
Clara masih menatap wajah ibu nya yang sudah di mandikan dan sudah mengenakan kain kafan, inilah saat terakhir Clara menatap wajah ibunya sebelum masuk ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ayah Hans masih berada di salah satu sisi jenazah Bu Rita, di liriklah wajah Clara ... anak Bu Rita yang kemungkinan bukan anak kandungnya.
“Usiamu masih muda Clara, jangan sia-siakan sisa umurmu. Jangan kamu tiru sikap ibumu yang buruk ini. Buanglah niat jahatmu pada anakku Tania, seorang anak yang sudah banyak mengalah demimu, yang ternyata bukan anak darah dagingku sendiri,” ucap Ayah Hans.
Gadis itu menegakkan pandangannya, lalu menatap nanar wajah pria yang sering dia panggil Ayah.
Pria paruh baya itu menarik sudut bibirnya, senyum tipis yang di paksa. “Hidupmu tak akan tenang jika selalu berniat jahat, selalu saja membenci orang yang tak pernah bersalah denganmu. Bukankah kamu lihat sendiri kematian Ibumu di depan mata! Karma itu nyata, dan kita tak pernah tahu kapan menghampiri kita, entah datangnya cepat atau lambat!” tutur Ayah Hans.
Clara hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, dan menahan sakit perut yang belum juga hilang. Gadis itu lalu menatap wajah Tania yang duduk di samping Mama Shinta, tatapan penuh kebencian.
“Jika hatimu tetap berniat ingin mencelakakan Tania, bisa saja niat itu berbalik padamu, Clara!” pungkas Ayah Hans, kemudian pria itu bangkit dari duduknya, dan membiarkan petugas jenazah melanjutkan tugasnya.
Rasa benci itu masih tumbuh di hati Clara, kematian Ibu nya ternyata tidak mengetuk hati kecilnya, malah semakin berkobar-kobar.
Jenazah Bu Rita selanjutnya di sholatkan kemudian di kebumikan.
...----------------...
Tempat Pemakaman Umum
Satu persatu pelayat yang mengantar ke pemakaman mulai kembali ke rumahnya masing-masih. Albert dan Mama Shinta setia mendampingi Tania, sedangkan Ayah Hans menjaga jarak dengan anak dan mantan istrinya, namun hatinya begitu pilu melihat orang yang pernah dia cintai sepenuh hati, penyesalan memang selalu datang belakangan.
“Brengsek kalian semua, gara gara Tania, ibuku meninggal ... aku sangat membencimu Tania ... INGAT ITU!” maki Clara setelah ibunya di makamkan. Gadis itu meronta-ronta ketika di gerek untuk masuk ke dalam mobil polisi, dia berusaha untuk tidak masuk, lalu di gigitlah lengan pak polisi sekuat tenaganya, agar cengkeramannya lepas dari lengannya.
Alhasil Pak Polisi sempat melepaskan genggamannya, dan Clara pun cepat melarikan diri dari polisi dengan harapan tidak akan pernah tertangkap kembali.
“KEJAR WANITA ITU!” teriak Pak Polisi, sambil berlarian mengejar Clara.
Beberapa orang turut mengejar gadis itu, dan Clara semakin mempercepat larinya tanpa lagi melihat arah ke kanan dan ke kiri. Tak lama kemudian ....
BRAK!
CITT......
__ADS_1
Tubuh Clara terpelanting beberapa meter ... motor yang menabrak Clara ikutan terjatuh dan tergelincir.
Karma itu nyata, dan kita tak pernah tahu kapan menghampiri kita, entah datangnya cepat atau lambat.
Ucapan Ayah Hans langsung terngiang-ngiang di telinga Clara, kedua netranya hanya bisa menatap ke langit yang biru, tubuhnya seperti tidak ada tenaga untuk bangkit.
Inikah karma untukku, aku belum mau mati ... batin Clara.
Orang orang yang mengejar Clara, memperlambat langkah kakinya, dan hanya bisa mendesah ... melihat tragedi tabrakan tersebut.
Tania, Albert, Mama Shinta dan Ayah Hans hanya bisa melihat dari kejauhan saja tanpa ada rasa ingin mendekat. Albert merangkul bahu istrinya, mengusap lembut punggung istrinya ... Agar bumil tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi di depan mata mereka.
“Sang Maha Pencipta sedang menunjukkan kekuasaannya, sebelum hukum manusia di putuskan, hukum alam sudah menghampirinya. Begitulah kehidupan yang tak bisa kita duga,” imbuh Mama Shinta, menatap nanar Clara yang sedang di gotong dan dibawa masuk ke dalam mobil patroli.
Kembali lagi Ayah Hans tertunduk lesu. “Selagi masih ada waktu, kembalilah ke jalan yang lurus, Mas Hans.”
...----------------...
Ayah Hans sudah kembali menetapi rumah milik Tania. Tania tidak tega melihat ayahnya hidup terluntang lantung di jalanan, hingga wanita itu berdiskusi dengan Mama Shinta mengenai rumah yang dibeli untuk dirinya dari Mama Shinta.
Banyak perubahan yang lebih baik dari Ayah Hans sepeninggalnya Bu Rita. Komunikasi antara Tania dan Ayah Hans terjalin dengan baik, Ayah Hans berusaha memperbaiki diri dan memposisikan dirinya layaknya seorang ayah, walau sudah hadir seorang ayah sambung buat Tania.
Papa Dimas pun kembali menghubungi rekan bisnisnya yang rupanya pemilik perusahaan tempat Ayah Hans bekerja, untuk kembali memperkerjakan Ayah Hans tanpa memberitahukan penyebab pemberhentiannya sepihak, dan kabar baik dari perusahaan tersebut, membuat Ayah Hans bersemangat menjalani akhir masa tuanya walau tidak memiliki istri dan kini hidup sendiri, namun ada anak dan calon cucunya yang senantiasa menjenguknya.
Clara dengan salah satu kakinya yang lumpuh akibat di tabrak motor, sekarang sudah mendekam di dalam penjara, gadis itu lebih banyak diam dan sesekali menangis dalam diam nya. Tak ada satu pun yang menjenguk dirinya di hotel prodeo, Ayah Hans maupun Tania tidak pernah datang. Orang tua yang biasanya selalu memanjakan dan menuruti kemauannya sudah tak ada lagi.
Kemudian persidangan Marsha sudah berjalan beberapa kali, hukuman penjara 15 tahun sudah menantinya, tinggal menunggu ketok palu dari hakim. Wanita cantik yang terbiasa tampil anggun dan glamor, kini tampak jauh berbeda, pakai baju seadanya, wajah terlihat kusam karena tidak pernah perawatan lagi, tubuhnya yang biasanya kelihatan mulus mulai kena penyakit gatal-gatal, dan sesekali perut bawahnya suka terasa nyeri.
...----------------...
Pagi hari ....
Albert terlihat merangkul pinggang Tania dan menatap hangat istrinya yang sibuk memakaikan dasi untuknya.
__ADS_1
“Mam, nanti sore jadi kontrol ke dokter kandungan?”
“Jadi Pah, Dokter Dewi mau datang ke rumah sakit kita. Jadi mama janjian sama Dokter Dewi. Papa jadikan temani mama kontrol?”
“Pasti Papa temani dong, lagian Papa juga pengen tahu kondisi anak-anak kita sama jenis kelamin anak-anak. Papa udah gak sabaran pengen tahu.”
“Kalau begitu nanti setelah selesai meeting langsung pulang, jemput mama ya.”
“Iya Sayang.” Pria itu mengecup kening istrinya lalu turun ke bibir ranum Tania, Albert tiada hari tanpa mengecup bibir Tania, rasanya ada yang kurang kalau tidak menempelkan bibirnya ke bibir Tania.
Suasana mansion Albert dan Tania semakin ramai tiap hari, Oma Helena dan Opa Thamrin lebih sering tinggal di mansion Albert, dan sesekali Mama Shinta dan Papa Dimas datang berkunjung sekalian menginap. Seperti sekarang ini, di dekat kolam renang tertata rapi meja makan untuk sarapan pagi bersama.
Walau sesibuk apapun, mereka semua berusaha untuk meluangkan waktu berkumpul dan menikmati kebersamaan, karena waktu bersama orang-orang tersayang tidak bisa di ganti dan terulang kembali namun kekayaan bisa dicari.
Opa Thamrin sekarang terasa lega, setelah melihat banyak perubahan yang baik di diri Albert, Tania banyak membawa perubahan positif untuk cucunya semata wayang, itulah doa yang selalu dia harapkan.
Nak, semoga di atas sana kalian melihat anak kalian yang sudah banyak perubahan, tugas papa sudah selesai. Papa sudah siap jika suatu saat kalian datang menjemput.
bersambung .....
Kakak Readers yang cantik dan ganteng, jangan lupa mampir ke karya baru ya ... sudah rilis hari ini. Tinggal klik profil saya, nanti akan muncul judulnya.
Mohon dukungannya ya, oh iya berhubung karya baru tersebut ikut event dari editor, maka akan menemukan alur yang hampir sama dengan novel yang lain namun berbeda dalam menulisnya. Jadi mohon pemaklumannya ya.
Terima Kasih sebelumnya 🙏🏻🙏🏻
__ADS_1