
Bimo dan Gerry langsung menyergap Bu Rita dari belakang dan merebut pistol dari tangan Bu Rita, ternyata wanita paruh baya itu enggan untuk melepaskan senjata dari tangannya. Hingga terjadilah rebutan senjata antara mereka bertiga, dan tak lama ...
DOR!
Bunyi letusan senjata api terdengar lagi di telinga Tania, kejadian beberapa minggu lalu kembali hadir di ingatannya, saat itu juga Tania langsung tak sadarkan diri.
Bulu kuduk mereka yang ada di sana seketika merinding, siapa yang kena tembakan??
Bimo, Gerry serta Pak Polisi terdiam ... lalu mengecek keadaannya masing-masing. Dan barulah menatap Bu Rita yang tangan kanannya masih memegang senjata api, darah mulai mengalir dari dada kiri Bu Rita.
“IBU!” jerit Clara.
Bu Rita sudah tergeletak di tanah, kedua matanya melotot, ternyata Bu Rita tak sengaja menarik pelatuk senjata api yang mengarah kedirinya sendiri, di kala Bimo dan Gerry ingin merebut senjata tersebut.
SENJATA MAKAN TUAN!
“Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucap Bimo lirih, saat mengecek denyut nadi Bu Rita.
“IBU!!” teriak histeris Clara di gelapnya malam, gadis itu menjatuhkan dirinya di samping Bu Rita, dan meraung-meraung.
Papa Dimas merangkul bahu Mama Shinta yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya. Sedangkan Albert bergegas membopong masuk ke dalam ruang utama, dan membaringkan istrinya di atas sofa panjang.
Malam kelam menjadi saksi bisu kepergian Bu Rita untuk selama-lamanya, wanita paruh baya itu tak sempat menyesal dengan segala perbuatannya sendiri yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya, dan masih berniat jahat di akhir ajal, pintu tobat pun sudah tertutup. Dan kini hanya suara histeris Clara yang terdengar memecahkan kesunyian malam, sedangkan yang lain menundukkan kepalanya sejenak tanda berkabung.
Di balik tembok gerbang, Ayah Hans menyandarkan punggungnya yang sudah terkulai lemas. Ternyata pria itu membuntuti kepergian Bu Rita, dan melihat jelas semua yang terjadi di halaman mansion. Tak ada tetesan air mata yang jatuh di pipi Ayah Hans, hanya embunan yang terlihat di kedua netranya. Pria itu menatap kosong ke atas langit hitam.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku selama ini. Berikan hambamu kesempatan untuk bertobat sebelum ajalku tiba ... batin Ayah Hans
Kepergian Bu Rita kembali mengingatkan Ayah Hans akan kematian yang tak akan pernah di duga datangnya.
__ADS_1
Tak lama ... mobil ambulans dan beberapa dokter turut datang, untuk mengecek keadaan Bu Rita.
...----------------...
Esok hari ...
Rumah Tania
Keluarga besar Albert dan Tania, turun tangan mengurus kematian Bu Rita. Jenazahnya di bawa pulang ke rumah Tania. Para tetangga satu persatu melayat, Tania dan Albert sebagai keluarga menerima kedatangan mereka. Clara dengan di awasi pihak polisi, diberikan kelonggaran untuk berkabung sampai pemakaman jenazah Bu Rita, gadis itu hanya bisa menangis bukannya mendoakan.
Ayah Hans lebih banyak menundukkan kepalanya, tidak berani menatap anak kandungnya Tania serta menantunya. Rasa bersalah, malu dan penyesalan menggelayut di hati pria paruh baya itu.
Tania dengan kelapangan hatinya, setelah sekian lama tidak bertemu dengan ayahnya, mendekati pria paruh baya itu lalu duduk di sampingnya. Ujung ekor Ayah Hans melirik putri kandungnya.
Hati memang masih sakit jika mengingat sikap ayahnya, tapi pria paruh baya itu tetap ayah kandungnya, berbeda dengan Bu Rita, yang tidak ada hubungan darah.
“M-maaf,” kata Ayah Hans bergetar.
Pria paruh baya itu masih menundukkan kepalanya, tak berani mengangkat kepalanya dan menatap wajah anaknya. “M-maafkan Ayah, Tania.”
Tania memang selama ini tidak terlalu dekat dengan Ayah Hans, padahal wanita itu sangat merindukan perhatian dan kasih sayang, namun Ayahnya selalu menjaga jarak dengannya.
“Maafkan Ayah yang telah menyia-nyiakan dirimu, selama ini Ayah selalu membencimu, padahal kamu tak bersalah,” ungkap Ayah Hans, kedua netranya mulai berembun.
Mama Shinta sudah menceritakan perjalanan hidupnya dengan Ayah Hans, dan tahu penyebab sikap Ayah Hans yang tidak pernah menyayanginya, semua karena hasutan Bu Rita.
Tania mengusap punggung tangan Ayah Hans begitu lembutnya, sampai Ayah Hans tercenung. “Aku telah memaafkan semuanya, Ayah.”
__ADS_1
Pria itu memberanikan diri menatap Tania. “Bukankah sesama manusia harus saling memaafkan, Yah. Allah saja mengampuni hamba nya yang telah berbuat dosa, masa aku sebagai anak tidak mau memaafkan kesalahan seorang ayah,” imbuh Tania.
Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya pelan, air matanya pun mulai jatuh di pipinya, begitu jahatnya dia dulu dengan anaknya, namun sekarang Tania dengan lembutnya mau memaafkan dirinya.
“Kematian adalah pengingat kita yang masih hidup, Yah. Dengan mengingat kematian kita akan teringat akan semua perbuatan yang selama ini kita lakukan, sudah berapa banyakkah bekal yang akan kita bawa. Selama nyawa masih ada di raga kita, alangkah baiknya kita berbenah diri, dan mempersiapkan bekal kita. Lupakan masa lalu yang buruk, dan memulai lembaran baru, Yah,” tutur Tania. Mereka berdua sama-sama melihat jenazah Bu Rita yang masih berbaring di ruang tamu.
“Ayah sungguh sangat malu denganmu Tania, Ayah begitu tega telah menjual anak sendiri demi keperluan anak orang lain. Ayah yang selama ini buta, tuli karena hasutan Rita, hingga tak menganggapmu sebagai anakku. Ayah sungguh banyak kesalahan dan sangat berdosa.”
“Bertobatlah Ayah, mohon ampunanNya. Aku hanya minta itu saja.”
Pria paruh baya itu memeluk anaknya dengan kelegaan hatinya. “Terima kasih Tania, maafkan Ayahmu ini.” Terdengar isak tangis Ayah Hans, Tania hanya bisa mengusap lembut punggung Ayahnya.
Jika seseorang masih mau mendengarkan dan menerima ucapanmu, itu tandanya masih memiliki hati nurani dan bisa di ajak untuk berubah menjadi lebih baik. Namun jika seseorang tidak menerima ucapanmu dan masih terus menyangkal, itu tandanya hatinya sudah keras.
bersambung .....
Akhirnya Rita telah tiada, dan terkubur dengan segala obsesinya, Clara kembali di proses di kepolisian. Marsha akan mulai menghadapi sidang kasus penembakannya.
__ADS_1