Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
PIL KB


__ADS_3

Tania menyunggingkan salah satu sudut bibirnya, rasanya ingin tertawa mendengar alasan Albert ‘hanya bertanggung jawab' padahal bukan dia yang membuat dirinya celaka, dan Tania pun tak meminta Albert untuk bertanggung jawab, justru pria itu yang merubah segala sesuatu dengan kekuasaannya.


“Aku sudah gak sanggup lagi seperti ini Kak Albert, ceraikan Tania saat ini juga, aku akan siap mengandung anakmu. Bukankah Kak Albert menginginkan anak dariku kan, sedangkan dengan dia hanya sebuah keterpaksaan!” ucap Marsha dengan lantangnya.


Bu Mimi tak tinggal diam, takut kenapa-napa di hampirinya Tania lalu mengajaknya untuk menjauh dari posisi Albert dan Marsha, mereka memilih duduk di sofa.


“Ceraikan Tania sekarang juga! Dan aku akan mengandung anakmu, Kak Albert. Kita akan kembali seperti sebelumnya hanya ada aku dan kamu, mungkin dengan anak kita berdua, tidak ada wanita lain dan anak dari wanita lain!” berkata kembali Marsha sembari menatap Albert yang masih terpaku.


Bibir pria itu menyeringai tipis diikuti tatapan sinisnya, setelah empat tahun pria itu menunggu kesediaan Marsha untuk mengandung anaknya, sekarang wanita itu menyatakan bersedia, setelah apa yang telah dia lalui bersama Tania.


Tapi hatinya terasa tidak bahagia atau senang mendengar kesediaan Marsha, tidak ada senyum sumrigah di wajah pria itu setelah menerima pernyataan itu, yang ada terasa hambar, tidak ada asin atau manisnya.


Sementara itu dibalik kedatangan Marsha, jemari Bu Mimi begitu lincahnya mengetik pesan ke Opa Thamrin, memberitahukan kondisi yang sedang terjadi, dan berharap untuk segera datang, demi menyelamatkan kondisi Tania.


Tania dalam duduknya termenung, menatap dinding kosong ... rentetan kejadian yang sempat tak di ingatnya mulai tersusun rapi, sesaat wanita itu tersenyum kecut dan kadang ada tatapan tajam ke dinding kosong itu. Kedua netra Tania menerawang jauh, sedangkan Albert menatap Tania dari tempatnya berdiri, dengan tatapan kosong.


“Dengarkanlah yang di minta oleh istrinya Pak Albert, alangkah baiknya Pak Albert menceraikan saya sekarang juga. Lagi pula istri Pak Albert bersedia untuk mengandung,” ucap Tania tanpa menoleh pandangannya, tetap lurus menatap dinding.


Albert mengepalkan ke dua tangannya ketika Tania berucap dengan tenangnya.


“Tak ada wanita yang ingin di madu Pak Albert, dan saya tak ingin menjadi benalu dalam rumah tangga Pak Albert, jadi mari kita selesaikan semuanya baik-baik,” lanjut kata Tania.


BRAK!


Habis sudah kesabaran Albert, hatinya memanas karena permintaan untuk menceraikan Tania, hingga piring yang masih penuh isinya di atas meja di dorong oleh Albert sampai terjatuh berserakan di lantai.


Marsha yang masih berdiri dekat Albert langsung terjingkat kaget. Namun Tania masih tenang dalam duduknya tanpa menoleh sedikit pun ke arah bunyi pecahan piring tersebut.


“Sekarang kamu bilang ingin mengandung anakku, setelah aku menikah dengan Tania! Semuanya sudah terlambat, Marsha!” sahut Albert dengan suara meninggi.

__ADS_1


“Tidak ada kata terlambat Pak Albert, kita baru mau sebulan menikah. Lagi pula di antara kita hanya sebuah keterpaksaan, tidak melibatkan hati. Bukankah saya hanya wanita murahan yang bisa dibuang kapanpun, jadi ceraikanlah saya sekarang juga!” balas Tania dari tempat duduknya, kata yang diucapkan dengan tenang tapi tegas.


Sebulan! ... berarti ingatan Tania sudah kembali ... batin Albert.


Albert menajamkan tatapannya ketika menatap Marsha, lalu melangkahkan kakinya, di saat pria itu melewati Tania, tak sedikit pun menoleh ke arah Tania, tapi menunjukkan wajah garangnya, lalu keluar dari ruang rawat tanpa sepatah kata pun.


“Kak Albert!” panggil Marsha, melihat suaminya tiba-tiba saja keluar.


Sebelum menyusul Albert, Marsha berkata, “jangan pernah kembali ke mansion, dan ingat kamu akan segera di ceraikan!” sentaknya.


Tania mengulas senyum tipisnya, “Dengan senang hati, saya tunggu suami Nyonya menceraikan saya!” Marsha lanjut menyusul Albert, namun sayangnya pria itu telah lenyap dari peredaran matanya.


“Sialan ke mana Kak Albert, cepat banget menghilangnya!” gumam Marsha sendiri, wanita itu buru-buru menuju lift agar cepat turun ke lantai bawah.


Sementara di lobby rumah sakit, Albert sudah masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Marsha, tidak menunggu kedatangannya.


“Kita mau ke mana Tuan?” tanya si sopir.


...----------------...


Mansion Albert


Perjalanan selama 45 menit dari rumah sakit ke mansion Albert, akhirnya membawa sang pemilik sampai ke mansionnya. Baru saja tiba, pria itu bergegas masuk ke dalam mansion.


“Pak Firman, antarkan saya ke kamar  yang pernah di tempati oleh Tania,” pinta Albert tanpa menghentikan langkah kakinya.


“Baik Tuan.” Pak Firman memandu Tuannya menuju area bagian belakang mansion, yang terdapat beberapa kamar yang di tempati para maid.


“Silahkan Tuan, ini kamar yang di tempati oleh Tania,” ucap Pak Firman, sambil membukakan pintu kamar. Albert langsung masuk, tujuan utama dia ke kamar Tania yaitu mencari dokumen Tania untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Permintaan untuk menceraikan Tania tidak akan pernah di kabulkan olehnya.

__ADS_1


Albert mulai membuka lemari pakaian, dilihatnya hanya ada beberapa helai pakaian yang tertata rapi.


“Tuan, mungkin ada yang bisa saya bantu?” tawar Pak Firman yang masih berdiri di ambang pintu.


“Tidak perlu, saya sendiri yang akan mencarinya,” jawab Albert tanpa menatap Albert.


Di dalam lemari, pria itu belum menemukan dokumen Tania, selanjutnya Albert menuju nakas yang ada di samping ranjang, lalu membuka satu persatu laci yang ada di nakas tersebut. Pria itu bersyukur fotocopy kartu keluarga dan ektp milik Tania di temukan, namun ada sesuatu yang  terletak di atas dokumen tersebut berbentuk strip yang berisi tablet, Albert mengambilnya dan melihat strip obat tersebut ... Beberapa lubang sudah kosong tanpa isi, dan seketika itu juga kedua netra Albert terbelalak, setelah membaca tulisan PIL KB ANDALAN.


“TANIA!” pekik Albert, pria itu menendang nakas hingga terjungkal jatuh ke lantai, wajah Albert mulai memerah, pria itu benar-benar merutuki perbuatan Tania yang telah berani mengonsumsi pil KB tanpa sepengetahuannya.


Teriakan Albert di dalam kamar Tania, menjadi pusat perhatian beberapa maid termasuk Clara, mereka mendekati kamar namun sudah di hadang oleh Pak Firman.


Dengan wajah garangnya, pria itu mengeratkan pil KB yang ada di genggaman tangannya, kemudian keluar dengan langkah kaki yang lebih cepat.


Jadi ini maksud dari semua yang kamu ucapkan, Tania! Kamu tidak ingin mengandung anakku, dan sudah minum pil KB ini! ... Geram batin Albert.


Baru saja Albert keluar dari mansionnya, rupanya Marsha baru saja keluar dari mobilnya, wanita itu bersyukur ternyata suaminya pulang ke mansion.


“Kak Albert, mau ke mana lagi?” Wanita itu langsung menghadang Albert dan meraih salah satu tangan pria itu, namun Albert langsung menyentaknya.


“Cukup Marsha, semuanya sudah terlambat dan sudah berjalan. Sekarang kamu mengatakan hal yang sudah lama aku dambakan, tapi rasanya aku sudah tidak menginginkan darimu, Marsha!” ucap tegas Albert.


Tubuh Marsha bergetar, tak percaya atas jawaban Albert, kedua netranya pun mulai berembun, hati yang tak kuasa membuat wanita itu langsung memeluk suaminya.


“Kak ... jangan begini, aku sudah bersedia akan mengandung anakmu. Bukankah Kak Albert sangat mencintaiku ... Ayo kita perbaikan keadaan rumah tangga kita, dan tidak ada wanita mana pun yang mengacaukan rumah tangga kita berdua,” ucap Marsha memelas.


Begitu eratnya Marsha memeluk Albert, akan tetapi pria itu tidak membalas pelukannya, kedua tangannya tetap tergontai ke bawah, tak ada keinginan untuk mengelus punggung Marsha yang mulai terisak menangis. Pikiran pria itu menerawang jauh ke rumah sakit, Tania hanya Tania yang kini ada di pikirannya.


bersambung ......📝

__ADS_1


 


__ADS_2