Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Meyakinkan Tania


__ADS_3

Tiga hari kemudian ....


Rumah Sakit H, Bandung


Sinar pagi yang begitu lembut menyentuh bumi, memberikan warna yang cerah dan semangat baru untuk penghuni bumi mengawali aktivitasnya.


Tania menyibak kain gorden agar cahaya pagi masuk ke dalam ruang rawat suaminya, menatap teduh keluar jendela, lalu lalang kendaraan pun terlihat jelas dari lantai tiga.


 Perut bulatnya pun sudah dilingkari oleh tangan besar Albert, dagu pria itu pun menyandar di salah satu bahu Tania, perlahan-lahan dihirupnya dalam-dalam aroma ceruk Tania yang sudah menjadi candunya di kala tidur.


“Pagi sayang, pagi anak-anak papa,” sapa Albert, sembari mengusap perut bulat istrinya.


“Selamat pagi juga Pah, ternyata sudah bangun ...,” balas Tania, tangan kanannya menyentuh wajah suaminya yang masih bertopang di bahunya.


“Mama, kan tahu kalau gak ada mama di samping papa, pasti langsung terbangun.”


Wanita itu hanya bisa tersenyum, tapi benar kata Albert, jika Tania bangun saja walau untuk ke kamar mandi di saat tengah malam, pria itu pasti terbangun dan panik mencarinya, tak peduli dia membawa tiang infusnya ... lucu kalau di ingat-ingat.


“Mama sayang ...”


“Ya Pah ...”


“Hari ini papa kan sudah boleh keluar dari rumah sakit, jadi kita langsung balik ke Jakarta ya. Tapi sebelumnya kita cek anak-anak kita, agar papa yakin kalau mama kondisi kandungannya sudah kuat,” pinta Albert.


Semalam dokter yang menangani Albert sudah memeriksa semua kondisi Albert, dan menyatakan jika pagi ini sudah di izinkan untuk keluar dari rumah sakit, tinggal rawat jalan untuk memeriksa kondisi bekas tembakan yang ada di punggungnya.


Mau tidak mau Tania sebagai istri harus mengikuti keberadaan suaminya setelah mereka berbaikan. Walau sebenarnya hati Tania sedikit mengganjal jika kembali ke mansion Albert, mungkin karena mansion itu pernah di tepati oleh Marsha, dan sudah pasti banyak kenangan di antara Albert dan Marsha.

__ADS_1


Tania bergeming, tak menjawab ... hanya deru napasnya yang terdengar di telinga Albert.


“Sayang, mencemaskan sesuatu kah?” tanya Albert, berusaha peka dengan perasaan Tania.


“Pah, bolehkah mama berkata jujur?”


“Boleh mah, papa malah suka kalau mama mau jujur sama papa.”


Sebelum melanjutkan ucapannya, Tania menarik napasnya pelan-pelan, kemudian mengelus tangan besar Albert yang masih melingkar di perut bulatnya.


“Sebenarnya mama berat hati untuk tinggal di mansion papa. Mansion itu dulunya ditempati oleh papa sama mantan istri, pasti akan banyak kenangan indah yang pernah terjadi di mansion itu. Ini yang membuat mama sedikit tidak enak.”


Albert mengurai pelukannya dari belakang tubuh Tania, lalu memutar balik tubuh Tania agar mereka bisa saling bersitatap. Pria itu sangat memahami rasa yang tidak enak di hati istrinya, pasti di pikirnya Albert akan selalu terkenang dengan Marsha sang mantan istri yang cantik dan sexy itu.


“Kalau mama tidak mau tinggal di mansion papa. Papa akan belikan mansion yang baru, tapi sambil menunggu sementara kita tinggal di mansion dulu ya,” ucap Albert, penuh kehati-hatian.


Tania mengusap dada bidang Albert, yang sekarang menjadi bantal hidupnya. Pada dasarnya Tania bukan tipe wanita yang gila dengan harta serta kemewahan, dari kecil dia sudah hidup apa adanya ... dan tak menuntut apapun, jika dia ingin sesuatu maka Tania akan berjuang sendiri.


Pria itu tersenyum hangat lalu menarik dagu Tania, agar tidak menundukkan pandangannya. “Mama cemburukah sama mantan papa?”


Tania hanya menggelengkan kepalanya. “Mama khawatir ya jika papa selalu teringat sama mantan?”


Jawaban Tania hanya menganggukkan kepalanya. “Perlu tidak papa belek dada papa mumpung kita masih di rumah sakit, biar mama tahu isi hati papa, kalau isinya penuh dengan seorang wanita namanya Tania Kanahaya. Pencuri hatiku yang bisa melupakan Marsha dan mengalihkan duniaku karena Tania,” tutur Albert meyakinkan.


“Jangan di belek Pah, nanti kita kelamaan tinggal di rumah sakit,” ringis Tania membayangkan kalau lama-lama jadi tinggal di rumah sakit.


Pria itu terkekeh kecil melihat raut wajah istrinya yang menggemaskan. “Mansion itu milik papa, dari hasil kerja keras papa membangun dan menjalani perusahaan orang tuanya. Di saat menikahi Marsha, memang kami tinggal di sana tapi bukan berarti mansion itu jadi milik Marsha. Papa paham mama khawatir jika papa membawa mama ke sana, karena masih terkenang dengan Marsha. Tidak seperti itu sayang, di saat aku jatuh cinta denganmu dan di saat aku sadar jika aku tak bisa ditinggalkanmu, hatiku dan kenanganku mulai memudar untuk Marsha, otak dan hatiku hanya memikirkanmu bukan Marsha,” lanjut kata Albert.

__ADS_1


Tania menatap kedua bola mata pria itu, sungguh meyakinkan, dan lagi pula pengorbanan Albert sangat jelas jika pria itu sangat mencintainya.


“Maaf ya Pah, jika mama tiba-tiba tidak yakin,” jawabnya pelan.


“No ... no ... Papa suka mama ungkapkan hati mama, biar papa tidak salah duga dan menghindarkan salah paham. Dan mama perlu ketahui, mansion papa sudah balik nama jadi milik mama.”


“Loh kok balik nama, itu kan punya papa,” ucap Tania kaget.


Pria itu mengecup kening Tania, lalu turun ke ujung hidung istrinya. “Biar mama gak kabur dari papa lagi, jadi semua harta papa milik mama,” balas Albert, saking takut kehilangan Tania.


“Pah, mama jadi terkesan jadi kayak cewek matre ... mama tidak gila harta Pah. Yang terpenting papa bisa menjaga hati papa buat mama seorang, karena diluaran sana banyak wanita yang sangat menginginkan papa, dan mama sangat paham sekali itu. Sekarang pelakor maju ke depan tidak pantang menyerah,” tukas Tania.


Kembali lagi Albert mengulas senyum hangatnya, kemudian mengecup sekilas bibir Tania.


“Salah satu wanita mengejarku karena harta, maka dari itu lebih baik hartaku buat istriku dan ketiga anakku kelak. Dan ini juga buat pengingat diriku, kalau aku buat kesalahan atau kerasukan setan menduaimu, pastinya kamu menjatuh miskinkan aku, karena perusahaanku jatuh ke tanganmu. Ini bukti aku sangat mencintaimu, dan aku harus menerima konsekuensinya.”


Tania dibuat tertegun.


Memang masa depan, kita tak akan pernah ada yang tahu, begitu juga dalam berumah tangga ... tidak selamanya berjalan harmonis, pasti akan ada kerikil atau batu sandungan yang harus di lewati.


Albert sebagai suami Tania, kegagalan rumah tangganya dengan Marsha menjadi pelajaran buatnya. Sedangkan Tania yang baru mau menjalankan rumah tangga, butuh bimbingan dari suaminya serta dari orang tuanya, bisa dari Mama Shinta atau dari Oma Helena.


Kali ini Albert memfondasikan dirinya sendiri dengan membalik namakan semua kekayaan untuk Tania dan calon anaknya, karena pria itu sangat yakin ... Tania bukan tipe wanita yang suka menghamburkan kekayaaan dan jelas jauh berbeda dengan Marsha, hal itu bisa dia lihat dan rasakan selama beberapa hari bersama-sama tinggal di rumah sakit.


bersambung ....


 

__ADS_1



 


__ADS_2