
Kebahagiaan yang tak ternilai harganya dan tak bisa di beli dengan sejumlah uang berapapun, yaitu kehadiran buah hati ... itulah yang sangat membahagiakan untuk Albert khususnya.
Pria itu betah berlama-lama mengendong ketiga buah hatinya secara bergantian, begitu juga Oma Helena, Opa Thamrin, Mama Shinta dan Papa Dimas, sedangkan Tania hanya kebagian saat menyusui ketiga buah hatinya.
Sudah seminggu usia si baby triple, siang ini mansion Albert terlihat begitu ramai dengan tamu undangan karena akan di adakan acara aqiqah si baby triple ... semua Kakak Readers di undang semuanya ya.
Mama Shinta, Oma Helena bersama Bu Mimi dan Yuyun sibuk mendandani si baby triple, dengan pakaian imut berwarna putih. Sedangkan Tania karena masih belum bisa banyak bergerak, hanya bisa membantu menyiapkan keperluan suaminya.
“Sayang ...” ucap Albert begitu lembutnya, memeluk istrinya yang sedang membantunya berpakaian.
“Mmm ...” gumamnya, kedua tangannya repot mengancingi kancing baju koko Albert yang berwarna putih.
“Hidupku semakin berarti dengan hadirnya dirimu, hidupku semakin sempurna dengan kehadiran ketiga buat hati kita Baby Al, aku sangat ... sangat bahagia,” ungkap Albert, sembari meraih dagu istrinya agar mereka bisa saling bersitatap.
Tania menatap lekat wajah tampan suaminya, begitu banyak cerita di antara mereka yang semuanya berawal dari keadaan yang memaksa, semua berawal dari sikap yang kasar, namun semuanya mampu mereka hadapi dan lalui. Dulu dia hanya mengagumi pria itu, dan menjadikannya penyemangat dalam bekerja, namun nyatanya pria itu menjadi suaminya hingga saat ini, walau Tania tidak mendapat suami yang masih perjaka.
Tania bukanlah perebut suami orang, dan juga bukan perusak rumah tangga orang, tapi dia di bawa masuk oleh Albert. Sedangkan Albert tidak berselingkuh dari istrinya, tapi pria berterus terang dengan Marsha, tanpa saling mengenal, tanpa mencintai ... Albert menikahi Tania sepengetahuan Marsha demi keturunan.
Namun dengan hadirnya Tania dalam rumah tangga Albert dan Marsha, sedikit demi sedikit terbukalah keburukan Marsha yang selama ini disimpan, serta terbukalah hati yang selama ini pria itu rasakan terhadap Marsha. Begitulah kehidupan ... tak bisa dipungkiri hadirnya seseorang bisa membawa kebaikan atau sebaliknya.
Jatuh cinta ... itulah yang di rasakan oleh Albert ... Jatuh cinta dengan rasa yang berbeda, tidak sama saat dengan Marsha. Hati Albert yang selama ini hampa ketika berumah tangga dengan Marsha, kini selalu terasa hangat dan semakin mengerti apa arti sesungguhnya dalam berumah tangga bersama Tania.
“Aku pun juga sangat bahagia, tetaplah jadi suami yang terbaik dan papa yang terbaik buat anak-anak kita,” kata Tania.
Pria itu mengulum senyum hangatnya. “Tanpa dipinta, pasti papa akan memberikan yang terbaik buat istriku yang cantik, serta ketiga buah hati kita,” balasnya.
Janji yang sudah dilaksanakan semua kekayaan Albert sudah berpindah tangan ke Tania dan ketiga anak-anaknya. Jadi jangan berharap banyak jika ada bibit penggoda untuk mendekati Albert, karena pria itu sudah miskin.
Albert memeluk istrinya dengan mesra, meluapkan perasaan cinta dan sayangnya ... begitu pula Tania membalas pelukan Albert, suami yang benar-benar bertanggung jawab dan sangat menyayanginya.
“Albert ... Tania sudah rapi belum, acara sudah di mulai,” kata Oma Helena yang tiba-tiba muncul dari pintu penghubung ke kamar baby.
“Iya Oma ini sudah rapi kok,” jawab Albert, sedangkan Tania sudah tersipu-sipu malu, kepergok pelukan sama Albert, dan pria itu masih saja belum melepaskan pelukannya.
“Pah lepasin mama, malu iiih dilihat Oma.”
“Cium dulu baru, di lepasin,” pinta Albert, dengan tatapan mesumnya.
“Duh udah punya anak tiga, tetap aja papa mesum.”
__ADS_1
“Mesum sama istri sendiri ... Sayang.” Pria itu langsung mengecup bibir Tania, kemudian mengurai pelukannya lalu menggandeng tangan Tania, lalu sama-sama ke kamar baby.
“Anak Papa sudah ganteng nih, sudah cantik juga,” ucap Albert, sembari mengambil salah satu baby dari gendongan Bu Mimi, sedangkan Mama Shinta dan Oma Helena mengendong yang lainnya.
Mereka sama-sama turun ke bawah dan menuju ruang utama yang sudah di dekorasi secantik mungkin bernuansa putih.
Opa Thamrin, Papa Dimas dan Ayah Hans sudah menanti mereka semua, kemudian duduk bersama di permadani yang sudah terbentang di lantai. Dan acara aqiqah pun di mulai dengan ritual yang biasa di adakan di Indonesia sesuai dengan agama Islam.
Ketiga baby triple terlihat anteng ketika mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur'an, tidak menangis namun semakin lama kembali tertidur.
Albert dan Tania sebagai orang tua baru sangat terharu, kedua netra mereka pun berbinar-binar dan larut dalam acara aqiqah. Sungguh ini hadiah yang terindah buat mereka berdua.
Ayah Hans juga ikut terharu bisa menyaksikan dan masih diberikan umur untuk melihat ketiga cucunya. Maafkan ayahmu nak jika jalannya salah saat menikahkanmu, tapi ayah sangat bersyukur melihatmu bahagia dengan suamimu.
Tidak semua hal yang dipaksakan berakhir buruk, ternyata Tania menemukan kebahagiaannya dalam sebuah keterpaksaan.
“Mohon doanya untuk ketiga buah hati kami yang bernama Alvan Kiyan Al Yusuf, Alvin Kiyan Al Yusuf dan Almira Kiyan Al Yusuf. Semoga anak kami berdua menjadi anak yang sholeh dan sholehah, anak yang berbakti kepada kami selaku orang tuanya, anak yang menjadi penyejuk hati kami, menjadi anak yang sehat, kuat, cerdas dan tangguh. Aamiin Ya Rabbal Alamin,” ucap Albert, saat memberikan sambutan. (Makasih Kak Tatik untuk namanya).
Semua tamu undangan mengaminkan, acara kembali berlanjut.
...----------------...
Albert dan Tania menatap satu persatu baby triple yang sudah terlelap dalam di tidurnya di box mereka masing-masing setelah kenyang minum asi dari sumber kehidupan mereka.
“Siapa dulu dong mamanya yang cantik.”
“Papa juga ganteng kok,” balas Albert tak mau kalah. Pria itu langsung merangkul bahu Tania, dan membawanya dalam dekapan hangatnya.
“Perjalanan kita masih panjang, semoga kita bisa melalui semuanya. Genggam tanganku selalu ya Mam, dalam keadaan suka dan duka, dalam keadaan sakit dan sehat,” kata Albert, sembari mengecup punggung tangan Tania.
“Jika mama punya salah, maka tegurlah mama dengan lembut. Jika mama lupa, ingatilah. Jangan pernah diamkan mama, jika papa marah ... Dalam rumah tangga yang paling utama adalah komunikasi, semuanya harus bisa diutarakan, jangan ada yang disembunyikan. Papa bisakan?”
“Insya Allah ... Papa bisa.”
Albert semakin mengeratkan pelukannya, dan Tania pun berlarut dalam dekapan suaminya.
Perjalanan rumah tangga mereka masih panjang, dan pastinya akan menemukan batu besar atau kerikil dalam perjalanannya, akan tetapi kembali lagi ke pondasi rumah tangga Albert bersama Tania, jika akarnya kuat maka hembusan angin sekencang apa pun pasti tetap berdiri dengan kokohnya.
Demikianlah akhir kisah Tania dan Albert, dibalik kesedihan pasti ada kebahagiaan yang menanti.
__ADS_1
...THE END...
Akhirnya tamat juga kisah Tania dan Albert yang sudah membuat emosi ketika menulisnya. Terima kasih banyak untuk Kakak Reader yang selama ini mendukung kisah Tania dari awal hingga akhir. Dan mohon maaf jika ada yang kurang puas dengan alur ceritanya, karena saya tidak bisa memuaskan yang bacanya 😊.
Sesuai dengan janji saya, akan ada Give Away buat pembaca setia di akhir bab. Mohon jangan dilihat nominalnya ya ... maklum novel recehan 😊. Give Away berupa pulsa atau shopee pay ya.
Cemerlang 50K
Karla 25K
Wardah 25K
Maya Sonita 25K
Nur Janah 25K
Untuk pembaca setia yang selalu memberikan komentar terbaiknya di setiap bab.
Mbok Darmi 25K
Ian Machmud 25K
Rosita Elvira 25K
Buat Kakak Readers yang namanya tercantum chat saya ya.
Jangan lupa mampir ya ke kisah Ayasha Elshanum yaaaa ... langsung di subscribe yaaa
__ADS_1
Lope Lope sekebon 🌹🌹🌹🍊🍊🍊