Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Rapuhnya Albert


__ADS_3

Pria berwajah rupawan itu masih menundukkan kepalanya, menatap lantai marmer yang tak sepatutnya  dipandang, namun pria itu juga enggan menatap wajah Opa Thamrin.


“Kamu pria yang memiliki wajah yang sangat rupawan, tubuhmu juga gagah, dan memiliki perusahaan serta kekayaan yang sangat berlimpah. Sudah bisa di pastikan banyak wanita di luar sana berlomba-lomba menginginkan bisa memiliki suami seperti dirimu. Tapi sayangnya Opa melihat Tania tidak tertarik denganmu!” ejek Opa Thamrin, menyeringai tipis.


“Ternyata masih ada wanita yang tidak menyukaimu, Albert!” ejek Opa Thamrin melanjutkan perkataannya.


Kedua tangan Albert terkepal begitu eratnya, kemudian tak lama dia menegakkan kepalanya dan menatap datar ke arah pria tua itu.


“Betulkan yang Opa katakan?” Opa Thamrin butuh jawaban.


“Apa artinya sekarang kamu mencari Tania? Apakah dia berarti untukmu, atau kamu mencari hanya karena dia mengandung anakmu!” dengan lantangnya Opa Thamrin berkata.


Pria itu bergeming, tak berkata, tak bergerak.


Opa Thamrin sejenak mengambil napas dalam-dalam, sebelum melanjutkan ucapannya.


“Tidak semua keinginanmu bisa terwujud semuanya Albert, kadang apa yang kita inginkan tidak bisa kita gapai. Tania tidak bisa dipaksa, dan dia tak mau menemui mu lagi ... dia menunggu kamu menceraikannya,” imbuh Opa Thamrin.


Hati Albert bagaikan disayat-sayat dengan sebilah belati yang sangat tajam, sungguh hal ini begitu menyakitkan, apa yang di katakan Opa Thamrin sama dengan apa yang dikatakan Tania semalam melalui sambungan telepon.


Tiba-tiba saja pria itu menjatuhkan kedua lututnya ke lantai, kemudian menurunkan pandangannya. Kedua tangannya berada di atas kedua pahanya. Opa Thamrin seketika itu tertegun melihatnya.


Sesaat kenangan awal menikahi Tania muncul di pelupuk matanya, memang tidak ada hal yang indah di antara mereka berdua, yang ada hanyalah hal yang buruk yang dia berikan kepada Tania.


'Memangnya kamu tidak ada baju yang layak di pakai lagi. Lihatlah dirimu sudah seperti pemulung yang ada di pinggiran jalan.'


Sepenggal kalimat kasar kembali teringat di otak Albert. Belum lagi ketika pria itu menggumuli wanita itu mengambil mahkotanya secara kasar, dan mengusirnya bagaikan wanita murahan bukan layaknya sebagai istri yang sepatutnya di hargai setelah menggumuli nya.


'KAMU INGIN MENJADI PELACURR DILUAR SANA...HUH!'


'Bukankah saya memang pelacurr untuk Pak Albert, istri Bapak juga mengatai saya seorang pelacurr untuk suaminya! Jadi kenapa tidak sekalian saya nyemplung saja, sudah terlanjur basah! Dan Pak Albert tidak perlu memarahi saya! Saya hanya pelayan, dan budak sekss bapak, tidak lebih kan!


Kata kasar yang pernah diucapkannya dalam keadaan hati yang memanas, sudah pasti menyayat kan hati seorang wanita, Albert baru menyadarinya. Dan selama itu juga tidak pernah berkata lembut, hanya emosi yang ditunjukkannya kepada Tania.


Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya ada wanita yang tidak menyukai dirinya, dia akui itu adalah Tania, tak pernah wanita itu mencari perhatiannya atau menggodanya, dan justru membuat pria itu kesal sendiri.


Tapi tahukah Albert, wanita yang kamu kasari, yang kamu siksa fisik dan batinnya, adalah salah satu pengagum rahasia mu, dia sangat menyukaimu, namun sekarang sudah terkikis perasaan itu karena sikap kasarmu.

__ADS_1


Opa Thamrin masih menatap Albert yang sudah berlutut dan menundukkan kepalanya.


“Opa, berikan aku kesempatan,” ucap Albert lirih.


“Sudah terlambat Albert, bukankah selama ini Tania selalu memberikan kamu kesempatan, tapi selalu kamu sia-siakan. Saat dia terbaring sakit, kamu masih menyakitinya!”


“Aku mohon Opa berikan aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya,” ucap Albert memohon ... suara serak mulai terdengar, pria itu merendahkan dirinya di hadapan Opa Thamrin, pria itu juga sudah buntu harus melakukan apa demi bisa bertemu dengan Tania.


Opa Thamrin sempat mulai luluh melihat Albert untuk pertama kalinya merendahkan dirinya di hadapannya, namun teringat permintaan Tania, Opa Thamrin kembali bersikap seperti semula.


Pria tua itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri cucunya yang masih bersimpuh, lalu menepuk bahu Albert. “Semuanya sudah terlambat, Albert!” ucap Opa, lalu meninggalkan Albert.


Kali ini Albert benar-benar tidak dapat dukungan dari keluarganya sendiri.


Benarkah tidak ada kesempatan untuk aku memperbaiki semuanya Tania!


Inikah yang kamu inginkan untuk bercerai denganku, Tania!


Buliran bening mendesak ujung ekor mata pria itu, setitik demi setitik akhirnya jatuh membasahi pipinya, dadanya amat terasa sesak menerima kenyataan, amat terasa sakit ketimbang mengetahui video dugem istri pertamanya dengan pria lain.


Kenapa hatiku terasa sakit Tania, kamu sungguh menyakiti hatiku, Tania!


...----------------...


“Tania, keluarlah Tania, jangan bersembunyi lagi!” teriak Albert, pria itu mengelilingi mansion utama, masih penasaran dan beranggapan  Tania bersembunyi di mansion utama.


“Keluarlah Tania, jangan begini Tania,” teriak kembali pria itu  setiap menelusuri semua ruangan yang ada.


Para maid turut kasihan melihat Tuan mudanya yang masih saja meneriakkan nama wanita itu, apalagi raut wajahnya terlihat sedih, kedua matanya terlihat sembab.


“Pak Albert, Tania benar-benar tidak ada di sini,” ucap Gerry, berusaha menghentikan Bosnya.


“Gak Gerry, istri saya ada di sini, dia lagi bersembunyi Gerry,” jawab Albert kelihatan kacau.


Gerry menahan bahu Bosnya. “Pak Albert, tenanglah ... jangan begini,” kata Gerry yang berusaha menenangi Albert.


Albert menyentak lengan Gerry dengan kerasnya. “JANGAN MENGHALANGI SAYA, MENCARI ISTRI SAYA!” bentak Albert, tak suka dihalang-halangi.

__ADS_1


“TAPI TIDAK BEGINI PAK ALBERT! BAPAK SUDAH TERLIHAT KACAU!” balas bentak Gerry, untuk menyadari Bosnya.


BUGH!


Albert melayangkan bogeman mentahnya ke wajah Gerry, karena tak suka dihalangi. Gerry pun turut membalas bogeman Bosnya tanpa ampun.


Ajudan Opa yang berada dekat mereka berdua langsung mendekati, untuk mencegah adanya pertarungan sengit. Albert dan Gerry sama sama menajamkan kedua netranya dengan perasaan kesal.


Gerry melakukannya hanya ingin Bosnya cepat sadar, dan mengembalikan kewarasan, yang terlihat sangat kacau saat ini. Gerry tak ingin melihat Albert menjadi gila!


Dibalik pilar, Opa Thamrin berdiri dengan bantuan tongkatnya, meratapi Albert yang sangat terlihat kacau, sepertinya pria itu benar-benar terpukul dengan keputusan Tania.


“Tanyakan kepada hatimu Albert, apa yang sebenar yang kamu inginkan. Hanya karena anak kah atau kamu mencintainya. Selamilah perasaanmu sendiri, apa yang kamu inginkan dari hubunganmu dengan Tania. Opa tahu Tania hatinya sudah sangat terluka denganmu!” ucap Opa Thamrin lirih.


Pria itu nampak tergugu, kedua matanya mulai memerah menahan agar air matanya tidak kembali terjatuh. Melihat Albert yang terlihat sangat rapuh, pria tua itu mendekati cucunya lalu memeluk pria itu, suara isak itu akhirnya terdengar, tangisan yang sudah lama tak terdengar di telinga Opa, terakhir kali Albert menangis saat meninggalnya kedua orang tua.


“A-aku tak sanggup kehilangan Tania,” ucap Albert di balik isaknya.


 


bersambung....


Kakak readers mohon maaf lagi slow up date, lagi nemenin anak-anak belajar menghadapi UTS. Semangat buat para mommy yang lagi repot nemenin anaknya juga ya 💪🏻💪🏻


Sambil menunggu bab selanjutnya mampir yuk ke karya Author Komalasari.



 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2