
Club XXX
Pertemuan Marsha dengan Jelita ternyata berlanjut dari restoran yang ada di Hotel Pasific, sekarang mereka berada di salah satu club malam yang tak jauh keberadaannya dari Hotel Pasific - Jakarta.
Tubuh sexy Marsha sudah meliuk-liuk mengikuti dentuman musik DJ yang begitu kencang bersama Jelita. Sedangkan Robby masih duduk sambil menyesap minuman beralkohol, dengan menatap Marsha yang sedang berjoget ria di lantai dansa.
“Sha ... gimana kamu terima ajakannya Pak Robby buat ngedate?” tanya Jelita ketika mereka masih asik berjoget.
“Kalau menurut kamu gimana?”
“Ck ... aku gak percaya kalau kamu gak ambil kesempatan untuk main film, bukannya dari dulu ini yang kamu inginkan. Melebarkan sayap supaya tambah terkenal?” ejek Jelita, sinis.
“Nanti aku pikirkan dulu, soalnya aku lagi ada masalah sama suamiku. Aku harus main aman dulu untuk sementara ini,” sahut Marsha.
Ck... Bilang cari aman, barang busuk kelamaan disimpan bakal ke cium bangkainya Marsha!
Jelita sohib Marsha sudah begitu lama dari awal mereka masuk dunia modelling, namun sejujurnya hati Jelita ada rasa iri dengan Marsha. Sudah punya wajah cantik, body sexy ditambah memiliki suami yang sempurna dan tajir, namun Jelita sangat menyayangkan atas sikap temannya, yang masih suka bermain belakang dengan suami tampannya.
Robby sebagai pria normal tersulut gairahnya melihat liukan tubuh Marsha yang sangat menggoda, akhirnya pria itu meletakkan gelas minumannya lalu beranjak dari duduknya untuk menghampiri Marsha di lantai dansa.
“Sha, kamu sungguh menggoda,” bisik Robby, pria itu sudah berdiri di belakang Marsha, lalu salah satu tangannya sudah merangkul pinggang ramping wanita itu. Di balik redupnya lampu club, Jelita menyeringai tipis, melihat wanita yang sudah memiliki suami masih mau di rangkul oleh pria lain, padahal lebih ganteng suaminya sendiri.
“Oh Pak Robby, let's go dance with me,” sahut Marsha, dengan sengajanya kedua bokongnya menempel ke bagian celana depan Robby. Dan Robby pun menikmati benda pusakanya bergesekan dengan bokong Marsha.
Robby semakin mengeratkan rangkulan tangannya di pinggang Marsha dari belakang, agar semakin nikmat gesekan antara mereka berdua dalam temaramnya cahaya lampu, di dunia ke artisan sudah biasa orang banyak melihat artis berdugem ria dengan teman-temannya. Mereka menikmati dentuman musik DJ, dengan berlonjak-lonjak, ada juga yang ikutan bernyanyi, namun ada juga yang menikmati sentuhan yang berhasrat seperti Robby dan Marsha.
“Main yuk, Sha,” bisik Robby, pas di daun telinganya.
“Nikmatin seperti ini dulu Pak Robby, nanti kita cari waktu yang pas,” balas Marsha, yang sudah membalikkan badannya agar wanita itu bisa menatap Robby, pria yang umurnya sama dengan suaminya.
Dengan tatapan yang menggoda, jemari lentik wanita itu menyentuh paha Robby, lalu mulai merembet ke bongkahan yang sudah mengembang sempurna. Robby mendesis saat itu juga, dan menikmati sentuhan jemari Marsha.
“Ingat jadikan aku pemeran utamanya, Pak Robby,” bisik Marsha, sembari menurunkan resleting celana Robby, lalu tangannya menyelusup masuk ke dalam.
“Tergantung sampai di mana kamu bisa melayaniku,” balas Robby, tubuhnya mulai meremang, ingin rasanya menempelkan bibirnya ke bibir Marsha, namun terpaksa di tahan karena mereka ada di tempat umum. Akan tetapi untung tempatnya gelap, jadi tidak ada yang tahu jika Marsha sedang menggoda dan menyervis si junior Robby dengan jemari lentiknya, dalam posisi mereka berdiri di lantai dansa.
Tapi sepertinya Marsha tidak menyadari tingkah lakunya menarik perhatian netizen yang berada di club yang sama. Dan netizen tersebut bisa menjadi lambeh turah sesaat.
Wow ada yang hot nih, bener gak sih ini si model yang terkenal itu?? Gue ngelihat dia sama cowok lagi melantai di club nih.
Eh tuh cowok suaminya bukan sih, soalnya gelap nih...gak kelihatan jelas.
__ADS_1
Video Marsha dengan Robby ada di status IG beberapa netizen.
...----------------...
Sementara itu di rumah sakit, Gerry berulang kali menghubungi Marsha karena ingin memberitahukan jika suaminya di rawat di rumah sakit, tapi tetap saja tidak di terima panggilannya.
“Nih orang ke mana sih! Udah sepuluh kali di telepon tetap aja gak di terima!” kesal Gerry.
“Mungkin lagi sibuk sama teman-temannya,” sahut Pak Firman.
Gerry berdecak kesal. “Memangnya Marsha gak punya feeling gitu kalau suaminya sedang sakit.”
Pak Firman hanya menggelengkan kepalanya. “Jangan harap ada feeling seperti itu Pak Gerry, Tuan sakit pun Nyonya biasa saja malah sibuk pemotretan, dan tetap saja saya yang merawat Tuan.”
“Kasihan nasib Pak Albert,” ucap Gerry.
Kini hanya Gerry dan Pak Firman yang menemani Albert di ruang rawat. Mereka berdua kadang menyayangkan Albert kenapa bisa memilih Marsha sebagai istri! Seperti saat ini harusnya ada perhatian dari sang istri, tapi jangan harap, di hubungi saja tidak bisa, dan waktu pun sudah menunjukkan jam 11 malam.
Pak Firman tampak menggantikan handuk kompresan di kening Albert, pria itu badannya mulai demam dan suhu tubuhnya panas. Dan kedua pria inilah yang bergantian menjaga Albert sampai pagi, selain di kontrol oleh perawat.
Menjelang pagi...
Sayup-sayup terdengar suara isak tangis dan racauan dari bibir Albert.
“Tania ... pulanglah,” ucap Albert lirih sambil terisak-isak.
Pak Firman mendekati ranjang Albert, kemudian menyentuh keningnya menggunakan punggung tangannya.
“Masih panas, belum turun juga,” gumam Pak Firman sendiri. Dengan telatennya Pak Firman menyeka keringat di kening Albert dengan handuk kering.
Gerry yang tidur di bed, mulai terbangun dengan racauan Albert. “Masih panas badannya Pak?” tanya Gerry dengan suara seraknya.
“Masih panas Pak Gerry, kayaknya belum turun. Saya keluar sebentar mau panggil perawat dulu,” ucap Pak Firman.
“Ya Pak,” balas Gerry sembari bangun dari pembaringannya.
Gerry menatap kasihan ke Albert, pria itu masih saja memanggil nama Tania dalam mata terpejam.
“Sabar Pak Albert, cepat sembuh biar bisa ketemu sama Tania. Makanya kalau ada Tania jangan suka emosi bawaannya. Sekarang jadi rindu beratkan, sampai sakit begini,” gumam Gerry, kedua tangannya merapikan selimut yang dikenakan Albert yang sempat tersibak.
__ADS_1
...----------------...
Lembang – Bandung
Dari semalam hati Tania terasa tidak enak dan tidak nyaman seperti ada orang yang memikirkannya dan selalu menyebut namanya, sempat berpikir kalau di kamar yang di tempatinya ada makhluk halus, karena dengan keadaan sadar Tania mendengar namanya di panggil, pas di daun telinganya, berulang kali, dan yang lebih membuat Tania tidak bisa tidur, suaranya mirip suara Albert jika sedang teriak memanggil namanya.
Karena hal itu akhirnya sebelum subuh, wanita itu sudah bangun dari tidurnya dan mencari keberadaan dapur.
Melihat isi lemari pendingin full, dengan cekatan Tania menyiapkan bahan untuk di masak, paling tidak jika dia sibuk di dapur bisa menghilangkan rasa tidak nyaman di hatinya.
“Loh Non Tania, lagi ngapain?” tanya Bu Mimi kaget, baru tiba di dapur.
“Pagi Bu Mimi,” sapa Tania tanpa menoleh ke belakang, karena sedang menumis sayur.
“Aduh Non Tania gak usah masak, di sini sudah ada pelayannya, Non itu harus bedrest,” ucap Bu Mimi, buru-buru membantu Tania.
“Gak pa-pa Bu Mimi, saya lagi ke pengen masak, lagian nanggung.”
Bu Mimi hanya bisa mendesah panjang tidak bisa mencegah, dan Tania memang sangat cekatan kalau sudah urusan masak di dapur. Namun Bu Mimi tetap membantu Tania, lalu tak lama datang pelayan yang lain.
Dibalik kesibukan memasak, tiba-tiba wajah Albert muncul di pelupuk matanya, padahal Tania tidak memikirkan pria itu.
Duh kenapa ada rasa gak enak di hati ya ....
Percayakah jika sepasang suami istri memiliki ikatan batin???
bersambung ..... 📝
"Tania, kamu ada dimana? Aku ingin bertemu," gumam Albert sendiri.
"Aku tak ingin bertemu lagi denganmu, Pak Albert!"
__ADS_1