Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Keadaan Tania, galaunya Albert


__ADS_3

Lembang – Bandung


Dua jam berlalu, sang perawat memanggil keluarga pasien dan meminta untuk menemui Dokter yang telah memeriksa keadaan Tania.


“Bu, pasien mengalami anemia dan serta tekanan darahnya rendah. Jika boleh saya kasih saran untuk saat ini dirawat beberapa hari di rumah sakit, untuk memantau kondisi ketiga janinnya, tadi saya sempat rekam jantung baby-nya, ternyata keadaannya sedikit lemah dan ini sangat berbahaya,” ucap Dokter Dewi, menunjukkan raut wajah seriusnya.


Oma Helena dan Mama Shinta sama-sama menghela napas panjang, kemudian saling menggenggam tangan, saling menguatkan.


“Apapun yang terbaik buat anak saya dan calon cucu saya, kami akan mengikuti saran dari Dokter, mohon jangan sampai kami kehilangan calon cucu,” jawab Mama Shinta.


“Baik kalau begitu pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat.”


“Dokter, tolong pindahkan ke ruang rawat yang terbaik di rumah sakit ini,” sambung Oma Helena.


“Baik Bu.”


Semua kaum wanita yang sudah menjadi ibu pasti disaat hamil adalah hal yang paling berat dan yang paling sensitif sepanjang hidup mereka. Wanita hamil butuh kekuatan fisik dan kekuatan mental serta support system dari orang yang berada du sekelilingnya, baik dari kedua orang tua, saudara, dan terutama pasangan hidupnya yang berlabel suami.


Mungkin saat ini Tania mendapatkan support system dari keluarga Albert dan keluarga mama kandungnya, tapi tidak dengan suaminya.


Masih di ruang UGD, beberapa perawat sudah persiapan untuk memindahkan Tania ke ruang rawat inap yang ada di lantai 3, untuk saat ini Mama Shinta dan Oma Helena hanya bisa melihat dari kejauhan, menatap wajah Tania yang masih pucat dan terkulai lemas, kemudian mereka berdua mengikuti brankar Tania dari belakang.


Sementara itu di mansion utama ...


Opa Thamrin mengentakkan tongkatnya ke lantai beberapa kali, melampiaskan rasa amarahnya.“Jadi benar berita ini!” seru Opa Thamrin dengan asistennya.


“Betul Tuan, berita ini sudah tayang tadi pagi di televisi,” balas Leo.


Opa Thamrin mendesah kasar dan menyugarkan rambut berwarna putihnya.


Derrt ... Derrt ... Derrt


My wife calling


Kebetulan Opa sedang memegang handphonenya.


“Assalamualaikum, Oma,” sapa Opa Thamrin.


Terdengar suara isak tangis dari seberang sana.”Waalaikumsalam, Opa ... Tania pingsan dan sekarang di rawat di rumah sakit,” jawab Oma Helena, dalam isak tangisnya.


Opa Thamrin mendesah. “Karena berita Albert dan Marsha?”

__ADS_1


“Iya Opa, Tania pingsan saat lihat berita tadi pagi, kata dokter saat rekam jantung calon bayinya melemah dan itu sangat berbahaya...,” ucap Oma Helena.


Pria tua itu memijit pelipisnya yang mulai terasa pening. “Opa akan ke Bandung hari ini,” jawab Opa Thamrin, langsung mengambil keputusan setelah sekian lama tidak ke Bandung karena ada orang suruhan Albert yang mengawasinya. Tapi untuk saat ini sudah tak bisa di tunda lagi.


“Leo, lihat kondisi di luar, masih ada yang memantu tidak. Siang ini kita harus berangkat ke Bandung,” titah Opa Thamrin setelah memutuskan panggilan teleponnya.


“Baik Tuan.”


...----------------...


Perusahaan Maxindo


Ruang CEO


Di lantai bawah masih menggemparkan serta rusuh dengan kedatangan Marsha. Namun berbeda dengan keadaan di ruang CEO yang sangat hening, terlihat Albert berdiri tegak di depan jendela besar, menatap sendu ke arah luar jendela. Sesekali jemari besarnya mengusap ujung ekornya, bayangan Tania selalu hadir di pelupuk mata dan hal ini sangat memilukan hatinya sendiri.


Semua masalah yang hadir karena sikap egoisnya Marsha, jika saja dia menerima kodratnya sebagai wanita yang sudah menikah, menjadi seorang ibu ... mungkin saja tidak ada masalah antara Albert dan Tania, dan tidak ada yang namanya korban.


Albert dan Tania secara tidak langsung adalah korban dari keegoisan Marsha, akan tetapi dibalik itu semua ada hikmah yang tersembunyi.


Nasihat Opa dan Oma yang selama ini diabaikan ternyata ada maksud dibalik itu semua, namun selalu di hiraukan oleh pria itu, dan sekarang baru di rasa.


Kodratnya sebagai suami seharusnya membimbing dan mendidik istri, namun yang di lakukan hanyalah memberikan kesenangan dan selalu menuruti kehendak istri atas nama cinta, padahal cinta juga membutuhkan logika dan rasional. Cinta itu kadang membutakan seseorang, seperti Albert selama 4 tahu tak tahu kelakuan Marsha. Nasi sudah jadi bubur, yang tak mungkin kembali menjadi nasi atau beras.


“Maafkan aku ... Tania. Andaikan aku tak pernah bersikap kasar denganmu,” gumam Albert sendiri. Hatinya hanya bisa berbisik ... andai ini ... andai itu, tapi semua sudah terjadi, yang ada hanyalah penyesalan.


DEG!


Albert sesaat tersentak, teringat jika Tania di rawat di rumah sakit. Pria itu membalikkan badannya lalu menuju meja kerja dan mengambil handphonenya.


“Selamat sore Pak Albert,” sapa pria di seberang sana.


“Selamat sore Dokter Yohanes, saya butuh pertolongan Dokter,” ucap Albert to the point.


“Bantuan apa Pak Albert?”


“Saya dapat kabar istri saya Tania di rawat di rumah sakit, tapi saya tidak tahu di mana tempatnya. Saya minta Dokter Yohanes mengecek semua relasi rumah sakit kita, keberadaan istri saya, Tania Kanahaya,” perintah Albert.


“Baik Pak Albert, akan saya bantu cek keberadaan istri Bapak.”


“Terima kasih sebelumnya Dokter Yohanes, saya tunggu kabarnya secepat mungkin,” balas Albert, penuh pengharapan.

__ADS_1


“Sama-sama Pak.”


Untuk sesaat pria itu bisa bernapas lega, paling tidak ada cara lain untuk mencari keberadaan Tania.


Ya Allah ... pertemukan aku dengan Tania ... izinkan aku melihatnya walau hanya sesaat ... Aku sangat merindukannya ... batin Albert merintih.


...----------------...


Kembali ke mansion utama ...


Leo sudah memastikan tidak ada yang memantau gerak gerik Tuan besarnya, akhirnya mempersilahkan Opa Thamrin untuk masuk ke mobil dan melakukan perjalanan dengan aman ke Bandung.


Setelah mobil yang di tumpangi Opa Thamrin keluar dari mansion utama, beberapa menit kemudian dari arah yang tak jauh dari mansion utama muncullah mobil yang dibawa oleh orang suruhan Albert, keluar dari tempat persembunyian. Tetap menjaga jarak dengan mobil Opa, anak buah Albert mengikutinya, dan hal itu tidak diketahui oleh Opa berserta asistennya.


Dua jam perjalanan mengikuti mobil Opa Thamrin.


“Selamat sore Tuan Albert, saya sedang mengikuti Tuan Besar, posisi saya sedang berada di tol Cipularang,” lapor Denny, rekan Bimo melalui sambungan teleponnya.


Tubuh Albert menegang. “Tol Cipularang, berarti mau ke Bandung,” seru Albert.


“Sepertinya begitu Tuan Albert.”


Otak Albert langsung ke pikiran jika Tania ada di Bandung. “Ikuti terus, dan kasih perkembangan tiap jamnya!” perintah Albert.


“Baik Tuan Albert.”


Albert langsung berteriak memanggil Gerry dari dalam ruangannya dan meminta asistennya mempersiapkan kendaraannya.


 bersambung ...


Mungkinkan Albert tahu keberadaan Tania? tunggu di bab selanjutnya ya 😊...


Kakak Readers mau dong dilemparin vote buat Tania dan Albert di hari senin, makasih sebelumnya.



 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2