Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Jadi suami siaga


__ADS_3

Tidak ada hal paling bahagia buat pria yang bernama Albert, walau dirinya masih diacuhkan oleh istrinya, paling tidak dirinya tidak di usir dari ruang rawat oleh Tania.


Albert beberapa lama pura-pura memejamkan kedua matanya di bed tambahan. Di saat dengkuran halus terdengar dari ranjang Tania. Pria itu memilih beringsut dari bednya lalu berpindah ke atas ranjang Tania.


Pria itu merebahkan dirinya di sisi samping Tania, kemudian menghirup wangi tengkuk istrinya dalam-dalam. Aroma tubuh yang sangat di rindukan Albert. Dan seperti sebelumnya Albert menempelkan wajahnya ke tengkuk Tania, lalu memeluk tubuh Tania dan mengusap lembut perut bulat istrinya ... nyaman.


“Aku merindukanmu, Tania ... istriku yang menggemaskan,” bisik Albert, tak lama kemudian pria itu menyusul Tania ke alam mimpi.


...----------------...


Esok hari...


Apartemen, Jakarta.


PRANK!


Wanita yang sudah di talak tiga secara agama oleh Albert, tampak meremas surat dari pengadilan agama dan melempar gelas bekas minumnya.


Wajahnya terlihat memerah, kedua sorot netranya mulai membara. “Kurang ajar, dia benar-benar mengurus penceraian ini. Jangan harap akan mudah prosesnya! Ini gara-gara Tania! Gara-gara Tania ... rumah tanggaku hancur!” geram Marsha sendiri.


Weni yang sedang menyesap batang candunya, hanya bisa menatap santai Marsha. “Semuanya juga salah loe, Sha. Kalau loe gak main gila, loe gak bakal di ceraikan oleh Albert. Ya walaupun ... loe tetap punya madu!” celetuk Weni.


Marsha menatap tajam wajah manajernya. “Loe bukannya tenangin gue, malah bikin panas hati gue aja!” balas Marsha ketus.


Weni menaikkan kedua alisnya. “lah terus gue harus gimana, mau bantu loe rujuk sama Pak Albert. Ya gak mungkin! Loe gak lihat apa berita yang terbaru kalau mantan suami loe berlutut di hadapan tuh cewek, madu loe itu,” jawab Weni, balik ketus juga.


“Maksud loe apa!” sahut Marsha.


“Cek aja berita di handphone loe!”


Marsha buru-buru mengambil handphonenya yang ada di atas ranjang, lalu mulai berselancar di dunia maya.


Hati Marsha terasa sakit hati melihat berita yang beredar di media sosial, seumur-umur berumah tangga dengan Albert, belum pernah pria itu berlutut, memohon dan meneteskan air matanya untuk dirinya.


“Sialan ... Brengsek! Dia mau-maunya berlutut di hadapan wanita murahan itu. Ini tidak bisa di biarkan!” umpat Marsha, suaranya meninggi. Weni hanya bisa mendesah pelan melihat ekspresi Marsha yang terlihat emosi.


“Weni, pagi ini kita berangkat ke Bandung, gue gak bakal biarin itu cewek ngambil Kak Albert, gue gak rela lihat tuh cewek murahan bahagia!” titah Marsha, menggebu-gebu.


“Terserah loe aja, loe mau ngapain kek!” balas Weni, wanita itu memilih untuk ke dapur, cari makanan yang bisa di makan.


“Gue harus memisahkan mereka berdua, gue harus cari...!” gumam Marsha, pikirannya mulai menerawang.

__ADS_1


...----------------...


Rumah Sakit H, Bandung.


Bumil terlihat masih pulas dalam tidurnya, Albert yang sengaja sudah bangun lebih dahulu, masih betah menatap wajah ibu dari anak-anaknya, rasanya tidak ada bosannya menatap wajah Tania yang semakin cantik.


Semoga doaku dalam tiap sholatku terkabulkan, mohon luluh kan hati wanita yang ada di sampingku ini ... Hanya Engkaulah yang mampu membolak balik kan hati manusia.  Aku sangat mencintai istriku, Tania.


Pria itu menatap hangat kemudian mengecup pipi Tania dengan lembutnya, lalu beranjak dari ranjang agar tidak ketahuan jika semalam dia telah tidur bersama dengan Tania. Jangan bikin bumil emosi.


Sambil menunggu Tania bangun dari tidurnya, pria itu membersihkan dirinya dan menghubungi asistennya untuk di bawakan pakaian ganti serta memesan beberapa makanan untuk sarapan pagi buat dia dan Tania.


Tak lama kemudian setelah Albert selesai membersihkan dirinya, Tania mulai mengerjap-ngerjapkan kedua bola netranya, lalu meregangkan kedua tangannya.


“Selamat pagi, istriku,” sapa Albert, wajah tampannya tersenyum hangat.


Kedua telinga Tania berdiri tegak bak telinga kelinci, mendengar sapaan Albert di pagi hari, kemudian memicingkan kedua netranya menyesuaikan cahaya ruangan dan terlihat pria itu sudah duduk di tepi ranjangnya.


Wanita itu berusaha menopang dirinya untuk bangun dari pembaringannya, dengan sigap tangan besar Albert menyelisip ke bagian punggung Tania, membuat Tania terkesiap saat itu juga.


“Biar aku bantu,” pinta Albert dengan lembutnya bukan merdu.


Tania hanya bergumam, pasrah ... maklum bumil mengandung anak tiga juga sudah mulai susah jika bangun dari pembaringannya.


“Sayang, mau minum dulu gak,” tawar Albert.


JLEB


Refleks Tania mendongakkan wajahnya, dan tak sengaja bibir mereka berdua menempel. Kedua bola mata Tania membulat, sedangkan Albert bergeming saat bibirnya menempel sempurna dengan bibir Tania, rasanya ingin sekali menyesapnya, tapi takut Tania marah. Akhirnya Albert memilih menarik wajahnya, begitu juga Tania menarik wajahnya dan keduanya terlihat canggung.


“Maaf gak sengaja,” ucap Albert, ada rasa takut ... takut Tania marah-marah.


“Mmm ...,” gumam Tania, salah tingkah.


Duh kenapa nih bibir bisa nempel sih ... kesal batin Tania.


Untuk menghilangkan suasana yang kikuk dan canggung, pria itu buru-buru mengambil minum untuk Tania.


“Ini diminum dulu, minum air putih hangat di saat bangun tidur sangat bagus buat badan,” ucap Albert, sembari menyodorkan gelas yang sudah terisi.


Tanpa menatap wajah Albert, wanita itu menerima gelas dari tangan Albert, lalu segera meneguknya perlahan-lahan karena masih hangat.

__ADS_1


Setelahnya, wanita itu menyibakkan selimut dan mulai ancang-ancang menurunkan kedua kakinya.


“Sayang, mau ke mana?”


Astaga Tania makin merinding di panggil sayang sama Bosnya sendiri. “Mau ke kamar mandi,” jawab Tania ketus.


Sebelum Tania menjatuhkan kakinya ke lantai. Albert buru-buru menurunkan kantong infusnya dari tiang infus, dan meminta Tania memegangnya dengan tangan yang tidak ada jarum infusnya.


Lalu seketika itu juga pria bertubuh besar itu membopong Tania.


“Aakh...,” pekik Tania terkejut, karena tubuhnya sudah melayang ke udara.


“Kenapa pakai di gendong segala, aku masih bisa jalan kok,” celetuk Tania masih dengan rasa terkejutnya.


“Sayang, gak dengar kamu masih belum boleh banyak bergerak, jadi diam saja,” balas Albert sembari membopong Tania ke kamar mandi.


Tania mendengus kesal, kesal karena Albert! Sedangkan pria itu tersenyum tipis ketika melihat raut wajah istrinya sudah cemberut. Sesampainya di kamar mandi, Albert mendudukkan Tania di atas closet, lalu memegang kantong infus.


“Pak Albert gak keluar dari kamar mandi?” tanya Tania, sembari menahan hajat kecilnya.


“Aku tunggu kamu di sini, sayang kalau mau buang hajat ... lakukan aja,” pinta Albert, santai.


“Apa tunggu di sini, gak salah!”


“Mmm ... gak salah ... takut kamu kenapa-napa di dalam kamar mandi,” jawab Albert.


“Astaga Pak Albert, aku tuh mau buang air kecil. Masa harus dilihatin sama cowok,” jawab ketus Tania.


“Tania sayang, aku tuh suamimu ... lagi pula aku sudah tahu luar dalam dirimu. Sudah buang air kecil lah, jangan di tahan! Aku akan balik badan,” pinta Albert sembari memutar badannya.


Wajah Tania semakin masam dengan pria yang berlabel suami sahnya, tapi dia sudah tak bisa menahan hasrat untuk dituntaskan. Terpaksa wanita itu menurunkan kain segitiganya, dan mengeluarkan hajatnya. Albert tersenyum simpul, dan mengamati wajah Tania dari cermin yang ada di kamar mandi.


 bersambung....


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, plus Vote nya di hari senin 😉. Terima kasih sebelumnya 🙏🏻


 



 

__ADS_1


 


 


__ADS_2