
Beberapa bulan kemudian ...
Usia kandung Tania sudah masuk tujuh bulan, perutnya sudah semakin membesar, pipi wanita itu pun ikutan membulat, dan sudah mulai susah bergerak. Namun Tania masih saja aktif bergerak walau terbatas.
Seperti sekarang wanita hamil itu ikut suaminya ke perusahaan karena kangen banget sama teman-temannya, dan Albert mengizinkannya.
“Assalammualaikum, halo semuanya ....,” sapa Tania saat masuk ke ruang divisi marketing tempat di mana dia bekerja.
“Waalaikumaalam ... Tania!” seru serempak teman teman kerjanya, langsung mengerumuni si bumil.
“Kangen ...,” ucap Tania sembari merentangkan kedua tangannya, dan menerima pelukan dari satu persatu teman kerjanya.
“Loe .... jahat, gak pernah telepon gue lagi, mentang-mentang udah jadi istri CEO,” ucap Kia sembari memonyongkan bibirnya.
“Ulu ... ulu bestie gue ngambekan nih. Sorry ya,” balas Tania, dan langsung memeluk sohibnya.
“Kita-kita gak nyangka kalau Tania jadi istri CEO, duh jadi patah hati masal nih sekantor,” sahut Vivian sambil terkekeh.
Tania tersenyum lebar. “Jodoh ... gak pernah kita tahu Vivian, lagian gue juga gak nyangka kalau yang bakal jadi suami gue itu Pak Albert,” balas Tania.
“Iya, kita tidak pernah ada yang tahu. Ah ... semoga aja gue cepat dapat jodohnya,” sahut temannya yang lain.
“Aamiin.”
“Oh iya ngomong-ngomong ini ada undangan acara tujuh bulanan. Jangan lupa datang ya, semuanya.” Tania memberikan undangan berwarna biru itu satu persatu ke temannya.
Disela-sela Tania melepas rindu dengan teman sejawatnya, Albert menyusul istrinya ke ruang divisi marketing.
“Sayang ...” Suara berat Albert terdengar jelas, hingga mengalihkan semua mata menuju sang pemilik suara.
“Ya Pah ... kok mama pakai disusulin. Mama kan udah bilang kalau sudah selesai bakal ke ruangan Papa,” ucap Tania agak kesal.
Pria itu tersenyum hangat melihat wajah Tania kesal. Semua karyawan Albert yang melihat jadi malu sendiri, so sweet banget.
__ADS_1
“Sayang, Papa kesini cuma mau bilang, kalau papa sudah pesankan tempat di restoran BS buat makan siang mama sama teman-teman, jadi ajak teman mama makan siang bersama.”
Kedua netra Tania berbinar-binar ketika mendengarnya. “Makasih Papa.” Tania mengecup pipi suaminya.
“Kalian semua bisa makan siang sepuasnya bersama istri saya, gratis.”
Teman-teman Tania bersorak bergembira, jarang-jarang di traktir makan siang sama Pak, apalagi di salah satu restoran mewah. Dengan senang hati mereka merapikan meja kerjanya lalu mengambil tas kerjanya dan jalan beriringan menuju restoran yang sudah di pesan.
Kebahagiaan Tania adalah kebahagiaan Albert, apapun akan dilakukan pria itu untuk Tania.
...----------------...
Dua hari kemudian ...
Hotel Mulia
Salah satu ballroom terlihat sangat indah dengan dekorasi bunga hidup dan beberapa nuansa baby. Siang ini Albert dan Tania mengadakan acara baby shower, awalnya Tania menolak dibuat acara yang begitu mewah, tapi setelah dijelaskan oleh Albert, akhirnya si bumil mau.
Pernikahan Albert dan Tania saat itu hanya di lakukan akad nikah saja dan tidak ada resepsi. Karena hal tersebut, Albert memilih konsep mewah di acara baby shower, dan mengundang teman, rekan bisnis sedangkan Tania mengundang temannya, begitu pula Mama Shinta dan Ayah Hans mengundang beberapa temannya, tetangga rumah Tania, serta keluarga besar Mama Shinta.
Pria itu menatap hangat Tania. “Mama sangat cantik sekali, papa jadi gak mau ajak mama ke ballroom. Mending kita di kamar aja, gak rela kalau ada pria yang lain lihat mama cantik begini,” imbuh Albert, sedikit merajuk.
“Mama juga gak rela lihat suamiku yang begitu tampan, pasti banyak wanita yang melihat Papa,” balas Tania dengan lembutnya, tangan kanannya mengusap rahang suaminya.
Tak lama mereka pun terkekeh, dan saling menggoda. Secantik atau seganteng apapun, cobalah percaya dengan pasangan sendiri, dia tidak akan berpaling ke orang lain jika kamu sudah memberikan yang terbaik dalam segala hal, dan satu lagi selalu mengkomunikasikan agar tidak ada kesalahpahaman.
“I love you, my wife,” ucap Albert dengan tatapan penuh damba.
“I Love you, my husband,” balas Tania, mesra.
Albert merangkul pinggang Tania, kemudian mengecup lembut kening istrinya.
“Pah, jangan cium bibir mama lagi ya ... ini udah berapa kali mama pakai lipstik gara-gara bibir papa,” tukas Tania, melihat suaminya mau mencium bibirnya.
__ADS_1
“Aah ... Sayang ... Masa gak boleh lagi,” rengek Albert. Tania tersenyum lebar, lalu menggamit lengan suaminya. “Ayo kita ke ballroom, acara sudah mau di mulai,” ajak Tania, kalau kelamaan di kamar, yang ada dirinya habis di makan Albert.
Dibilang gak boleh tetap saja Albert mengecup sekilas bibir ranum Tania, membuat wanita itu menghadiahkan cubitan pedes di lengan Albert, hingga pria itu meringis kesakitan.
...----------------...
Acara mulai di pandu oleh MC, Albert dan Tania sudah bagaikan pengantin, pasangan serasi. Rangkaian demi rangkaian di laluinya, sekarang waktunya membuka kado yang berukuran besar, untuk mengetahui jenis kelamin yang di kandung Tania.
Terakhir mengecek kandungan Tania, Albert tidak jadi menanyakan jenis kelamin anaknya, dan menunggu hari ini biar sama-sama tahu dengan yang lainnya. Sudah tentu info yang ada di dalam kotak kado tersebut dari Dokter Dewi.
Albert dan Tania sama-sama saling bersitatap sejenak, lalu bersama-sama menarik pita kadonya. Lalu ....
Dua balon berwarna biru dan satu balon berwarna pink keluar dari kado tersebut. Itu tandanya.....
Dokter Dewi mengambil amplop yang ada di dalam kotak kado, kemudian memberikan ke Albert.
“Masya Allah ... Alhamduliilah,” ucap Albert dengan kedua netra berbinar-binar, kemudian mengecup wajah Tania berulang kali.
MC pun memberitahukan ke para tamu yang hadir jika calon baby yang di nanti Albert dan Tanua berjenis kelamin 2 laki-laki, 1 perempuan. Tamu yang hadir standing aaplause dan ikut berbahagia.
Kia dan Arkana turut berbahagia dengan kabar gembira tersebut. Pria yang memiliki wajah Turki sudah mengikhlaskan tidak bisa memiliki Tania, setelah tahu jika Tania adalah anak dari Mama Shinta, namun kini mereka menjadi saudara.
Ujung ekor mata Kia melirik Arkana yang masih sibuk memandang Tania. “Sudah Mas Arkana jangan di pandang terus, mending pandang aku aja nih yang imut ini,” celetuk Kia, sembari menunjukkan senyum dan wajah imutnya
Arkana langsung tergidik. “Astaga imut dari mana, wajah kayak mak lampir dibilang imut,” ejek Arkana.
“Mak lampir dari mana si Mas, makanya kalau ngajak nonton jangan film horor terus, yang ada ingatnya wajah mak lampir, mak kunti, mak pocong, mak tuyul —,”
“Hmmmfft.” Mulut Kia sudah si sumpel sama cake potong sama Arkana, biar gak ngoceh lagi. Pria itu jadi tersenyum lebar menahan tawa setelah melihat pipi Kia menggembul gara-gara kue yang di sumpelnya, susah payah Kia mengunyah kue yang ada si dalam mulutnya, dengan tatapan kesalnya.
bersambung....
__ADS_1