
Esok Hari ...
Mansion Albert
Berulang kali Marsha mencoba menghubungi nomor handphone suaminya, masih saja tidak di aktif nomor nya, begitu pula dengan nomor handphone Gerry tidak aktif juga.
Dari semalam Marsha tak henti-hentinya menghubungi dan menunggu kepulangan Albert, namun rupanya hingga pagi ini suaminya tidak kunjung pulang dan memberikan kabar.
“Kenapa semalam tidak pulang, atau jangan-jangan Kak Albert ke rumah sakit. Tapi siapa yang sakit?” gumamnya sendiri.
Derrtt ... Derrtt ... Derrt
Jelita calling
Melihat nama yang menelepon, Marsha langsung mengangkatnya.
“Hai Jelita, tumben masih pagi kamu telepon?” sapa Marsha.
“Wah sombong banget nih cewek, iya aku kangen sama kamu, makanya aku pagi-pagi telepon. By the way nanti siang kamu ada acara gak nih?” balas Jelita.
“Mmm ... gak ada sih, kenapa memangnya?”
“Pak Robby sih sutradara film ngajak ketemu, kamu mau ikutan gak, siapa tahu aja kita di tawarin main film?”
Marsha tampak berpikir dengan ajakan teman sejawatnya. “Boleh deh, ketemuan di mana?”
“Tempat bisa, di restoran hotel Pasific, pas jam makan siang.”
“Oke nanti aku ke sana.”
“Eh tunggu ... aku jadi sampai lupa mau nanya sesuatu, semalam aku sempat lihat suami kamu di rumah sakit H, siapa yang sakit? Kamu lagi gak sakit kan?”
Rumah sakit H ... batin Marsha.
“Oh iya Opa dari suamiku yang lagi di rawat di sana, kebetulan aku gak ikut ke sana, soalnya badan ku agak lelah,” jawab dusta Marsha.
“Oh, syukurlah kalau begitu, aku malah sampai lupa nanya dulu, malah langsung ngajak kamu ketemuan.”
__ADS_1
“Iya gak pa-pa Jelita, kalau begitu sampai ketemu nanti siang ya.”
“Oke see you later.”
Marsha masih memegang handphone setelah mengakhiri panggilan teleponnya, berarti benar dugaan nya ada sesuatu di rumah sakit hingga suaminya sudah dua malam tidak pulang ke mansion tanpa meninggalkan kabar.
“Sepertinya aku harus menyelidikinya, Kak Albert sudah mulai menyimpan rahasia sesuatu dariku!” gumam Marsha sendiri, wanita itu bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap.
...----------------...
Sedangkan di tempat yang berbeda, masih di mansion Albert.
Gadis muda yang katanya model pendatang baru dari jam lima pagi pintu kamarnya sudah digedor-gedor oleh Gisel, dan jangan di tanya apa yang diperbuat oleh Gisel, dengan kunci cadangan yang di ambil dari kotak penyimpanan, pelayan pribadi Marsha menyiram Clara dengan seember air, hingga gadis itu terbangun dari mimpinya.
“Gak usah pakai pasang wajah kesal, loe di sini babu, bangun jam lima pagi bukan jam 10 pagi!” bentak Gisel dengan berkacak pinggang.
Dengan wajah masamnya, terpaksa Clara beranjak dari ranjangnya dengan keadaan basah kuyup.
“Jangan lupa, pakai seragam nya. Gue tunggu loe di belakang!” teriak Gisel, ketika melihat Clara menuju kamar mandi yang ada di luar kamarnya.
Awas ya gue di sini sengaja ber tahan demi menggaet Pak Albert, bukan menjadi babu di sini! Bakal gue balas loe nanti! ... Geram batin Clara.
“Lambat banget ini babu baru, cepatan sana ke belakang, toilet belakang sudah minta di bersihkan!” celetuk salah satu maid yang berpapasan.
Clara menajamkan tatapannya merasa tidak suka di perintah sama maid yang lain, tapi kali ini maid tidak takut dengannya, lagi pula strata mereka sama, sama-sama maid.
“Ck ... Gak usah pakai melotot, loe sama kayak kita di sini, hanya pelayan bukan Nyonya Muda!” ujar salah satu maid dengan tegas.
Maid yang lain sengaja menyenggol bahu Clara ketika berpapasan, hingga gadis itu terjatuh ke lantai.
“Ups ... Sorry gak sengaja, kasihan sampai jatuh ya!” ledek salah satu maid.
Satu persatu maid yang pernah dikatai dan dimarahi oleh Clara, kompak membully gadis itu tanpa ampun.
“Eh ... Sorry ya muka kamu kena tumpahan air.” Salah satu maid sengaja mengguyur wajah Clara dengan air yang ada di gelasnya.
Clara terlihat geram. “Kurang ajar kalian semua, akan gue balas ketika gue benar-benar menjadi Nyonya di sini!” teriak Clara.
__ADS_1
Lima maid yang diteriaki Clara, mulai mendekati Clara yang belum bangkit dari jatuhnya, dan mulai mengelilingi gadis itu dengan memasang wajah garang. Gadis itu auto kicep karena salah satu dari mereka meraih rambut Clara. “Eh di sangka kita takut sama loe! Sadar diri jadi orang, loe gak pantas jadi nyonya di sini. Udah gila loe!” ucap salah satu maid sambil menarik rambut Clara sampai ke belakang.
Clara meringis kesakitan karena rambutnya ke tarik dengan kuatnya, dan dia juga tidak bisa berkutik, satu lawan lima, pasti kalah.
“Ada apa ini semuanya berkerumun!” suara bariton Pak Firman terdengar jelas.
Para maid yang mengerumuni Clara langsung mundur, lalu mereka menundukkan kepalanya.
Pak Firman menatap Clara yang sedang memegang rambutnya dan masih terduduk di lantai.
“Jika kalian masih ingin lama bekerja di sini, jangan cari keributan. Kembali kalian semua ke pekerjaan masing-masing!” tegur Pak Firman.
“Baik Pak Firman,” jawab mereka serempak, kecuali Clara.
“Dan kamu Clara, selama di sini harus tahu posisinya! Kecuali kamu memang sudah siap masuk penjara! Kerjakan tugas kamu, membersihkan toilet yang ada di dalam mansion kecuali kamar tamu dan kamar utama!” perintah Pak Firman dengan tegasnya.
Bukannya beranjak dari lantai, malah gadis itu meregut, di sangkanya akan dikasihani oleh kepala pelayan, tapi ternyata tidak, tugasnya harus dikerjakan.
...----------------...
Rumah Sakit H.
Albert mengeratkan pelukannya, kemudian tersenyum hangat menatap wanita yang masih terlelap tidur, entah kenapa ada perasaan nyaman ketika tidur bersama Tania, apalagi semalam Albert melakukan penyatuannya walau hanya sekali.
Di rabanya kembali perut datar Tania. “Semoga perutmu cepat isi anakku,” bisik pria itu, penuh harapan yang ingin segera dikabulkan.
Sebelum bangkit dari pembaringannya, pria itu mengelus pipi Tania lalu mengecupnya, kemudian turun ke perut Tania dan mengecupnya juga. “Cepat hadir ya anaknya papa di sini,” gumam Albert sendiri.
Sadarkah Albert dengan sikapnya pagi ini, yang tiba-tiba saja sedikit berbeda! Semoga cepat menyadarinya!
Pria itu beranjak pelan-pelan dari ranjang, agar Tania tidak turut terbangun, selanjutnya pria itu mengambil baju ganti dari tasnya dan membawanya ke kamar mandi. Pria kalau sudah berada dekat dengan orang yang diinginkan nya, apalagi sudah berbagi peluh, biasanya di pagi hari badannya terasa segar dan wajahnya cerah, itulah yang dirasakan oleh Albert, tapi pria itu belum menyadari suasana hatinya.
Setelah pria itu selesai membersihkan dirinya, di bukanya kunci pintu ruangan karena biasanya di pagi hari akan ada petugas yang mengantarkan sarapan pagi. Sambil menunggu pria itu mengaktifkan handphonenya, dan banyak sekali pesan dan panggilan yang tak terjawab dari istrinya di saat pria itu mengecek, sesaat Albert menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menatap ranjang Tania dari tempat duduknya, ada sesuatu yang dia pikirkan.
bersambung ....
Kakak Reader jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, makasih sebelumnya.
__ADS_1
Lope lope sekebon 🍊🍊🍊🌻🌻🌻🌹🌹🌹