
Opa Thamrin dan Oma Helena belum di persilakan untuk masuk ke ruang rawat, justru di suruh duduk terlebih dahulu oleh Albert, dan kedua orang tua tersebut menuruti permintaan cucunya.
Sejenak Albert mengatur napasnya sebelum memulai bercerita tentang kondisi Tania yang mengalami amnesia serta kejadian yang terjadi tadi pagi, tanpa ada yang dilebihkan dan juga tanpa ada yang dikurangi.
Oma Helena yang mendengar cerita Albert mulai meradang, hingga wanita tua itu bangkit dari duduknya dengan menunjukkan wajah kecewanya.
PLAK!
Tangan Oma Helena sudah mendarat dengan kerasnya di salah satu wajah tampan Albert, hingga pria itu terkesiap seketika itu juga.
“Terbuat dari apa hatimu Albert! Mentang-mentang kamu sudah membelinya dari ayahnya, bukan berarti kamu bersikap seenaknya dengan Tania, ingat kamu sudah menikahinya walau hanya secara agama! Harusnya kamu tidak memaksakan kehendakmu, kesembuhan itu butuh proses, Albert!!” bentak Oma Helena, walau sudah tua, tapi cukup keras nada bicara Oma Helena, dan untungnya mereka semua berada di lingkungan khusus, jadi tidak sembarangan orang untuk berada di sana.
Albert hanya bisa menundukkan kepalanya ketika Oma Helena sudah menampar dan menegur keras, namun sayangnya pria itu tidak mengakui kesalahan atas yang telah dilakukannya, hanya demi ingin membantu mengembalikan ingatan Tania.
“Jika kamu tidak menyukai Tania, jangan pernah menyakitinya! Memangnya Tania punya kesalahan apa dengan kamu di masa lalu! Memangnya kalian punya hubungan apa sebelumnya?” tanya Oma Helena, dengan tatapan menajam.
“Tidak ada Oma!” jawab Albert, pelan.
Opa Thamrin sangat kecewa dengan sikap Albert setelah mendengar ceritanya, namun emosinya tertahan karena cukup istrinya saja yang menegur cucunya.
Oma Helena memegang tangan suaminya. “Ayo Opa, sebaiknya kita masuk ke dalam, kalau bisa jangan sampai anak ini masuk ke dalam untuk menemui Tania!”
Opa Thamrin sekilas menatap wajah Albert, kemudian beranjak dari duduknya dan mengikuti istrinya untuk masuk ke dalam ruangan. Albert bergeming, tidak bisa berbuat apa-apa.
Di saat masuk ke dalam ruangan, masih ada Dokter Irwan dan perawat yang menemani Tania di sisi-sisi ranjang wanita itu. Dokter Irwan yang kebetulan pas melihat Opa Thamrin masuk, pria berjas putih itu menghampiri dan memberi salam hormat kepada kedua orang tua tersebut.
Opa Thamrin memilih terlebih dahulu berbincang dengan Dokter Irwan untuk menanyakan lebih detail tentang kesehatan Tania, sedangkan Oma Helena meneruskan langkah kakinya untuk mendekati Tania yang terlihat memejamkan kedua matanya.
“Pasien baru saja tenang, Nyonya,” ucap perawat pelan, agar suaranya tidak mengganggu Tania.
Oma Helena menganggukkan kepalanya, paham. Setelahnya wanita tua itu menatap teduh Tania.
__ADS_1
“Ternyata kamu cantik,” gumam Oma Helena, ketika menatap wajah Tania, kemudian mengelus lembut lengan wanita itu. “Sungguh malang sekali nasibmu, nak,” lanjut gumam Oma Helena, dengan menghela napas beratnya.
Perawat menarik kursi dan meletakkan kursi tersebut dekat Oma Helena. “Silahkan duduk, Nyonya.”
“Terima kasih.” Wanita itu memilih duduk di sisi ranjang dan terus mengusap lengan Tania, dengan tatapan pilu melihat wanita malang itu. Tak menyangka jika wanita yang menjadi istri kedua cucunya sangat cantik, dan Oma Helena berharap Tania memiliki sifat yang baik, tidak seperti Marsha.
Sedangkan di sela-sela mengobrol dengan Dokter Irwan, Opa Thamrin menghubungi ajudannya untuk bertugas di rumah sakit H, untuk mengamankan Tania dari jangkauan Albert.
...----------------...
Jika Opa Thamrin sudah campur tangan, maka ini lah yang terjadi. Ajudan Opa Thamrin dalam waktu 45 menit sudah siaga di depan ruang rawat Tania, hingga Albert tidak bisa masuk ke dalam walau barang beberapa detik. Sedangkan untuk barang Albert yang ada di dalam ruangan, sudah di rapi kan oleh Oma Helena.
“Ini barang-barangmu! Dan jangan sesekali kamu menunjukkan batang hidung mu lagi. Oma benar-benar kecewa dengan kamu!” tegur Oma Helena, menunjukkan wajah tegasnya, dan mengusir Albert secara terang-terangan.
“Tapi Oma—” Seketika lidah Albert keluh untuk melanjutkan kata-kata nya.
“Tidak ada tapi-tapi!” Tegas Oma Helena.
Tidak sia-sia wanita itu menyusul suaminya ke rumah sakit H, setelah sempat bertanya ke staff rumah sakit, mereka memberitahukan jika suaminya ada di lantai lima.
Siapa yang sakit ya? Apa Opa yang sakit sampai di rawat di rumah sakit, tapi bagus lah kalau tua bangka itu sakit, biar cepat pergi dari dunia ini ... orang tua rese! ... Batin Marsha.
“Sayang!” panggil Marsha dari kejauhan sambil melambaikan tangan, wanita itu membuka masker dan kaca mata hitam nya.
Oma Helena dan Albert langsung menoleh. “Lihatlah istri sang model mu ternyata cariin kamu!” celetuk Oma Helena, sambil memutar malas kedua bola matanya. Pria itu hanya bisa mendesah melihat kedatangan istrinya, dan menduga jika Gerry yang memberitahukan keberadaan dia di sini.
“Sayang.” Wanita itu tersenyum tipis, lalu mengecup pipi Albert di hadapan Oma Helena.
Oma Helena dan Albert yang sama-sama melihat wajah Marsha ada luka lebam, tidak tergugah untuk menanyakan kenapa! Padahal Marsha sedang menunggu hal itu.
“Halo Oma, kita bertemu lagi,” sapa Marsha seraya mengulas senyum tipis, cara bicaranya sudah seperti dengan temannya, tidak ada rasa hormatnya dengan orang tua. Oma Helena hanya mendengus kesal, tidak respek malah hanya menatap datar.
__ADS_1
Tapi buat Marsha sudah biasa, justru wanita itu menggamit lengan suaminya dan bergelayut manja. “Sayang kok bisa sama Oma di sini, siapa yang sakit?” tanya Marsha, menunjukkan perhatian nya.
“Kamu tidak perlu tahu siapa yang sakit, sebaiknya bawa suami kamu dari sini. Bukankah kamu datang ke sini cari suami kamu kan!” jawab ketus Oma Helena.
“Oma, aku kan hanya bertanya baik-baik saja, kenapa dijawab ketus begitu. Lagi pula kalau Opa yang sakit, aku ingin menjenguknya,” balas Marsha.
“Ck... Alasan saja!”
Albert merasa risih dengan gelayutan tangan Marsha di lengannya, hingga pria itu menyentaknya dengan kasar.
“Kak Albert... kok!” Marsha merasa tidak terima atas perlakuan kasar pria itu. Albert hanya menatap dingin tanpa berkata kepada Marsha.
“Aku akan kembali lagi Oma,” ucap Albert, pria itu mengambil barangnya di atas bangku dan berlalu tanpa mengajak Marsha.
“Tidak perlu kembali ke sini lagi. Dan jangan lupa didik etika Istri kamu terhadap orang tua!” seru Oma Helena.
Marsha mendengus kesal tapi dibuat heran dengan Albert dan Oma Helena, serta masih penasaran siapa yang sakit. Tapi melihat suaminya sudah jalan duluan, wanita itu memilih untuk mengejar suaminya.
“Sayang, tunggu aku dong!” seru Marsha. Pria itu tidak menghentikan langkah nya justru segera masuk ke dalam lift tanpa menunggu istrinya.
“Tega banget Kak, tinggalkan aku!” gerutu Marsha yang bisa menyusul masuk ke dalam lift, lalu memasang kembali masker dan kacamata hitamnya. Lagi dan lagi pria itu mengacuhkan istrinya, tidak menggubrisnya, diam seribu bahasa.
bersambung......terima nasib ya Albert
__ADS_1