
Tania melihat beberapa paper bag yang di taruh Gerry di atas meja dekat sofa, tak lama kemudian Mama Shinta masuk dengan membawa buket bunga mawar putih yang sangat indah.
“Ini buat kamu,” ucap Mama Shinta sembari menyodorkan buket bunga tersebut.
Kedua netra Tania terbelalak. “Buat aku ... dari siapa Mam?”
“Siapa lagi kalau bukan dari Albert,” jawab Mama Shinta, wanita paruh baya itu kembali melangkahkan kakinya ke meja sofa, lalu membantu Oma Helena yang sedang membuka paper bag.
Sedangkan Tania hanya bisa terpaku menatap buket bunga tersebut, agak aneh rasanya ... karena seumur hidupnya belum pernah dikasih buket bunga dari seorang pria.
Perasaannya bercampur, di satu sisi wanita itu suka dengan buket bunga yang cantik itu, namun di sisi lainnya dia tidak suka dengan orang yang memberinya.
Di sela-sela bunga ada kertas berwarna putih, Tania langsung mengambilnya.
...Untuk istriku, Tania Kanahaya...
...Semoga cepat sehat...
...Tolong maafkan suamimu ini 😔❤️...
... ...
Tania hanya bisa tersenyum tipis saat membaca kartu itu, hatinya ingin tertawa dan mengingat betapa kasarnya Albert terhadap dirinya, namun sekarang pria itu tiba-tiba mendadak berbeda.
“Tania, kamu mau cake gak?” tanya Oma Helena, setelah membuka beberapa kotak cake yang di beli Albert.
“Cake apa Oma?” balik bertanya Tania dari atas ranjangnya.
“Ada tiramisu, cheese strawbery sama blackflorest. Ini anak beli cake kenapa banyak banget sih!” gerutu Oma Helena.
Mendengar ketiga cake tersebut, jangan di tanya mimik wajah Tania, semua cake itu kesukaannya. Semenjak punya penghasilan sendiri, Tania baru bisa menikmati cake kesukaannya walau hanya beli sepotong saja, dan hal itu cukup membuat jiwanya tenang, salah satu cara menghibur dirinya dari segala masalah yang ada dirumahnya kala itu.
“Oma, aku mau dong cheese strawbery,” pinta Tania.
__ADS_1
“Oke, nak,” sahut Oma Helena yang lagi sibuk potong cake nya.
Mama Shinta yang berada dekat Oma Helena berkata, “Sepertinya Albert sedang menyogok kita, Oma. Lihatlah begitu banyak makanan yang di belinya.”
“Shinta, kalau boleh Oma tahu, kamu sebagai Ibu dari Tania ... akan memberikan kesempatan'kah buat Albert mendekati Tania. Setelah kita tahu apa yang terjadi di luar barusan?”
Mama Shinta mendesah, dan menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi sibuk membuka kotak makanan. “Bukan tidak mau memberikan kesempatan untuk Albert, tapi takut Tania akan terluka kembali, Oma. Semua orang tua pasti menginginkan rumah tangga anaknya utuh tapi jika yang ada hanya luka, sebaiknya dipisahkan demi kebaikan semua pihak.”
Sebelum menimpali pernyataan Mama Shinta, Oma Helena sejenak memberikan sepotong cake untuk cucu menantunya, kemudian kembali duduk dekat meja sofa.
“Shinta, awalnya Oma memang sangat kecewa dengan cucu Oma sendiri, sejak dari awal dia memutuskan menikahi Marsha namun apa daya sebagai Omanya hanya bisa mendoakan yang terbaik, akan tetapi di saat mendengar Albert menikahi wanita lain seakan apa yang kami doakan terwujud walau awalnya dengan cara yang salah. Kami senang ketika wanita yang dinikahinya wanita baik-baik dan kami sangat berharap wanita itu bisa mengubah cucu kami menjadi orang yang lebih baik.”
Mama Shinta bergeming, masih menyimak ucapan Oma Helena.
“Di saat itu kami tidak perduli dengan status sosial Tania, yang terpenting kepribadiannya yang baik. Di mata kami, sebenarnya sudah bisa membaca jika cucu kami mulai jatuh cinta dengan Tania, namun gengsinya tinggi hingga timbullah masalah ini. Jatuh cintanya dengan Marsha dan Tania sangat berbeda, kamu tahu bagaimana terpukulnya dia ketika Tania kita sembunyikan. Opa menceritakan semuanya. Cintanya Albert berbeda dengan Tania.” Oma Helena masih melanjutkan ucapannya.
“Shinta, Oma rasa cukup kita berkeras hati menjauhkan Albert dengan Tania. Biarkanlah anak-anak yang mengambilkan keputusan dalam hubungan mereka. Kamu juga harus ingat ada tiga buah hati yang berkembang di perut Tania, kelak mereka butuh kedua orang tuanya. Bukannya kamu pernah mengalami berpisah dengan suami dan anak sendiri, pasti sangat menyakitkan. Anakmu yang tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu walau ada ibu sambungnya.”
Mendadak Mama Shinta hatinya tersentil, akibat perpisahan orang tua ... anak pasti menjadi korbannya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Mama Shinta menganggukkan kepalanya, hatinya mulai terbuka, inilah pengalaman pertamanya punya anak yang sudah menikah. Ini bukan masalah hati seorang ibu, tapi hati anaknya sendiri, karena yang menjalankan rumah tangga adalah anaknya.
...----------------...
Di sisi lain, Albert masih duduk di bangku tunggu ... tak sekali pun beranjak kecuali untuk sholat atau ke kamar mandi. Pria itu masih setia menunggu istrinya walau tak bisa menemuinya.
Klek!
Pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka, terlihat Mama Shinta keluar dengan membawa piring plastik. Albert segera menoleh dan beringsut dari duduknya.
“Mam.”
__ADS_1
“Ini makanlah, gak mungkin kami yang ada di dalam menghabiskan semua makanan,” ucap Mama Shinta.
“Terima kasih, Mam.”
Mama Shinta duduk di bangku tunggu tersebut, di ikuti oleh Albert.
“Mama tidak tahu harus memulainya dari mana, sebenarnya Mama kecewa mendengar cerita kamu yang membeli Tania, tapi tidak menyalahkan semuanya kepadamu. Ini salah mantan suami mama. Selama ini Tania sudah hidup kesusahan dan mengalami tekanan batin selama hidup dengan ayah dan ibu tirinya. Dan kamu menambah tekanan buat Tania,” tutur Mama Shinta, tatapannya menerawang, sedangkan Albert hanya bisa mendengarkan dan menatap piring yang ada di tangannya.
“Mereka menjual Tania karena dikejar oleh renternir, Mam,” balas Albert.
Mama Shinta menyeringai tipis. “Ya hutang untuk anak mereka, tapi mengorbankan anak saya!” geram Mama Shinta.
“Rumah tangga mama hancur karena seorang pelakor, maka sedari itu Mama sempat kecewa denganmu Albert memasuki Tania ke rumah tangga kalian dan menyudutkan Tania sebagai pelakor, tapi mau dikata apa ... semuanya sudah terjadi, tidak mungkin bisa kembali ke masa lalu.”
“Mam, Tania bukan pelakor, rumah tanggaku hancur dengan Marsha bukan karena Tania,” sanggah Albert, tidak terima Tania di sebut pelakor, hatinya nyeri.
“Ya Mama tahu, sudah lihat konferensi persnya.”
Albert beringsut dari duduknya, kemudian meletakkan piring yang di pegangnya di atas bangku, dan tiba-tiba saja berlutut di hadapan Mama Shinta, membuat wanita paruh baya itu terlonjak kaget.
“Saya memang banyak salah dengan Tania, saya mohon Mam ... berikan saya kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga saya dengan Tania, saya mencintai Tania. Mohon berikan saya restu dengan anak Mama,” ucap Albert memohon dengan menangkup kedua tangannya.
Mama Shinta bisa melihat keseriusan di kedua netra Albert, tidak ada kebohongan di dalamnya. Wanita paruh baya itu menarik napasnya dalam, dan mengucapkan bismillah di dalam hatinya.
“Jaga hati anak mama, jangan sakiti hatinya kembali, jangan dipaksa kehendakmu dengan Tania.” Jeda sejenak. “Mama merestui kamu jika memang ingin membangun rumah tangga dengan Tania, dan memang mencintai anak mama.”
“Alhamdulillah, makasih Mam,” ucap Albeet, langsung salim takzim ke Mama Shinta.
“Selamat berjuang Albert!”
Permudahkanlah urusan orang lain, maka urusan diri sendiri pasti akan cepat terselesaikan. Dan sebaiknya jika ada niat baik dari seseorang jangan lama-lama ditunda, segala urusan harus cepat diselesaikan biar tidak berlarut lama. Inilah keputusan Mama Shinta ambil, karena ada hal lain yang harus dilakukannya yaitu membalas segala perbuatan mantan suaminya dan si pelakor.
Mama Shinta pun sudah tahu jika anaknya punya hati dengan Albert, namun tertutupi dengan rasa kecewa yang begitu besar.
__ADS_1
bersambung....