
Terpaksa Marsha memundurkan dirinya agak menjauh dari ranjang. “Kak Albert sakit apa?”
“Asam lambungku kambuh,” jawab Albert datar, sembari menarik tangannya dari hidung.
“Kamu tahu dari mana aku di rawat?” Albert bertanya namun tidak menatap wajah istrinya.
“Gerry kirim pesan dari semalam, maaf ya Kak, aku baru tahu tadi. Semalam aku sudah tertidur, jadi baru sempat ke sini.” Jawaban yang lain dari kenyataannya.
Albert melirik sang asisten pribadinya dengan tatapan tidak suka, seharusnya sang asisten menanyakan dulu, sesungguhnya Albert tidak suka dengan kedatangan Marsha, yang di inginkan adalah kedatangan Tania.
“Berhubung aku tidak ada kerjaan, aku temani Kak Albert di sini sampai sembuh ya,” ucap Marsha dengan suara lembutnya, terkesan perhatian.
“Tidak perlu sudah ada Gerry dan Pak Firman yang menemaniku di sini!” jawab Albert menolak.
Marsha kembali mendekati ranjang tapi masih berjarak. “Aku tidak mau ada penolakan, aku mau mengurus suamiku, tidak ada yang salahkan!” balas Marsha, mengulas senyum tipisnya.
Albert kembali menghembuskan napas panjangnya, seharusnya pria itu senang diperhatikan dan akan diurusi oleh istri yang dicintainya, namun kini sebaliknya, bukan perhatian Marsha yang dia inginkan.
Pria itu tidak nafsu melanjutkan makan siangnya, dan meminta Gerry mengangkat mangkoknya, serta merapikan meja dorongnya.
“Biar aku saja,” ucap Marsha, sembari menahan Gerry yang ingin mengambil mangkok dari meja dorong.
Albert kembali menutup hidungnya. “Sudah aku bilang, jangan dekat-dekat, aku mual mencium bau parfum mu!” sentak Albert, perutnya kembali bergejolak terasa di aduk-aduk, sungguh bau parfum Marsha menyengat indra penciumannya.
“Pak Firman, bantu saya ke kamar mandi,” perintah Albert.
Pak Firman buru-buru memapah Albert, sedangkan Marsha terlihat kesal dan memilih duduk di sofa.
“Ada apa sih dengan Kak Albert, masa cium parfum ku aja sampai sebegitunya gak suka!” gerutu Marsha sendiri.
Maklum bawaan bayi, mungkin calon baby triple gak suka sama ibu sambungnya dekat sama papanya! Ingin sekali Gerry menyahuti kalimat itu, tapi hanya bisa membatin saja.
Selesai menguras isi perutnya, pria itu kembali ke atas ranjang dan merebahkan dirinya, tapi sebelumnya pria itu minta dibelikan orang jus buat menghilangkan rasa mualnya.
“Pak Firman, sekalian beliin saya rujak buah ... banyakin buah mangganya ya ... kayaknya enak,” pinta Albert, yang tiba-tiba menginginkan rujak buah, ilernya sampai ngecess, padahal baru membayangkannya.
Marsha yang mendengar rujak terlihat heran. “Kak Albert sejak kapan suka makan rujak buah, biasanya hanya buah saja?”
__ADS_1
DEG!
Albert baru teringat kalau selama ini memang tidak suka makan rujak, hanya buah potong saja tanpa bumbu rujak, namun sekarang lidahnya ingin makan rujak.
“Sedang ingin aja, siapa tahu rasa mualku berkurang,” sahut Albert, tanpa bilang jika dirinya sedang mengidam.
Marsha hanya bisa membulatkan bibirnya, dan tidak lanjut bertanya.
Sedangkan di Lembang, Tania sedang menyantap rujak mangga buatan mamanya, sungguh nikmat sekali apalagi bumbu rujaknya pedas, membuat kening si bumil keringetan.
“Ayo Mam, ikutan makan rujaknya ... benar-benar enak,” ucap Tania, sembari mencocolkan potongan mangga muda ke sambal rujaknya.
“Mama ngilu lihat kamu makan mangga muda, pasti asem banget. Sudah jangan banyak-banyak, nanti perut kamu sakit, kasihan cucu mama,” balas Mama Shinta.
“Biarkan saja Shinta, siapa tahu ini bawaan bayinya. Oma juga lihatnya ngilu ...,” sambung Oma Helena, mengedikkan kedua bahunya.
Oma Helena dan Opa Thamrin sudah mendengar cerita dari Mama Shinta dan Tania, berita mengenai pertemuan ibu kandung dengan anak yang sudah lama terpisah kembali bertemu, sungguh mengharu biru, dan kini lengkaplah keluarga Tania.
Setelah tahu jika Tania anak kandungnya, untuk saat ini Mama Shinta memutuskan menemani anaknya bedrest di Lembang, dan tentu saja suami Mama Shinta ingin sekali bertemu dengan anak sambungnya setelah dapat kabar dari istrinya, dan Tania pun berkenan untuk bertemu dengan suami mamanya alias papa sambungnya.
Kembali ke rumah sakit H – Jakarta.
“Kenapa kalian berdua diam aja, ayo cobaiin ini rujaknya enak,” ucap Albert menawari ke Gerry dan Pak Firman yang duduk dekat sisi ranjang Albert, sedangkan Marsha tetap duduk di sofa.
Gerry dan Pak Firman tergoda juga lihat rujak buah itu akhirnya mengambil potongan buah mangga dan menyelupkannya ke sambal rujak.
Kedua pria itu langsung tergidik kedua bahunya, dan kedua netranya menyipit. “Astaga asam amat!” seru Gerry, wajah sampai nyengir.
Kalau melihat Albert makan rujak seperti orang biasanya saja, tapi buat orang lain ... Ini sungguh asam dan pedas.
“Pak Albert benar-benar ini lagi ngidam!” celetuk Gerry.
Marsha langsung menolehkan wajahnya ke arah mereka bertiga.
“Ngidam! Siapa yang sedang mengidam. Gak mungkin suami aku sedang mengidam!” sahut Marsha.
Gerry langsung mengatup mulutnya lalu menatap wajah Bosnya yang terlihat biasa saja, malah masih asik makan rujak mangga muda.
__ADS_1
“Memang aku lagi ngidam!” seru Albert.
Marsha seketika itu juga beranjak dari duduknya dan mulai menghampiri ranjang suaminya.
“Jangan terlalu dekat denganku, aku tidak ingin mengeluarkan isi perutku gara-gara mencium aroma badanmu!”
Marsha menghentikan langkah kakinya dengan kesal, lalu melipat kedua tangannya ke depan dadanya.
“Ini sungguh sangat aneh Kak Albert, jangan bilang Kak Albert ingin menjauh dariku!”
Albert menyeringai tipis. “Tidak ada yang aneh, dan ini memang sudah wajar sebagai suami yang memiliki istri yang sedang hamil.”
Wanita itu tersentak kaget. “Hamil, siapa yang hamil ... atau jangan-jangan!”
“Tania sedang mengandung anakku, dan kamu tahu aku akan memiliki 3 orang anak dari Tania,” ucap Albert dengan rasa senang dan bangganya.
Kenapa Albert bangga? Karena dengan Tania mengandung menepis rumor selama ini yang beredar dia mandul hanya karena Marsha tak kunjung hamil, padahal Marsha lah yang tak mau mengandung.
Wanita itu tercenung sesaat, dihatinya ada rasa tidak terima dengan kabar baik buat Albert, tapi kabar buruk buat dirinya. Albert hanya menatap datar wanita yang masih berstatus istri sahnya.
“Tidak mungkin Tania hamil anak Kak Albert, bukankah kita pernah lihat Tania jalan dengan teman prianya, siapa tahu itu anak pria itu bukan anak Kak Albert!”
Baru saja Albert ingin kembali mengunyah langsung meletakan potongan buahnya di atas piring.
“Aku baru teringat jika sudah seminggu tidak datang bulan ... jangan-jangan.” Marsha menurunkan tatapannya ke perut ratanya, lalu salah satu tangan menyentuh perut.
“Kak mungkinkah aku hamil!”
Pria itu menghela napas panjang dan meraup wajahnya dengan kasar.
Gerry dan Pak Firman sama-sama memutar kedua bola netranya, dan berpikir akan ada apa gerangan. Mungkin kah kedua istri Albert, hamil dalam waktu yang bersamaan.
bersambung ... ✍🏻✍🏻✍🏻✍🏻
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen nya dan VOTE di hari Senin ... mau dong buat Tania dan Albert 😊😊. Makasih sebelumnya 🙏🏻
Lope-lope sekebon 🍊🍊🍊🌻🌻🌻🌹🌹🌹
__ADS_1
Sambil menunggu bab berikutnya mampir yuk ke karya Author Yayuk Triatmaja.