
Jika Marsha menatapnya dengan tajam, maka Tania hanya menatap Marsha dengan tatapan santainya. Sebenarnya ingin sekali Tania membalikkan fakta kenyataan yang terucapkan oleh Marsha, namun pria yang berada di sampingnya sudah melakukannya terlebih dahulu, dan genggaman tangan pria itu seakan tanda perlindungan untuk dirinya.
“Biasanya orang yang sering berteriak atau menghujat orang lain murahan, jalanng atau apalah ... Sebenarnya dia sendiri pelakunya. Betul begitu Nyonya Marsha!” kata Tania penuh penegasan.
Marsha hanya menatap sinis dan tersenyum jahat, namun hatinya tambah panas.
Mama Shinta beserta Oma Helena yang baru saja keluar turun dari lantai tiga buru-buru mendekati Tania dan Albert, yang sudah berada di luar lobby.
“Woow ternyata wanita murahan ini sudah dapat dukungan dari Oma juga toh. Wow hebat juga ya nih!” ejek Marsha sinis, ketika melihat Oma Helena menghampiri mereka yang berada di luar lobby.
“Dan untungnya cucuku sudah menceraikan wanita jalangg seperti kamu!” balas Oma Helena ketus, dan menunjukkan raut wajah tidak suka dengan kehadiran Marsha.
Mobil Opa dan mobil Albert sudah tiba di luar lobby untuk menjemput Albert, Tania, Mama Shinta dan Oma Helena, sedangkan Opa Thamrin sudah berada di dalam mobilnya.
Oma Helena menoleh ke Mama Shinta. “Dia mantan istri Albert, sebaiknya kita ke mobil saja, gak usah ngeladenin. Habis saja energi kita buat wanita murahan itu!” kata Oma Helena. Mama Shinta sesaat menatap datar Marsha, kemudian ikut masuk ke mobil milik Opa Thamrin.
“Sayang ... ayo masuk ke dalam mobil, kita tidak perlu berlama-lama di sini lagi ya,” pinta Albert dengan lembutnya, di rangkulnya bahu Tania. Pria itu menatap penuh cinta saat Tania menatap wajah Albert, sungguh pemandangan pasangan yang indah, bisa bikin orang lain iri hati.
Meradanglah hati Marsha mendengar panggilan kata sayang, dan perhatian yang diberikan oleh Albert untuk Tania, sungguh ini sangat menyesakkan hati buat Marsha. Rasa cinta dan sayang Albert yang selama ini ditunjukkan buat dirinya sekarang beralih ke Tania.
Melihat Oma Helena dan Mama Shinta sudah masuk ke dalam salah satu mobil. Dengan tenangnya Marsha merogoh tasnya. “Tania, kamu tak akan aku biarkan hidup bahagia dengan suamiku!” ucap Marsha dengan suara meninggi.
Marsha tersenyum jahat, kedua netranya menatap tajam ke arah Tania dan Albert kemudian tangannya keluar dari dalam tasnya. Entah kenapa Albert curiga dengan tangan kanan Marsha yang baru saja terangkat dari dalam tas.
“Kamu harus mati ditanganku, Tania!” geram Marsha. Kedua netra Albert terbelalak dan langsung berbalik badan kemudian memeluk Tania.
DOR!
Belum dalam hitungan menit, suara senapan api yang dicetus oleh Marsha, sudah mengenai tubuh seseorang.
__ADS_1
Tania langsung tersentak, tubuhnya menegang, kedua netranya pun seketika membulat.
“MARSHA .... LOE UDAH GILA!!” teriak histeris Weni, gak menyangka jika Marsha membawa senjata tajam.
Marsha tiba-tiba saja diam terpaku melihat siapa yang telah kena tembakan dari senjata api yang masing di genggamnya, tatapannya nanar.
Bimo yang baru saja datang dari arah gerbang rumah sakit segera berlarian, begitu juga security rumah sakit yang mendengar suara letusan yang begitu nyaring menuju ke sumber suaranya. Sedangkan orang-orang yang kebetulan berada di sekitar luar lobby tidak berani mendekat, apalagi melihat sosok wanita yang memegang senjata api, takut kena sasaran.
Melihat Marsha masih memegang senjata api di tangannya, Bimo langsung memukul tengkuk Marsha dari belakang, kemudian membekuk Marsha. Weni yang masih berada di samping Marsha, sudah terjatuh di lantai dengan tubuh yang bergetar. Tak menyangka akan ada adegan berdarah di siang hari.
...----------------...
Albert masih memeluk tubuh Tania. “P-Pak A-Albert ...,” panggil Tania bergetar, entah kenapa tubuhnya terasanya lemas, kedua kakinya sudah gemetar sudah tak sanggup menopang dirinya sendiri.
Tangan Tania mulai meraba punggung Albert, dan merasakan ada yang basah, di intiplah tangannya yang basah itu dari balik dekapan Albert.
“D-darah.” Tubuh Tania tambah bergetar hebat, jantung rasanya ingin jatuh.
“Pak Albert ....!” teriak Tania cemas, merasakan tubuh Albert semakin berat.
Pria itu mulai kehilangan kesadarannya dalam pelukan Tania. Beberapa perawat sudah datang dengan membawa brankar, dan membantu mengangkat tubuh Albert dari pelukan Tania.
“PAK ALBERT ... !” teriak Tania kembali, tak kuasa melihat Albert tertembak .... Darah mulai merembes dari bagian punggung pria itu, air mata Tania semakin deras terjatuh, dadanya terasa sesak tak kuasa melihat kenyataan yang terjadi. Pria itu mengorbankan dirinya untuk melindungi wanita terkasihnya, membuktikan betapa besar cintanya untuk Tania. Lidah Tania benar-benar keluh tak mampu berkata-kata, hatinya benar-benar terpukul.
Cinta Albert untuk Tania itu nyata, bukan sekedar ucapan namun membuktikan secara nyata.
Mama Shinta langsung merangkul Tania yang mulai menangis histeris. Begitu juga dengan Oma Helena yang sudah dipeluk oleh Opa Thamrin karena menangis histeris.
__ADS_1
Marsha yang belum sadar dan Weni sudah di bekuk di pos keamanan, sambil menunggu kedatangan polisi.
“Kenapa saya ikutan di tahan di sini! Saya bukan temannya! Lepaskan saya!” teriak Weni tak terima ikutan di amankan.
“Tapi menurut saksi yang melihat, Anda datang berdua dengan wanita ini. Jadi Anda sudah jelas tahu rencana wanita itu ingin membunuh seseorang!” balas Securty.
Weni langsung menendang bokong Marsha yang masih tak sadarkan diri tergeletak di lantai. “Dasar artis sialan, orang gila!” teriak Weni penuh amarah dan kesal.
...----------------...
Beberapa orang membantu memapah Tania kembali masuk ke rumah sakit. “T-tolong se-selamatkan suamiku, Ya Allah,” rintih Tania masih berderai air mata, dirinya sudah tak sanggup untuk berdiri lagi, akhirnya wanita itu tumbang tak sadarkan diri, untung saja orang-orang yang memapahnya bisa menangkap bumil agar tak terjatuh ke lantai.
Mama Shinta juga ikutan menangis, siapapun yang melihat tragedi di luar lobby pasti akan meneteskan air mata.
Cinta itu memang bisa membutakan seseorang dan membuatnya gila, namun cemburu kadang bisa membuat orang melakukan hal yang mematikan. Marsha yang diliputi rasa cemburu yang memang tipenya pencemburu saat menikah dengan Albert, sudah kehilangan akan sehat hingga mengambil tindakan yang membahayakan orang lain atas dasar rasa cemburunya!
Gerry yang baru kembali dari hotel karena sebelumnya diminta Albert untuk berkemas karena akan ke villa milik Opa, langsung menyandarkan dirinya di tembok, syok seketika setelah Bimo memberitahukan jika Albert tertembak, dan Marsha lah pelakunya.
“Astagfirullah,” gumam Gerry, meraup wajahnya dengan kasar, pantas saja tadi dia merasa enggan untuk kembali ke hotel, ternyata ada kejadian yang tak terduga. Bimo juga merasa bersalah karena tidak mendampingi Tuannya karena Tuannya memberikan dirinya untuk istirahat di hotel.
bersambung ....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Yang masih punya vote mau dong, makasih sebelumnya.
Selamat Hari Raya Nyepi 1945 Saka, buat Kakak Readers yang merayakan, semoga dengan Amati Geni, Amati Lelungan dan Amati Lelanguan, Bhuana Alit dan Bhuana Agung, kembali suci.
Lope lope sekebon 🍊🍊🍊🍊🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌻
__ADS_1