Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Rahasia


__ADS_3

Rumah Sakit H.


Di saat Marsha mengeluarkan senjatanya yaitu mengeluarkan air matanya, namun semuanya menjadi sia-sia, sang suami tetap meninggalkan Marsha di depan lobby mansion nya walau dalam keadaan meraung-raung.


Mobil yang mengantar Albert sudah sampai di depan lobby rumah sakit, dan ternyata Gerry sudah menunggu di dalam lobby.


“Pak Albert,” sapa Gerry, yang ikutan berjalan di samping Albert.


Semenjak Albert turun dari mobilnya, Gerry melihat wajah Bosnya sudah terlihat tidak enak di pandang, sedangkan dia ingin menyampaikan sesuatu sepertinya tidak bisa.


“Ini ambillah dokumen Tania,” ucap Albert sembari menyodorkan fotocopy, dan tetap dalam kondisi berjalan, tidak menghentikan langkah kakinya.


Langkah kaki Albert terlihat terburu-buru agar cepat sampai ke lantai lima, dan menanyakan perihal pil KB yang masih di genggamnya. Gerry hanya bisa diam dan mengikuti Bosnya, serta menyiapkan mental apa yang akan terjadi di lantai lima.


Setibanya di lantai lima ...


Albert segera membuka pintu ruangan, lalu masuk ke dalam.


Sepi ... rapi ... seperti habis di bersihkan.


“TANIA!” suara Albert meninggi, pria itu mencari ke seluruh sudut ruangan, begitu juga mengecek keberadaan Tania di dalam kamar mandi.


Wajah Albert mulai memerah setelah melihat tidak ada keberadaan Tania di dalam ruang rawat.


“Gerry, panggilkan perawat atau Dokter Irwan sekarang juga!” perintah Albert, nada suaranya naik tiga oktaf.


“Baik Pak Albert,” jawab patuh Gerry, pria itu langsung keluar dari ruangan. Sebenarnya Gerry sudah tahu jika Tania tidak ada di rumah sakit, karena waktu sesampainya tiba di rumah sakit dua jam yang lalu, melihat Tania di lobby dan masuk ke dalam mobil mewah, tapi Gerry tidak kenal mobil mewah itu milik siapa, hal itulah yang ingin dia sampaikan saat ada di lantai bawah.


Tak lama Dokter Irwan datang bersama Gerry. Albert yang masih berdiri dekat ranjang terlihat berkacak pinggang.


“Kemana Tania!” seru Albert, dengan tatapan penuh kekecewaan.


“Dua jam yang lalu Tania minta keluar dari rumah sakit, dan berdasarkan hasil observasi, saya mengizinkan untuk rawat jalan, tidak perlu di rawat lagi,” jawab Dokter Irwan tenang.


Albert meraih kerah jas Dokter Irwan, sampai  tubuh pria itu tersentak. “Dokter, kenapa mengizinkan Tania keluar tanpa sepengetahuan saya ... huh!” bentak Albert, dengan tatapan berapi-api.


“Maaf Pak Albert tidak pernah berpesan seperti itu, bukankah hak Tania memilih meninggalkan rumah sakit tanpa memberitahukan ke Pak Albert,” jawab Dokter Irwan, dan berusaha menahan cengkeraman Albert di kerah jas putihnya.


“Tania itu istri saya, Dokter. Dan saya suaminya berhak tahu!” Bibir Albert akhirnya mengakui jika wanita itu istrinya kepada orang lain.


Dokter Irwan hanya menyunggingkan sudut bibirnya, dan menatap tenang wajah sang pemilik rumah sakit.


Albert melepaskan cengkeraman tangannya, napasnya mulai terasa berat karena emosinya yang sudah menggebu-gebu, dan hal pria itu menyadarinya ... ini bukan kesalahan Dokter Irwan yang memutuskan Tania tidak perlu dirawat lagi. Amarahnya karena kecewa dengan dirinya sendiri, kenapa tadi dia meninggalkan rumah sakit, harusnya tetap menemani Tania.

__ADS_1


“ARGGH!!” pekik Albert, sambil menjambak rambut bagian belakangnya.


“Dokter pasti tahukan siapa yang membawa Tania keluar dari rumah sakit, tidak mungkin dia sendiri!” cecar Albert.


“Saya hanya melihat pelayan Pak Albert yang menemani istri Pak Albert,” jawab Dokter Irwan, namun bohong ...


Albert sesaat bernapas lega jika Tania bersama Bu Mimi, berarti Tania akan pulang ke mansionnya. Pria itu buru-buru keluar dari ruang rawat, hatinya ingin buru-buru berada di mansionnya.


Gerry belum menyusul Albert, tapi masih berada di ruang rawat bersama Dokter Irwan.


“Mohon di maklum kan atas sikap Bos kita Dokter,” ucap Gerry.


“Ya saya memakluminya.”


“Tapi kenapa Dokter ber bohong lagi dengan Pak Albert?”


Dokter Irwan bersikap tenang. “Ini demi kesehatan mental Tania, dan demi kesehatan calon si kembar.”


Kedua netra Gerry langsung terbelalak mendengarnya, dan tubuhnya seperti ke sentrum listrik. “A-apa ma-maksud calon si kembar?”


Dokter Irwan menepuk bahu Gerry. “Tolong saat ini jangan di sampaikan ke Pak Albert, untuk sementara rahasia kan dahulu, sebenarnya saya sudah curiga dengan kondisi Tania saat di CT scan, dan sebelum Tania keluar dari rumah sakit, saya minta dokter kandungan untuk mengecek kondisi rahim Tania, di tambah Tania sempat mengeluh perutnya kram. Ternyata hasilnya sesuai akurat dengan hasil CT Scan, Tania sedang mengandung baru satu minggu, calon anaknya kembar.”


DEG!


“Saya minta Pak Gerry menjaga rahasia ini, usia kandungan Tania masih lemah, butuh fisik dan mental yang sehat dan kuat. Pak Thamrin dan Nyonya Helena sudah mengetahui tentang kehamilan Tania dan ada baiknya memang menjauh dari Pak Albert,” lanjut kata Dokter Irwan.


Pria itu yang masih terduduk dilantai, hanya mengangguk pelan, dan mencoba mencerna kabar tersebut. Sepeninggal Dokter Irwan, Gerry masih termenung, sedangkan Albert tidak menunggu asistennya, pria itu meminta sopirnya tancap gas mengantarnya kembali ke mansion.


Sepanjang perjalanan menuju mansionnya kembali, pria itu walau kesal, kecewa gara-gara menemukan pil KB dan ketiadaan Tania di rumah sakit, namun hatinya juga senang, berprasangka jika Bu Mimi akan mengantar Tania kembali ke mansion.


Hampir satu jam perjalanan menuju mansion karena terjebak macet, Pak Firman yang sudah stand by di luar lobby mansion, menyambut kedatangan Tuannya.


“Bu Mimi dan Tania sudah sampai mansion kah? Sekarang ada di mana mereka, Pak Firman?” cecar Albert, yang baru saja keluar dari mobilnya.


Pak Firman agak heran. “Bu Mimi, Tania bukannya masih di rumah sakit. Dari tadi saya belum lihat kedatangannya, Pak Albert,” jawab Pak Firman, apa adanya.


DEG!


Kaki Albert yang baru saja melewati pintu utama langsung berhenti, kemudian menoleh ke belakang.


“Pak Firman bilang Bu Mimi dan Tania belum pulang ke sini!” seru Albert, tidak percaya.


“Iya Tuan, belum sampai ke sini.”

__ADS_1


Pria itu meraup wajahnya dengan kesal, rasa kecewanya bertambah berkali lipat. Tanpa banyak bertanya pria itu menghubungi Bu Mimi melalui handphonenya, namun sayangnya handphone yang di hubungi tidak aktif.


“DAMN! Kemana mereka! Dibawa kemana istri saya!” teriak Albert, mulai terlihat frustasi.


“Istri Tuan, Nyonya Marsha tadi titip pesan ada janji dengan temannya di luar,” balas Pak Firman.


Albert semakin jadi kesalnya dengan Pak Firman. “Bukan Marsha, tapi Tania istri saya!” bentak Albert, meralat istri yang di maksud.


Para maid yang tak sengaja mendengar langsung terkesiap ketika tuannya menyebut Tania istri tuannya, karena memang tidak semua maid tahu jika Tania istri Albert.


“Jadi Tuan Albert, istrinya ada dua. Tania istrinya Tuan Albert juga?” ucap salah satu maid.


“Aku gak nyangka Tuan Albert istrinya dua, padahal Tuan dan Nyonya selalu terlihat harmonis dan mesra.”


“Ho’oh aku juga nggak nyangka, tapi Tania orangnya baik dan cantik, justru lebih cantik natural Tania ketimbang Nyonya Marsha.”


Gosip baru mulai beredar di mansion Albert, Clara yang turut mendengar hanya bisa memasang wajah cemberutnya. Gadis itu muak mendengar kata-kata pujian tentang saudara tirinya di antara para maid.


 bersambung ..... selamat menikmati hari-harimu Albert.


"Kenapa kalian hadir di perutku...?" ucap Tania lirih. Berulang kali Tania mengusap air matanya yang sedari tadi membasahi pipinya.


Oma Helena dengan lembutnya mengusap punggung tangan cucu menantunya, ada rasa bahagia namun diliputi kesedihan ketika menatap wajah Tania yang begitu larut dalam kesedihan setelah dapat kabar yang baru diketahuinya, jika cucu menantunya sekarang sedang mengandung buah hati Albert, calon kembar.


Baiklah monggo Kakak Readers mau request kembar 2 atau kembar 3, anaknya Albert sama Tania? tinggalkan komentarnya 😊



 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2