
Hati memang sangat sedih dan pilu, tapi Tania juga ada rasa putus asa melihat suaminya tidak menunjukkan respon hingga keluarlah kata ancaman, namun ternyata membuangkan hasil ... kedua netra Albert yang selama tujuh hari tertutup tiba-tiba saja terbuka.
Tania langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, setelah melihat Albert membuka matanya, lalu menarik tangannya kembali.
“Papa ... S-sudah sadarkah? Kalau b-belum s-sadar mama cari papa baru buat anak-anak kita,” ucap Tania terbata-bata. Kedua netra Albert menatap sedih ke arah Tania, seakan paham apa yang dibicarakan oleh istrinya namun tak bisa bicara karena mulutnya masih terpasang alat bantu pernapasan.
Tangan Albert yang masih menempel di perut bulat Tania, mulai bergerak ... mengusap pelan-pelan.
Tanai langsung terhenyak, tangisannya pun pecah, sekarang baru dia percaya jika suaminya sudah sadar dari komanya, kedua netra Albert pun turut menitikkan air mata.
“Ya Allah ... Ya Rabb.”
Dokter kebetulan masih berada di ruang ICU segera memeriksa kondisi Albert. Dokter Dewi pun segera menuntun Tania agar keluar dulu dari ruang ICU.
“S-suamiku s-sudah b-bangun Dokter Dewi,” ucap Tania masih dalam tangis harunya, saat dituntun untuk meninggalkan ruang ICU sementara.
“Iya Nyonya, alhamdulillah ... sekarang biar dokter yang bertugas memeriksanya,” jawab Dokter Dewi begitu lembut, dan mengajak Tania untuk duduk terlebih dahulu..
Mama Shinta dan Papa Dimas yang hanya bisa melihat dari balik kaca, langsung menghampiri Tania dan memeluknya, turut bersyukur jika menantu mereka ada respon yang lebih baik.
Gerry yang juga baru datang untuk melihat keadaan Bosnya ikutan terharu jika Bosnya sudah membuka kedua matanya, lantas segera memberitahukan kabar terbaru ke Opa Thamrin yang masih berada di ruang rawat Oma Helena.
...----------------...
Selama satu jam Dokter masih memantau kondisi Albert di ruang ICU, alat bantu napas sudah digantikan dengan selang oksigen, dan beberapa alat yang menempel di tubuh Albert ada yang sudah di lepas. Kemudian posisi berbaring Albert mulai di miringkan tidak terlentang lagi, karena sudah tidak memakai alat bantu napas.
Pria yang selama tujuh hari koma tersebut, sudah bisa melihat jelas keadaan yang ada di sekelilingnya. Dokter pun juga mulai menanyakan Albert ‘apakah masih mengenal dirinya sendiri', dan responnya dia masih mengenal dirinya. Di rasa sudah mulai stabil kondisi jantung serta tekanan darahnya, Dokter yang bertugas pun keluar dari ruang ICU dan memanggil Tania atas permintaan Albert.
Tania yang diminta masuk kembali, tiba-tiba saja jantungnya berdebar ... entah kenapa! padahal satu jam yang lalu baru melihat kondisi suaminya.
Di saat pintu ruangan terbuka, kedua netra Albert bisa melihat si bumil, pria itu pun tersenyum hangat menyambut kedatangan istrinya.
“Sayang ...,” panggil Albert, suaranya masih terdengar lemah.
Sontak Tania berlari kecil dan langsung memeluk suaminya yang masih berbaring, lupa kalau suaminya masih dalam keadaan sakit, tapi hatinya sudah membuncah bahagia ketika pria itu memanggilnya sayang.
__ADS_1
Wanita itu kembali menangis saat memeluk suaminya. “Mama tega yang mau cari papa baru,” bisik Albert.
“I-iya kalau papa gak bangun juga hari ini, mama akan cari suami baru dan papa baru buat anak-anak,” sahut Tania dalam isak tangisnya.
“Mama kejam sama papa,” balas Albert, masih memeluk istrinya. “Tega mau tinggalin papa.”
“Papa yang lebih kejam sama mama, betah tidur lama-lama,” jawab Tania, sembari mengurai pelukannya.
Tangan kanan Albert mengusap air mata Tania, air mata yang diberikan Tania untuk dirinya ... hati pria itu menghangat, di saat pertama dia membuka matanya ... istrinya lah yang pertama kali dilihatnya.
Tania menyentuh tangan Albert yang masih mengusap pipinya, mereka berdua pun saling mengunci tatapan, tatapan hangat di selimuti kerinduan.
“Jangan membuatku menangis lagi Pah, aku sungguh takut!”
Pria itu kembali tersenyum. “Aku sangat mencintaimu sayang, seorang suami sudah sepatutnya melindungi orang yang dicintai. Aku sungguh tak sanggup jika kehilanganmu lagi,” ucap Albert lirih.
Tania mengecup telapak tangan Albert dengan lembutnya, membuat hati pria itu berdesir, karena ini hal pertama kalinya yang dia rasakan dari Tania.
“Aku juga tak sanggup kehilanganmu, Pak Albert, papanya anak anakku,” balas Tania malu-malu.
Tania memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah suaminya, lalu ...
CUP
Pipi Albert di kecup dengan lembutnya oleh Tania, membuat jantung Albert berdebar-debar.
“Aku mencintaimu, Pak Albert,” pengakuan Tania, akhirnya membuka isi hatinya sendiri yang selama ini di pendamnya.
Tangan pria itu menyingkirkan rambut Tania yang menutupi wajah istrinya, hatinya sangat-sangat bahagia mendengar jawaban Tania. “Terima kasih sayang, aku sangat sangat mencintaimu,” balas Albert, ingin rasanya pria itu mengecup pipi istrinya, namun masih tak ada daya untuk bangkit dari pembaringannya. Seakan paham dengan keinginan Albert, Tania kembali memajukan wajahnya, dan Albert langsung mengecup pipi Tania penuh kelembutan.
“Cepat sehat ya, suamiku.”
“Iya sayang, aku harus cepat sembuh ... Biar puas cium sama peluk istriku ini,” goda Alberr, sembari menoel ujung hidung mancung Tania.
Dibalik semua kejadian pasti ada hikmah yang bisa di ambil, inilah cara Allah bekerja menyatukan kembali dua hati yang sudah saling terpaut, walau dengan cara yang menyedihkan, bukankan untuk mendapatkan sesuatu harus berjuang terlebih dahulu.
__ADS_1
...----------------...
Tiga hari berlalu ....
Albert sudah tidak di rawat di ruang ICU, dua hari yang lalu sudah di pindahkan ke ruang rawat eksklusif selama masa pemulihan.
Oma Helena juga sudah kembali sembuh, dan Opa Thamrin juga sudah semakin segar, kembali semangat setelah Albert bangun dari masa kritisnya.
Mama Shinta kemarin berpamitan untuk kembali ke Jakarta bersama Papa Dimas, karena harus menyelesaikan beberapa masalah dan sudah tentunya menyangkut masalah mantan suaminya dan mantan sahabatnya.
Sedangkan Gerry sang asisten, kerjaannya semakin banyak karena musibah yang menimpa Bosnya, tapi Albert pun tidak segan-segan memberikan bonus besar untuk Gerry, biar asistennya tidak manyun kalau dapat tambahan pekerjaan.
“Sayang ....”
“Mmm ...,” gumam Tania, sembari menyuapi Albert makan siang.
“Kalau Papa sudah boleh keluar dari rumah sakit, sayang ikut pulang ke Jakarta ya.”
“Iya ... yang penting Papa sehat dulu, nanti baru kita pulang ke Jakarta ya,” jawab Tania lembut.
Albert sangat bersyukur tak salah memilih Tania sebagai istri satu-satunya, selama dirinya di rawat ... Tania begitu telaten merawatnya padahal ada perawat yang membantunya. Semakin cinta dan sayang Albert dengan Tania.
“Sayang, maafin Papa ya ... Mama jadi repot ngurus Papa.”
Wanita itu mengulas senyum tipisnya. “Seorang istri harus mau mengurusi suaminya jika sedang sakit, begitu juga dengan suami kalau istri sakit ya di urusi juga. Jangan mau pas sehatnya aja.”
Kedua netra Albert berbinar-binar, inilah yang namanya sesungguhnya berumah tangga, selalu ada dalam suka dan duka, selalu ada saat sehat dan sakit. Empat tahun berumah tangga dengan Marsha, belum pernah pria itu merasakan kehangatan dalam berumah tangga, kecuali kehangatan di atas ranjang.
Pria itu menarik tengkuk Tania, membuat wanita itu terhenyak. Lalu bibir Albert menyesap lembut bibir ranum Tania yang sudah lama menggodanya. Tania memejamkan kedua matanya, dan terhanyut dengan sentuhan lembut dari suaminya.
bersambung .....
Kakak Reader jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, dan semoga selalu sehat selama menjalankan ibadah puasanya.
__ADS_1