
Aura bahagia Albert terlihat di wajah tampannya, setelah dia mendapatkan restu dari mama mertuanya dan berjanji akan berusaha memperbaiki semuanya dari awal. Di awali dengan niat menikahi Tania bukan sekedar ingin memiliki anak namun serius menjalankan rumah tangga hingga maut memisahkan. Dan tidak akan menyia-nyiakan restu dari mertua, Opa dan Oma nya.
Menjelang malam tiba, pria itu tampak sudah rapi, wangi, dan rambut hitamnya tersisir rapi, sepertinya tadi dia sempat kembali ke hotel untuk membersihkan dirinya, sekarang dia sudah kembali berada di rumah sakit. Gerry sang asisten dan Bimo sang bodyguard dibebas tugaskan untuk malam ini oleh Albert.
Oma Helena menyambut kedatangan Albert dengan mempersilahkan cucunya masuk ke ruang rawat, malam ini Opa Thamrin sengaja mengumpulkan mereka semua untuk makan malam bersama di ruang rawat inap.
Tania yang tidak diberitahukan apa-apa tercengang melihat kedatangan Albert.
Loh kok bisa masuk ke dalam kamar ... batin Tania.
Si Bumil melirik Mama Shinta dan Oma Helena dari atas ranjang, ingin rasanya memanggil salah satu dari mereka, tapi tidak ada satu pun yang menoleh ke arah ranjangnya, sungguh menjengkelkan.
Albert sengaja untuk tidak mendekati Tania, hanya melirik dari ujung ekornya, pria itu memilih untuk duduk bersama dengan Opanya. Sedangkan Oma Helena dan Mama Shinta sedang sibuk menyajikan makan malam di meja bundar, yang sudah di pesannya.
Iih ... kenapa juga ada Pak Albert di sini!
Merasa anaknya gelisah di atas ranjang, Mama Shinta mendekat Tania. “Kita akan makan malam bersama, Opa yang meminta Albert bergabung dengan kita. Kamu jangan kesal dulu ya nak, tadi Mama kan sudah bilang, kami tidak akan campur tangan masalah hubungan kamu dengan Albert. Kalian berdua sudah dewasa, dan bisa menyelesaikan secara baik-baik. Tidak baik menghindari terus, lebih baik hadapi dan ambil jalan yang terbaik buat kalian berdua, eeeh ... bukan tapi untuk kalian berlima,” tutur Mama Shinta penuh kelembutan namun tegas.
Tania hanya bisa mendesah, kemudian menatap pasrah wajah mamanya.
“Menghindar terus tidak akan menyelesaikan masalah, bukan!”
“Ya, Mam.”
Acara makan malam pun berlangsung, Albert berusaha membuat dirinya nyaman karena ada Mama Shinta yang baru saja dia ketahui sebagai Mamanya Tania yang rupanya salah satu penerus keluarga konglomerat dari Surabaya.
Sebenarnya banyak pertanyaan di benak Albert kenapa orang tua istrinya bisa berpisah, dan kenapa hidupnya jauh berbeda dengan keadaan Tania. Rupanya pertanyaan di benak Albert terjawabkan, ternyata Mama Shinta kawin lari dengan Ayah Hans karena saling mencintai. Mama Shinta rela meninggalkan kekayaannya serta keluarganya di Surabaya, dan ikut ke Jakarta demi pria dengan status sosial yang berbeda, namun kisah cintanya berakhir begitu cepat karena ulah temannya Rita. Dan ini mungkin karma buat Mama Shinta yang tak direstui oleh kedua orang tuanya.
Restu orang tua ternyata penting dalam membangun mahligai rumah tangga, sebagian orang pun masih berpegang teguh dengan restu orang tua terutama restu seorang ibu, Mama Shinta tidak mau anak-anaknya mengalaminya seperti masa kelamnya.
Tania menyantap makan malamnya seorang diri di atas ranjangnya dengan menu dari rumah sakit, padahal si bumil ngiler melihat makanan yang mereka makan di meja bundar itu, tapi tak satupun menawarinya. Hati Tania jelas menggerutu, ingin rasanya mulutnya ngomel-ngomel. Udah tahu bawaan bumil suka ngiler lihat makanan yang dimakan orang lain.
Albert dari meja makan melirik istrinya yang terlihat menggerutu sendiri, seakan paham ... pria itu mengambil beberapa menu yang tersaji di meja makan, lalu beranjak dari duduknya. Mama Shinta dan Oma Helena beserta Opa Thamrin pura-pura tidak memperhatikannya, sibuk sama makanannya saja.
__ADS_1
“Kamu mau ini,” ucap Albert, piring yang telah terisi penuh di letakkannya di atas meja dorong itu.
Tania menghentikan suapannya, lalu mendongakkan wajahnya menatap kesal wajah Albert.
Pria itu menghiraukan tatapan jengkel Tania, tanpa permisi pria itu duduk di tepi ranjang. “Kamu pasti sangat menginginkannya, di makan ya ... kalau masih kurang nanti aku ambilkan lagi,” ucap Albert, suara beratnya terkesan sangat lembut.
GLEK!
Tenggorokan Tania terasa tercekat mendengar suara Albert begitu lembut. Lalu tatapannya teralihkan dengan isi piring yang di bawa oleh Albert, sungguh menggugah seleranya, ada ayam penyet, udang crispy, sate ayam sama mie goreng seafood, semuanya berkumpul dalam satu piring. Kemudian menatap menu rumah sakit yang tidak terlalu mengunggah seleranya, sangat-sangat menu sehat.
“Jangan dilihatin aja, makan aja ... tidak pa-pa kok. Atau mau aku suapi?” tanya Albert, pria itu mulai mengambil sendok makan yang di pegang Tania.
Tania langsung mengibaskan tangan kanannya lalu meraih sendoknya dari tangan Albert. “Tidak perlu,” jawab tolak Tania, ketus.
Pria itu mengulas senyum tipisnya, akhirnya istrinya mengeluarkan suaranya juga. Tania menghiraukan tatapan hangat Albert, lalu buru buru menarik piring tersebut dan menyantapnya.
Albert masih betah menatap istrinya makan, sedangkan Tania agak risih dengan tatapan pria itu. “Jangan buru-buru makannya, lihatlah pipimu jadi belepotan,” ucap Albert, diambilnya tisu yang ada di atas nakas, lalu pria itu mengusap sudut bibir Tania ya tertinggal noda bumbu kacang, hal itu membuat Tania terkesiap.
Kena angin apa nih orang ... batin Tania.
“Mau nambah lagi makannya?” tanya Albert, melihat isi piring yang dibawanya sudah kosong.
“Enggak!” jawab singkat Tania, lalu membuang mukanya, tak mau bertatapan dengan suaminya.
Albert segera merapikan bekas makan Tania, lalu merapikan meja dorongnya, dikembalikan ke tempatnya semula. Setelah itu pria itu kembali duduk di tepi ranjang, dan kembali menatap wajah Tania.
“Kalau masih marah sama aku, gak pa-pa kok, Tania. Tapi izinkan aku selalu ada di sampingmu.”
Tania mendengus kesal. “Siapa juga yang pengen Pak Albert ada di sini!” celetuk Tania tanpa menatap.
Sepertinya Albert harus menyiapkan kesabaran yang sangat banyak untuk menghadapi Tania.
“Sudah sana jangan dekat-dekat! Memangnya kita pernah dekat!” sahut Tania mengusir Albert.
__ADS_1
Pria itu menaikkan salah satu alisnya. “Kalau kita tak pernah dekat, gak mungkin ada anakku di perutmu,” balas Albert.
Lidah Tania berdecak kesal dan memutar malas kedua bola matanya. “Opa tolong bilang sama cucunya jangan dekat-dekat sama Tania!” teriak Tania biar di dengar sama Opa Thamrin.
“Mmm ... !” gumam Opa Thamrin dari kejauhan.
“Tapi aku maunya dekat sama mamanya anak-anakku,” sambung Albert.
Semakin jengkel lah Tania melihat gelagat Albert. “Pak Albert lagi ke sambet apa? Ke sambet setan ya? Disangka aku senang melihat tingkah Pak Albert seperti ini! Aku justru aneh melihatnya!” tukas Tania.
Sesaat pria itu terdiam, namun hatinya senang ... Tania sudah menunjukkan emosinya ke dirinya.
“Sudah cukup Pak Albert, aku sudah lelah dengan semuanya. Aku akan melupakan semuanya, aku sudah tidak ingin di cap sebagai wanita perusak rumah tangga Pak Albert dengan Marsha, hati aku sudah sakit sekali rasanya,” ungkap Tania.
Albert merasa ada yang janggal di sini, lalu segera mengambil handphone nya dari kantong kemejanya.
“Sepertinya ada salah paham di antar kita berdua,” ucap Albert.
“Salah paham apalagi, sudah sangat jelas di berita TV, kalau aku dicap pelakor, perusak rumah tangga. Sakit rasanya Pak Albert, dari awal aku sudah minta di ceraikan, sekarang aku malah jadi tertuduh!” balas Tania, mulai menggebu-ngebu.
Albert menahan tangan Tania yang ingin menepuk dadanya. “Kamu lihat ini dulu,” pinta Albert, menunjukkan video konferensi presnya.
bersambung....
__ADS_1