Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Pertemuan yang tak disengaja


__ADS_3

Mama Shinta masuk ke dalam ruangan dengan wajah masamnya, tak lama wanita paruh baya itu mendaratkan bokongnya dengan kasar di sofa. Tania merasa aneh melihat mamanya tiba-tiba raut wajahnya kurang mengenakkan, terkesan sedang kesal.


“Mama kenapa?” tanya Tania dari atas ranjangnya.


Untuk kali ini mama Shinta memang tidak bisa menutupi rasa kesalnya di saat melihat kedatangan Albert, walau bagaimana pun wanita paruh baya itu juga punya masa lalu yang buruk dalam pernikahannya karena suaminya yang plin plan tidak tegas, hingga akhirnya di kuasai oleh wanita lain yang berulah seperti pelakorr. Dan sekarang posisi anaknya dibuat seperti pelakorr oleh Marsha, padahal tidak seperti itu.


Di saat Mama Shinta mengecam tidak memperbolehkan Albert menemui Tania, itu bentuk untuk melindungi putri satu-satunya dari pria yang telah menyia-nyiakan anaknya. Orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya kesakitan, walau sebenarnya sebagai orang tua tidak berhak campur tangan dalam urusan rumah tangga anaknya sendiri, kecuali anaknya sudah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Tapi sebenarnya KDRT bukan hanya dari pisik tapi bisa dari verbal, dan keduanya sebenarnya sudah terjadi oleh Tania, kekerasan saat berhubungan intim bagaikan pelacurr dan kata kasar Albert yang sangat mengintimidasi Tania namun tak ada yang tahu, hanya Tania yang tahu.


Mama Shinta menarik napasnya dalam-dalam, lalu beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Tania yang masih sibuk mengemil keripik.


“Di luar ruangan ada Albert,” ucap Mama Shinta.


Tangan Tania yang awalnya masih sibuk merogoh keripik kentangnya, langsung berhenti, kemudian menatap mama Shinta.


“Pak Albert!” balas Tania menyebutkan nama pria itu.


“Iya di luar ada Albert, dia datang ingin menemuimu, tapi Mama melarang untuk menemuimu.”


Setelah beberapa bulan tak pernah bertemu dengannya, hari ini pria yang masih berstatus suaminya datang setelah berita viral itu muncul. Datang untuk menemuinya...


Tania meletakkan bungkus keripiknya di atas kedua pahanya yang tertutupi oleh selimut, raut wajahnya mulai berubah menjadi sendu. Rasa sedih dan kecewanya kembali menyeruak dari hatinya yang paling dalam, berita yang kemarin sempat di tontonnya kembali terbayang di pelupuk matanya, sangat menyesakkan.


Kegundahan Tania sangat terlihat di wajahnya walau tanpa di ungkapkan. “Jangan khawatir nak, Mama sudah melarang Albert untuk menemuimu,” imbuh Mama Shinta.


Wanita hamil itu hanya mengulas senyum tipisnya, lalu menatap ke arah jendela, memalingkan pandangannya dari tatapan mama Shinta.


...----------------...

__ADS_1


Sedangkan di luar ruangan, Albert masih berlutut di hadapan Oma Helena dan Opa Thamrin.


Pria tua itu menepuk bahu cucunya. “Bangunlah nak, Opa dan Oma bukan Tuhan yang patut disembah. Lihatlah semua orang menatap kamu di sini,” pinta Opa Thamrin, sorot mata orang yang tak sengaja melihat membuat Opa Thamrin tidak enak hati.


Albert terlihat bergeming, tidak merespon permintaan Opa Thamrin. Pria itu bersikukuh pada pendiriannya bersimpuh dan memohon untuk di pertemukan dengan istrinya, walau sebelumnya dia sudah berbuat curang.


“Pak Albert, betul kata Tuan Besar ... tidak enak di lihat sama orang lain, apalagi tadi ada beberapa orang yang mengambil gambar,” bujuk Gerry, khawatir jika akan menambah berita di sosial media, karena berita Albert dan Marsha masih hangat di perbincangkan.


“Opa, aku akan bangun ... jika Opa dan Oma mengizinkan aku bertemu dengan Tania walau hanya sebentar,” jawab Albert, memohon.


Opa Thamrin dan Oma Helena hanya bisa menghela napas panjang, dan berpikir bagaimana cara membujuk cucunya agar meninggalkan dari tempatnya berlutut.


“Albert, kami semua kecewa atas apa yang terjadi denganmu. Seharusnya kamu dari awal jadi suami yang tegas dengan istrimu Marsha! Dan lihatlah gara-gara hubunganmu dengan Marsha, Tania menjadi korban hingga semua orang tahunya Tania perusak rumah tangga walau kamu sudah klarifikasi tentang Tania. Memangnya kamu bisa menghapus jejak digital itu untuk seumur hidupnya! Tidakkan!” tegur Oma Helena.


Albert menundukkan kepalanya, pria yang memiliki perusahaan sekaligus CEO, hanya bisa tertunduk lemah dengan orang yang berjasa dalam hidupnya, mengurusinya selama kedua orang tuanya telah tiada. Pria itu tidak sekalipun menyanggah perkataan Oma Helena, dia mengakui kesalahannya sendiri.


“Sekarang apa gunanya kamu ingin bertemu dengan Tania, jika hanya akan memberikan luka untuk Tania. Oma rasa sudah cukup Albert, jangan bikin Tania menderita, harusnya kamu bersyukur Tania masih mau menerima mengandung anak dari pria yang di bencinya, tidak menggugurkan kandungannya. Kami yang berada di sampingnya berjuang untuk mengobati hatinya, tapi apa daya berita kemarin membuat luka Tania semakin melebar. Seharusnya kamu mengerti!” imbuh Oma Helena, sambil menghela napas panjang nya.


Dalam keadaan yang serius, dari kejauhan ada beberapa perawat mendorong kursi roda yang tak berpenghuni, lalu mengucapkan kata permisi ketika melewati mereka berempat, kemudian masuk ke dalam ruang rawat Tania.


Tak lama kemudian, perawat yang tadi masuk ke dalam ruang rawat Tania, kembali keluar dengan mendorong kursi roda yang sudah di duduki oleh Tania.


DEG!


Albert yang masih berlutut di hadapan Oma Helena dan Opa Thamrin, terhenyak melihat kehadiran Tania.


Begitu juga Tania melihat Albert yang sedang berlutut, tatapan mereka berdua saling mengunci dalam persekian menit. Perawat yang mendorong kursi roda Tania, terhenti sejenak, karena posisi Albert menghalangi jalan kursi roda tersebut.

__ADS_1


Lidah pria itu keluh ketika bisa menatap wajah Tania yang tak terpejamkan seperti semalam, sorot mata beriris abu-abu itu mampu menghipnotis pria yang masih berlutut.  Opa Thamrin menarik lengan Oma Helena, memberikan celah pertemuan yang tak di sengaja.


Tania ingin memalingkan tatapannya, namun tak kuasa ... wanita itu membalas tatapan hangat pria itu dengan tatapan dinginnya.


Albert dalam keadaan berlutut tanpa beranjak, memajukan dirinya agar lebih dekat dengan Tania yang berada di kursi roda.


“Tania.” Suara Albert terdengar bergetar.


Tania tak menjawab.


“Maafkan aku, maafkan aku ... aku suami yang tak berguna, yang telah menyakitimu,” ucap Albert, suaranya masih bergetar. Ingin rasanya pria itu menyentuh tangan Tania yang terpaku di atas pahanya.


Tangan kanan Albert bergetar di saat ingin menyentuh tangan Tania, namun wanita itu menarik tangannya agar tak tersentuh oleh pria itu.


Kedua netra pria itu mulai berkaca-kaca, ternyata sangat menyakitkan jika di acuhkan oleh orang yang dirindukannya.


Tania bergeming, tak sepatah kata pun membalas ucapan Albert.


Albert dengan kedua netranya berkaca-kaca menatap lekat wajah Tania yang semakin cantik, wajah yang selalu terbayang di pelupuk matanya, wanita yang mampu memporak porandakan hati yang selalu setia dengan Marsha.


 


bersambung ....✍🏻


 


 

__ADS_1



 


__ADS_2