADS_1


“Ibu akan bantu kamu, jika Tania muncul ... lebih baik kita cari cara untuk melenyapkannya dari dunia in!” bisik wanita paruh baya ini.


Bisik-bisiknya Bu Rita dan Clara ternyata di pantau dengan jelas oleh Rudi, merasa aneh dengan gelagat ibu dan anak tersebut. Dan hal itu rupanya direkam kemudian dilaporkan langsung ke Bimo. Rudi sudah di wanti-wanti oleh Bimo untuk memperhatikan gelagat Clara.


 


bersambung ....


Kakak readers yang baik hati dan tidak sombong, alhamdulillah kemarin saya di berikan rate bintang 1 dan rate novel langsung turun, terima kasih sudah diberikan alasan jika karya saya biasa saja 🙏🏻.


Jadi buat kakak reader yang merasa cerita ini membosankan dan biasa saja, monggo jangan di lanjutkan bacanya, dan silahkan pilih cerita yang lebih bagus dari karya saya, maklumlah saya tidak bisa bikin cerita yang sehebat author famous.


Tapi setidaknya hargailah karya seseorang, dan tidak menjatuhkan karya kecuali dia melakukan kecurangan. Baca di aplikasi ini gratis loh Kak, tidak pakai koin seperti aplikasi lain. Saya juga membaca karya author yang lain tidak pernah menjatuhkan karya orang lain, cukup tinggalkan jika tidak suka.


Readers ini sengaja saya tempel di sini, karena pernah komentar di beberapa karya saya sebelumnya, dari awal sudah saya katakan jika tidak suka jangan di baca secara baik-baik. Dan ini entah apa maksudnya!



Mohon maaf ya Kakak Readers jika di pagi jadi ngedumel 🙏🏻


 


 


...----------------...


 



 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2