
Albert masih duduk termenung di bangku tunggu yang ada di depan ruang rawat Tania, sedang merenungi dan menelaah semua permintaan Dokter Irwan demi kesehatan mental Tania. Sedangkan Dokter Irwan kembali ruang rawat Tania untuk mengecek kondisi Tania.
“Pak Albert,” sapa Gerry, akhirnya pria itu keluar dari ruang rawat Tania, untuk mencari Bosnya.
Pria itu mendongakkan wajahnya ketika namanya di panggil oleh asisten pribadinya, lalu Gerry menjatuhkan bokongnya di bangku sebelah Albert.
“Sepertinya terjadi juga ...,” ucap Gerry, bilangnya pelan namun menyentil perasaan Albert, dan Bosnya tahu maksud dari sindiran Gerry, karena sempat memberi saran ke dirinya namun di abaikan.
“Hufft ...” Albert hanya bisa mengembuskan napas beratnya, sembari memijat pangkal hidung yang terasa sakit.
“Gerry, sebaiknya kamu balik ke kantor. Saya akan bekerja dari sini, kamu tinggal kirim berkas melalui email saja,” perintah Albert.
“Baik Pak Albert, kalau begitu berkas yang tadi saya bawa, saya tinggalkan saja,” ucap Gerry sebelum berpamitan.
“Mmm ...,” gumam Albert.
Walau oleh Dokter Irwan di suruh menjauh dari Tania, namun bukan berarti meninggalkan Tania 100%, pria itu pemilik rumah sakit, jadi ada ruang kerja buat dia sendiri. Entah kenapa pria itu berat hati untuk meninggal wanita itu, yang hanya di anggap wanita yang di belinya, yang di anggapnya hanya seorang pelayan di mansionnya.
Dalam keheningannya, tiba-tiba di dalam saku celananya terdengar suara deringan handphone.
Istri tercinta calling ...
Pria itu kembali menghela napas panjang setelah melihat layar handphonenya, ada rasa tak semangat untuk menerima panggilannya.
“Halo!” sapa Albert, suara beratnya terdengar malas.
“Sayang ada di mana? Kenapa semalam tidak pulang. Apakah Kak Albert masih marah denganku hingga tak mau pulang ke mansiob? Aku minta maaf,” kata Marsha, penuh kelembutan. Wanita itu sejenak melupakan pertengkaran antara mereka berdua walau hatinya masih belum menerimanya, tapi kalau dia masih marah dengan suaminya, maka dia juga yang akan rugi, maka dari itu Marsha tidak mau berlarut-larut. Tujuan wanita itu sekarang, bagaimana dia mempertahankan rumah tangga nya dengan suaminya, dan menghempaskan pelakor yang ada di mansionnya.
“Aku sedang ada urusan penting, jadi tidak sempat pulang.”
“Urusan penting apa Kak, kok tumben. Kak Albert tidak sedang keluar kota kan? Dan kenapa tidak kasih kabar denganku, semalaman aku mencemasi Kak Albert yang belum pulang, belum lagi handphone tidak bisa dihubungi,” ucap Marsha, menunjukkan rasa khawatirnya.
Albert memang sengaja meNON aktif kan handphonenya karena dia ingin fokus dengan Tania, dan memang menghindari Marsha.
“Urusan perusahaan! Nanti aku akan pulang ke mansion,” balas Albert, kemudian memutuskan panggilan teleponnya.
__ADS_1
Sementara itu di mansion, Marsha terlihat kesal ketika mendadak suaminya memutuskan panggilan teleponnya tanpa menunggu dia berkata kembali.
“Gak biasanya Kak Albert seperti ini, walau ada hal penting di perusahaan biasanya tetap rajin menelepon, ini semalam benar-benar gak kasih kabar. Sebaiknya tanya ke asistennya saja,” gumam Marsha sendiri, wanita itu langsung menghubungi Gerry.
Gerry yang baru saja sampai di kantor, memelas melihat siapa yang menghubungi dirinya, namun terpaksa harus diterimanya.
“Halo, Gerry,” sapa Marsha dari seberang sana.
“Selamat pagi Nyonya, ada yang bisa saya bantu?”
“Suami aku ada di mana? Aku coba telepon kok gak di angkat ya?”
Gerry sejenak merelaxkan diri dulu sebelum menjawab pertanyaan istri Bosnya, dan memilih jawabannya.
“Pak Abert tadi pagi ada di kantor, tapi sekarang sudah berangkat untuk bertemu dengan klien di luar, kebetulan saya tidak ikut mendampingi, karena ada pekerjaan penting di kantor,” jawab Gerry tanpa keraguan.
“Ooh, pantas saja,” jawab pura-pura Marsha.
“Oh iya semalam suamiku menginap di mana? Soalnya semalam suamiku tidak pulang, tolong kasih tahu dan jangan berusaha menutupi jika kamu tahu!”
Hening sesaat....
Pria itu masih memikirkan jawabannya, jika dia berkata semalam Bosnya menginap di rumah sakit menemani Tania, maka akan menambah masalah buat istri kedua bosnya, apalagi baru saja jiwa wanita itu terguncang akibat ulah Albert, yang ada jika bertemu dengan Marsha akan tambah terguncang dengan hebatnya mental Tania.
“Maaf saya kurang tahu Pak Albert semalam menginap di mana, karena jam tujuh malam saya sudah pamit pulang duluan, Nyonya?” jawab Gerry, memilih berdusta untuk melindungi Tania.
Suara decakan lidah Marsha terdengar jelas di telinga Gerry, wanita itu terdengar tidak puas atas jawaban Gerry.
“Ck ... Kamu sebagai asisten bagaimana sih, masa Bos sendiri pergi ke mana tidak tahu. Jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu!” sentak Marsha, kecewa.
“Maaf Nyonya, jika jawaban saya mengecewakan,” balas Gerry.
Marsha langsung memutuskan sambungan teleponnya, dan menghempaskan dirinya ke atas ranjang besarnya. Hari ini dia benar-benar tidak bisa pergi keluar mansion karena luka lebam di wajahnya, padahal dirinya ingin kongkow dengan teman sosialitanya untuk menunjukkan perhiasan yang baru dibelinya tempo hari.
“Sialan!” umpat Marsha, sambil bercermin di layar handphonenya.
__ADS_1
Setelahnya wanita itu mengecek aplikasi sosial media nya, ingin tahu apa saja komentar tentang iklan terbaru nya. Di sekian banyak komentar tiba-tiba ...
@Yenincantik : wow gue gak nyangka ketemu dengan suaminya si model Marsha, sumpah ganteng banget. Untung banget gue nemenin nyokap ber obat di rumah sakit H.
@Gendis : akhirnya gue bisa foto bareng sama suaminya Marsha, gue mau dong daftar jadi istri keduanya. Beruntung ketemu di rumah sakit H.
Kedua netra Marsha membulat, membaca status fans serta foto Albert yang di pajang di beranda mereka.
“Di rumah sakit H, apa Kak Albert lagi sakit? Kok gak bilang?” gumam Marsha sendiri. Wanita itu beringsut dari ranjangnya, kemudian bergegas mengganti baju nya, wanita itu memutuskan akan menyusul ke rumah sakit untuk mencari tahu keberadaan suaminya, tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.
...----------------...
Rumah Sakit H.
Opa Thamrin menggandeng tangan Oma Helena, dan jalan beriringan memasuki lobby Rumah Sakit H. Opa Thamrin dari semalam sudah dapat kabar dari mata-matamya jika istri kedua Albert mengalami kecelakaan dan sedang di rawat di rumah sakit di ruang eksekutif, tanpa bertanya pada staf Rumah sakit, Opa langsung menuju lantai 5.
Saat sudah berada di lantai 5, menuju ruang eksekutif, dari kejauhan Opa Thamrin dan Oma Helena melihat Albert duduk di luar ruangan.
“Albert,” sapa Opa Thamrin, ketika mereka sudah mendekati.
Albert kembali mendongakkan wajahnya, dan langsung berdiri dari duduknya.
“Opa ... Oma!” terkejut Albert dengan kehadiran orang tua tersebut.
“Kenapa Opa dan Oma bisa ada di sini?”
Opa Thamrin menyunggingkan sudut salah satu bibirnya. “Ck ... Kamu pikir Opa bocah yang tidak tahu tentang kamu. Kami ingin menjenguk, cucu menantu, Tania!” kata Opa Thamrin.
“Opa, Oma sebaiknya duduk terlebih dahulu,” pinta Albert, sebelum kedua orang tua tersebut masuk ke dalam ruang rawat.
bersambung ....📝
__ADS_1