
Setelah memergoki dan menjatuhkan talak Marsha, pria itu memilih untuk pulang ke mansionnya ketimbang balik ke perusahaannya, dan Gerry tentu saja mendampingi Bosnya sampai ke mansion.
“Pak Firman, tolong turunin semua foto saya dengan Marsha yang ada di ruang utama, kamar utama dan musnahkan. Serta minta para maid mengeluarkan semua barang milik Marsha yang ada di kamar utama, lalu taruh di gudang, atau di pos security biar diambil sama yang empunya!” perintah Albert, yang baru saja tiba di mansion.
Pak Firman agak aneh dengan permintaan Tuannya, namun tetap mematuhinya, namun sebelumnya Pak Firman melirik Gerry seperti tatapan penuh tanda tanya.
“Pak Albert sudah menalak tilu Nyonya Marsha,” bisik Gerry sebelum menyusul Albert yang sudah masuk ke ruang kerjanya.
“HAH!” terkejut Pak Firman.
“Sudah cepat jalankan perintahnya,” ucap Gerry pelan, lalu berlalu dari Pak Firman.
Kabar yang luar biasa buat Pak Firman, tidak menyangka Tuan dan Nyonya yang selalu terlihat mesra akhirnya berpisah juga. Pak Firman bergegas ke belakang untuk memanggil maid yang lain agar segera membantunya.
Di luar gerbang, Albert juga sudah berpesan agar Marsha tidak boleh masuk ke dalam mansionnya, jika mau mengambil barangnya maka akan di taruh di pos security.
Albert menghempaskan dirinya di atas sofa, lalu memijit pelipisnya, terlihat raut wajahnya begitu suram.
“Pak Albert, maaf sebelumnya bukan bermaksud saya lancang. Tapi mungkin Pak Albert bisa melihat foto-foto ini,” ucap Gerry pelan, sembari menyodorkan handphonenya.
Dengan rasa tak bersemangat, pria itu meraih handphone milih Gerry, kemudian menscroll foto-foto tersebut, mulutnya hanya bisa terkatup dan mendesaah kecewa.
Albert merutuki dirinya yang begitu bodoh! Bodoh karena cinta butanya dengan seorang wanita, percaya akan mulut manis wanita itu, dan terkadang terlalu tunduk dengan segala permintaannya. Betulkah itu cinta atau hanya obsesi untuk memilikinya, atau karena selalu terpuaskan hasratnya di atas ranjang.
Seketika Albert tertawa ... ya menertawakan dirinya sendiri, jika selama ini dia menjaga kesehatan intimnya ternyata dia sendiri sudah masuk ke lubang wc, tempat orang banyak keluar masuk.
Gerry yang melihat Albert tertawa sendiri mulai ketar ketir, ingin rasanya menelepon dokter jiwa untuk segera memeriksa mental Pak Bosnya.
“Pak Albert baik-baik saja kan?” tanya Gerry, cemas.
Albert menghentikan tertawanya lalu menatap Gerry. “Selama ini ternyata saya bodoh Gerry!” ucap Albert sambil menepuk dadanya.
“Saya selalu memuja dan membanggakannya sebagai istri yang hebat di hadapan Opa dan Oma, ternyata yang saya puja hanyalah seorang wanita jalaang yang sering disentuh pria lain. Sedangkan wanita baik-baik, saya perlakukan tidak baik dan kasar. Saya bodoh Gerry!” kata Albert merutuki dirinya sendiri.
“Inikah balasannya untuk saya yang tidak bisa menghargai Tania ... yang selalu bersikap kasar dengannya, mengetahui kebusukan Marsha setelah bertahun-tahun hidup bersama!” ucapan Albert terdengar sangat menyesali, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Gerry yang duduk di hadapan Albert ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Pak Bosnya. “Terkadang dengan kehadiran seseorang bisa membukakan mata kita untuk melihat jelas orang yang ada di sekeliling kita, yang selama ini tertutup. Andaikan saja Tania tidak masuk ke dalam rumah tangga Pak Albert dan Nyonya Marsha, bisa jadi kebusukan Nyonya Marsha tidak akan pernah terungkap,” balas Gerry.
Albert manggut-manggut, lalu termenung menatap dinding kosong. Beberapa kali meraup wajahnya lalu menyisir rambutnya dengan tangannya.
Tak lama pria itu berdiri dan mendekati brankasnya. “Antarkan dokumen pernikahan saya, serahkan ke lawyer, dan suruh mengurus perceraian saya secepatnya!” pinta Albert.
“Baik Pak.”
“Pengajuan pengesahan pernikahan saya dengan Tania, sudah sampai mana, Gerry?”
Gerry baru teringat, padahal sudah berbulan-bulan. “Maaf Pak, saya kelupaan ... urusannya sudah lama beresnya, buku nikahnya besok akan saya ambil di KUA.”
Ada perasaan tenang di hati Albert, paling tidak pernikahannya dengan Tania sudah terdaftar sah secara negara, sudah ada ikatan yang kuat di antara mereka berdua selain calon anak yang di kandung Tania.
“Tapi Pak Albert, untuk masalah dengan Nyonya Marsha, kira-kira mau bikin konferensi pres nya kah? karena menurut saya pasti kejadian di hotel sudah menyebar di media sosial.”
Sejenak tatapan Albert terpaku ke buku nikahnya dengan Marsha. “Jangan panggil Marsha nyonya! Masalah konferensi pres, saya lihat keadaannya dulu.”
“Baik Pak Albert,” jawab patuh Gerry.
Esok hari ...
Sesuai dengan apa yang di duga oleh Gerry, acara gosip di pagi hari sudah menayangkan berita tentang Marsha dan Albert, apalagi ada cuplikan video kejadian di hotel Raffles.
Gerry yang kebetulan dari jam 6 pagi sudah berada di mansion Albert, langsung menunjukkan berita tersebut.
Albert dengan seksama menonton acara gosip tersebut, dengan berulang kali menghembuskan napas kasarnya. Hampir semua channel televisi menayangkan berita tentangnya.
‘”Suami dari model kenamaan Marsha Angelica, Albert Elvaro Yusuf salah satu pengusaha terkenal ternyata selingkuh dengan wanita lain bernama Tania, hingga sang istri membalaskan dendamnya dengan selingkuh bersama pria lain. Siapakah sosok Tania yang sudah menjadi pelakoor di rumah tangga Marsha,” ucap sang host acara infotainment.
Albert meradang ... menggeram, kemudian mengepalkan kedua tangannya hingga buku kukunya memutih, pria itu tidak menyangka beritanya jauh dari kenyataan yang terjadi.
DEG!
Hati Albert tiba-tiba sakit, menyelongsong ... wajah Tania pun terbayang-bayang.
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan namun tempat yang berbeda, Lembang – Bandung.
Tania mengantarkan teh hangat berserta singkong dan pisang keju untuk Mama Shinta dan Oma Helena yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
“Ada gosip hangat ya Mam, kayaknya serius banget nontonnya?” tanya Tania sembari meletakkan nampan yang di bawanya ke atas meja.
Baru meletakkan nampan, Tania ikut melihat televisi masih dalan keadaan berdiri ... dan sesaat terdiam mematung ketika menyaksikan berita yang ditayangkan, tubuh Tania gemetar hebat, wajahnya seketika memucat dan hatinya terasa amat sakit.
BRUK!
“TANIA!!” teriak serempak Mama Shinta dan Oma Helena, langsung berdiri.
“Ya Allah, nak!” ucap Mama Shinta ketakutan, melihat anaknya sudah jatuh tak sadarkan diri, hanya dalam persekian menit.
Bu Mimi dan beberapa pelayan langsung menghampiri. “Mimi, tolong bilang ke sopir, siapkan mobil. Tania badannya dingin, kita bawa ke rumah sakit,” perintah Oma Helena, mulai cemas setelah menyentuh tubuh Tania.
Bu Mimi tanpa berkata lagi langsung berlarian keluar, sedangkan pelayan laki-laki sudah ramai-ramai membopong tubuh Tania keluar menuju mobil.
Kembali ke mansion Albert.
“Gerry, kenapa hati saya gak nyaman rasanya?” ucap Albert, tubuhnya terasa dingin.
“Jantung saya kenapa berdebar-debar begini," keluh Albert, seraya mengusap dada kirinya.
“Coba duduknya rileks dulu Pak, terus atur napas pelan-pelan,” pinta Gerry.
Kemudian Gerry berdiri dari duduknya lalu meneriakkan nama Pak Firman, lalu meminta dibuatkan teh manis hangat untuk Albert.
Albert berusaha mengatur napasnya dalam dalam, tapi masih saja jantungnya berdegup cepat, dan hatinya terasa risau tak menentu, semuanya datang tiba-tiba begitu saja.
“Tania, kamu baik-baik saja kan,” gumam Albert sendiri, pikiran langsung ke Tania.
bersambung....✍🏻✍🏻
Bagaimana keadaan Tania selanjutnya? ikutin terus ya Kakak Readers .....
__ADS_1
Lope lope sekebon 🍊🍊🍊🌹🌹t