Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Jatuh sakit


__ADS_3

Di luar rumah sakit, langit memang sudah gelap namun sedang tidak turun hujan seperti malam sebelumnya. Akan tetapi di dalam ruang praktik Dokter Mira, kedua telinga Albert seakan mendengar suara petir yang begitu nyaring dan tajam.


Salah satu tangan pria itu mengambil kertas foto yang memotret bagian rahim Tania, raut wajahnya terlihat datar, tidak ada ekspresi.


“Pak Albert, Tania sedang mengandung ... usia kandungannya belum ada sebulan ... dan Bapak bisa lihat di sini,” kata Dokter Mira menunjukkan ke gambar yang terlihat kecil.


“Ada calon 3 anak di rahim Tania,” kata Dokter Mira melanjutkan.


Tangan kanan Albert gemetar ketika memegang potret, dadanya terasa sesak menerima berita ini, tanpa di sadari kedua netranya mulai berembun.


“Is-istri s-saya h-hamil,” ucap Albert bergetar, ingin bicara namun lidahnya terasa keluh, perasaan apa ini yang tiba-tiba menyelusup ke hati pria itu.


Inilah harapan yang selama ini di inginkan selama empat tahun berumah tangga dengan Marsha, namun baru kali ini dia mendengarnya dan terealisasi keinginannya dengan Tania.


“B-benarkah istri saya hamil anak kembar. Tidak mungkin ... saya baru saja menemukan pil kb di kamarnya?” tanya Albert, masih dengan rasa tidak percaya dengan kabar tersebut.


“Pak Albert bisa melihat hasil USGnya jika memang Tania sedang mengandung kembar tiga. Tentang pil KB, jika lupa di minum dan tidak rutin konsumsinya, kemungkinan masih bisa hamil, apalagi jika masa pembuahannya di masa subur,” balas Dokter Mira.


Albert tidak tahan dengan rasa yang mulai membuncah di hatinya, akhirnya pria itu menumpahkan rasa bahagianya dengan derasnya air mata. Dokter Irwan hanya bisa memberikan kotak tisu untuk Albert, sepertinya pria itu sangat membutuhkan.


“Sa-saya akan jadi papa si kembar,” gumam Albert sambil menatap foto USG tersebut.


Dokter Irwan dan Dokter Mira sama-sama menatap wajah kebahagiaan Albert dengan menganggukkan kepala mereka, walau berlinang air mata tetap ada senyum tipis di bibir pria itu.


“Tapi Pak Albert mohon maaf kami bukan bermaksud menutupi masalah kehamilan Tania, sebenarnya kandungan Tania agak lemah, dan juga Tania tadi sempat syok setelah tahu jika dia dalam kondisi hamil. Dia butuh untuk menenangkan pikirannya karena ini bisa berpengaruh dengan anak yang di kandungnya, saya hanya mengkhawatirkan jika mentalnya tidak siap maka kemungkinan buruknya Tania bisa mengalami keguguran,” kata Dokter Mira memberikan penjelasan.


Senyum tipis yang masih mengulas di wajah Albert seketika redup, baru saja dia dapat kabar gembira tapi langsung mendapat kabar buruk sekaligus.


Albert masih menatap foto USG. “Jangan bilang kalian berdua meminta saya menjauhkan istri saya, begitu kan!” ucap Albert pelan namun penuh penegasan.

__ADS_1


“Bukan bermaksud menjauhkan, tapi memberi ruang untuk Tania, apalagi Tania habis mengalami kecelakaan. Sebenarnya USG ini hanya opsi kedua untuk memperkuat data CT-scan waktu Tania mengalami kecelakaan. Saya sudah mencurigai saat Tania kecelakaan sudah mengandung. Karena itu saya sempat meminta Pak Albert untuk menjauhinya sebentar,” ujar Dokter Irwan.


Tanpa di sadari Dokter Irwan sedang menyinggung sikap Albert yang masih saja keras kepala, yang tetap saja mendekati Tania, percuma dia bicara panjang lebar jika tidak ada perubahan dari Albert.


Pria itu diam, lalu beranjak dari duduknya dan tetap memegang foto USG calon anaknya.


“Tetap saja kalian berdua salah, telah menyembunyikan keadaan istri saya. Dan untung saja hati saya saat ini sangat senang karena kabar ini hingga tidak memecat kalian berdua!” ucap Albert dengan tatapan datarnya, lalu keluar dari ruangan begitu saja.


Dokter Mira dan Dokter Irwan hanya bisa mengelus dada, saat melihat Albert pergi berlalu.


Setelah keluar dari ruang praktik dokter kandungan, Albert berpapasan bertemu dengan Gerry.


“Pak Albert, makan malam sudah tersedia di ruang eksekutif, sebaiknya isi perut dulu sebelum mencari Tania,” ucap Gerry, memberikan saran.


Albert baru menyadari jika dari siang belum mengisi perutnya dengan makanan di tambah badannya terasa tidak nyaman, dengan terpaksa tujuannya berubah menuju ruang rawat eksekutif, untuk makan sebentar.


Namun tiba-tiba saja Albert yang baru makan nasi dengan ayam goreng, perutnya bergejolak, seakan-akan menolak, dan tiba-tiba saja mual. Pria itu langsung membungkam mulutnya, lalu beranjak berdiri menuju kamar mandi.


“Huek ... Huek.” Isi perut Albert keluar semua. Gerry yang sedang menikmat makannya langsung berhenti, dan menyiapkan air hangat di gelas untuk Bosnya.


Puas mengeluarkan isi perutnya di kamar mandi, baru Albert keluar dengan wajah sedikit lelah dan pucat.


“Pak diminum dulu air hangatnya, biar mualnya sedikit berkurang,” ucap Gerry, menyodorkan gelas. Pria itu langsung meneguknya sampai tandas.


“Perlu di panggilkan dokter, Pak?”


“Tidak perlu, sepertinya maag saya kambuh,” tolak Albert.


Albert kembali duduk dan menikmati makannya yang belum habis, akan tetapi baru beberapa suap ... perutnya bergejolak lagi, mau tidak mau dia kembali ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.

__ADS_1


“Gerry ... panggilkan dokter,” pinta Albert dari dalam kamar mandi.


“Ya, Pak!” sahut Gerry, sebelum panggil dokter, Gerry menghabiskan makanannya dulu, nanggung pikir Gerry.


Albert masih membersihkan bekas muntahannya, dan membersihkan mulutnya, tubuhnya mulai terasa lemas setelah beberapa kali mengeluarkan isi perutnya, kepalanya pun mulai terasa pusing.


Dokter Irwan kembali bertemu dengan Albert untuk memeriksa keadaan pria itu, sang dokter mencoba bersikap profesional walau di antara mereka ada kesalahpahaman.


“Sepertinya asam lambung Pak Albert kambuh, nanti akan saya resepkan obat untuk lambung. Dan sebaiknya jangan telat makan, serta kalau bisa cukup beristirahat,” ucap Dokter Irwan setelah melepaskan alat stetoskopnya dari kedua telinganya.


“Berikan saya obat yang paling bagus dan ampuh, karena saya ingin mencari Tania!” balas Albert.


Tanpa di minta, pihak rumah sakit juga akan memberikan obat yang terbaik buat pemilik rumah sakitnya. Dokter Irwan memberikan resepnya ke perawat, dan meminta disegerakan mengambil obat untuk Albert.


“Saya akan memberikan cairan infusan untuk Pak Albert, agar badannya tidak terlalu lemas karena sering muntah dan agar tidak sampai mengalami dehidrasi.” Dokter Irwan dengan cekatan memasang jarum infus ke tangan kanan Albert, tanpa persetujuan pria itu.


Albert pasrah sudah kalau sudah di pasang infus, karena badannya juga sudah terlalu lemas, setelah itu Dokter Irwan menyuntikkan infusan obat lambung.


Padahal niat setelah makan malam, pria itu akan ke mansion utama untuk menjemput Tania, namun kenyataannya pria itu harus di rawat malam ini.


“Tania!” gumamnya, salah satu tangan bertopang di atas kedua matanya. Hatinya rasanya sesak karena belum bertemu ibu dari calon anak-anaknya.


Gerry yang menemani Albert di ruang rawat yang pernah di tempati Tania, hanya bisa tersenyum tipis melihat Bosnya hanya bisa terbaring lemah. Sebesar apapun tubuhnya, ternyata bisa kalah dengan penyakit.


bersambung .....📝


Kakak readers sambil menunggu bab berikutnya, mampir yuk ke karya Sensen


__ADS_1


__ADS_2