Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Keluhan Albert


__ADS_3

Andaikan boleh memilih, Albert ingin tetap berada di rumah sakit untuk memantau keadaan Tania, namun apa daya pria itu sepertinya sedang tidak beruntung, di tambah Marsha mengetahui keberadaannya dan menyusulnya.


Saat ini pria itu berada di ruang kerjanya, dan memilih duduk di kursi kerjanya. Pak Firman sudah meletakkan tas kerja Tuannya di atas meja, hingga pria itu mengeluarkan isi tasnya.


“Pak Firman nanti tolong siap kan beberapa stel pakaian saya ke dalam tas kecil, nanti akan saya bawa,” perintah Albert sebelum kepala pelayannya keluar dari ruang kerjanya.


“Baik Tuan, akan saya siap kan.”


Setelah Pak Firman keluar, Albert menatap berkas yang dikeluarkan dari tas.


Seumur hidup aku tidak pernah melakukan nya, semua pekerjaan itu kerjaan Tania di rumah.


Sepintas Albert teringat ucapan Clara, dan merasa aneh. Jika mereka saudara seharusnya apa yang ada di rumah pasti akan dikerjakan bersama bukan satu orang yang mengerjakannya ini pasti ada sesuatu pikir Albert.


Pria itu ke pikiran untuk menanyakan ke asistennya.


“Halo Gerry!” sapa Albert melalui sambungan teleponnya.


“Ya Pak Albert, ada yang bisa saya bantu,” balas Gerry.


“Gerry, kamu masih ingat rentenir yang menghubungi kita saat menawarkan Tania?”


“Ingat Pak, kenapa memangnya?”


“Hubungi orang itu, saya ingin bertemu dengannya sore ini juga di tempat biasa,” perintah Albert.


“Baik Pak, akan segera saya hubungi.”


Tumben Pak Albert mau ketemu renternir, ada apa ya?


Gerry segera menghubungi pihak ketiga yang memakelarkan transaksi tersebut, untuk bikin temu janji.


Albert kembali memusatkan fokusnya ke pekerjaannya yang sempat tertunda, namun tetap saja tidak fokus, badan boleh saja ada di ruang kerja nya, tapi jiwanya tertinggal di rumah sakit, otaknya sudah terkontaminasi dengan wajah Tania!


“Sayang...,” ucap Marsha yang sudah melongo kan kepalanya di sela-sela pintu sebelum terbuka lebar.


Pria itu menaikkan wajahnya yang sedang tertunduk, lalu Marsha dengan langkah anggunnya mendekati suaminya.

__ADS_1


“Sayang, terima kasih ya ... Maaf kalau sebelumnya aku sempat menuduh Kak Albert menikah kembali dengan wanita lain, ternyata dia hanya maid di sini,” ucap Marsha begitu manisnya. Wanita itu mencoba untuk duduk di atas pangkuan suaminya, tapi Albert keburu menggeser maju kursinya. Terlukis wajah kecewanya Marsha.


“Mmm ... wanita yang aku nikahi ada dua, kamu dan Tania, tidak ada wanita lain!”


“Tania, Kak Albert menganggap Tania istri juga!” sentak Marsha.


“Aku bilang wanita yang aku nikahi, Marsha!” balik sentak Albert.


“Kak, bukankah Kak Albert tidak akan mengakui Tania sebagai istri, tapi hanya sebagai ibu pengganti, ingatkan!”


Albert meletakkan kertas yang ada di tangannya ke atas meja, lalu menatap tajam ke arah Marsha yang masih berdiri di samping kursinya.


“Marsha, sepertinya kita harus memikirkan tentang rumah tangga kita selama empat tahun ini! Entah di sadari atau tanpa di sadari banyak hal yang salah yang selama ini aku lakukan sebagai kepala rumah tangga. Aku yang selalu memanjakanmu, menoleransi segala apapun yang kamu lakukan diluar sana dan aku yang selalu menuruti keinginan mu. Dan aku rasa sudah cukup, aku banyak kesalahan yang tidak bisa mendidik seorang istri sebagai suami dan kepala rumah tangga!”


“Tidak selamanya aku yang mengalah padamu, Marsha. Tapi kamu sebagai istri tidak ada timbal balik selayaknya istri yang baik, pernahkah kamu ada perhatian dengan aku yang sebagai suami, adakah kamu sedikit berkorban meluangkan waktu untuk aku selain hanya tidur bersama di malam hari atau urusan ranjang. Aku juga butuh yang lain Marsha! Kamu bisa menjadi model terkenal, berkat siapa Marsha! Berkat campur tangan aku, jika kamu tidak menikah dengan aku, kamu bukanlah siapa-siapa!”


“Kamu semakin sibuk dengan dunia mu, dengan teman-teman sosialitamu! Dan aku membiarkan nya menunggu kamu sadar, tapi rupanya  tidak sadar juga hingga saat ini!”


Marsha bergeming, tidak bisa berkata-kata.


“Dan sekarang kamu menuduh aku menikah dengan wanita lain, dan kamu tahu Marsha, aku sangking menghargai dan mencintai kamu, aku izin dan meminta kamu mendampingi aku menikah dengan wanita lain yaitu Tania. Seperti itu aku sangat mencintaimu, Marsha!” ucap pria itu, sembari beranjak dari duduknya dan mengikis jarak antara dia dan Marsha.


“T-tanya apa, Sayang!”


“Benarkah saat kita menikah, kamu masih perawan? Belum pernah melakukan hubungan intim dengan siapapun? Atau kamu telah melakukan operasi selaput dara?” cecar Albert, dengan tatapan menelisik.


DEG!


Tangan Marsha mulai berkeringat, wajahnya pun mulai terlihat gugup, hingga wanita itu memalingkan wajahnya dari tatapan Albert.


“Kamu tahu dari awal aku suka dan menghargai sebuah kejujuran dalam sebuah hubungan, tapi jika memang dari awal sudah berbohong, maka pastinya selalu ada kebohongan!” ucap Albert penuh ketegasan.


Kenapa tiba-tiba Kak Albert menanyakan hal keperawanan, kacau ini !


“Jawablah, Marsha!” desak Albert.


“Kak Albert, aku benar-benar masih suci saat menikah dengan Kak Albert, aku tidak pernah melakukan dengan pria lain, lagi pula selama kita pacaran Kak Albert tidak pernah menyentuhku sampai kita resmi menikah,” ucap Marsha, begitu tenangnya.

__ADS_1


“Betulkah!”


Marsha mengangguk pelan, lalu meraih tangan Albert lalu menggenggamnya. “Kak tolong jangan bicarakan masalah hal tadi, bukankah itu empat tahun yang lalu. Dan untuk masalah aku sebagai istri, bukankah Kak Albert bilangnya mengerti dengan duniaku, kenapa sekarang di ungkit kembali,” balas Marsha.


Hati Albert tambah kecewa, ternyata percuma saja sudah menyampaikan keluhannya tapi tidak masuk ke otak wanita itu. Memiliki wajah cantik atau tampan tidak menjamin memiliki otak yang cerdas.


 Albert melepaskan genggaman tangan Marsha. “Pahami apa yang sudah aku bicara!” pinta Albert, kemudian berlalu melewati Marsha, meninggalkan ruang kerjanya.


“Gawat ini kenapa sekarang Kak Albert mempertanyakan semuanya, biasanya gak ada masalah. Ini gak bisa dibiarkan lama-lama, jangan sampai Kak Albert berubah!” gumam Marsha sendiri.


Albert yang sudah keluar dari ruang kerja, mengambil tas kecil yang sudah di siapkan oleh Pak Firman, dan meminta Bu Mimi untuk ikut dengannya. Wanita paruh baya itu mematuhinya dan turut masuk ke dalam mobil bersama tuannya.


“Bu Mimi, nanti saya drop ke rumah sakit. Saya minta tolong jaga Tania di rumah sakit dan laporkan apa yang terjadi di sana, kebetulan saya tidak bisa menemaninya karena ada Opa dan Oma saya,” pinta Albert.


“Baik Tuan,” jawab patuh Bu Mimi.


Selagi Bu Mimi ada kesempatan berada dekat dalam waktu lama dengan Tuannya, wanita paruh baya itu menceritakan mengenai Tania, termasuk kelakuan Marsha terhadap Tania yang perlu diketahui Tuannya, setelah melihat beberapa hari Tuannya sedikit perhatian dengan Tania.


“Astaga, jadi Marsha menyiram dan mendorong Tania!” ucap Albert terkejut.


“Bukankah Tuan juga sudah berbuat kejam dengan Tania,” balas Bu Mimi tanpa ekspresi.


Albert memalingkan wajahnya dan tidak menyanggahnya, memang benar dia mungkin yang paling kejam dengan Tania.


 


bersambung.....📝


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2