Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Mencari tempat tinggal baru


__ADS_3

Mansion Albert


Semenjak perintah Albert sebelum kejadian penembakan, Gerry sudah menunjuk kontraktor desain interior untuk menggubah dan merenovasi beberapa kamar di lantai dua begitu pula dengan lantai satu. Bu Mimi pun sudah kembali ke mansion Albert.


Para pekerja bangunan terlihat berjibaku dari pagi sampai malam karena mengejar waktu agar cepat selesai. Suasana mansion pun tambah ramai dengan suara mesin, suara ketokan, serta suara pekerja yang sering bersahutan. Pak Firman turut membantu memantau pekerja kontraktor tersebut.


“Bu Mimi, yang di berita TV itu benar ya ... kalau Nyonya Marsha menembak Tuan Albert?” tanya Yuyun salah satu maid, sembari merajang sayur.


“Ya ... yang di berita itu memang benar, dan bersyukur Tuan Albert sudah sadar dari koma nya,” jawab Bu Mimi.


Clara yang turut berada di dapur, menguping pembicaraan mereka yang berada di dapur basah.


“Tega banget sih Nyonya Marsha, cari penyakit sendiri. Udah jelas yang salah dia sendiri, dia juga yang marah! Untung deh sudah di ceraiin sama Tuan Albert!” balas Yuyun.


“Terus Bu Mimi, kalau Nyonya Marsha sudah bercerai dengan Tuan Albert, kenapa mansion di renovasi begini?” tanya Gisel ketus.


Bu Mimi menatap Gisel salah satu pelayan pribadi Marsha, dan juga maid yang telah bersikap kasar dengan Tania tempo hari.


“Hak apa kamu bertanya seperti itu Gisel? memangnya ini mansion milikmu. Mau di renovasi kah atau di jualkah itu hak Tuan Albert bersama istrinya. Kita sebagai pekerja tidak perlu tahu,” balas Bu Mimi.


Gisel hanya bisa mendengus kesal. “Saya cuma bertanya aja Bu Mimi, lagi pula Tuan kan sudah jadi duda, belum menikah lagi,” celetuk Gisel pura-pura tidak tahu, atau tidak menganggap keberadaan Tania.


Bu Mimi mengelengkan kepalanya dan menyeringai tipis. “Pintar sekali kamu berpura-pura tidak tahu Gisel, padahal sudah jelas sekali istri Tuan Albert itu siapa. Saya kasih tahu ya Istri Tuan Albert adalah Nyonya Tania Kanahaya, anak dari pengusaha terkenal di Surabaya! Tolong di ingat dengan baik-baik ya Gisel, karena Nyonya kamu bukan Marsha lagi!” tutur Bu Mimi penuh penegasan.


PRANG!


Clara yang sedang mencuci piring tak sengaja menjatuhkan gelas ke lantai, sontak semua menoleh ke Clara.


Tania, Anak pengusaha terkenal? Ah ... Gak mungkin ... orang kami satu ayah, sedangkan ibunya Tania kan gak jelas keberadaannya ... batin Clara.


“Ups ... Maaf saya gak sengaja,” jawab cepat Clara, gadis itu buru-buru menyapu pecahan gelas itu.

__ADS_1


Bu Mimi tidak melanjutkan mengiris daging sapi, sesaat dia menatap wajah maid yang lainnya terutama Clara dan Gisel. “Jika kalian berniat jahat dengan Nyonya Tania, maka siap-siap penjara menunggu kalian. Jadi saya ingatkan sebelum berulah, maka sebaiknya ajukan pengunduran diri kalian. Masih banyak orang di luar sana butuh pekerjaan!” ancam Bu Mimi.


Gisel terdiam, sedangkan Clara diam-diam mencebik.


Gue gak bakal keluar dari mansion ini, sebelum Pak Albert menjadi milikku! ... batin Clara.


Gadis itu dengan membawa serokan sampah pecahan beling, keluar dari dapur untuk ke belakang membuang sampah tersebut.


Derrt ... Derrt ... Derrt


Handphone milik Clara yang tersimpan di kantong celemeknya berbunyi. Gadis itu merogoh kantong celemeknya.


“Ck ... buat apa sih si Ibu telepon, udah tahu aku gak punya uang!” gumam Clara sendiri.


“Halo ada apa Bu, kok telepon lagi!” sapa Clara saat menerima panggilan telepon.


“Clara, tolong bantu Ibu?” Suara Bu Rita agak mendesak.


“Ibu dan Ayah di usir dari rumah!” suara Bu Rita terdengar memelas.


“Loh kok bisa di usir, siapa yang berani mengusir Ibu sama Ayah dari rumah kita?”


Bu Rita mendesah panjang. “Kami di usir oleh mamanya Tania.”


“Mamanya Tania! mamanya Tania datang Bu?” tanya Clara, terkejut.


“Iya mama Tania datang tiba-tiba, dan mengusir kami dari rumah kita nak. Kami di permalukan di depan tetangga ... Ibu jadi sakit hati,” ucap Bu Rita sedikit terisak, biar terkesan dramatis di pendengaran Clara.


“Kurang ajar tuh orang, gak tahu diri! ... Udah lama gak muncul dengan seenaknya mengusir Ibu dan Ayah!” geram Clara.


Clara yang tidak tahu siapa pemilik rumah yang ditempatinya, terbawa emosi mendengarnya, kebenciannya dengan Tania menjadi bertambah.

__ADS_1


“Sekarang Ibu mau minta tolong apa?” tanya Clara.


“Ibu minta tolong, coba kamu usahakan agar Ibu dan Ayah bisa tinggal di mansion Albert, Ibu gak tahu harus tinggal di mana sekarang, uang buat kontrak rumah saja gak punya,” ucap Bu Rita memelas.


Clara ikut terhenyuh dengan keadaan ibu dan ayahnya, tapi bingung dengan permintaan ibunya.


Bu Mimi ternyata membuntuti Clara, dan sekarang sedang bersidekap menatap punggung Clara yang masih menerima panggilan telepon.


“Jangan sesekali kamu membawa orang luar untuk tinggal di mansion ini tanpa seizin Tuan Albert dan Nyonya Tania. Jika kamu ingin membantu ayah dan ibu mu yang biadab itu silahkan kemasi barang-barang kamu dari sini!” gertak Bu Mimi.


Clara terkesiap dan langsung memutar balik badannya. “B-Bu M-Mimi!” ucap Clara tergagap, tak menyangka jika Bu Mimi mendengar pembicaraannya.


Bu Mimi sudah dekat dengan Mama Shinta, dan mereka berdua masih berkomunikasi, tentang kedatangan Mama Shinta ke rumah Tania pun, Bu Mimi juga sudah tahu.


“Mama Tania berhak mengusir Ibu dan Ayahmu yang bejat itu, karena rumah itu milik Mama Tania dan Tania. Bukan milik ibu atau ayahmu! Dan saya peringatkan posisi kamu di sini hanya sebagai maid untuk menembus kesalahanmu, bukan adik dari Nyonya Tania!” tegas Bu Mimi, menunjukkan wajah garangnya, kemudian berlalu.


Clara bungkam, namun mengepalkan salah satu tangannya ... Tak menerima kenyataan yang di dengarnya.


Kurang ajar ... beruntung sekali hidup lo Tania ... Awas saja akan gue balas saat lo datang!


“Halo ... halo ... !” suara Bu Rita masih memanggil di sambungan teleponnya.


“Bu sepertinya aku agak sulit membawa Ibu dan Ayah untuk tinggal di sini, sebaiknya ibu cari pinjaman uang aja buat mengontrak sementara!” jawab Clara, kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya.


“Dasar anak kurang ajar, berani sekali memutuskan teleponnya!" gumam Bu Rita, kesal sendiri.


Kini Bu Rita hanya bisa berkacak pinggang di luar halaman rumah Tania, sembari menatap perabotan yang tergeletak di luar rumah. Sedangkan pintu rumah serta pagar sudah terkunci dengan gembok.


Gara-gara teriakan Bu Rita menghujat Mama Shinta bikin keramaian di blok tersebut, akhirnya Pak RT datang dan menjelaskan pokok perkara kepada warga, jika Mama Shinta adalah pemilik rumah sekaligus mamanya Tania, mantan istri Hans. Tetangga yang awalnya bersimpati dengan Bu Rita karena di usir tiba-tiba dari rumahnya, akhirnya mencemoohkan Bu Rita sebagai pelakor, dan tak ada satu pun yang mau menolongnya. Ayah Hans hanya bisa terduduk di bawah, dengan menyandarkan dirinya ke pagar rumah.


bersambung ....

__ADS_1



__ADS_2