
Waktu terus bergulir, calon Oma dan calon Oma buyut terlihat sibuk mengemasi belanjaan keperluan si baby triple di ruang santai. Sedangkan Albert lagi mengecek persiapan kamar baby triple nya bersama Pak Firman.
“Sayang, bagaimana kamar anak-anak kita, ada yang kurang tidak?” tanya Albert.
Tania yang sedari tadi duduk di sofa single, menelisik ke setiap sudut kamar baby. Suaminya benar-benar teliti dalam memilih perabotan serta funiture untuk ke tiga baby mereka, sangat totalitas mempersiapkannya.
“Sempurna Pah, tidak ada yang kurang,” jawab Tania, sembari mengacungkan kedua jempol tangannya.
Pria itu kemudian jongkok di hadapan istrinya, lalu mengusap perut Tania yang sudah semakin membesar. “Papa jadi gak sabar menanti kalian bertiga, nanti kalau mau keluar jangan susahin mama ya, nak,” ucap Albert begitu lembutnya.
“Iya Papa ... Nanti dede bertiga gak nyusahin mama kok,” balas Tania menirukan suara anak kecil. Kemudian Albert mengecup perut Tania berulang kali, sedangkan Tania hanya bisa mengusap rambut Albert.
Menurut HPL prediksi Dokter Dewi, beberapa hari lagi Tania akan melahirkan, wanita itu berusaha agar bisa melahirkan normal, tapi menurut Dokter Dewi jarang kelahiran baby kembar dilakukan secara normal, lebih banyak melalui operasi caesar, karena melahirkan secara normal untuk baby kembar harus memperhatikan fisik sang ibu serta kondisi bayinya, namun Tania optimis untuk bisa melahirkan ketiga bayinya secara normal, karena secara hasil USG nya baby dalam keadaan baik-baik saja.
Sedangkan Albert mengikuti kemauan istrinya, walau sebenarnya dia lebih menyetujui melalui secara operasi caesar.
Semenjak usia kandungan Tania masuk 9 bulan, Albert lebih banyak bekerja dari rumah, agar selalu standby dan menjadi suami siaga buat istrinya. Dan selalu menemani Tania jalan pagi atau jalan sore di sekitar mansion, yang menurut Dokter Dewi bisa memperlancar jalan lahir si baby triple.
“Sayang, sore ini mau jalan-jalan santai lagi gak?” tanya Albert, setelah puas mencium perut istrinya.
“Mau Pah ... bantu mama bangun dong,” pinta Tania, yang memang sudah agak kesusahan tiap bangun dari duduknya. Pria itu langsung membantu istrinya untuk berdiri.
“Mam, kok sofanya basah ya ... mama gompol ya?” tanya Albert saat membantu Tania.
Tania menoleh ke belakang, sedangkan Albert mengecek daster bagian belakang istrinya. “Sayang, daster mama basah nih.”
Tangan Tania langsung memegang bagian belakang dasternya. “Loh kok basah ya ... mama gak nahan pipis loh Pah.”
Mama Shinta dan Oma Helena yang baru saja masuk ke kamar baby dengan barang belanjaanya.
“Ada apa nak?” tanya Mama Shinta, ikutan penasaran.
“Ini Mah, Tania kayaknya ngompol di sofa,” ucap Albert. Mama Shinta langsung memegang rembesan sofa, dan mencium aroma nya. “Tidak bau pesing.”
Tapi tak lama wajah Tania mulai meringis kesakitan. “Sebaiknya kita sekarang bawa Tania ke rumah sakit, ini bukan ompol tapi Tania pecah ketuban,” ucap Mama Shinta terlihat tenang.
__ADS_1
Albert terkesiap, lalu menatap istrinya mulai meringis menahan kontraksi yang mulai cepat durasinya karena selama beberapa hari ini Tania sudah mengalami kontraksi palsu. Untung saja Tania dan Albert sering ikut senam hamil, dan sering dapat penyuluhan dalam menghadapi persiapan lahiran dari Dokter Dewi, hingga mereka berdua bisa menghadapi dengan tenang.
Albert merangkul pinggang Tania. “Masih kuat untuk jalan ke mobil?” tanya Albert dengan lembutnya.
“Masih Pah,” jawab Tania, sambil mengatur napasnya. Mama Shinta dan Oma Helena langsung bergegas mengambil tas keperluan yang sudah di siapkan. Lalu Pak Firman sudah meminta sopir menyiapkan mobil.
Walau jalannya pelan-pelan dari kamar sampai keluar mansion, tapi Tania berhasil juga masuk mobil. “Pah ... sakit Pah ...,” ringis Tania di dalam mobil, ketika sudah duduk di dalam mobil.
“Sabar ya sayang ...” Dengan lembutnya Albert mengusap perut Tania.
“Aaaauuu ...pah...gak tahan pah,” ringis Tania kesakitan, wanita itu mulai mencengkeram lengan Albert sekuat tenaganya, menyalurkan rasa sakitnya. Albert pasrah saja, walau ikutan kesakitan juga.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Tania sudah merintih kesakitan hingga mengeluarkan suara seperti orang kepedasan, termasuk Albert ... pria itu meringis karena lengannya habis di cakar Tania. Terima nasib ya Albert.
Setibanya di rumah sakit H, para medis sudah bersiap dengan brankar di luar lobby setelah dapat kabar kalau istri pemilik rumah sakit sudah mulai tanda-tanda akan melahirkan. Albert dibantu perawat laki-laki, membopong Tania ke atas brankar, sedangkan Dokter Dewi dan Dokter Mia sudah menunggu di ruang bersalin.
Albert masih setia menggenggam tangan Tania menuju ruang bersalin. “Papa pokoknya temenin mama di dalam,” pinta Tania dibalik ringisan kesakitannya.
“Iya sayang, papa akan temenin mama di dalam,” jawab Albert, menganggukkan kepalanya.
“Semoga anak mama dimudahkan proses bersalinnya ya,” ucap Mama Shinta yang diperkenankan untuk masuk sebentar menengok Tania, kemudian melafadzkan doa dan mengecup kening Tania, lalu keluar menunggu di luar ruang bersalin. Sedangkan Albert diperkenankan untuk menemani Tania di dalam.
“Nyonya Tania, sudah pembukaan delapan ya,” ucap Dokter Dewi.
“Sakit perutnya Dokter,” rengek Tania.
“Sabar ya ... sebentar lagi babynya akan lahir, atur napasnya dalam-dalam ... lalu hembuskan. Jangan mengendan dulu, tunggu interupsi saya ya,” pinta Dokter Dewi.
“Mmm ... ,” gumam Tania.
Dokter Dewi, Dokter Mia beserta beberapa perawat, mulai mempersiapkan peralatan untuk persalinan Tania. Sedangkan Albert duduk di samping brankar Tania, mendampinginya ... sesekali mengecup kening Tania. “Mama pasti bisa, mama pasti kuat ... Ada papa di sini, menemani mama,” ucap Albert memberikan semangat.
Tania hanya bisa menganggukkan kepalanya, tak lama mulutnya sudah mulai teriak kesakitan karena ada sesuatu yang mendorong di bagian intimnya.
“Ya Allah ... Sakit Pah,”
__ADS_1
Dokter Dewi buru-buru mengecek jalan lahirnya lalu mengambil posisi, dan memberi kode ke semuanya. “Pembukaan sudah sempurna, Nyonya Tania ikutin aba-aba saya ya.”
“Yaaaa.......” sahutnya.
Albert yang kebetulan kepalanya pas dekat dengan Tania, di saat wanita itu mengedan, rambut Albert di tariknya sekuat tenaga.
“Aauaa...aaauuaa.,” kesakitan Albert, dibalik suara mengedan Tania.
“Ayo sekali lagi mengedannya Nyonya,” pinta Dokter Dewi.
“Ooee.....Ooee.....,” lahirlah baby pertama, Dokter Mia langsung mengambil baby pertama untuk di bersihkan.
Albert yang mendengar suara tangisan baby nya langsung menangis, dan menempelkan keningnya ke kening istrinya. “A-anak kita, sayang,” ucap Albert, terharu.
Tania tidak bisa menjawab, karena perutnya kembali kontraksi dan dia harus kembali mengedan. Tangannya pun kembali menjambak rambut Albert. Akhirnya kedua baby menyusul keluar dari jalan lahir, satu persatu
Albert kembali menangis ... menangis bahagia, lalu mengecup wajah Tania yang tampak kelelahan setelah melahirkan 3 bayi secara normal. “Alhamdulillah ... Ya Allah.”
Tak lama kemudian ...
“Pak Albert, Nyonya Tania, selamat atas kelahiran babynya, dua laki-laki, satu perempuan,” ucap Dokter Mia. Tiga box baby mendekat ke brankar Tania. Albert sangat takjub melihat ketiga anaknya, yang laki-laki wajahnya sudah terlihat tampan, sedangkan yang perempuan sangat cantik. Tania hanya bisa menatap wajah suaminya yang begitu bahagia, pria yang sudah lama menanti buah hati, dan sekarang bukan satu yang dia dapatkan, tapi dapat tiga sekaligus, buah hati dari Tania.
Sebelum mengazankan kedua anak laki-lakinya dan iqomah untuk anak perempuannya, pria itu menoleh ke arah istrinya dan menatapnya penuh cinta. “Terima kasih mama, kamu benar-benar istri yang sangat hebat dan kuat, luar biasa,” kata Albert. Wanita itu mengulas senyum tipisnya. “I Love you, Tania Kanahaya,” pria itu mengecup bibir Tania dan sedikit melummatnya.
“Papa ... malu banyak orang di sini,” tegur Tania, dengan suara masih terdengar lemah.
Pria itu hanya bisa nyengir kuda, memang Albert gak bisa lihat tempat saking udah bucin dengan istrinya.
bersambung .....
Kakak Readers minta saran dong buat nama anaknya Albert dan Tania 😊😊
Kenang-kenangan dari Noveltoon untuk kisah Tania dan Albert 🥰🥰🥰, simpan di sini.
__ADS_1