Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Ingin bertemu dengan Tania


__ADS_3

Bandung


Rumah Sakit H


Jam 9.00 wib


Dokter Dewi bersama perawat masuk ke ruang rawat Tania dengan mendorong troly yang berisikan alat rekam jantung untuk calon baby.


“Selamat pagi, Nyonya Tania, bagaimana istirahatnya semalam, nyenyak kah?” sapa Dokter Dewi penuh kesopanan.


“Alhamdullilah Dokter, semalam saya pulas tidurnya.”


“Alhamdulillah kalau begitu kita rekam jantung si baby nya ya,” ucap Dokter Dewi.


“Ya Dokter.”


Dokter Dewi di bantu dengan perawat, mulai menyingkap selimut dan dress Tania hingga terlihat perut bulat Tania.


Beberapa alat yang berbentuk bulat pipih ada kabelnya mulai di tempelkan di beberapa bagian perut Tania, lalu Dokter Dewi mulai menyetel mesin rekam jantungnya.


“Atur napasnya Nyonya, dan usahakan rileks ya,” pinta Dokter Dewi.


Tania menganggukkan kepalanya, dan mulai mengatur napasnya, tarik napas lalu hembuskan perlahan-lahan dari kedua lubang hidungnya selama beberapa menit.


Dokter Dewi sambil menunggu memperhatikan grafik detak jantung yang tercetak di kertas rekam jantung.


“Suster, sudah cukup,” pinta Dokter Dewi, sang perawat langsung mencabut semua alat yang menempel di perut Tania lalu menurunkan dress wanita itu. Untuk selanjutnya Dokter Dewi menyiapkan obat penguat jantung, paru-paru ke dalam suntikan.


“Nyonya ini saya masukkan obat penguat paru-paru dan jantung si baby, nanti akan terasa kesemutan di organ intim Nyonya ... tapi hanya sebentar saja rasa kesemutannya,” kata Dokter Dewi menjelaskan.


Wajah Tania agak meringis, membayangkan organ intimnya kesemutan, tapi pasrah ketika obat tersebut sudah di suntikan ke infusannya.


Nyess ....


Belum ada lima menit, ternyata obatnya sudah bereaksi, organ intimnya mulai merasakan kesemutan, dan wajah Tania pun nyengir seketika itu juga.


“Enggak pa-pa kok nak, hanya sebentar saja, demi si triple,” kata Mama Shinta yang ikutan nyengir, karena gak pernah merasakan seperti itu.


“Nanti siang, kita akan USG di ruang praktek saya, jadi tetap bedrest dan konsumsi makanan yang sehat, serta minum air putih yang banyak ya,” tutur Dokter Dewi, sembari merapikan alat suntiknya.


“Terima kasih Dokter,” jawab serempak Tania dan Mama Shinta.


Baru saja Dokter Dewi selesai kunjungan, datanglah Oma Helena bersama Opa Thamrin dengan membawa beberapa kantong belanjaan.


“Wah Oma sama Opa kayaknya habis borong di supermarket!” celetuk Tania dari atas ranjangnya.

__ADS_1


Oma mengulas senyum tipisnya sambil membawa salah satu kantong belanjaannya. “Oma beliin cemilan kesukaan kamu, ada keripik kentang sama coklat ... nih,” ucap Oma Helena sembari mengeluarkan isi kantong belanjaannya.


“Makasih Oma cayang ...,” sahut Tania sedikit terdengar manja, lalu meraih plastik keripik kentangnya, kemudian membukanya, maklum hamil kembar tiga bikin nafsu makannya bertambah, untungnya tidak membuat tubuhnya melar tapi perutnya semakin membulat.


Oma Helena menarik lengan Mama Shinta, agar menjauh dari ranjang Tania. “Ada yang ingin Oma sampaikan ke kamu,” bisik Oma Helena. Mama Shinta hanya menuruti langkah kaki Oma Helena, yang membawa dia keluar dari ruang rawat Tania, dan duduk  bersama di bangku.


“Shinta, lihat ini,” pinta Oma Helena menyodorkan handphonenya.


Kedua netra wanita paruh baya tersebut fokus dengan layar handphone milik Oma Helena untuk beberapa menit. Sesekali Mama Shinta menarik napasnya dalam-dalam, lalu kembali menonton video tersebut.


Tanpa mereka sadari berdua, dari kejauhan terlihat sosok pria melangkahkan kakinya dengan gagah mendekati mereka yang masih duduk di luar ruang rawat Tania.


“Assalamualaikum, Oma, Tante,” sapa pria itu.


“Alaikumsalam,” jawab Oma Helena bergantian dengan Mama Shinta. Kedua wanita itu seketika mendongakkan kepalanya dan menatap pria yang menyebutkan salam, seketika Oma Helena dan Mama Shinta terkejut dengan kedatangan pria tersebut.


Mama Shinta seketika beranjak dari duduknya. “Buat apa kamu ke sini!” ucap Mama Shinta, agak galak.


Albert terlihat heran kenapa orang yang menabrak Tania ada di sini, dan nada bicaranya terdengar tidak suka dengan kehadirannya, padahal bukan keluarga Tania ... pikir Albert. Oma Helena ikutan beranjak dari duduknya.


“Kenapa kamu bisa ada di sini, Albert?” Oma Helena ikutan bertanya.


Albert yang masih berdiri, sesaat menundukkan kepalanya lalu kembali menegakkan kepalanya.


Mama Shinta mengembalikan handphone milik Oma Helena, kemudian berdecak kesal. “Kamu bilang mau bertemu dengan Tania, setelah semua yang terjadi, kamu ingin bertemu huh ... GAK BISA!” seru Mama Shinta, salah satu tangannya mendorong bahu Albert, hingga pria itu seketika melangkah mundur.


Oma Helena membiarkan seorang ibu memarahi suami anaknya, walau bagaimana pun itu hak seorang ibu untuk melindungi anaknya.


“Kok Tante melarang saya bertemu dengan Tania, Tante bukan keluarga Tania ... hanya yang menabrak Tania?” tukas Albert tidak terima.


“Dia berhak melarang kamu menemui Tania, karena Shinta adalah mama kandung Tania!” sambung Oma Helena.


Bagaikan petir di pagi hari tanpa hujan buat Albert, mendengar pernyataan Oma Helena. “T-tante, mamanya Tania,” kata Albert terbata-bata, dengan kedua netranya membulat


“Iya saya mamanya Tania!” sahut Mama Shinta dengan lantangnya.


Gerry yang masih berdiri tak jauh dari keberadaan Albert hanya bisa melambaikan tangan, tidak bisa ikut campur, apalagi ada kenyataan yang terbaru.


Albert terpaku dalam keadaan berdiri, sekarang bukan hanya keluarganya saja yang harus di hadapi tapi bertambah ada mamanya Tania.


Opa yang baru saja keluar mau mengajak istrinya masuk ke dalam karena di cariin Tania, langsung menatap seketika ke arah Albert dan Mama Shinta.


 “Ternyata kamu berhasil menemukan keberadaan Tania!” celetuk Opa Thamrin, pria tua itu mendekati cucunya, lalu menatap tajam.


“Opa ...”

__ADS_1


Opa Thamrin menaikkan salah satu alisnya. “Puas kamu telah menyakiti hati wanita yang tak punya kesalahan padamu! Hingga hampir kehilangan janinnya!” tukas Opa Thamrin dengan tegasnya.


Pria berwajah tampan itu kembali menundukkan kepalanya, ya ... ini salahnya.


“Maafkan aku, Opa,” jawab Albert lirih.


Pria itu perlahan-lahan menjatuhkan kedua kakinya lalu berlutut di hadapan Opa Thamrin dan Mama Shinta.


“A-aku memang banyak kesalahan terhadap Tania, aku minta maaf Opa, Oma, Mam,” ucap Albert.


Mama Shinta dan Oma Helena tidak menyangka Albert akan berlutut di hadapan mereka semua, dan mengabaikan tatapan orang lain yang tak sengaja berada di lorong ruang rawat lantai 3.


“Izinkan aku bertemu dengan Tania, aku mohon ... Opa, Mam,” kata Albert memohon dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.


“Sebentar saja, aku mohon.” Kedua netra Albert mulai berkaca-kaca, hatinya mulai berkecamuk.


“Jangan berharap kamu bisa menemui anakku lagi!” balas Mama Shinta, wanita paruh baya itu kemudian masuk ke dalam ruangan dengan wajah kesalnya.


Albert terhenyak dan tak bisa berbuat apa-apa setelah dapat jawaban seperti itu. Dan kini pria itu hanya menatap memohon kepada Opa Thamrin dan Oma Helena, penuh pengharapan, untuk diizinkan bertemu dengan Tania, terlepas semalam telah bertemu dalam keadaan Tania tertidur.


 


bersambung.... kira-kira Tania maukah bertemu dengan Albert??


 



 


 



 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2