Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Respon Albert


__ADS_3

Bohong rasanya jika setiap orang yang melihat atau melewati ruang ICU tidak turut bersedih walau tidak mengenali dengan orang yang sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana. Bagaimana jadinya dengan keluarga pasien, pasti sangat menyayat hati mereka dengan kenyataan pahit yang harus mereka terima dan harus menyiapkan mental untuk menghadapi hal yang tak di harapkan, walau dalam hati selalu terselip doa penuh harapan akan datangnya sebuah pertolongan dari Sang Maha Pencipta.


Kejadian yang menimpa Albert, sungguh pukulan yang terberat buat Tania, sebegitu besarnya pria itu melindungi dirinya dan mencintainya, sungguh hal yang sangat luar biasa pengorbanan Albert.


Tujuh hari sudah berlalu dari kejadian, Albert masih belum menunjukkan respon yang baik, atau membuka kedua matanya.


Tania masih terpukul, hatinya sudah hancur, hidupnya pun seperti tidak ada artinya. Namun Dokter Dewi selalu mendampingi Tania, karena Oma Helena, Opa Thamrin serta Mama Shinta kondisinya pun juga sama, masih dalam keadaan syok. Untuk menguatkan hati Tania, mereka pun tak kuasa, karena belum bisa menguasai gejolak hati yang masih sedih dan juga butuh dukungan.


Jam 05.00 wib


Duduk dalam sujud akhirnya, wanita yang masih menggunakan mukenanya, terlihat menjatuhkan air matanya, sembari menengadah ke atas. Dirinya rapuh, Dirinya diliputi rasa ketakutan, Dirinya sudah tak berdaya!


Dalam kepasrahannya, wanita itu memohon, bermunajat kepada Sang Maha Pencipta, karena semua hal yang ada di dalam kehidupan manusia pastinya akan kembali ke Allah, Sang Pemilik Jiwa dan Raga.


Ya Allah ... hanya kepada Engkau lah hambamu memohon atas segala yang terjadi dalam hidupku.


Hanya Engkau lah Sang Penyembuh dalam segala penyakit, hambamu memohon ... berikanlah kesembuhan untuk suamiku, papanya anak-anakku, berikanlah suamiku kesempatan untuk menjalankan kehidupan di dunia, menjadi hambamu yang lebih baik.


Ya Allah Ya Rabb, tiada daya diriku untuk menghadapi segala ketentuan yang telah digariskan dalam hidupku, hamba memohon berikan pula hambamu ini kekuatan untuk menjalaninya.


Tania menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, dan kembali terisak menangis dalam doanya.


Sebagai istri hanya doa yang selalu dia panjatkan untuk pria yang mencintainya.


...----------------...


Oma Helena jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit yang sama, wanita tua itu rupanya tak kuat menghadapi kenyataan yang menimpa cucunya.


“Oma ... makan dulu ya,” pinta Opa Thamrin, yang selalu setia menemani istrinya.


“Gak nafsu Opa,” jawab Oma Helena pelan.


Opa Thamrin mengusap lengan istrinya. “Makan sedikit dulu ya, biar cepat sehat, cucu kita butuh kita berdua saat ini,” kata Opa Thamrin dengan lembutnya, berusaha menguatkan istrinya serta dirinya sendiri.


Oma Helena tergugah dengan kata-kata Opa Thamrin, akhirnya mau menerima suapan dari Opa Thamrin walau hanya beberapa suap yang tertelan dan masuk ke dalam perutnya.


...----------------...

__ADS_1


Matahari semakin meninggi, waktu sudah mulai menginjak tengah hari. Mama Shinta dan Papa Dimas menemani Tania makan siang di ruang rawat sebelum mereka membesuk Albert di ruang ICU.


Sebenarnya Tania sudah kehilangan nafsu untuk makan, namun wanita itu teringat jika ada calon tiga buah hatinya yang membutuhkan asupan yang terbaik. Di sela-sela dia menyantap makan siangnya, wanita itu tiba-tiba merindukan suapan dari Albert seperti seminggu yang lalu di pagi hari.


Aah...


Tania menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan pelan, beginikah rasanya kehilangan seseorang!


Mama Shinta mengusap punggung Tania, seakan tahu jika anaknya nampak frustasi.


“Makanlah yang banyak, jangan menyakiti dirimu. Kamu harus kuat ... pasti suamimu akan sedih melihat kamu sakit kembali,” tutur Mama Shinta. Tania hanya bisa mengangguk lemah.


Selesai makan siang, Dokter Dewi bersama salah satu perawat datang berkunjung ke ruang rawat untuk mencek kondisi Tania sekaligus menjemput dan mengantar Tania ke ruang ICU.


Untuk kali ini Tania meminta kepada Dokter yang bertugas, bisa mengizinkan dia untuk menjenguk Albert, masuk ke dalam ruang ICU, dia tidak ingin hanya sekedar melihat kondisi Albert dari balik kaca pemisah yang telah dia lakukan selama tujuh hari itu. Dan alhamdulillah, Dokter yang bertugas mengizinkan walau tidak bisa memberikan waktu yang lama.


Butuh mental yang kuat untuk melihat kondisi Albert secara dekat, itulah yang di rasakan oleh Tania, sekuat tenaga Dokter Dewi memberikan energi untuk menguatkan si Bumil.


Sekarang wanita berbadan dua itu sudah mengenakan baju khusus berwarna biru, dan siap-siap masuk ke dalam ruang ICU. Dokter Dewi serta Dokter yang bertanggung jawab atas Albert sudah stand by di luar ruang ICU untuk berjaga-jaga.


Dokter Dewi membukakan pintu ruang ICU, langkah kaki Tania pun mulai menapaki ruangan yang terasa dingin dan mencekam...


Ternyata saat kaki sudah masuk, perasaan Tania yang awalnya yakin dirinya mampu untuk melihat kondisi suaminya, seketika menghilang kekuatannya.


Kedua kakinya mulai terasa lemas, namun dia berusaha menyeret kedua kakinya agar lebih dekat dengan ranjang yang ditempati Albert.


Sungguh menyesakkan hati, kedua netranya kembali berembun, hatinya tak bisa ditipunya, jika dia tak kuat melihat kondisi suaminya.


“P-Pak Albert .....” sapa Tania dengan suara bergetarnya. Tangan kanan Tania mulai menyentuh lengan Albert.


“I-ini aku ... istrimu Tania,” ucap Tania lirih. Dengan kedua netranya yang membasah ditatapnya wajah pucat Albert.


“Anak-anakmu ada di sini ...”


Tangan Tania masih betah mengusap lengan besar Albert yang sudah tak berdaya. Dan tak lama tangannya berpindah ke rahang pria itu.


“Bangunlah Pak Albert, katanya kamu mencintaiku, katanya kamu ingin membahagiakanku. Tapi kenapa masih betah memejamkan mata Pak Albert, jangan siksa diriku Pak Albert,” gumam Tania, dalam isak tangisnya.

__ADS_1


Walau kondisi Albert menggunakan alat bantu pernafasan, wanita itu memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan suaminya, dalam keadaan tubuh bergetar ... Tania menatap lekat wajah tampan Albert, kemudian mengecup lembut pipi Albert.


“B-bukalah matamu Pak Albert ... aku mencintaimu ... aku takut kehilanganmu, j-jangan tinggalkan aku,” bisik Tania pas di daun telinga Albert.


Albert masih belum ada respon apa-pun ketika Tania mengajaknya berbicara.


Tania mendesah panjang, kemudian mulai menarik wajahnya. “Kalau Pak Albert tidak mau buka matanya, ya sudah aku akan mencari penggantimu saja, aku akan cari suami yang batu, yang lebih muda, yang lebih ganteng dan kaya!” gertak Tania, wanita itu bingung melihat Albert tidak ada pergerakan.


DEG!


Monitor jantung terlihat grafik irama jantung Albert begitu cepat, Dokter yang berjaga mendengar jelas suara monitor jantung, langsung masuk ke dalam ruang ICU.


Tania langsung panik dan mulai deg deg degan, ketika melihat Dokter yang tiba-tiba masuk dan memeriksa kondisi Albert.


“A-ada apa dengan suami saya, Dokter!” wajah Tania mulai memucat.


“Irama jantung Pak Albert tiba-tiba cepat, sepertinya mulai ada respon. Awalnya denyut jantungnya lemah.”


“Alhamdulillah.”


Rasa deg deg degan Tania mulai berkurang, kemudian kembali menatap suaminya.


Tania meraih tangan Albert lalu meletakkannya ke perut bulatnya. “Kalau Pak Albert gak mau buka matanya sekarang, anak anaknya akan dapat papa baru. Hari ini mama bakal cari papa baru buat si triple!” sengaja Tania berkata penuh ancaman.


Seketika itu juga kedua netra Albert terbuka lebar, berbarengan tendangan dari perut Tania yang bisa dirasakan oleh telapak tangan Albert.


 bersambung......



 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2