
Mendengar kata orang suruhannya berada di tol Cipularang karena mengikuti Opa Thamrin, Albert berinisiatif untuk menyusulnya, walau belum tahu tujuan pastinya. Namun feeling pria itu tertuju pasti ada sangkut pautnya dengan Tania. Tapi sepengetahuan Albert, Opa Thamrin tidak memiliki property di sana, setahunya adanya di daerah Puncak – Bogor.
“Ke Bandung, kita sore ini ke Bandung?” tanya Gerry memastikan, saat mendapatkan perintah seperti itu.
“Iya ke Bandung,” jawab Albert, sembari memencet tombol lift.
Jangan-jangan Pak Bos udah tahu keberadaan Tania???
Setibanya Albert dan Gerry di lobby, ternyata keadaan masih ramai dengan awak media dan Marsha. Bodyguard dan keamanan gedung langsung membuat jalan untuk Albert agar bisa keluar dari keramaian tersebut.
“KAK ALBERT!!” panggil Marsha dengan berteriak, berusaha keluar dari kepungan awak media.
Albert memilih mempercepat langkah kakinya, menghiraukan panggilan Marsha, dan bergegas masuk ke mobil yang sudah menunggunya.
“AARRGH...!” teriak frustasi Marsha karena di acuhkan Albert. Semua awak media hanya bisa berseru dan menyoraki Marsha.
...----------------...
Lembang, Bandung.
Rumah Sakit H
Tania yang sudah sadar dari pingsan, sekarang sedang menangis tersedu-sedu di pelukan Mama Shinta.
“A-aku bukan pelakor Mam, aku tak pernah berniat merusak rumah tangga orang lain, Mam,” ucap Tania, sesegukkan.
Sangat terguncang mental Tania setelah melihat berita tadi pagi, tidak pernah menyangka namanya di sebut dari media sebagai perusak rumah tangan Albert dan Marsha.
Mama Shinta dengan sabar dan lembutnya mengusap punggung anaknya, wanita paruh baya ini sangat paham dengan posisi yang saat ini di alami anaknya, semua wanita pasti tidak ingin di bilang pelakorr, tidak ingin menjadi orang ketiga.
“A-aku gak kuat Mam, a-aku punya salah apa di masa lalu.”
“Sayang ... tenangkan dulu hatimu ya nak,” ucap Mama Shinta.
Oma Helena yang tak kuasa melihat dan rintih kesakitan hatinya Tania, wanita tua itu memilih keluar sebentar dari ruang rawat inap.
Di saat seseorang terguncang, belum saatnya untuk membalas semua ungkapan hatinya, biarkanlah semua unek-unek itu keluar dari hatinya... inilah yang Mama Shinta saat ini lakukan, menjadi pendengar yang baik tanpa menyela, kemudian memberikan sentuhan yang lembut, lalu selalu berada di sampingnya. Dengan ini Tania akan menyadari jika dia tidak sendiri, ada orang lain yang hadir untuknya.
“A-aku tidak pernah menginginkan pernikahan dengan pria itu. Dan kini seluruh dunia tahu jika aku pelakorr, Mam. Ini semua gara-gara ayah, mam.”
__ADS_1
Hati Mama Shinta juga geram dengan mantan suaminya dan juga istri. Akan kubalas semua kesakitan anakku, Hans, Rita! Aku akan segera datang saat anakku sudah sehat!!
Mama Shinta dan Oma Helena sudah sepakat untuk tidak menyalakan TV dan tidak mencari berita apapun di media sosial, demi kesehatan mental Tania, dan sebab dari itu Mama Shinta dan Oma Helena tidak tahu jika Albert sudah mengadakan konferensi press, dan sudah tayang di berita Infotainment semua stasiun televisi.
Wanita paruh baya itu mengurai dekapannya, lalu mengambil segelas air minum untuk anaknya.
“Minumlah, nak.”
Masih dalam sesenggukan, Tania meneguk air tersebut, kedua netra sudah terlihat sembab dan bengkak, kedua bahunya juga masih turun naik karena napasnya yang tersenggal-senggat akibat menangis.
Mama Shinta menggenggam erat tangan Tania setelah menaruh kembali gelas bekas Tania. “Dalam kehidupan pasti ada masalah, cobaan dan ujian. Dan semuanya pasti ada solusinya, jalan keluarnya, nak. Kamu tidak sendiri, ada Mama bersamamu, Mama akan berjuang denganmu,” tutur Mama Shinta dengan lembutnya.
“Dan satu yang perlu kamu ingat nak.” Mama Shinta mengusap lembut perut bulat Tania.
“Anakmu bisa merasakan kesedihan mamanya, kamu tahu kah? Ketiga anakmu sedang berjuang untuk bisa bertahan di perutmu. Kamu sayangkan sama anakmu, kan?” tanya Mama Shinta, pelan dan lembut, tanpa bermaksud menyinggung perasaan Tania.
Tania menganggukkan kepalanya, lalu menyentuh perut bulatnya. “Aku sangat menyayangi mereka, Mam,” jawabnya dengan kembali berderai air mata.
Walau di awal masa kehamilannya Tania sangat berat menerima anak dari benih Albert, namun seiring waktu berjalan jiwa seorang ibu mulai muncul dan jatuh cinta dengan ketiga calon anaknya, apalagi di saat pemeriksaan beberapa hari yang lalu, untuk pertama kalinya mendengar detak jantung ke tiga buah hatinya.
“Kamu harus sehat dulu nak, setelahnya kita akan sama-sama menghadapinya,” tutur Mama Shinta, menguatkan hati anaknya.
...----------------...
Mobil yang ditumpangi Albert dan Gerry sudah berada di tol Cipularang, karena sudah menjelang Magrib, pria itu meminta untuk isoma di rest area terdekat.
Turun dari mobilnya, pria tampan itu menuju masjid dan menghiraukan tatapan para pengunjung, gara-gara berita yang sedang hangat-hangatnya. Gerry, Bimo serta sopir sudah siaga untuk mengamankan Tuannya, walau bagaimanapun Albert sekarang jadi pusat perhatian orang.
Usai menunaikan sholat magrib berjamaah, Albert masih terpaku dalam duduknya, tatapannya kosong menatap arah kiblat.
Ya Allah, aku memohon belas kasihanmu sebagai suami yang tak berguna ini untuk istriku, Tania.
Hambamu memohon berikanlah kemudahan untuk mencari keberadaan istriku, berikan aku kesempatan untuk menemuinya. Aku sangat merindukannya ...
Ku mohon petunjukmu, Ya Allah.
Albert menutup wajahnya dengan kedua tangannya, hatinya terasa sesak. Usai bermunajat, pria itu beringsut di ikuti para anak buahnya.
“Kita mau makan dulu, atau langsung melanjutkan perjalanan, Pak Albert?” tanya Gerry di saat mereka sudah meninggalkan masjid.
__ADS_1
“Makan dulu, kalian pasti lapar,” jawab Albert tak bersemangat, pria itu tidak mau egois dengan para karyawannya. Mereka berempat memilih makan di restoran Padang.
Sebenarnya Albert tidak selera makan, dan hanya ingin menunggu Gerry, Bimo dan sopirnya makan malam. Tapi mereka malah berbalik mengancam tak akan makan jika Tuannya tidak makan.
“Huh ... Kalian bisa-bisanya mengancam saya!” tukas Albert, sembari menuangkan nasi beserta lauknya ke piringnya.
“Biar ada kekuatan untuk mencari Non Tania,” celetuk Bimo. Albert hanya bergumam saja.
Baru beberapa suap, handphone Albert berdering.
Dokter Yohannes Calling
“Bagaimana Dokter ada perkembangan terbaru?” tanya Albert tanpa basa basi, ketika menerima panggilan telepon.
“Begini Pak Albert, saya dapat info jika di rumah sakit cabang milik Pak Albert di jalan Dr. Djunjunan Bandung ada pasien yang memiliki nama yang sama dengan nama istri Bapak, Tania Kanahaya ... kondisinya sekarang di rawat karena kandungannya lemah.”
Ooh ... jantung Albert berdegup kencang, tangannya bergetar
“Untuk lebih memastikan, saya akan kirim foto kondisi pasien tersebut ke Pak Albert.”
“Segera kirim Dokter Yohannes!”
Dengan kondisi tangannya yang gemetar, Albert membuka pesan WA dari Dokter Yohannes, kedua netra pria itu tiba-tiba berembun, melihat foto yang dikirim, Tania sedang terbaring di atas brankar dengan wajah tampak pucat.
“Ya Allah, istriku ...,” gumam Albert sendiri.
Gerry melirik layar handphone Albert, ingin tahu apa yang dilihat si Pak Bos.
“Cepetan, kalian selesaikan makan. Kita harus segera menuju rumah sakit H di Bandung,” pinta Albert, suaranya kembali semangat.
“Siap Tuan!” jawab serempak.
Albert tidak melanjutkan makan malamnya, justru menatap foto Tania dengan tatapan penuh kerinduan.
bersambung ... Menuju perjuangan Albert ...
Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen dan vote buat Tania dan Albert. Mohon dukungannya ya dan doanya, kisah Tania dan Albert ikutan lomba event Terjerat Benang Merah.
Pengen ngerasaiin menang lomba 😁😁😁 setelah berapa kali ikut lomba ... belum pernah menang, walau hati melipir ketika lihat saingannya author pemes semua 😁😁😁.
__ADS_1