Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Tania, please jangan membuat saya takut!


__ADS_3

Rumah Sakit H.


Perawat yang bertugas merawat Tania, terlihat sibuk membantu wanita itu untuk membersihkan diri di kamar mandi, setelahnya menyiapkan sarapan pagi.


Albert yang sudah terlebih dahulu bebersih diri sebelum Tania,  penampilannya sudah rapi dengan mengenakan kemeja berwarna navy dipadu dengan celana bahan berwarna hitam, sekarang sedang berbincang dengan asisten pribadi nya Gerry di sofa yang baru saja datang, tapi tatapan pria itu sesekali melirik Tania yang sedang duduk di atas ranjangnya sembari menyantap sarapan paginya.


“Permisi Pak, saya mau mengantarkan sarapan paginya,” ucap petugas catering rumah sakit.


“Silahkan mbak,” balas Gerry, sembari mengangkat beberapa kertas yang ada di atas meja, agar makanan nya bisa di letakkan di sana.


Setelah di antarkan sarapan pagi, Albert dan Gerry menyantap sarapannya sebelum melanjutkan diskusi mereka.


“Kamu bawa berkas surat jual beli Tania, yang saya pinta?”


“Bawa Pak Albert, ada di dalam map ini.” Tunjuk Gerry.


Albert segera membuka map tersebut, dan tersenyum tipis ketika pria itu kembali menatap Tania.


Jika menunggu ingatan Tania pulih mungkin akan terlalu lama, akhirnya Albert memutuskan untuk menunjukkan surat perjanjian yang di tanda tangani oleh dia bersama Hans ayah kandung Tania. Egois sekali Albert!


“Pak Albert, saya sarankan jangan kasih lihat dulu suratnya, bukankah kondisi Tania belum stabil, dan belum sembuh total, sebaiknya menunggu saat yang tepat,” saran Gerry, yang menurutnya kurang tepat jika di tunjukkan pada Tania saat ini.


“Bukan urusan kamu, gak usah ikut campur!” hardik Albert.


Susah kalau Bosnya sudah bilang jangan ikut campur, jadi lebih baik Gerry tidak beri usulan, cukup lihat saja apa yang terjadi  nanti.


Tania dan Albert sama-sama sudah menyelesaikan sarapan paginya di posisinya masing-masing. Perawat pun sudah memberikan suntikan obat ke infus yang sudah di pasang kembali ke tangan Tania.


“Mbak Tania, kalau ada keluhan lagi, tolong kasih tahu saya,” pinta sang perawat, sebelum pamit keluar ruangan.


“Ya Suster, terima kasih,” jawab Tania, sambil mengulas senyum tipis, tapi tiba-tiba senyuman itu kembali redup di saat melihat Albert kembali menghampirinya, wanita itu melengos tak ingin bertemu pandang dengan pria yang menyebalkan kalau menurut Tania.


Albert meletakkan map yang dibawanya ke atas paha Tania yang tertutupi oleh selimut. “Bacalah ini agar kamu tahu tentang saya yang saat ini tidak kamu ingat!” pinta Albert.


Tania tampak ragu-ragu untuk membuka nya tapi ada rasa ingin tahu, karena dia belum juga bisa mengingat tentang Albert.


Map yang ada di atas pahanya diambil lalu dibukanya. Wanita itu mulai membaca nya dari alinea pertama yang tertulis pihak pertama Hans Kurniawan, lalu pihak kedua Albert Elvaro Yusuf.

__ADS_1


Albert masih berdiri di tepi ranjang Tania, masih menunggu respon dari wanita itu.


Dengan surat ini menyatakan Hans Kurniawan sebagai pihak pertama dengan kondisi sadar dan suka rela menjual anak bernama Tania Kanahaya berusia 22 tahun kepada pihak kedua Albert Elvaro Yusuf senilai Rp 500.000.000,- di bayar tunai.


Tangan Tania yang masih memegang map tersebut bergetar, dadanya juga terasa sesak saat membacanya, hatinya terasa disayat-sayat oleh belati yang sangat tajam.


“I-ini bo-bohongkan!” ucap Tania terbata-bata, menatap nanar pria yang masih berdiri di hadapannya


“I-ini g-gak mungkin, ayah saya  menjual saya kan! Tercekat tenggorokan Tania, semakin sesak dada sebelah kirinya, hingga wanita itu mengusap dadanya.


“Semuanya tidak ada kebohongan, kebetulan ada saksinya Gerry, asisten pribadi saya. Jadi sudah lengkap buktinya, jika memang ayah kamu menjual mu dan kebetulan saya yang membelinya. Berhubung kamu hilang ingat, maka dari itu saya menunjukkan surat ini, agar kamu bisa mengingatnya kembali.”


Tania masih menggelengkan kepalanya, masih tidak mempercayai ucapan Albert. Kenapa ayahnya begitu tega menjual nya kepada orang lain, dan kenapa atasannya sendiri yang harus membelinya.


“Kamu adalah wanita yang saya beli dengan harga 500 juta!” ucap Albert dengan nada tegasnya.


“Brengsek, semuanya brengsek tidak punya hati!” teriak histeris Tania.


“Ini semuanya pasti bohong!” Map itu di sobeknya oleh Tania di hadapan Albert, kemudian wanita itu kembali ingin mencabut infusnya agar bisa keluar dari ruangannya.


Namun Albert dengan cepat menahan tangan Tania agar tidak melepaskan jarum infusan nya, pikiran Tania sudah tak terkontrol lagi, hingga memberontak ketika dirinya di tahan Albert.


“Kenapa saya tidak mati aja saat di tabrak mobil! Kenapa! Buat apa saya hidup! Tega sekali ayah!!” teriak Tania pas di wajah Albert, tubuh wanita itu memberontak agar lepas dari cengkeraman Albert, mau tidak mau Albert naik ke atas ranjang dan mengungkung tubuh Tania untuk menghentikan.


“Akhh....lepaskan ... Lebih baik aku mati kalau tahu begini!” teriak Tania dengan membulatkan kedua bola mata indahnya, lalu wajah wanita itu mulai memucat, sekujur tubuhnya mulai kesakitan.


“Gerry cepat panggil dokter!” perintah Albert.


“Tania tolong berhentilah, jangan begini badan kamu masih sakit,” ucap Albert yang kali ini agak lembut, posisi tubuhnya juga masih mengungkung tubuh istrinya sendiri, yang masih saja memberontak.


“Buat apa saya berhenti, kalian semuanya jahat!!” jerit histeris Tania, sudah tak terkendalikan.


Di saat kejadian saja wanita itu menjerit, ingin pergi, sekarang terulang kembali walau dia masih belum mengingatnya namun hatinya terasa sakit, amat terasa sakit. Sepertinya hal sedih yang selama ini dia tahan dan dipendamnya seorang diri terluapkan dan membuncah ke daratan.


Tangisan Tania tak bisa terbendung lagi, akhirnya lolos ... “sakit ...,” ucap Tania lirih di sela tangisannya.


Albert menatap lekat-lekat wajah Tania yang sudah berderai air mata, pria itu pun merutuki dirinya yang bodoh  kenapa tadi memperlihatkan surat tersebut, harusnya bisa menahan dirinya, namun egolah yang menang. Tania yang sering menunjukkan perlawanan dirinya  kali ini sangat terlihat rapuh di depan mata Albert.

__ADS_1


Mereka berdua saling bersitatap sesaat, namun seketika itu juga Tania terlihat kesusahan untuk bernapas ...


“Ta-Tania ...” Albert langsung bangun dari atas tubuh wanita itu.


“DOKTER!” teriak Albert dari dalam ruangan.


Pria itu menggenggam tangan Tania yang terasa dingin, sedingin es, dan tatapan sedih wanita itu terlihat kosong, hampa. Wanita itu seperti sedang menatap Albert, tapi buat Albert tatapan itu seperti tidak menatapnya. “Tania, please jangan membuat saya takut!” ucap Albert, suaranya bergetar, genggamannya tangannya tidak dilepaskannya.


Gerry dan Dokter Irwan baru muncul ke ruangan dengan berlarian.


“Tolong Dokter, Tania badannya dingin!” seru Albert, raut wajahnya sangat terlihat cemas.


Dokter Irwan yang melihat wajah Tania memucat dengan bibir yang sedikit membiru dan seperti kesusahan bernapas, langsung memasang selang oksigen kebagian hidung Tania, yang selalu tersedia tabung oksigen di dalam ruang rawat. Kemudian mengecek detak jantung dan nadi wanita itu.


“Tania, ambil napas dalam-dalam, lalu hembuskan pelan-pelan,” pinta Dokter Irwan. Dokter paruh baya itu melihat kekacauan yang terjadi di atas ranjang pasien, perawat yang mendampingi Dokter Irwan segera merapikan secepat mungkin.


Dokter Irwan menatap kesal ke arah Albert, pria itu sudah bisa menebak jika keadaan Tania seperti ini akibat tekanan dari pria yang mengakui sebagai kerabat pasiennya.


Dengan penuh perhatian Dokter Irwan membantu memulihkan mental Tania yang sempat terganggu, dan berulang kali membimbing mengatur napas agar oksigen benar-benar masuk ke dalam paru-parunya, hingga rasa sesak yang tiba-tiba datang menghilang.


Albert masih menggenggam tangan Tania, yang awalnya terasa dingin, lama-lama mulai tergantikan dengan hawa hangat.


“Suster, tolong pantau pasien, saat ingin bicara dengan Pak Albert,” pinta Dokter Irwan dengan suara tegasnya.


Antara rela dan tidak rela, pria itu melepaskan genggamannya dan mengikuti langkah kaki Dokter Irwan.


Dokter Irwan menghentikan langkah kakinya pas di luar pintu ruangan, lalu menatap Albert. “Pak Albert, bukan bermaksud saya tidak sopan. Mungkin alangkah baik nya Pak Albert untuk tidak berada di sini, jika menginginkan Tania cepat pulih. Walau Bapak berkata tidak, tapi saya selaku dokter tahu jika pasien saya mengalami tekanan dan itu tidak baik untuk kesehatan mental nya. Jadi saya mohon kerjasamanya, Pak Albert,” pinta Dokter Irwan dengan menunjukkan wajah seriusnya.


Albert terdiam ...


 bersambung....🖊️


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2