
Setelah kedatangan Mama Shinta, Oma Helena dan Opa Thamrin, sikap Tania jadi agak sedikit canggung, sedangkan Albert terlihat biasa saja, malah wajahnya terlihat berseri-seri.
Gerry yang tadi di usir sekarang sudah kembali ke ruang rawat, dan kini sedang duduk bersama dengan Pak Bosnya.
“Gerry, nanti tolong hubungi kontraktor desain interior. Saya mau merombak mansion saya, khususnya yang ada di lantai 2, saya ingin semuanya di rubah. Saya ingin di saat Tania kembali ke mansion, semuanya sudah terlihat baru,” pinta Albert, seraya mengecek email di handphonenya.
“Baik Pak Albert.”
“Kalau bisa dalam satu minggu sudah harus rapi, kerja cepat ... nanti konsepnya saya email ke kamu,” lanjut kata Albert.
“Siap Pak Albert, kalau boleh tahu kira-kira kita di Bandung berapa lama ya Pak? soalnya saya harus mereschedule ulang jadwal Bapak.”
Albert mengernyitkan dahinya, kemudian menatap Tania yang sedang mengobrol dengan mama Shinta di ranjang. “Saya tidak bisa meninggalkan istri saya, Gerry. Tapi nanti saya lihat hasil kontrol hari ini, jika memang ada hal yang mendesak kita kembali ke Jakarta. Coba kamu koordinasi dengan Mila di kantor, tanyakan kira-kira ada hal yang mendesak tidak dalam waktu dekat ini?” pinta Albert.
“Baik Pak, kalau begitu saya koordinasi dengan Mila, sambil memilah-milah pekerjaan,” balas Gerry.
“Mmm ...bagus.”
Beberapa selang kemudian Tania sudah dijemput oleh beberapa perawat untuk kontrol ke Dokter Dewi. Albert sebagai suami yang siaga langsung membopong istrinya dari atas ranjang ke kursi dorong, dan dia pula yang mendorong kursi rodanya. Tania tak bisa berbuat apa-apa, Albert sedang menunjukkan hatinya dengan perlakuan nyatanya.
“Alhamdulillah kondisi baby triple nya sudah mengalami kemajuan, denyut jantung mereka sudah mulai kembali normal, air ketuban Nyonya juga bagus. Jadi siang ini Nyonya Tania bisa beristirahat di rumah. Tapi ingat jangan beraktivitas yang berat-berat dulu, kemudian hindari stress dan banyak pikiran ya. Kemudian makan-makanan yang sehat, jangan lupa konsumsi vitamin yang saya berikan serta susunya dosisnya di tambah yang biasanya dua kali sehari, tambah jadi tiga kali sehari untuk memenuhi kebutuhan kalsium ibu dan si baby-nya,” tutur Dokter Dewi, memberikan runtutan penjelasan.
“Baik Dokter Dewi, nanti saya akan memperhatikan kebutuhan istri saya,” jawab Albert terlebih dahulu, Tania hanya bisa mendelik kan kedua netranya.
Dokter Dewi mengulas senyum tipisnya dan berkata, “mohon supportnya Pak Albert, selalu mendampingi istri yang sedang hamil. Karena support yang paling penting adalah papanya si baby, biar mamanya enjoy selama menjalankan kehamilannya sampai menjelang hari persalinannya.”
“Pasti Dokter, saya akan berusaha mendamping istri,” jawab lembutnya, tangan pria itu langsung menggenggam tangan Tania. Oma Helena dan Mama Shinta hanya bisa ikutan tersenyum, untuk saat ini mereka sudah mulai tenang untuk masalah hubungan Albert dan Tania.
Usai kontrol periksa kandungan, mereka semua kembali ke ruangan untuk merapikan barang-barang Tania.
__ADS_1
“Sayang, mau kan pulang ke Jakarta, kembali ke mansion ku dan tinggal bersama?” tanya Albert penuh kehati-hatian.
Tania terlihat seperti berpikir. “Albert, Tania baru mau keluar dari rumah sakit, jangan di ajak perjalanan jauh dulu. Untuk sementara istirahat dulu di villa Oma dulu,” sahut Oma Helena.
Tania langsung menganggukkan kepalanya, tanda menyetujuinya , karena hatinya masih terganjal jika kembali ke mansion Albert.
Albert hanya bisa mendesah, berhubung pria itu sedang jongkok di hadapan Tania, langsung mengusap perut bulat Tania. “Baiklah papa turutin kemauan mama dulu, tapi nanti kalian semua pulang ke mansion punya papa dan mama ya, nak,” ucap Albert pelan. Mama Shinta dan Oma Helena hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Albert mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajah Tania. “Nanti pulang ya ke mansion kita ya sayang, aku udah minta Gerry mencari kontraktor untuk merubah kamar yang ada di lantai dua, merubah kamar buat kita dan ketiga buah anak kita,” kata Albert.
“Beri aku waktu Pak Albert,” jawab pelan Tania.
“Iya ...sayang.”
“I love you, mama,” ucap pria itu kemudian mengecup pipi Tania, padahal hatinya pengen banget cium bibir ranum Tania.
“Gak pa-pa,” jawab santai Albert, tersenyum hangat.
“Opa ... lihatlah cucumu mulai bucin sama istrinya tuh!” sahut Oma Helena, Opa Thamrin hanya bisa menaikkan kedua alisnya, dan tersenyum lebar.
Tak lama Albert membantu Mama Shinta memasukkan barang milik istrinya ke dalam tas, dan bersiap-siap meninggalkan rumah sakit H. Perawat yang bertugas pun mencabut jarum infus dari tangan Tania serta mengantarkan beberapa obat dan vitamin untuk Tania.
...----------------...
Sedangkan di tempat yang berbeda, mobil yang membawa Marsha dan Weni sudah tiba dan terparkir di depan rumah sakit H, info ini dia dapatkan dari berita yang beredar.
Hati Marsha sudah memanas dan menggebu-ngebu ketika melihat bangunan rumah sakit H itu.
“Loe yakin mau nemuin madu loe itu?” tanya Weni, untuk meyakinkan artis yang di manajerinya itu.
__ADS_1
Marsha mengibas rambut panjangnya ke belakang. “Pertanyaan aneh, buat apa jauh-jauh ke Bandung, ya buat temuin tuh ceweklah!” jawab ketus Marsha.
Sopir Marsha keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Nyonya nya. Wanita yang berprofesi seorang model itu mulai keluar dari mobil miliknya pemberian Albert, dengan kaki jenjangnya menggunakan high heels serta pakai minimnya lalu kaca mata hitam menyanggah di hidung mancungnya serta tas tangan yang di pegangnya, wanita itu melangkahkan kakinya dengan anggun serta sexy dari tempat mobilnya terparkir menuju lobby rumah sakit.
Semua orang yang berpapasan dengan Marsha yang di temani oleh Weni, dibuat tercengang dengan kehadiran Marsha sang model terkenal. Ada tatapan menyukai, ada juga tatapan yang menjijikkan, namun Marsha menghiraukannya.
Wanita itu menyeringai tipis di kala tak sengaja melihat Albert keluar dari lobby rumah sakit dengan memapah Tania yang baru saja beranjak dari kursi rodanya. Wanita itu langsung menghampirinya.
“Oh ... oh ternyata wanita murahan itu sedang hamil ya, pantas saja suamiku sampai berpaling dariku ... huh!” ucap sinis Marsha.
Hei Marsha ... Albert bukan suamimu tapi sudah jadi mantan suami!
Albert dan Tania sama-sama menoleh ke arah sumber suara tersebut.
“Marsha ...!” gumam Albert, pria itu mulai menggandeng tangan Tania.
Wanita itu dengan beraninya melangkahkan kakinya agar lebih dekat, dengan angkuhnya.
“Sudah berapa bulan wanita murahan itu hamil, Kak Albert yakin itu anak Kak Albert! Dia kan wanita murahan!”
PLAK!
Tangan kiri Albert melayang ke pipi Marsha. “Justru yang murahan itu kamu Marsha! Jaga mulut kamu jika tidak ingin aku laporkan kamu ke polisi atas kasus perzinahan kamu. Dan buat apa kamu ke sini!” geram Albert, tangan kanannya masih erat menggenggam tangan Tania.
Marsha memutar malas kedua bola matanya, dan menajamkan sorot matanya ke Tania.
bersambung ..... Tragedi!?
__ADS_1