Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Menginap di rumah sakit


__ADS_3

“Terima kasih Bu, maaf ibu siapa ya?” tanya Tania yang agak familiar dengan wajah Bu Mimi, tapi tidak ingat.


“Saya Bu Mimi, pelayan mansion Tuan Albert.”


“Oh pelayan Pak Albert, mau jemput Pak Albert ya? Bagus deh ajak pulang Tuannya, kasihan pasti istrinya sudah nungguin di rumah. Kalau perlu titip pesan sama istrinya, suruh jagain suaminya biar gak kemana-mana!” ucap Tania ketus tanpa menatap wajah Albert yang mulai mengeram.


Bu Mimi hanya bisa melirik wajah Tuannya dengan rasa canggung dan sedikit takut.


“Mereka datang bukan untuk menjemput saya, tapi mengantarkan barang saya dan barang keperluan kamu!” balas Albert.


“HAH ... barang keperluan saya ... Loh kok bisa, Bapak kan bukan keluarga saya, hanya atasan saya!” seru Tania, menunjukkan wajah terkejutnya. Andaikan ada Kia, mungkin wanita itu akan bertanya dengan sejelas-jelasnya.


“Gak usah pasang wajah terkejut, sekarang kamu istirahat biar cepat sembuh, dan cepat pulih ingatnya. Jadi tahu siapa saya!” tukas Albert.


“M-maksudnya apa!!” Tania masih berpikir keras, ada apa dengan semua ini. Sungguh di luar nalar wanita itu, dia sudah berusaha mencerna jika Albert hanya atasannya, dan tentu saja hati kecilnya agak kurang senang dengan pria itu.


Albert memberi tanda ke Bu Mimi untuk menjauh dari ranjang Tania, sedangkan Albert berjalan kembali duduk di sofa.


Merasa diabaikan. “Hei Pak Albert, bapak belum menjawab pertanyaan saya, apa perlu saya tendang burungnya biar menjawab!” teriak Tania dari atas ranjangnya. Pria itu hanya melambaikan tangannya ke arah Tania tanpa menjawab.


“ARGH ... Sebenarnya ada apa ini! Kenapa ada Bos di sini ... Aah sudahlah lebih baik gak usaha diingat, bisa jadi tidak bisa ingat karena ada sesuatu hal!” gerutu Tania sendiri, tapi sangat terdengar oleh orang lain. Wanita itu mulai memejamkan kedua netranya, dan belajar tidak memedulikan orang yang ada di ruangan.


Pria itu menghela napas panjangnya, dan menghembuskannya secara perlahan-lahan, kecewa dengan gumaman Tania yang tak ingin mengingat dirinya, sedangkan pria itu ingin Tania segera kembali ingatannya.


Sekarang Albert, Bu Mimi dan Pak Firman duduk bersama di sofa yang jarak lima meter dari ranjang Tania.


“Maaf Tuan, sebelum kami pulang ke mansion, ingin menyampaikan tentang Non Clara yang sudah berada di mansion Tuan, apakah betul Non Clara istri muda Tuan?” tanya Pak Firman, mengklarifikasi ucapan Clara.


Albert mengernyitkan dahinya, hingga muncul beberapa lipatan. “Istri muda, siapa yang bilang seperti itu?” Pria itu berbalik tanya kepada kepala pelayannya.

__ADS_1


“Maaf Tuan, saat Non Clara pertama kali datang, gadis itu sudah menyatakan sebagai istri muda Tuan yang dinikahi tadi pagi, dan gadis itu juga sudah menempati kamar tamu. Nyonya Marsha juga mengetahui nya dan sempat berdebat dengan Non Clara.”


Pria itu mengerutak gigi gerahamnya, tak di sangka gadis itu begitu lancang dan berani mengaku-ngaku istri muda nya, menikahinya juga tidak!


“Clara adiknya Tania, tadi nya dia mau dijadikan jaminan sampai Tania kembali. Sekarang Tania sudah di temukan, untuk sementara biarkan dia bertingkah, tunggu saya sampai kembali ke mansion. Saya sendiri yang akan memberikan dia pelajaran, cukup kalian awasi saja. Dan satu lagi jangan panggil dia Non, cukup Clara. Dia bukan atasan kalian berdua!” perintah Albert.


Bu Mimi bisa bernapas lega, berarti dia tidak perlu bersikap hormat dengan gadis itu, yang luar biasa tingkahnya di mansion bak Nyonya Muda, baru datang sudah nyuruh ini itu, minta ini itu dengan lagak angkuhnya, dan jelas sangat berbeda jauh dengan Tania.


“Baik Tuan, kalau begitu kami pamit pulang,” ucap Pak Firman, mulai beranjak dari sofa, begitu pula dengan Bu Mimi turut berpamitan dengan Tuannya.


Pria itu hanya bergumam, dan mengiyakan mereka berdua untuk kembali.


“Pak Firman merasa ada yang berbeda gak dengan Tuan?” tanya Bu Mimi ketika mereka berdua sudah keluar dari ruang rawat inap.


“Beda apanya, Mi?”


Pak Firman berusaha mengingat-ingat. “Mungkin karena Non Tania hilang ingat, makanya Tuan temani. Coba kalau sakitnya biasa aja, mungkin Tuan Albert tidak akan menemaninya,” jawab sanggah Pak Firman.


“Pak Firman ini sudah berumur tapi gak peka, tidak bisa lihat perbedaannya, makanya cepatlah berumah tangga sebelum memasuki usia setengah abad,” celetuk Bu Mimi, wanita yang berstatus janda beranak satu.


“Gak usah di bahas lagi Mi, atau kamu aja yang saya ajak nikah, mau gak?” tanya Pak Firman asal.


Bu Mimi langsung terbelalak. “Astaga jangan ngaco deh Pak Firman.” Wanita paruh baya itu langsung mempercepat langkah kakinya, dan tidak memperpanjang pembicaraan tentang Tuannya, Pak Firman tergelak tawa melihat perubahan wajah Bu Mimi yang ayu itu.


...----------------...


Albert telah membersihkan dirinya dan sudah menggantikan pakaiannya yang lebih santai, dan betul apa kata Bu Mimi, malam ini untuk pertama kalinya Albert menginap dan menemani orang sakit, sudah mulai berubahkah? Atau ada maksud tertentu?


Perawat juga sudah kunjungan untuk mengecek kondisi Tania, mulai dari suhu tubuh, botol infusan kemudian memberikan obat yang dimasukkan ke dalam infusan. Dan kini terlihat Tania terlelap bagaikan putri tidur. Setelah selesai kunjungan perawat, pria itu meredupkan penerang di dalam ruangan, lalu kembali duduk di tepi ranjang kemudian menatap wajah Tania.

__ADS_1


“Ck ... Berani sekali kamu menendang pahaku, apa kamu tidak ingat, aku telah membelimu dari ayahmu dan telah menikahimu, hanya untuk mendapatkan anak dari rahim mu, itu saja!” gumam Albert.


“Kalau kamu tidak ingat, bagaimana aku meminta hakku! Bagaimana kamu akan cepat hamil dari benihku!” sambung Albert terdengar kesal. Sebenarnya pria itu sedang menahan hasrat nya yang selalu muncul ketika berada di dekat Tania, apalagi ketiks pahanya di tendang, benda pusakanya langsung bangun dari tidurnya, dan dengan sudah payah dia menidurinya kembali tanpa menyalurkan, padahal bisa saja pria itu pulang dan melampiaskan ke Marsha, namun dia tak mau.


Tak lama pria itu merebahkan dirinya dengan posisi miring menghadap wanita itu, kemudian menatap wajah Tania tanpa arti, sesekali pria itu merapikan anak rambut Tania yang mengganggu penglihatannya, sepertinya memandangnya sudah menjadi candunya atau ada yang lainnya.


 “Cepat lah ingat tentang ku, aku tidak mau kamu melupakan diriku, aku tidak suka kamu ingat pria lain, harus nya aku lah yang harus di ingat!” bisik Albert pas di daun telinga Tania.


Wanita itu mungkin terasa geli, hingga membuat wanita itu memiringkan badannya menghadap Albert.


DEG!


Sesaat Albert tertegun, wajahnya dengan wajah Tania begitu dekat, tak sadar bibir tebalnya sudah menyentuh ujung hidung mancung Tania, pria itu sedikit menarik wajahnya agar tidak terlalu dekat dengan wajah Tania, tapi ada rasa ingin kembali mendekati tapi penuh keraguan.


Jangan mendekati wanita itu Albert, kamu tidak boleh ada rasa suka dengannya, dia hanya wanita yang kamu beli ... dia hanya mainanmu saja ... Batin Albert berkecamuk.


“Ini adalah hal yang keliru seharusnya tidak di sini!” gumam Albert bermonolog, akhirnya pria itu beringsut dari ranjang Tania, lalu pindah ke bed yang sudah di sediakan untuk keluarga pasien, dan Albert berusaha memejamkan matanya.


Hati ingin menghindar tapi rupanya raga tak mau di ajak kompromi, pria itu sudah selama satu jam membolak-balikkan badannya agar bisa cepat tidur, tapi tidak bisa terpejam kan padahal sudah terasa ngantuk. Terpaksa pria itu beranjak dari bed, kemudian dengan langkah kakinya tergontai, pria itu naik ke atas ranjang Tania.


“Jangan berpikir macam-macam Tania, ini karena aku tak bisa tidur, bukan karena aku suka sama kamu!” ucap Albert kesal sendiri sembari menatap wajah Tania. Lalu wajah pria itu masuk ke ceruk leher Tania, dan menghirup aroma wanita itu dalam-dalam, sama seperti yang dia lakukan ketika tidur sama Tania yang tak sadarkan diri waktu itu.


Dalam waktu lima menit, dengkuran halus terdengar dari mulut pria itu, ternyata ceruk leher Tania obat tidurnya Albert, namun tak di sadari oleh pria itu.


 bersambung........



 

__ADS_1


__ADS_2