
"Cukup apanya! Bapak yang dari tadi gak jelas. Sekarang juga buat apa Bapak ada di sini, memangnya tidak di cariin sama istrinya, bukannya pulang ke rumah malah ada di kamar berduaan dengan saya. Sebaiknya Bapak keluar dari kamar ini, kita bukan muhrimnya, nanti dokter sama perawat malah berpikir macam-macam. Jadi sebaiknya Bapak pulang aja!” kata Tania ketus, mulutnya masih belum ada remnya.
Wajah Albert yang putih mulai memerah, dan salah satu tangannya menarik rambut belakangnya sendiri.
“TANIA KANAHAYA, DIAM!” Albert menyebutkan nama istri keduanya dengan nada tinggi karena emosinya sudah naik ke ubun-ubun kepalanya. Tangan kanan Albert langsung membungkam mulut Tania, agar berhenti bicara.
Tangan Tania mulai memukul tangan besar Albert yang masih membungkam hidung dan mulutnya, mereka berdua saling beradu pandangan. Dan sekelebat Tania merasa tidak asing, dejavu ....
Wanita itu mulai merasakan kepalanya berdenyut, sangat sakit, tak tertahankan.
Albert kembali menatap dalam iris mata berwarna abu-abu yang dimiliki wanita itu, ada banyak kesedihan yang tersirat dari matanya namun tersamarkan. Iris mata abu-abu yang begitu bening namun tiba-tiba berembun, pukulan tangan Tania mulai melemah seakan tak ada tenaga, lalu kedua netra wanita itu pelan-pelan terpejamkan.
“Tania...,” panggil pria itu, seketika melepaskan bekapannya. Pria itu mulai menepuk lembut pipi Tania sambil memanggil namanya. Albert mulai terlihat panik ternyata Tania tak sadarkan diri, pria itu langsung berlarian keluar ruangan untuk memanggil dokter dan perawat, padahal bisa memencet tombol yang sudah ada di ruangan.
Dokter Irwan bergegas ke ruang rawat di susul Albert.
“Tania tidak sadarkan diri,” ucap Dokter Irwan setelah memeriksa keadaannya, Albert hanya mengangguk lemah.
“Denyut nadinya agak melemah,” lanjut kata Dokter Irwan.
“Terus bagaimana!”seru Albert, yang sedari tadi jalan mondar mandir, dengan sesekali menyugarkan rambutnya.
“Apakah tadi ada pembicaraan yang menekan pikirannya, Pak Albert?”
“Tidak ... tidak ada tekanan, kami hanya bicara biasa saja,” jawab dusta Albert.
“Biasanya jika ada sesuatu hal yang menguras pikirannya, pasien akan mudah tak sadarkan diri, karena fungsi otaknya dan cideranya belum pulih. Jadi saya harap jangan terlalu memaksa kan, lakukan dengan tenang dan pelan-pelan,” balas Dokter Irwan, tidak yakin dengan jawaban Albert, ada akibat pasti ada sebabnya.
“Tapi ini dia akan cepat sadarkan, Dok?” tanya Albert. Dokter Irwan melihat rasa cemas Albert dibalik wajah datarnya.
__ADS_1
“Tenang Pak Albert, saudara nya akan segera sadar.”
Albert hanya bisa menghela napas, dan kembali mendekati ranjang Tania.
“Jika nanti saat sadar Tania mengeluh kepalanya sakit, obat pereda nyerinya bisa di minum,” pinta Dokter Irwan sebelum meninggalkan ruangannya.
“Ya ... Dokter,” jawab singkat Albert.
Sekarang Albert kembali berdua dengan Tania yang masih tak sadarkan diri, posisi ranjang sudah kembali di sejajarkan, dan pria itu memilih duduk di tepi ranjang, kemudian menatap wajah Tania. Entah kenapa tangan kanan Albert mengelus pipi Tania yang sangat putih. Kenapa di tatap wajah Tania, bukankah hatinya tak suka dengan wanita itu!
Setelah mengelus wajah Tania, tangan pria itu turun ke perut wanita itu, dan tiba-tiba nalurinya ingin mengusap perut datar Tania. “Aku mengharapkan ada anakku di sini, Tania,” gumam Albert sendiri, hatinya tiba-tiba saja berdesir ketika untuk pertama kalinya menyentuh dan mengusap dengan lembutnya. Kedua netra pria itu mulai berkaca-kaca, namun dengan cepatnya pria itu mengusap matanya dan beranjak dari duduknya.
TOK ... TOK ... TOK
Kebetulan Albert sudah beranjak dari duduknya, pria itu membukakan pintu.
“Kalian berdua masuk lah,” pinta Albert, pria itu lebih terlebih dahulu membalikkan tubuhnya.
Pak Firman dan Bu Mimi mematuhi perintah Tuannya untuk masuk ke dalam, lalu semua barang yang di bawa mereka berdua di letakkan di atas meja.
Bu Mimi terkesiap melihat Tania berada di ranjang pasien dengan mata terpejam, hatinya bergetar melihat kondisi wanita itu. “T-Tuan maaf apa yang terjadi dengan Non Tania?”
“Kemarin malam dia kecelakaan di tabrak mobil.”
“Ya Allah.” Bu Mimi setelah meletakkan barang bawaannya bergegas ke mendekati ranjang, lalu menatap Tania penuh rasa iba.
“Ya Allah, Tania kenapa kamu jadi begini,” gumam Bu Mimi sendiri, sambil mengelus lengan wanita itu berulang kali.
Albert hanya melihat dari kejauhan saja. “Tania mengalami gegar otak, dan mengalami hilang ingatan. Termasuk saya yang tidak di ingat oleh Tania,” sahut Albert.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu hanya bisa mengangguk paham. Syukurlah jika Tania tidak mengingat Tuan Albert yang begitu kejam, kenangan buruk tak patut di ingat kembali.
Wanita paruh baya itu kembali menatap Tania, lalu melafadzkan doa yang terbaik untuk Tania, sambil mengusap-usap lengan Tania yang tidak ada jarum infusnya. Semakin lama merasakan usapan yang sangat lembut, membuat wanita muda itu mengerjapkan kedua kelopak matanya, secara perlahan-lahan.
“Non Tania sudah bangun,” kata Bu Mimi. Mendengar kata bangun, Albert bergegas mendekati.
Cukup lama Tania menatap lekat-lekat wajah wanita paruh baya itu. “Tania, akhirnya kamu sadar. Sekarang apa yang di rasa, kepala kamu terasa sakit gak?” tanya Albert.
Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah Albert, untuk sesaat wanita itu menetralkan hatinya, dan mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi, kemudian Tania mendengkus. “Kenapa gak sekalian aja tadi cekik leher saya sekalian, biar mati! tanggung cuma bekep mulut saya!” Nada suara Tania langsung meninggi.
Tania menyibakkan selimut bagian bawahnya hingga salah satu kaki mulusnya terlihat, lalu di tendangnya paha Albert yang menyentuh tepi ranjang.
BUGH!
Albert terkejut melihat kaki Tania menendang pahanya untuk tidak terkena benda pusakanya.
“Minggir gak dari sini, ngapain Bapak masih di sini juga ... Huh!” kata Tania kesal masih menendang kedua paha Albert, tapi pria itu tidak berusaha menyingkir dan membiarkan kaki Tania menendang-nendang. Bu Mimi dan Pak Firman sangat tercengang, dan menjadi saksi keributan suami istri.
Luar biasa Tania berani tendang Tuan Albert ... Batin Bu Mimi.
Albert mengusap wajahnya, “please Tania, saya reflex karena mulut kamu gak bisa diam, tidak bermaksud apa-apa,” balas Albert memelankan nada suaranya, dan mulai menahan kaki Tania dengan tangannya.
"Enggak percaya!" sahut Tania.
Tania mengatur napasnya yang masih emosi dengan pria yang memiliki wajah tampan, sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit. Albert inisiatif meletakkan kaki Tania ke dalam selimut, lalu mengambil obat pereda nyeri. “Ini diminum dulu obat nya jika kepalanya sakit,” pinta Albert, dengan mengulurkan obat di atas telapak tangannya dan segelas air minum. Dengan wajah masamnya wanita itu mengambil dan menelan obat tersebut, entah kenapa di hati Tania merasa sangat benci dengan CEO nya tapi karena apanya dia belum paham, Bu Mimi membantu mengangkat punggung Tania ketika minum obat.
bersambung......
__ADS_1