
Mansion Albert
Suasana di mansion terasa menyeramkan, Pak Firman yang sedari tadi kena semprot oleh Tuannya gara-gara menanyakan keberadaan Bu Mimi, sedangkan Gerry yang baru saja tiba di mansion karena di minta datang oleh Albert, juga ikutan kena semport.
Sekarang Pak Firman dan Gerry sedang berdiri tegak di hadapan Albert di ruang kerjanya.
“Pak Firman benar sudah mencoba menghubungi Bu Mimi!”
“Sudah Tuan, berulang kali saya mencoba menghubunginya tapi nomor handphonenya tidak aktif,” jawab Pak Firman.
Gerry hanya bisa mematung dalam posisi berdirinya, dan menatap Bosnya yang terlihat seperti orang galau.
“Ergh.....ini sudah menjelang malam, dan istri saya belum pulang juga!” geram Albert, diliputi rasa cemas.
Albert menatap Gerry yang terlihat tenang, biasanya sang asisten kalau lihat Bosnya kebingungan akan cepat tanggap, tapi ini kenapa terlibat tenang.
“Gerry, tadi sudah ke kantor KUA?” tanya Albert dengan tatapan menyelidik.
“Sudah Pak Albert, berkas sudah masuk, dan sudah di urus dengan penghulu yang tempo hari menikahkan Pak Albert dengan Tania, karena beliau petugas kantor sipil,” jawab Gerry begitu tenangnya.
“Sebelum saya ke rumah sakit, kamu tiba duluan kan?”
“Iya Pak, saya tiba duluan.”
“Kamu tidak melihat Tania?”
DEG!
“Mmm ... saya tidak lihat,” jawab Gerry, hampir saja keceplosan.
Albert mengikis jarak antara dirinya dan Gerry. “Saya tanya sekali lagi, benar kamu tidak melihat Tania pergi meninggalkan rumah sakit?” tanya Albert dengan sorot mata yang sangat tajam.
GLEK!!
Saliva yang berada di tenggorokan Gerry tidak bisa meluncur dengan bebas, terasa ada duri di dalam perjalanannya.
Kedua netra Albert sungguh terlihat mencurigai Gerry, pria itu sangat mengenal asisten pribadinya yang sudah bekerja dengannya selama tujuh tahun.
Dalam kesepakatan kerja, Albert mengingatkan Gerry harus jujur dalam bekerja dalam hal apapun terutama dalam hal pribadi, karena secara tidak langsung Gerry adalah orang kepercayaannya.
Hati Gerry jadi dilema, tatapan Albert sungguh mengintimidasi dirinya. Di satu sisi dia ingin menutupi mengenai Tania, namun di satu sisi ini sebuah bentuk kepercayaan tentang kinerjanya terhadap Bosnya.
“Baiklah sepertinya kamu sudah tidak mau bekerja lagi dengan saya, jadi mulai besok kamu tidak usah bekerja, kirim surat pengunduran diri kamu!” bentak Albert, yang merasa jika Gerry mengetahui sesuatu.
DEG!
Ya Allah ... Mengundurkan diri, gaji 30 juta akan hilang, mau cari gantinya di mana?.. Batin Gerry galau.
“Begini Pak Albert, sebenarnya saya sempat melihat Tania dan Bu Mimi masuk ke mobil, tapi saya tidak mengenali mobil siapanya,” ucap Gerry, akhirnya berkata jujur juga, namun tetap menyimpan rahasia tentang kehamilan Tania.
__ADS_1
“Sialan, kenapa tidak bilang dari tadi!” umpat Albert kecewa, hampir saja pria itu melayangkan bogeman ke wajah Gerry.
“Gerry, ikut saya ke rumah sakit, dan Pak Firman coba hubungi Bu Mimi pakai nomor yang lain, jika ada kabarnya hubungi saya segera!”
“Baik Tuan.”
Hari sudah menjelang malam, Albert kembali lagi ke rumah sakit miliknya, jika dihitung dengan jari sudah berapa kali pria itu bolak balik dari mansion ke rumah sakit hari ini, hanya demi Tania. Sedangkan dulu dengan Marsha tidak seperti itu, karena Marsha tak pernah kabur dari Albert, walau pergi menginap pun karena alasan syuting, pria itu tidak akan mencarinya.
...----------------...
Rumah Sakit H.
Langkah kaki Albert begitu cepat hampir saja Gerry tidak bisa mensejajarkan langkah kakinya. Sang pemilik rumah sakit langsung menuju ruangan keamanan, hingga petugas yang berada di ruangan tersebut terkejut.
“Saya ingin lihat rekaman di depan ruang eksekutif tadi pagi!” perintah Albert.
Wah kacau bakal ketahuan nih ... Batin Gerry.
“Baik Pak Albert,” jawab Ismail yang bertugas memantau layar CCTV.
“Maaf Pak Albert, saya bisa beli makan malam dulu?” ucap izin Gerry.
“Minta bagian katering mengantar makanan ke sini,” sahut Albert, yang terlihat fokus dengan monitor CCTV.
“Baik Pak Albert, kalau begitu saya permisi dulu,” kata Gerry pamit. Sebenarnya ada alasan lain, pria itu akan mencari Dokter Irwan untuk memberitahukan kedatangan Albert.
Kembali ke ruang keamanan....
Tidak sulit buat Ismail mencari rekaman di lorong lantai 5 di jam yang disebutkan oleh Albert.
Terlihatlah jika Tante Shinta terlebih dahulu datang menuju ruang rawat eksekutif, kemudian tidak lama datanglah Opa Thamrin dan Oma Helena. Selang beberapa menit datanglah Dokter Irwan yang kemudian di susul oleh Dokter Mira.
Opa, Oma!!
“Stop!” pinta Albert, ketika melihat dokter perempuan datang ke ruang rawat, lalu mengiring Tania menggunakan kursi roda keluar dari ruangan.
“Siapa dokter ini?” tanya Albert sambil menunjukkan gambar dokter perempuan itu, maklum Albert tidak hapal dengan dokter yang bertugas di rumah sakitnya.
“Oh ini Dokter Mira spesialis kandungan, Pak Albert,” jawab Ismail, ketika memperbesar layar monitornya, agar lebih jelas melihat wajahnya.
“Dokter Kandungan, kenapa ada dokter kandungan, perasaan Tania ti—!” gumam Albert sendiri.
“Coba cek di lorong ruang prakteknya!” perintah Albert, dengan jantung yang berdebar-debar.
Kenapa ada dokter kandungan?
DEG!
Setelah melihat lorong ruang praktek, ternyata Tania dibawa masuk ke sana dan ditemani oleh Oma Helena serta Tante Shinta.
__ADS_1
“Ada apa dengan istri saya!” gumam Albert sendiri.
Albert langsung beranjak dari duduknya, dengan raut wajah yang tak bisa di lukiskan.
“Jam berapa praktek Dokter Mira?”
“Malam ini beliau ada jam prakteknya, Pak.”
Mendapat jawaban seperti itu, Albert bergegas keluar, dan mencari ruang praktek Dokter Mira.
Baru saja Albert sampai di lantai 2 di mana tempat ruang praktek Dokter Mira, pria itu berpapasan dengan Dokter Irwan yang juga ingin menemui Dokter Mira, setelah dirinya bertemu dengan Gerry.
“Dokter Irwan sebaiknya tidak menyembunyikan sesuatu tentang istri saya, jika memang Anda tidak mau lagi bertugas di rumah sakit saya!” kata Albert mengancam.
Dokter Irwan menghembuskan napas panjang, karir dia di rumah sakit milik Albert terbilang sangat bagus, dan memiliki jam terbang yang sangat tinggi, posisi dia jadi serba salah sama seperti posisi Gerry, di satu sisi ingin melindungi pasiennya tapi di satu sisi yang dia hadapi adalah sang pemilik rumah sakit, bukan sekedar orang biasa.
Albert yang memiliki kekuasaannya menunjukkan powernya di hadapan Dokter Irwan, ya sudah jelas Dokter Irwan kalah posisinya.
“Sebaiknya kita bicarakan di dalam Pak Albert,” pinta Dokter Irwan, sambil memberi kode kepada perawat yang sedang berdiri di depan ruang praktek Dokter Mira.
Albert dan Dokter Irwan menyadari kehadiran mereka di depan ruang praktek dokter kandungan menjadi pusat perhatian ibu-ibu hamil yang sedang antri untuk kontrol kandungannya.
Dan akhirnya mereka berdua masuk ke ruangan, terlihat Dokter Mira berdiri untuk menyambut kedatangan Albert, sungguh hal yang tak di duga.
Albert mendarat bokongnya di atas kursi lalu menatap tajam kedua dokter tersebut. “Saya tidak mau bertele-tele Dokter Irwan, Dokter Mira. Jelaskan kepada saya kenapa istri saya dibawa ke ruangan ini?” tanya Albert to the point.
Dokter Irwan dan Dokter Mira sesaat saling bersitatap kemudian Dokter Irwan menganggukkan kepalanya ke Dokter Mira.
Wanita paruh baya itu meminta perawat yang mendampinginya mengambil berkas Tania, sebelum dia menjelaskan ke Albert.
Sesaat suasana terasa hening sebelum perawat itu kembali membawa berkas milik Tania.
“Jadi begini Pak Albert, saya akan menjelaskannya. Tadi pagi Tania mengeluh perutnya kram kepada Dokter Irwan, dan Dokter Irwan meminta saya untuk mengecek perutnya,” jeda sejenak, Dokter Irwan membuka berkas Tania. “Saya melakukan USG perut Tania, dan ini hasilnya Pak Albert.”
Dokter Mira menyodorkan foto USG 4D atas nama Tania Kanahaya kehadapan Albert. “Perut Tania kram, karena sedang mengandung, Pak Albert.”
JEDER!!
bersambung ....... Kira-kira apa reaksi Albert ? Pingsan kah? Menangis kah? Atau Teriak bahagia? Tinggalkan komentarnya ya Kakak Readers
__ADS_1