
Cukup lama Albert terpaku menatap Tania yang masih tidur dari tempat duduknya, kemudian pria itu menghubungi asistennya.
“Assalamualaikum, Gerry,” sapa Albert melalui sambungan teleponnya.
“Waalaikumsalam Pak Albert, ada yang bisa saya bantu pagi ini?”
“Gerry, saya ingin kamu mengurusi pernikahan saya dengan Tania secara negara, terdaftar secara sah!” pinta Albert.
Gerry yang masih ada di apartemennya terkesiap. “Pak Albert, gak salah mau mengesahkan pernikahannya dengan Tania?”
Wah kena angin apa ini Pak Bos, kok permintaan nya aneh begitu, bukankah hanya ingin nikah siri saja dari awal dengan Tania!
“Tidak ada salah, saya ingin pernikahan saya dengan Tania sah secara negara. Saya minta kamu segera mendaftarkannya!”
“Kalau begitu saya minta dokumentasi Tania secara lengkap, Pak Albert,” pinta Gerry.
“Nanti saya ambilkan dulu ke mansion, agak siangan temui saya di rumah sakit H,” perintah Albert.
“Baik Pak Albert.”
Ya ... Albert akan mengesahkan pernikahannya dengan Tania secara hukum/negara, melanggar perjanjian yang dia buat sendiri, mungkinkah dia sudah merasa takut akan kehilangan istri keduanya?
Pria itu bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati ranjang. Albert menatap hangat Tania, lalu jemarinya kembali mengelus pipi mulus wanita itu. “Tania, bangun,” ucap pria itu dengan lembutnya. Tak lama Albert kembali mengecup sekilas bibir ranum Tania.
Tania yang merasa pipi dan bibirnya terasa hangat, mulai mengerjap-ngerjap kelopak matanya, dan penglihatannya menangkap wajah Albert pas di mukanya, membuat wanita itu terkesiap. Tidak ada pembicaraan antara mereka, terutama Tania yang sudah memasang muka masamnya, sedangkan tatapan Albert kembali datar dan dingin.
Tania memalingkan wajahnya agar tidak lama menatap wajah pria itu, hatinya tidak karuan jika lama-lama menatap nya atau di tatapnya.
Sedikit demi sedikit ingatan Tania mulai muncul, apalagi setelah kejadian semalam, dengan jelasnya Tania mengingat ketika malam pertamanya dengan Albert, sungguh menyayatkan hatinya.
Di saat kesunyian kembali menghinggapi mereka berdua, untung saja Bu Mimi dan salah satu petugas catering yang mengantarkan sarapan pagi untuk pasien dan keluarga datang ke ruangan.
“Selamat pagi Pak Albert, Non Tania,” sapa Bu Mimi.
“Pagi Bu Mimi,” balas sapa Tania, wanita itu beranjak dari pembaringannya.
__ADS_1
“Saya bantu non,” ucap Bu Mimi menawarkan diri ketika melihat Tania yang ingin berdiri dari ranjang, dan sebelum Albert membantunya.
“Antar saya ke kamar mandi, Bu Mimi,” pinta Tania.
“Baik Non.”
Albert hanya bisa melirik nya, padahal posisi dia lebih dekat ketimbang Bu Mimi, tapi Tania enggan minta bantuan dengan Albert, wanita itu hanya melengos ketika ditatap Albert.
Sambil menunggu Tania yang masih berada di kamar mandi bersama Bu Mimi, Albert memilih menyiapkan sarapan pagi untuk Tania.
Ceklek!
Akhirnya keluar juga Tania dari kamar mandi dengan baju yang berbeda dan terlihat lebih segar.
“Bu Mimi ajak Tania duduk di sini!” pinta Albert menunjuk sofa panjang yang dia dudukinya.
Sesaat Bu Mimi melirik Tania, lagi-lagi wanita itu memalingkan wajahnya, dan kembali melangkahkan kakinya menuju ranjangnya, terpaksa Bu Mimi mengikuti karena dia membawa kantong infusan. Sedangkan Albert menghembuskan napasnya panjang, lalu meraup wajahnya sendiri.
Pria yang sudah menyiapkan sarapan pagi buat Tania, dan maksud hati ingin menikmati sarapan bersama wanita itu, sepertinya gagal. Namun pria itu memilih membawa nampan makanan dan mengantarkannya ke Tania.
Tania yang masih bermuka masam, menatap wajah Albert sejenak. “Hamil ... jangan pernah bermimpi saya hamil anak Pak Albert!” sahut Tania dengan suara meninggi.
Albert berusaha untuk tidak kembali terpancing emosi, tak lama pria itu memilih duduk di tepi ranjang, lalu mengambil piring yang sudah terisi nasi dan lauk pauknya. “Makanlah,” pinta Albert sambil menyodorkan sendok ke mulut Tania, namun Tania menepis tangan pria itu hingga sendok yang di pegang Albert terjatuh ke lantai.
“TANIA!” seru Albert mulai meninggikan suaranya.
“Kenapa tidak suka! Mau marah silahkan! Harusnya saya yang marah! Saya sudah muak dengan Anda Pak Albert! saya sudah muak dengan semua ini! Anda berbuat sesuka hati mentang-mentang saya telah Anda beli! Saya bukan mainan yang bisa diperlakukan seenaknya Pak Albert!” pekik Tania, menunjukkan emosinya.
“Stop Tania, ini masih pagi ... Saya tidak ingin bertengkar denganmu,” balas Albert.
Bu Mimi yang berada di tengah-tengah mereka terpaksa sedikit menjauhkan diri, namun masih memantau.
“Ceraikan saya hari ini juga, maka saya tidak akan bertengkar dengan Bapak!”
Albert sudah mulai terpancing emosinya, diletakkannya kembali piring ke atas meja, lalu berdiri di hadapan Tania.
__ADS_1
“Sampai kapan pun saya tidak akan menceraikanmu, sebelum kamu melahirkan anak saya!” geram Albert, tatapannya mulai menyalak, sudah kesekian kali pria itu selalu mendengar kata cerai dari mulut Tania, begitu mudahnya wanita itu berkata pikir Albert.
“Tidak akan ada anak yang lahir dari rahim saya. Saya bukan mesin pencetak anak, dan saya tidak sudi hamil anak Bapak!” balas Tania ikutan geram.
“Tania, habis kesabaran saya!” geram Albert, pria itu menarik dan mencengkeram lengan Tania hingga tubuh Tania berdiri dari duduknya, lalu pria itu mendekapnya ... membuat wanita itu terkesiap.
“Lepaskan!” jerit Tania, wanita itu memberontak dalam dekapan Albert yang terasa menyesakkan.
“Berhentilah minta bercerai dari saya!” sarkas Albert.
Tanpa sepengetahuan mereka yang ada di dalam ruang rawat Tania, wanita cantik yang berprofesi model itu masuk ke dalam, tanpa terdengar hentakan sepatu high heels yang dikenakannya.
“KAK ALBERT!!” pekik Marsha, kedua matanya tersirat api amarah, hatinya bergejolak melihat suaminya sedang memeluk Tania.
Albert dan Tania sama-sama menoleh, namun Albert masih belum mengurai pelukan nya. Sedangkan Bu Mimi langsung beranjak dari duduknya, hatinya mulai was was. Pria itu tidak menyangka jika Marsha akan kembali mencari dirinya dan datang ke rumah sakit.
“Nyonya.”
Marsha mengepalkan kedua tangannya lalu mendekati Albert dan Tania.
“Jadi demi wanita ini, Kak Albert tidak pulang ke mansion ... Huh!” maki Marsha, wanita itu langsung melepaskan tangan Albert yang masih merangkul pinggang Tania, kemudian menarik rambut Tania, dirinya sudah dirasuki oleh bisikan setan, tidak peduli jika bagian kepala Tania terpasang perban, untungnya saja tangan Tania bisa langsung menahan tangan Marsha.
“Apa-apa an kamu, Marsha!” bentak Albert sembari menyentakkan tangan Marsha dari rambut Tania, pria itu tidak suka melihat Marsha yang ingin menjambak rambut Tania.
“Oooh ... Sekarang Kak Albert mulai mau membela dan melindungi wanita murahan ini ya!” geram Marsha, dan menatap tajam ke arah Tania.
Tangan kanan Marsha mulai mengudara, dan secepatnya Albert menahan tangan istrinya untuk tidak menampar wajah Tania.
“Demi wanita murahan ini, Kak Albert berada di rumah sakit dan tak pulang, tidak tidur di mansion dan tak memberi kabar ke istri mu ini, huh!” bentak Marsha.
“Marsha, dengar dulu penjelasanku! Tania habis mengalami kecelakaan. Aku hanya bertanggung jawab, tidak lebih!” balas Albert.
“Aku tidak peduli dengan alasan itu, jika hanya ingin bertanggung jawab, tidak semestinya Kak Albert ada di sana, memangnya dia kecelakaan karena Kak Albert, huh!” sentak Marsha.
bersambung ....
__ADS_1