
Ruang Direktur
Pria tampan itu terlihat wajahnya agak emosi ketika menatap dokter yang ada di ruangan Direktur. Beberapa perawat juga kalang kabut, ketika Dokter Irwan meminta semua hasil radiologi, hasil kesehatan atas nama Tania yang ada di ruang prakteknya untuk di bawa dalam waktu cepat ke ruangan Direktur.
Sambil menunggu data Tania, Dokter Irwan menjelaskan semua penanganannya ketika Tania di bawa ke rumah sakit tadi malam, serta kondisi saat itu juga.
Setelah data yang di minta sudah di bawakan, Dokter Irwan menjelaskan sejelas-jelasnya tentang hasil CT-scan seluruh tubuh Tania. Albert dengan tatapan datarnya tapi terkesan menahan emosi menyimak penjelasan dari Dokter Irwan.
“Ada obat yang terbaik untuk menyembuhkan amnesianya? Tanya Albert.
“Jika berhubungan dengan amnesia tidak ada obat nya Pak Albert, paling hanya tetapi dengan psikiater untuk membantu mengembalikan ingatannya, dan itu pun juga secara bertahap. Sedangkan obat yang saya berikan untuk Tania hanyalah pereda nyeri, obat pelancar peredaran darah, dan beberapa vitamin,” jawab Dokter Irwan.
Tersirat rasa tidak puas dari wajah tampan Albert. “Saya tidak mau tahu, pokoknya Dokter harus mencari obat yang bisa menyembuhkan amnesia atas nama Tania, kalau perlu cari di luar negara!” titah Albert dengan suara meninggi.
Dokter Yohanes dan Dokter Irwan saling melirik dengan tatapan heran, terselubung pertanyaan di benak para dokter, siapakah Tania? Apa hubungannya dengan pemilik rumah sakit?
“Tapi, Pak—,” sambung Dokter Yohanes.
“Tidak ada tapi-tapi, saya minta Dokter Yohanes dan Dokter Irwan sinergi dengan rumah sakit yang ada di Singapore, untuk mencari obat tersebut!” Perintah Albert, yang masih saja bersikukuh, jika amnesia ada obatnya.
“Maaf Pak Albert, bukan bermaksud ikut campur urusan bapak. Kalau boleh tahu pasien siapanya bapak ya?” Akhirnya Dokter Yohanes menanyakannya dari pada mereka-reka, dan akhirnya salah menduga.
Apalagi semua sudah tahu jika Albert sudah memiliki istri, dan tak mungkin Albert memiliki istri yang lain atau wanita simpanan.
DEG!
Albert baru menyadari jika sikapnya sudah berlebihan, dan akhirnya timbul pertanyaan, serta tak mungkin jika dia berkata jujur.
“Tania masih kerabat saya, jadi saya harap kalian bisa memaklumi atas sikap saya!” jawab tegas Albert.
Gerry hanya bisa memainkan bola matanya, dikira Bosnya akan berkata jujur, rupanya tidak! ya tak mungkin menjawab dengan jujur, bisa gempar sosial media si gosip lambe turah.
Dokter Yohanes dan Dokter Irwan, menganggukkan kepalanya sebagai tanda paham.
“Saya juga minta Tania pindahkan ke ruangan eksekutif, dan saya minta Dokter sering memantaunya serta semua biasa saya yang tanggung. Dan saya pinta amnesia Tania cepat sembuh!”
Dokter Irwan hanya bisa mendesah mendengar permintaan Albert, agar amnesia Tania cepat sembuh, ini adalah sesuatu yang di luar dari jangkauannya.
“Sekali lagi Pak Albert, untuk masalah amnesia pasien saya tidak bisa menjanjikan untuk cepat sembuh, ini butuh banyak dukungan dari orang terdekat, misalnya Pak Albert sebagai kerabatnya mungkin bisa melakukan interaksi langsung agar ingatan dengan Pak Albert bisa cepat pulih,” saran Dokter Irwan.
__ADS_1
Jemari tangan Albert mengetuk-ngetuk di atas pahanya, ada keraguan di hatinya untuk mendekati Tania, karena tidak pernah dekat, dekat pun hanya untuk berhubungan intim, sedangkan untuk bicara face to face yang ada hanya emosi yang meluap di antara mereka berdua, serba salah buat Albert.
“Hal itu sangat berpengaruh Pak Albert,” sambung Dokter Yohanes, mencoba meyakinkan pria itu.
“Akan saya pertimbangkan,” jawab Albert.
Pria itu mulai beranjak dari duduknya, “Dokter Yohanes lakukan yang saya pinta tadi, dan satu lagi tidak boleh ada yang menemaninya selama di ruangan, cukup suster saja. Nanti akan ada bodyguard yang menjaganya!”
Dokter Yohanes dan Dokter Irwan dibuat geleng kepala kembali atas perintah Albert yang di luar nalar, pindah ruangan tapi diperlakukan bagai tahanan. Kedua pria berjas putih hanya mengiyakan saja, ketika Albert mau meninggalkan ruangan Direktur, ingat atasan selalu benar!
Albert keluar ruangan direktur begitu dengan raut wajah tak puas.
“Sekarang kita mau ke mana Pak?” tanya Gerry yang masih berada di samping Albert.
“Ke kamar Tania,” sahut Albert sambil jalan.
Buat apa lagi ke kamar Tania, bisa dicurigai oleh karyawannya.
“Gerry, minta Bu Mimi mengantarkan pakaian dan keperluan Tania ke rumah sakit. Dan ingatkan Bu Mimi jika ke rumah sakit, bilang dia saudara Tania bukan pelayan mansion saya!”
“Siap Pak, akan saya sampaikan seperti itu.”
Ruang rawat Tania.
Arkana dan Kia masih betah menemani Tania, tapi sekarang sudah ada Tante Shinta yang baru saja balik ke mansion nya untuk mengambil beberapa keperluannya.
Berhubung Tante Shinta membawakan beberapa makanan, dengan senang hati Arkana memaksa untuk menyuapi makanan tersebut ke Tania, dan mau tak mau wanita itu menerima suapan dari tangan Arkana.
“Cie ... Cie ... Romantis banget sih mas Arkana sama Tania, udah kayak pasangan kekasih aja,” goda Kia, membuat mereka bertiga tertawa.
“Memangnya mas Arkana mau punya pacar kayak aku,” timpal Tania sambil terkekeh.
“Mau dong, pria mana sih yang nolak cewek cantik plus pinter lagi. Kalau ada yang menolak kamu, berarti tuh cowok matanya buta!” balas Arkana yang masih sibuk menyuapi Tania.
Albert yang sudah masuk ke ruang rawat, hatinya memanas melihat adegan tersebut ditambah mendengar apa yang mereka bicarakan, terkepal lah kedua tangan Albert hingga buku kukunya memutih, menahan agar dirinya tidak memaki.
Tante Shinta yang sedang duduk di sofa langsung beranjak dan menghampiri ketika melihat Albert masuk dan diam terpaku di tempat.
“Maaf, bapak cari siapa ya?”
__ADS_1
Arkana dan Kia langsung menoleh ke belakang, setelah mendengar suara Tante Shinta.
Kia berdiri dari duduknya lalu menghampiri Tante Shinta. Loh kok Pak Albert ke sini lagi, bukannya dari tadi sudah jenguk Tania dan pergi begitu saja.
“Tante Shinta, perkenalkan ini Pak Albert, CEO perusahaan Maxindo tempat kami bertiga kerja,” ucap Kia.
Albert menatap wanita paruh baya tersebut, begitu pula dengan Tante Shinta.
Tante Shinta mengulurkan tangannya dan Albert menyambut uluran tersebut. “Maaf kalau saya tidak tahu, saya—,”
“Ibu yang menabrak Tania, karyawan saya?” menyela Albert.
“I-iya Pak, sopir saya telah lalai saat mengemudikan tadi malam.”
Albert rasanya ingin melaporkan perihal kejadian kecelakaan ini ke pihak polisi, tapi menurut Arkana, Tania dan Tante Shinta sudah bersepakat menyelesaikan secara kekeluargaan.
“Lain kali sopir ibu lebih waspada lagi jika mengemudi kendaraan. Masih untung karyawan saya masih selamat, jika karyawan saya meninggal! Ibu dan sopirnya bisa saya tuntut atas kelalaian tersebut,” kata Albert penuh penegasan.
Tante Shinta berusaha tenang, hanya saja sedikit heran dengan ucapan Albert tidak terkesan sebagai atasan Tania, tapi terkesan sebagai orang dekatnya Tania.
“Baik Pak, kejadian ini menjadi pelajaran buat sopir dan saya pribadi. Terima kasih sudah di ingatkan, dan saya juga bertanggungjawab penuh atas kondisi Tania sampai sembuh. Jadi perusahaan Bapak tidak perlu mengeluarkan sepersen pun atas musibah yang menimpa salah satu karyawan bapak,” balas Tante Shinta dengan tenangnya.
Dua orang yang belum tahu, jika mereka adalah menantu dan ibu mertua, pertemuan pertama yang tidak berkesan.
bersambung ....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Dan hari Senin, mau dong vote nya buat Tania dan Albert
__ADS_1