Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Bicara dari hati ke hati


__ADS_3

Sejenak hanya terdengar suara deru napas di antara mereka berdua, Albert belum melanjutkan ucapannya, sedangkan Tania tatapannya masih ke arah jendela ruangan.


Berulang kali tangan pria itu mengusap lembut tangan istrinya, dan sesekali mengecup punggung tangan Tania.


Hati Tania sedang berkecamuk, sisi baik dan sisi jahatnya saling berargumen dalam benaknya. Dia tak menyangka jika pria yang diam-diam di kaguminya selama satu tahun di saat dia bekerja ternyata mencintainya, namun perasaan itu terkikis karena sikap kasar Albert, akan tetapi sikap kasar pria itu beralasan jelas.


Mata yang semula berkaca-kaca, kini mulai meneteskan buliran bening, buliran yang tak bisa terelakkan lagi. Jika dulu sewaktu belum hamil, wanita itu bisa bersikap tegar, namun semenjak mengandung ... lebih cenderung sensitif hatinya dalam setiap hal.


Pria itu yang masih menatap wajah istrinya, tangan kanannya terulur dan memegang dagu Tania agar kembali menatap wajahnya. Lalu dengan gerakan tangan yang melambat pria itu mengusap air mata yang mulai membasahi pipi Tania.


“Maaf jika membuatmu menangis selama ini. Maaf jika selama ini sangat ... sangat menyakiti hatimu, Tania. Tapi itulah aku ... yang selalu mencoba menutupi perasaanku sendiri, tak memikirkan dampaknya,” ucap Albert lirih.


Kedua netra Tania yang basah menatap teduh pria yang ada di dekatnya.


“A-aku tidak tahu harus bagaimana Pak Albert? Yang jelas aku memang sakit hati denganmu, kecewa atas segalanya yang telah terjadi,” jawab Tania, wanita itu lalu menundukkan kepalanya. Namun tangan Albert kembali mengangkat dagu Tania. “Jangan palingkan wajahmu, tataplah aku, jika kamu ingin menangis ... pandang wajahku, jika kamu ingin marah ... pandang wajahku. Jangan di tutupi dariku, biar aku tahu.”


Dada Tania terasa semakin sesak, rasa kecewa dan sakit hatinya mendesak untuk di keluarkan. Akhirnya Tania pun menangis tersedu sedu di depan Albert tanpa menutupinya. Kedua netra Albert pun ikutan berkaca-kaca, lalu pria itu mencondongkan dirinya agar lebih dekat dengan istrinya, kemudian di raihnya raga Tania untuk dipeluknya.


“A-ku s-sangat benci denganmu,” ucap Tania terbata dalam isak tangisnya. “A-aku benci ketika di katai pelacurr olehmu!”


“Maafkan aku sayang ...” Dalam dekapannya Albert mengusap lembut punggung Tania, dan mendengarkan isi hati yang baru saja di ucapkan dengan sabarnya.


Tania pun mulai mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini tersimpan dalam pelukan Albert. Sekitar 15 menit Tania terisak menangis dalam pelukan Albert, di rasa sudah enakkan dia mengurai dekapan suaminya.


Wajahnya sudah memerah begitu pula kedua netranya turut memerah dan sedikit bengkak. Pria itu kembali mengusap pipi Tania, lalu mengecup kedua netra Tania. So sweet, jadi melthing perasaan Tania.


Menangis memang tidak menyelesaikan masalah, namun dengan menangis terkadang hati terasa lega, karena tidak bisa mengungkapkan isi hati dengan kata-kata.


Albert menatap hangat istrinya. “Izinkan aku membahagiakanmu dan mengobati luka dihatimu, izinkan aku mencintaimu di sisa umurku ini, aku ingin kita memulai dari awal lagi, dan tidak ada perceraian di antara kita. Bukan karena ada anak di antara kita, tapi aku sangat mencintaimu,” ucap Albert bersungguh-sungguh.


Hati Tania sesaat terasa hangat, seperti hangatnya pelukan Albert yang baru saja memeluk raganya.


Haruskah aku menerima Pak Albert menjadi suamiku seutuhnya?

__ADS_1


“Benarkah Pak Albert sangat mencintaiku, bukan karena aku sedang mengandung?”


“Jika aku tidak mencintaimu mana mungkin aku mendaftarkan pernikahan kita secara legal sebelum kamu kecelakaan. Kalau tidak mencintaimu mana mungkin aku mencarimu selama ini, sampai mengintai keberadaan Opa.”


Kalau masalah Opa Thamrin di ikuti oleh bodyguard Albert, Tania pernah dengar dari Oma, makanya dari itu Opa gak balik ke Bandung lagi dalam waktu beberapa bulan.


“Jika aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku menemanimu di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, pasti aku tidak memedulikan kamu ... sayang.”


Duh berdesir kembali hati Tania, sepertinya pagi ini Albert sedang memupuk perasaannya ke hati Tania, biar cepat tumbuh dan berkembang.


“Dan jujur hatiku mendidih saat melihatmu di mall, terutama saat kamu dengan Arkana.”


“Pak Albert, cemburukah?”


“Iya ... sangat cemburu, aku tidak suka melihat kamu dengan pria lain. Tapi saat melihat Marsha dengan pria lain, aku biasa saja ... tidak sepanas melihatmu dengan Arkana,” ungkap Albert dengan sejujurnya.


Di saat raut wajahnya masih terlihat sedih, Tania menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis.


“Pantas saja Pak Albert emosian ya waktu itu, ternyata ada yang kepanasan,” kata Tania.


Ingin sekali Tania terkekeh, namun ditahannya sendiri, apalagi Albert masih menatap lekat dirinya.


“Tania, maukan hidup bersamaku hingga maut memisahkan?” Albert kembali bertanya karena belum dapat jawaban dari Tania.


“Pak Albert, hati ini masih ada luka yang belum terobati. Aku butuh waktu untuk menerima semuanya, termasuk pengakuan Pak Albert. Jika Pak Albert ingin jawabannya, aku tidak bisa memberikan jawabannya saat ini.”


Albert sangat memahaminya. “Baiklah, aku tidak minta jawabannya sekarang. Tapi aku akan tetap menjadi suamimu, selalu ada di sisimu dan menjadi papa yang terbaik buat anak-anak kita. Jangan menolaknya ya... Dan aku tidak memaksamu untuk membalas cintaku, cukup selalu berada di sampingku,” kata Albert, terkesan lembut namun ada penegasan atau bisa di bilang agak memaksa.


“Terserah ....” Sikap Tania pasrah, gak bisa menolak, tapi tidak bisa bilang iya.


Albert kembali memeluk Tania, lalu mengecup pucuk kepala istrinya. “Terima kasih, sayangku ... cintaku,” kata Albert.


Tanpa di sadari Albert yang masih memeluk Tania, sudah apa Opa Thamrin, Oma Helena dan Mama Shinta yang baru saja masuk ke ruang rawat.

__ADS_1


“Opa sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat nih,” kata Oma Helena, sambil senyum senyum sendiri.


“Iya nih Oma, kayaknya ada yang lagi sayang-sayangan nih,” sahut Opa Thamrin.


Mendengar ada suara orang lain, Tania langsung mendorong dada Albert, agar pelukannya terurai.


“Opa, Oma, Mama,” kata serempak Albert dan Tania yang melihat ketiga orang tersebut. Tania langsung mengumpat di balik punggung Albert, malu.


Oma Helena mendekati rajang Tania. “Cie-cie ada yang mulai baikkan ya,” goda Oma Helena.


“Iya Oma,” jawab Albert sembari tersenyum.


“Enggak Oma, belum baikkan kok ... Cuma habis ngobrol aja,” sambung Tania.


“Kalau sudah baikkan juga gak pa-pa kok, gak ada yang marahin, lagian semua masalah itu harus diselesaikan baik-baikkan,” sahut Mama Shinta, tersenyum hangat dengan menantu dan anaknya. Siapa yang tak senang jika sedikit demi sedikit komunikasi dan hubungan Albert dan Tania semakin membaik. Doa seorang ibu selalu meminta yang terbaik untuk anak dalam segala hal.


Jika mereka berjodoh maka eratkan tali ikatan pernikahannya, jika mereka tak berjodoh maka jauhkanlah dalam keadaan yang baik.


 bersambung .....✍🏻✍🏻


 


Kakak Readers menjelang memasuki Bulan Suci Ramadhan 1444H, saya Mommy Ghina mohon maaf lahir dan batin, atas segala ucapan yang kurang menyenangkan, baik yang tidak disengaja maupun tidak sengaja 🙏🏻.


Dan semoga kita selalu diberikan kesehatan, dilancarkan dalam menunaikan ibadah shaumnya.


Aamiin Ya Robbal Allamin.


 



 

__ADS_1


 


__ADS_2