
Jam 19.00 wib
Tante Shinta, Arkana dan Kia datang untuk menjenguk Tania sesuai jam besuk pasien, dan tentunya bukan di jam kerja Arkana dan Kia. Kebetulan Oma Helena masih ada di ruang rawat bersama Bu Mimi, hingga Oma Helena mengizinkan mereka bertiga untuk menjenguk Tania.
Tania agak ketar ketir melihat kedatangan kedua temannya, karena masih teringat dengan ancaman Albert, tapi Arkana menenangi nya karena jam tujuh malam bukan jam kerja, jadi tidak masalah.
Arkana yang pernah melihat wajah Oma Helena di perusahaan Albert, dan tahu jika wanita tua itu nenek dari Albert, agak heran kenapa bisa menemani Tania, namun itu hanya pikiran sekilas saja kemudian ditepisnya, yang jelas mana mungkin Tania ada hubungan dengan keluarga Albert ... pikir Arkana.
“Tania, aku bawain baksonya mang Ucup kesukaan kamu, daging lemaknya sengaja aku minta banyak,” kata Arkana, sembari membawa mangkok khusus makanan berkuah yang biasa untuk di take away.
Kedua netra Tania berbinar-binar mengetahui Arkana membawakan bakso kesukaannya. “Thanks banget ya Mas Arkana, tahu aja aku pengen makan yang hangat-hangat,” balas Tania. Pria itu meletakkan di meja khusus yang ada di ranjang, agar Tania bisa menyantapnya sendiri.
“Mau aku bantu suapi gak?” tawar Arkana.
“Tidak usah Mas, aku bisa makan sendiri,” tolak Tania secara halus.
Bu Mimi dari kejauhan tersenyum tipis melihat Tania begitu dekat dengan teman prianya, dan diam-diam wanita paruh baya itu mengambil beberapa gambar menggunakan handphonenya.
“Kamu pasti ingin melapor ke Albert, kan?” bisik Oma yang melirik Bu Mimi.
“Iya Nyonya.”
“Bagus, kirim yang banyak kalau bisa ambil posisi yang kelihatan mesra,” pinta Oma Helena, sangat mendukung apa yang dilakukan sang pelayan. Bu Mimi mulai beraksi dengan senang hati.
Setelahnya ....
Tante Shinta dan Kia turut bergabung dengan Tania dan Arkana duduk di tepi ranjang Tania.
“Keadaanmu bagaimana Tania, sudah ada kemajuan?” tanya Tante Shinta.
“Kalau untuk bagian kepala masih suka sakit tapi tidak terlalu intens, Tante.”
“Syukurlah, ada kemajuan.”
“Kira-kira kata dokter kapan kamu diizinkan keluar dari rumah sakit?” tanya Arkana.
“Lihat kondisi besok Mas, kalau hasilnya bagus, kemungkinan besok siang sudah diizinkan rawat jalan. Ya walau pun harus ikut terapi untuk mengembalikan ingatan,” balas Tania.
“Semoga hasilnya bagus Tania, jadi kita gak dilarang buat ketemu lagi sama si Bos,” sambung Kia.
“Iya, nanti kita bisa ketemu seperti biasanya lagi,” balas Tania.
Tania sambil menikmati baksonya, mereka berbincang hangat selama satu jam sampai masa waktu besuk berakhir.
__ADS_1
“Tania ini kartu nama Tante, tolong di simpan, jika kamu sudah diizinkan pulang, tolong kasih kabar ke Tante ya,” pinta Tante Shinta.
Tania meraih kartu nama tersebut. “Ya Tante nanti saya kabari.”
“Kalau begitu kita pamit pulang ya, cepat sembuh,” sambung Kia, sambil memeluk sohibnya.
“Aku mau dong ikutan peluk juga,” pinta Arkana, sembari memasang wajah manja.
Kia yang sudah mengurai pelukannya memasang wajah herannya ke Arkana, tapi tidak dengan Tania, wanita itu merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan dari pria itu.
Walau bagaimanapun Tania sangat berterima kasih atas perhatian dan kebaikan pria itu. Arkana tanpa ragu memeluk Tania, memeluk hangat wanita itu dengan perasaan campur aduk. “Cepat sembuh, calon istriku, Tania,” bisik Arkana, sebelum mengurai pelukannya.
DEG!
Tubuh Tania seakan-akan ada aliran listrik dari ujung kaki menjalar sampai ke ujung rambutnya, semburat merah mulai muncul di kedua pipinya yang berwarna putih itu.
Pria tampan itu tersenyum hangat kemudian mengelus lembut wajah Tania, dan hal itu membuat wanita itu tambah tak menentu rasanya. Lalu berpamitan pulang kepada Tania, sedangkan wanita itu hanya tersenyum tipis menatap Arkana.
Bu Mimi rasanya sangat senang melihat adegan itu apalagi tertangkap dengan kamera handphonenya. Jempolnya langsung mengklik tanda pesan yang ditujukan ke Tuan Albert.
Oma Helena yang duduk di sofa dan ikutan melihat, hanya bisa mendesah lalu memalingkan pandangannya, walau tahu jika Tania adalah cucu menantu nya, tapi pernikahan cucunya dengan wanita itu dalam sebuah paksaan bukan karena saling mencintai. Dan menyadari jika suatu hari nanti, Albert dan Tania akan berpisah untuk selama-lamanya, apalagi Tania sudah bercerita dia tidak pernah ingin menjadi madu atau di madu, dia benci poligami, jika dia tidak bisa mengingat hubungan nya seperti apa dengan Albert, wanita itu akan minta di ceraikan secepatnya. Oma Helena dan Opa Thamrin akan berusaha mendukung Tania.
Sementara itu di tempat yang berbeda-beda ... Perusahaan Maxindo.
“APA-APAAN INI!” teriak Albert, jemarinya menscrool layar handphonenya, melihat foto-foto yang di kirim oleh Bu Mimi .... Semua pose terlihat mesra, terutama adegan pelukan.
"Brengsek, masih berani dia menemui Tania!"
Gerry yang duduk di hadapan Albert ikutan kaget karena suara tinggi Bosnya.
“Kamu mau selingkuh dari aku ya, TANIA!” geram Albert, wajahnya sudah memerah, kedua netranya mulai berapi-api.
Pria itu beranjak dari duduknya. “Saya ke rumah sakit, kamu bisa pulang!” perintah Albert sambil lalu.
Gerry hanya mematung setelah Bosnya berlalu begitu saja. “Kenapa Pak Albert marah kalau Tania selingkuh ... Aneh!” gumam Gerry sendiri.
Kembali ke rumah sakit...
Oma Helena sudah pamit pulang setelah teman-teman Tania pulang, tinggallah Tania di temani oleh Bu Mimi, sedangkan di luar ruangan tetap ada ajudan Opa Thamrin yang berjaga.
“Bu Mimi, duduk sini dong?” pinta Tania sambil menunjukkan kursi yang ada di samping ranjang.
“Ya Non ....” wanita itu duduk di kursi tersebut.
__ADS_1
“Bu Mimi, tahu kan jika saya kehilangan beberapa memori di otak saya. Bisakah Bu Mimi ceritakan tentang saya yang Bu Mimi ketahui, siapa tahu sedikit-sedikit mengingat nya.”
“Baik Non, saya akan menceritakan yang saya ingat selama Non tinggal di mansion Tuan Albert,” balas Bu Mimi.
Bu Mimi mulai menceritakan mulai dari kedatangan Tania, kemudian tugas Bu Mimi yang mengawasi Tania, serta tujuan dari pernikahan yang terjadi antara Albert dan Tania. Tania menyimak apa yang di ceritakan oleh Bu Mimi, dan entah kenapa hati wanita itu terasa amat sakit mendengarnya, seperti dejavu, seperti baru saja kejadian. Buliran bening pun mulai terjatuh membasahi pipinya.
Cukup lama Bu Mimi bercerita. “Jadi saya dibeli dan di nikahi hanya untuk dijadikan ibu pengganti, mengandung dan melahirkan anak Pak Albert, Begitulah Bu?”
“Ya Non, dan Non juga sudah melakukan hubungan suami istri dengan Tuan Albert.”
“HAH! Saya udah—,”
Bu Mimi menganggukkan kepalanya, sementara itu Tania menundukkan kepalanya memandang tubuh bagian bawahnya, tak menyangka jika hubungan sudah sejauh itu dengan atasannya.
Di saat yang bersamaan, Bu Mimi dan Tania mendengar suara kegaduhan di luar ruang rawat Tania.
“Bu Mimi, sepertinya diluar ada yang berantem ya?” tanya Tania penasaran.
Bu Mimi beranjak dari duduknya, “sebentar non, saya cek dulu diluar ada apa.”
Baru saja Bu Mimi ingin menghampiri pintu ruangan, ternyata pintu tersebut terbuka lebar hingga berbunyi keras, terlihat Albert yang kacau balau penampilannya, dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.
“T-Tuan Albert,” ucap Bu Mimi, kaget melihat kondisi Tuannya.
Dengan napas yang memburu, Albert berucap,” keluar lah dari kamar ini Bu Mimi, saya ingin berdua dengan Tania!” perintah Albert dengan suara meninggi, terkesan tak ingin dibantah.
Tania yang masih duduk menyandarkan di headboard nya, hanya bisa menatap kedua netra Albert yang terlihat sangat tajam, dan sepertinya dia sudah terbiasa mendapatkan tatapan seperti itu.
Bu Mimi sebenarnya tidak mau keluar dari ruang rawat Tania, tapi setelah melihat tatapan yang begitu tidak mengenakan, sang pelayan mematuhi perintah Tuannya, dia keluar namun bukan berarti meninggalkan rumah sakit.
Klek!
Albert mengunci pintu ruang rawat tersebut, kemudian melangkahkan kakinya mendekati ranjang Tania.
bersambung.....apa yang akan terjadi di ruang rawat? Mungkinkah 😔😔
__ADS_1