
Albert sudah mendapatkan tindakan dari Dokter, sekarang sudah berada di ruang operasi. Pihak kepolisian sudah datang dan langsung olah TKP, serta menginterogasi beberapa saksi yang ada termasuk Opa Thamrin, Oma Helena dan Mama Shinta, sedangkan Tania masih dalam keadaan syok tidak bisa di minta keterangan. Pihak rumah sakit pun sudah memberikan rekaman CCTV pas di tempat kejadian penembakan tersebut, dan sudah tentu menjadi bukti kuat untuk menindak Marsha.
PLAK!
PLAK!
Oma Helena menampar bolak balik pipi Marsha berulang kali sebelum wanita itu di bawa ke kantor polisi, lalu menendang perut Marsha hingga terjungkal ke lantai, walau Oma Helena sudah tua namun saat masih mudanya ikutan karate.
“DASAR PEMBUNUH, WANITA JALANGG!! JIKA SAMPAI CUCUKU MENINGGAL!! MAKA KAMU JUGA HARUS MATI!!” Pekik Oma Helena, menggebu-gebu penuh emosi.
Wanita yang berprofesi sebagai model itu hanya bisa tertunduk saat terjatuh, hatinya juga pilu setelah tahu jika tembakannya salah sasaran, yang dituju Tania malah yang kena Albert.
Opa Thamrin menahan Oma Helena agar tidak menghajar wanita itu, yang ada nanti Oma Helena akan di buih juga karena menghajar wanita itu.
Pria yang mengenakan seragam berwarna coklat, menarik badan Marsha agar beranjak berdiri lalu langsung memborgol kedua tangan wanita itu, begitu pula dengan Weni. Di saat itu juga Weni meludahi wajah Marsha dan mencaci maki dengan umpatan kotor pas di wajah wanita itu.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian berdarah itu langsung menyoraki Marsha, di saat wanita itu sudah dibawa keluar dari pos keamanan. Lemparan botol, apapun yang ada di tangan mereka mendarat di tubuh sexy wanita itu, ada juga ibu-ibu yang menjambak rambut wanita itu.
“DASAR PEMBUNUH, DASAR PELACURR!” umpat serapah orang-orang.
Kejadian tersebut akhirnya menjadi trending topik di media sosial kembali!
...----------------...
Mama Shinta sudah tak kuasa melihat penderitaan anaknya, mau tak mau wanita paruh baya itu meminta suaminya Papa Dimas untuk datang dan menemani dirinya yang masih ada di Bandung.
Wanita paruh baya itu mengelus surai rambut coklat anaknya dengan lembut, Tania masih tergolek lemah di atas ranjang ... tatapannya terlihat kosong, kedua netranya pun sudah sembab. Deru napasnya pun masih terdengar sesenggukan.
Aku sangat mencintaimu sayang, maafkan aku, aku titip anak-anakku.
Bisikan suaminya masih terngiang-ngiang di telinganya, pernyataan cintanya serta kata titipannya.
__ADS_1
Mungkinkah???
Tania kembali meneteskan air matanya, pelukan hangat suaminya masih bisa dia rasakan, senyum hangatnya disaat dirinya menatapnya masih terbayang di pelupuk matanya.
Dulu memang Tania sangat membenci pria itu karena sikap kasar dan kejamnya, hingga timbul ingin melihat pria itu kena karmanya. Tapi tidak menginginkan Albert meninggal, bukan itu yang diinginkannya!
“Sabar ya nak, doakan agar suamimu bisa di selamatkan, “ ucap Mama Shinta dengan lembutnya.
Tania bergeming ... hanya bisa meneteskan air mata dengan tatapan kosongnya.
Opa Thamrin, Oma Helena dan Gerry sedang tertunduk lesu di depan ruang operasi, sudah dua jam Albert berada di dalam ruang operasi, dan belum ada orang satu pun yang keluar dari ruang operasi.
Opa Thamrin merangkul bahu Oma Helena dan sama-sama mendoakan keberhasilan operasi pengangkatan peluru yang bersarang di tubuh Albert.
Satu jam kemudian ....
Lampu ruang operasi mati, tanda operasi sudah selesai. Pria yang masih mengenakan baju operasi berwarna hijau tampak keluar dari ruang operasi, tampak menghampiri Opa Thamrin dan Oma Helena.
“Tuan Thamrin,” sapa pria itu.
“Peluru yang bersarang di punggung Pak Albert, sudah berhasil kami angkat. Dan ini pelurunya,” ucap sang Dokter dengan menunjukkan wadah stainless yang berisikan peluru ukuran 4mm.
Opa Thamrin, Oma Helena dan Gerry masih mengamati wadah tersebut.
“Tapi —,” Sang Dokter berusaha menguasai dirinya, sebelum melanjutkan penjelasannya ke keluarga korban.
“Tapi apa Dokter?” tanya Opa Thamrin mulai keluar keringat dingin.
“Peluru ini sedikit mengenai organ jantung Pak Albert, kami sudah maksimal untuk mengatasinya. Kami tidak bisa menjanjikan harapan kepada keluarga Pak Albert, karena fungsi jantung Pak Albert turun drastis, tidak bisa bekerja maksimal. Kemungkinan untuk sabar dan hidup kembali hanya 30%,” tutur sang Dokter begitu hati-hati.
Oma Helena langsung menyentuh lengan suaminya, tatapan matanya mulai terasa pusing dan akhirnya pandangannya pun gelap. Opa Thamrin berusaha menguatkan dirinya mendengar berita buruk tersebut, dan berusaha menopang tubuh istrinya yang sudah terkulai.
__ADS_1
Dokter segera memanggil perawat untuk membantu mengangkat Oma Helena yang sudah pingsan serta Opa Thamrin yang terlihat syok. Gerry hanya bisa tergugu, tanpa di sadari nya kedua netranya sudah basah.
Tak kuasa Opa Thamrin menahan dirinya supaya terlihat tegar, akhirnya pria tua itu pun menangis pilu. Sudah cukup beberapa tahun yang lalu kehilangan anak satu-satunya dengan menantunya, dan sekarang dia akan kehilangan cucu satu-satunya juga, sesak rasa hatinya ... kenapa bukan dia saja yang tua renta di ambil nyawanya ... Jangan cucunya ... Pikir Opa Thamrin.
Gerry pun tak kuasa melihat Opa Thamrin, di peluknya pria tua itu yang terlihat rapuh ... hingga akhirnya mereka berdua menumpahkan rasa sedih, pilunya.
Dokter yang membawa berita tersebut menundukkan kepalanya sesaat, walau sering melihat keluarga pasien bersedih, tetap sang Dokter sangat bisa merasakan hal itu. Semua orang pasti ingin keluarganya selamat dan sembuh kembali, namun kemampuan dokter hanya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan pasiennya, sedangkan untuk tingkat keberhasilan menjadi hal mutlak Sang Maha Pencipta.
...----------------...
Beberapa jam kemudian, Albert sudah dipindahkan ke ruang ICU, seluruh badannya sudah terpasang semua alat dari ujung kaki sampai sampai bagian wajah. Pria berwajah tampan ini terlihat pucat, seperti tidak ada darah yang mengalir di area wajahnya.
Tania yang bersikeras ingin melihat kondisi suaminya, jadinya sekarang kembali meraung-raung setelah melihat Albert dari balik kaca pemisah.
Dokter Dewi dan perawat yang mendampingi Tania berusaha menenangi wanita yang sedang hamil itu.
“Bangun .... Pak Albert, buka matamu. Bukankah kamu menginginkan anak dariku, lihatlah anak-anakmu Pah!” pekik Tania sambil memukul kaca pemisah itu.
“Bangunlah ... Katanya Pak Albert mencintaiku, ayo buka matamu ...jangan tinggalkan aku!” pekik Tania. Hati Tania begitu hancur, apalagi setelah dapat kabar hasil operasi Albert yang kurang baik.
"J-jangan tinggalkan aku ...suamiku." Suara Tania bergetar, menahan rasa sesak di dadanya, lalu mengusap perut bulatnya.
Mama Shinta turut menangis dalam pelukan suaminya, sama-sama tak kuasa melihat keadaan Tania dan Albert. Bagaimana pun seorang ibu ingin lihat anaknya hidup bahagia, namun Allah berkehendak lain, baru saja melihat hubungan Albert dan Tania mulai membaik, namun seketika berubah, malah semakin menyedihkan dan memilukan.
bersambung .....
__ADS_1