
Mansion Albert.
Wanita cantik yang berstatus istri sah secara agama dan negara Albert sedang berkacak pinggang dan menajamkan kedua netranya dengan gadis muda yang sedang menikmati sarapan pagi mewahnya di ruang makan.
Gadis itu mengulas senyumnya dan berucap, “Selamat pagi Kak Marsha, jangan berdiri aja, mending gabung makan di sini, ternyata makanan di sini enak-enak ya.”
Wanita itu melangkahkan kakinya mendekati gadis muda itu. “Sejak kapan aku jadi kakakmu, dan lancang sekali kamu ya berani makan tanpa menunggu Nyonya Mansion, dan duduk di bangku aku!” bentak Marsha.
Clara masih tersenyum. “Aduh Kak Marsha, pagi-pagi sudah marah-marah aja nanti cepat tua, tapi eeh ... Gak pa-pa deh cepat tua biar cepat pensiun dari dunia modeling. Oh iya Kak Marsha lupa ya, kalau aku itu juga Nyonya Mansion di sini. Kak Marsha Nyonya Mansion Tua, sedangkan aku Nyonya Mansion Muda, adilkan,” jawab Clara dengan santainya.
Gelas yang ada di dekat Clara, langsung disiram ke muka Clara oleh Marsha. “Dasar wanita gak punya otak, gak tahu diri, lancang sekali kamu mengatur-atur! Keluar kamu dari sini!” teriak Marsha.
Clara meraup wajahnya yang basah, lalu beranjak dari duduknya, kemudian mengikis jarak dengan Marsha. “Aku adalah istri muda Pak Albert, jadi Kak Marsha tidak berhak untuk mengusir aku. Jika pun yang harus keluar dari mansion ini adalah kamu, karena kamu tidak bisa memberikan keturunan untuk Pak Albert! Mengerti!!” jawab Clara, menantang Marsha.
Kedua tangan Marsha mulai terasa gatal untuk mengobrak-abrik gadis yang ada di hadapannya.
“Kurang aja kamu, dasar wanita murahan, pelaakor!” bentak Marsha, wanita itu melayangkan bogeman ke wajah Clara, bukan tamparan lagi, lalu berlanjut menjambak rambut gadis itu.
Clara tidak berpangku tangan saja, dengan senang hati membalas pukulan Marsha, dan jambakannya. Terjadilah per gelutan antar kedua wanita itu di ruang makan.
Para maid yang berada di sana ingin membantu memisahkan mereka berdua, tapi Pak Firman dan Bu Mimi memberi kode agar tidak ikut campur dan meminta di biarkan saja. Di saat seperti itu Gisel diam-diam merekam per gelutan Marsha dengan senyum semringahnya, sepertinya ada bahan baru untuk lambeh turah.
“Ayo semuanya kembali bekerja, biarkan saja mereka menyelesaikan urusan nya,” pinta Pak Firman kepada para maid yang sudah cukup lama menonton pertandingan gelut antara Marsha dan Clara.
Para maid langsung mematuhi, dan kembali ke posisi masing-masing. Sedangkan Bu Mimi ke kamar mandi yang berada di dekat ruang makan, lalu kembali dengan membawa ember kecil.
BYUR!!
Isi ember kecil yang di bawa Bu Mimi rupanya untuk menyiram kedua wanita yang masih bergelut di lantai. Namun ternyata hal itu berhasil menghentikan pertarungan karena Marsha dan Clara langsung gelagapan kayak ikan kurang air.
“Maaf Nyonya Marsha, terpaksa saya hentikan sebelum Nyonya menghancurkan ruang makan,” ucap Bu Mimi dengan tenangnya, lalu meninggalkan ruang makan dengan membawa ember kosongnya.
__ADS_1
Marsha dan Clara sama mendengus kesal, kemudian melihat keadaan tubuh mereka sudah basah dan babak belur, yap kedua orang tersebut wajahnya sudah babak belur di tambah adanya cakaran di muka mereka masing-masing.
“Ingat Clara, kamu secepatnya harus meninggalkan mansion saya! Dan jangan bermimpi tinggi untuk memiliki suami ku, karena aku adalah istri sah nya, wanita yang paling dicintainya!” kata Marsha penuh penegasan.
Clara berdecak kesal. “Kita lihat saja, siapa yang akan keluar dari mansion ini!” balas gadis itu sambil beringsut dari lantai, lalu meninggalkan Marsha seorang diri.
...----------------...
Gadis muda itu masuk ke kamar tamu dengan perasaan kesalnya, berhubung bajunya basah, dia memilih untuk mengganti terlebih dahulu.
“Mentang-mentang istri sah, enak aja mau ngusir gue, lihat aja gue bakal bikin loe di tendang sama suami loe sendiri, dan gue yang bakal memiliki suami loe seorang diri, dan tentu saja sebagai Nyonya mansion!” gumam Clara sendiri, gadis itu tersenyum jahat.
Setelah mengambil baju ganti, gadis itu menatap dirinya di depan cermin yang ada di kamar mandi “Ya ampun muka gue jadi hancur begini,” histeris sendiri Clara. Wajah cantiknya kena cakaran, dan ada luka lebam. Habis bercermin, gadis muda itu keluar dari kamarnya dan berteriak memanggil Pak Firman sekencang mungkin, teriakan nya bagai di hutan belantara saja.
Bu Mimi dengan langkah tegas nya menghampiri Clara yang masih berteriak memanggil Pak Firman di ruang tengah. “Ada apa memanggil Pak Firman? dan sungguh tidak sopan sebagai tamu, memanggil orang berteriak kencang kayak di hutan saja, memangnya tidak pernah di ajarkan etika sama orang tuanya ya!” kata Bu Mimi agak menyindir.
“Kamu bilang aku tidak sopan! Eeh baru jadi pelayan saja gak usah belagu deh! Kemana orangnya, aku ada perlu dengannya, dia kepala pelayan di sini kan. Dan aku ingatkan sekali lagi aku Nyonya Mansion di sini. Jika suami aku kembali, aku akan meminta kamu di pecat ... secepatnya!” balas Clara dengan sikap angkuhnya.
“Nama suami aku Albert, pemilik mansion ini, jangan pura-pura tidak tahu ya. Dan panggil aku Nyonya Clara, bukan Clara! Mengerti!” sentak Clara.
“Percaya diri sekali!” lidah Bu Mimi berdecak, sembari menggelengkan kepalanya, kemudian meninggalkan Clara.
“Eeh ... Kok pergi, cepat cariin Pak Firman, aku tunggu di sini, sekarang juga!” perintah Clara, gadis itu menghempaskan bokong nya di atas sofa.
“Cari sendiri, memangnya saya pelayan kamu!” sahut Bu Mimi dari jauh.
“Dasar babu kurang hajar, udah tua jelek!” teriak Clara kesal. Terpaksa gadis itu beringsut, dan mencari keberadaan Pak Firman.
Para maid yang berpapasan dengan Clara juga mengacuhkan gadis itu, tidak meladeninya, hal itu membuat geram hati Clara.
“Awas ya kalian semua, yang tidak patuh denganku, akan aku pecat kalian biar tidak bisa bekerja di mansion ini lagi!” teriak Clara penuh ancaman, namun sayang di anggap angin lalu oleh para maid.
__ADS_1
“Kasihan masih muda tapi udah gila ya...ckckck!” gumam salah satu maid.
...----------------...
Sementara di kamar utama
Gisel tampak sedang mengobati wajah Marsha yang lebam, penuh rasa kehati-hatian.
“Auw ... pelan-pelan, wajah ku sakit ini!” gerutu Marsha.
“Ini aku mengolesinya sudah pelan-pelan, Nyonya.”
“Hufft...” mendesah Marsha.
“Nyonya maaf, memang benar kalau Clara itu istri Tuan Albert?”
“Ck ... Gak tahu belum ada buktinya, dan belum ada jawaban dari suamiku,” gerutu Marsha.
Kenapa Tuan Albert gak milih aku aja sih, akukan cukup cantik dan sexy ... Batin Gisel mendesah.
“Aku ingin kamu mengawasi Clara, kalau perlu kamu kasih pelajaran biar dia tidak betah di mansion ini, seperti waktu kamu kasih pelajaran buat Tania!” titah Marsha.
Gisel langsung senyum sumringah. “Siap Nyonya, tapi jangan lupa bayarannya?”
“Nanti akan aku transfer, lima juta cukup kan?”
“Wah banyak sekali Nyonya, cukup lah.”
Isi kepala Gisel mulai merancang ide-idenya agar Clara tidak betah di mansion, dan berharap selanjutnya dia yang akan menggantikan posisi Clara menjadi istri Albert walau yang kesekian. Ya begitulah resiko menjadi pria yang memiliki wajah tampan di tambah kekayaan yang di milikinya, sudah pasti wanita berlomba-lomba untuk merebut nya, serta menghiraukan istri sah nya, pelaakor jaman sekarang terang-terangan, tak punya malu.
bersambung.....
__ADS_1
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen, vote nya.....terima kasih sebelumnya 🙏🏻🤗