
Marha tampak kesal melihat wajah suaminya yang terlihat tenang. “Aku tadi pagi sudah senang mendapat kabar dari maid kalau Tania sudah meninggalkan mansion, tapi rupanya Kak Albert membawa pengganti Tania. Ke mana hatimu sayang, aku ini istrimu, yang tak ingin cinta suaminya atau fisiknya dibagi-bagi ke wanita lain!” gertak Marsha, dengan kedua netranya mulai berembun.
“Sepertinya kamu sudah berani mengertak suami ya!” tegur pria itu, dengan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya, dan menaikkan alis matanya.
“Aku begini karena Kak Albert yang memulainya semua!” Wanita itu semakin menjadi menunjukkan emosinya.
Hati wanita itu sedang meradang dan panas membara bagaikan api unggun, sejak kedatangan Clara di mansion yang mengaku istri Albert yang baru saja di nikahi nya tadi pagi, pengganti Tania dan mengatakan kalau dia akan menjadi Nyonya baru di mansion Albert. Sedangkan Marsha tahu jika Clara adalah salah satu pendatang baru di dunia modelling, yang memiliki wajah cantik, body yahut, Marsha berasa tersaingi dengan kehadiran gadis muda itu. Wanita itu mulai ketakutan kehilangan suaminya. Kehilangan apanya? Cinta suami atau harta suami?
“Usir wanita itu juga dari mansion kita, aku udah rela dimadu saat Kak Albert menikah dengan Tania. Untuk kali ini aku sudah tak rela di madu!” Wanita cantik itu mulai tergugu di hadapan suaminya, berharap perhatian dari suaminya, dan luluh akan permintaannya, Marsha sangat tahu jika kelemahan suaminya adalah tak kuat melihat Marsha menangis.
Namun sayangnya pria itu hanya menghela napas panjang, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, lalu menatap datar wanita yang sudah berlinang air mata. Di hati pria itu ada rasa tidak tergugah untuk memeluk dan merayu atau membujuk wanita yang masih sah menjadi istri sah nya seperti biasanya, rasanya hati dia lelah yang selalu menuruti permintaan wanita cantik itu, yang sering dipujanya. Kenapa?
Marsha masih menunggu reaksi dari suaminya, tapi kenapa belum kelihatan, malah hanya memandang dirinya yang masih teriak menangis dalam posisi berdiri.
“Jika kamu sudah selesai menangis, keluar lah dari ruangan ku. Aku sedang banyak kerjaan!” pinta Albert, pria itu kembali fokus dengan berkas yang ada di meja kerjanya.
“AAKHH....,” jerit kesal Marsha yang diacuhkan oleh suaminya sendiri, di ambilnya berkas yang ada di atas meja kerja pria itu, lalu di robeknya.
“MARSHA!!” teriak Albert melihat berkas nya di robek, dengan kedua netranya yang terbelalak, dokuman perusahaan yang sudah tersegelkan oleh notaris, sudah tak berbentuk lagi. Pria itu beranjak dari duduknya dan menarik lengan Marsha.
“Aku sudah cukup bersabar menghadapi kamu selama empat tahun, semuanya selalu aku turuti kehendakmu. Dan aku rasa saat ini kamu sudah keterlaluan. Jika kamu tidak suka dengan wanita yang baru datang di mansion, kamu boleh keluar dari mansion ku, tinggallah di apartment yang pernah aku belikan!” gertak Albert dengan sorot mata tajamnya.
“Kak Albert ... sekarang berubah, aku ini istri mu, aku wanita yang kamu cintai selama ini! Kamu lebih membela wanita yang baru datang, ketimbang aku yang sudah menemani mu selama empat tahun!” balas Marsha, dengan tatapan nanarnya.
Albert melepaskan cengkeraman di lengan Marsha. “Keluarlah dari ruangan aku sekarang juga, sebelum aku berbuat fatal pada mu!” pinta Albert, agak pelan tapi katanya sangat tajam.
__ADS_1
Marsha tidak habis pikir kenapa pria yang ada di hadapannya sangat berbeda, ke mana kah perginya sikap lembut Albert yang selalu ada untuk dirinya. Dada wanita itu masih terlihat naik turun karena amarahnya yang menggebu-ngebu, tapi melihat sorot mata suaminya terlihat tidak bersahabat, akhirnya wanita itu memilih keluar dari ruangan dan kembali membanting pintu dengan sekuat tenaga nya.
“ARGH!” pekik Albert frustasi atas semua yang terjadi. Kedua tangan pria itu bertumpu di pinggir mejanya, dan mengatur napasnya. “Kenapa semuanya jadi begini, ada apa denganku!” gumam Albert sendiri, dan lagi-lagi pria itu berteriak sekencang-kencangnya.
Apakah benar aku telah berubah!
Selama empat tahun Albert tidak pernah menunjukkan emosinya dengan Marsha, tapi sekarang pria itu menunjukkan emosinya semenjak menikahi Tania. Mungkinkah pria itu sudah mulai oleng pendiriannya!
...----------------...
Sinar matahari mulai tergantikan dengan gelapnya awan, terangnya bulan purnama. Ibukota Jakarta sudah di terangi cahaya lampu yang berwarna warni, suara klakson mobil, motor di sepanjang jalan terdengar jelas, kemacetan pun ada dimana-mana sepanjang jalan di waktu jam pulang kerja kantoran.
Albert setelah menyelesaikan pekerjaan yang sempat dibuat kacau oleh Marsha, hatinya memilih untuk kembali ke rumah sakit H ketimbang pulang ke mansionnya sendiri. Dan meminta Pak Firman mengemasi pakaiannya lalu di antarkan ke rumah sakit H.
Dengan posisi ranjang agak setengah duduk, wanita itu menghilangkan rasa jenuhnya dengan menonton siaran televisi.
Tiba-tiba....
Ceklek!
Suara pintu terbuka, Albert dengan langkah santainya masuk ke ruang rawat Tania, sembari membuka jas dan melemparnya ke sofa, sedangkan wanita itu menolehkan pandangan matanya ke sumber suara.
“Loh, Pak Albert, kok ada di sini!” seru Tania, yang tak percaya Bosnya ada di sini.
“Sepertinya kamu tidak suka dengan kedatangan saya ... Hem!” balas Albert, pria itu melangkahkan kakinya mendekati ranjang Tania.
__ADS_1
“Aneh aja kenapa Bapak bisa ke sini lagi, ini udah ketiga kalinya loh!” imbuh Tania, sembari menunjukkan jarinya ada tiga.
Albert hanya bisa tersenyum smirk ketika menatap wajah polos Tania. Pria itu mencondongkan wajahnya ke wajah Tania, membuat kedua netra wanita itu semakin membulat.
“Sebaiknya ingatan kamu cepat pulih, agar kamu tahu siapa saya!” kata Albert. Hembusan napas hangat Albert sangat terasa di pipi Tania, membuat wanita itu memalingkan wajahnya, tapi tangan kanan Albert meraih dagu Tania dan mengapitnya , agar wanita itu tidak kembali memalingkan tatapan.
“Tatap wajah saya dengan baik-baik, ingatlah wajah saya ini. Dan siapa saya ini!” ucap tegas Albert dengan sorot mata yang begitu mengintimidasinya.
Tenggorokan Tania terasa tercekat, hingga membuat dirinya terbatuk-batuk pas di muka Albert. Pria itu lekas mengambil minum yang ada di atas nakas lalu memberikannya.
Tangan Tania bergetar saat menerima gelas dari Albert tapi wanita itu buru-buru meneguk air yang ada di dalam gelas tersebut, bagai orang kehausan.
“Bukankah Bapak adalah CEO tempat saya bekerja, dan Bapak juga suami dari model dari Marsha kata Mas Arkana, lalu hubungan saya harus mengingat wajah Bapak apa? Saya memang tidak ingat apa-apa tentang Bapak,” balas Tania apa adanya.
“STOP JANGAN SEBUT NAMA PRIA ITU DI HADAPAN SAYA!” bentak Albert.
“Loh kok Bapak jadi membentak saya, memang apa salah saya menyebutkan nama mas Arkana, lagi pula dia teman saya. Itu bukan hak Bapak untuk melarang saya. Lagi pula Bapak hanya atasan saya, bukan kakak, bukan saudara, bukan pacar, bukan suami!” cerosos Tania belum berhenti.
“TANIA, CUKUP!” balas Albert mulai geram, wanita itu masih saja menyebut nama pria di hadapannya.
bersambung.......sabar Albert, istri keduamu lagi sakit, jangan emosian terus 😔
Kakak Readers yang cantik dan ganteng jangan lupa like, komen, vote, 🌹🌹❤️❤️⭐⭐⭐⭐⭐, biar semangat nulis kelanjutannya. Makasih sebelumnya 🙏🏻🙏🏻🤗
Lope Lope sekebon 🍊🍊🍊🍊🌹🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1